10 Tips Kuliah Jurusan Hukum Menurut Dosen Ilmu Hukum di Jogja, Calon Mahasiswa Wajib Paham

8 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Jurusan hukum masih menjadi salah satu program studi yang banyak diminati calon mahasiswa di Indonesia. Prospek karier yang terbuka di berbagai bidang, mulai dari lembaga peradilan, pemerintahan, dunia usaha, hingga sektor pendidikan, membuat program studi ini terus menarik perhatian setiap tahun. Namun, di balik tingginya minat tersebut, masih banyak calon mahasiswa yang belum memahami tantangan perkuliahan hukum serta kompetensi yang perlu dipersiapkan sejak awal.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Muhammad Irfan Al Aziz (29), yang merupakan pengajar Ilmu Hukum di Universitas Terbuka (UT) dengan fokus kajian Hukum Adat, Hukum Islam, dan Peradilan Agama. Menurutnya, keberhasilan mahasiswa hukum tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memahami teori dan peraturan perundang-undangan, tetapi juga dipengaruhi oleh kemampuan berpikir kritis, kebiasaan belajar yang konsisten, serta perencanaan karier yang matang.

Saat ditemui Liputan6 di salah satu working space di Sleman pada 23 Mei lalu, lulusan Magister Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut membagikan sejumlah pandangannya berdasarkan pengalaman mengajar mahasiswa hukum sejak 2024. Ia menilai ada beberapa hal mendasar yang perlu dipahami calon mahasiswa sebelum memutuskan menempuh pendidikan di bidang hukum agar proses belajar dapat berjalan lebih terarah dan efektif.

"Paling tidak, kalau misalkan calon mahasiswa ingin masuk program studi hukum, saya menekankan agar dia itu harus tahu dulu arah ke depannya akan seperti apa, mau jadi apa dan ingin berpraktik di mana," kata dosen muda yang karib disapa Irfan itu.

1. Tentukan Tujuan Karier Sebelum Memilih Jurusan Hukum

Banyak calon mahasiswa memilih jurusan hukum karena melihat peluang kerja yang luas setelah lulus. Padahal, luasnya pilihan profesi tersebut justru menuntut mahasiswa memiliki tujuan yang jelas sejak awal. Menentukan arah karier sebelum kuliah akan membantu mahasiswa memahami kompetensi apa saja yang perlu dipersiapkan selama masa studi.

Dunia hukum menawarkan berbagai profesi, mulai dari advokat, jaksa, hakim, notaris, mediator, konsultan hukum, hingga akademisi. Setiap profesi membutuhkan pendekatan belajar yang berbeda sehingga mahasiswa perlu mengenali bidang yang paling sesuai dengan minat dan kemampuan mereka sejak dini.

Dengan memiliki target yang jelas, mahasiswa dapat lebih mudah memilih organisasi, program magang, pelatihan, maupun kegiatan akademik yang mendukung pengembangan kompetensinya. Langkah tersebut juga membantu mereka menyusun rencana karier secara lebih terarah hingga memasuki dunia kerja.

"Poinnya ada di penguatan argumentasi hukum yang bisa diterapkan di ranah masyarakat. Jadi ketika dia mau jadi pengacara misalnya, dia bisa tau arahnya, polanya termasuk sudah merencanakan untuk mengambil pendidikan profesi PKPA (Pendidikan Khusus Profesi Advokat)," ujar Irfan yang sebelumnya mengawali pendidikan S1 di Program Studi Hukum, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

2. Kenali Berbagai Cabang Ilmu Hukum Sejak Awal

Sebagian mahasiswa baru masih beranggapan bahwa ilmu hukum hanya berkaitan dengan perkara pidana yang sering muncul di media. Padahal, ruang lingkup hukum sangat luas dan mencakup berbagai cabang keilmuan yang memiliki karakteristik berbeda satu sama lain.

Mahasiswa akan mempelajari Hukum Pidana, Hukum Perdata, Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara, Hukum Internasional, Hukum Bisnis, Hukum Islam, hingga Hukum Adat. Masing-masing bidang memiliki teori, pendekatan, dan peluang karier yang berbeda sehingga perlu dipahami secara menyeluruh.

Irfan menekankan jika pemahaman terhadap berbagai cabang hukum akan membantu mahasiswa menemukan bidang yang paling diminati. Selain itu, wawasan yang luas juga memudahkan mahasiswa mengikuti perkembangan isu hukum yang terus berubah sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.

3. Perkuat Kemampuan Komunikasi Sejak Semester Pertama

Kemampuan komunikasi menjadi salah satu keterampilan yang sangat penting bagi mahasiswa hukum. Hampir seluruh aktivitas akademik menuntut mahasiswa mampu menyampaikan pendapat, berdiskusi, melakukan presentasi, hingga mempertahankan argumentasi di depan kelas.

Kemampuan berbicara yang baik tidak hanya berguna saat kuliah, tetapi juga ketika mahasiswa memasuki dunia profesional. Seorang praktisi hukum dituntut mampu menjelaskan persoalan secara sistematis, menyampaikan argumentasi yang logis, serta berkomunikasi dengan berbagai pihak dalam situasi yang berbeda.

Dosen tersebut lantas mengajak calon mahasiswa sebaiknya nanti mengupayakan untuk aktif mengikuti diskusi, seminar, organisasi, maupun kegiatan akademik lainnya. Semakin sering kemampuan komunikasi dilatih, semakin mudah mahasiswa menyampaikan pemikiran hukum secara jelas dan meyakinkan.

4. Bangun Kemampuan Argumentasi Hukum yang Kuat

Mahasiswa hukum tidak cukup hanya memahami isi undang-undang atau teori yang terdapat di buku. Mereka juga harus mampu menjelaskan alasan mengapa suatu aturan diterapkan dan bagaimana aturan tersebut digunakan untuk menyelesaikan persoalan hukum tertentu.

Kemampuan argumentasi hukum menjadi fondasi penting dalam berbagai profesi hukum. Seorang advokat harus mampu membela kliennya dengan argumentasi yang kuat, sementara hakim maupun akademisi juga memerlukan kemampuan serupa untuk menjelaskan dasar hukum yang digunakan.

Menurut Irfan, penguatan argumentasi hukum perlu dilakukan sejak masa kuliah melalui diskusi, analisis kasus, dan pembelajaran teori secara mendalam. Kemampuan tersebut akan sangat membantu mahasiswa ketika menghadapi persoalan hukum yang kompleks di lapangan.

5. Jangan Terjebak pada Hafalan Semata

Salah satu anggapan yang paling sering muncul adalah mahasiswa hukum harus menghafal seluruh undang-undang dan pasal yang dipelajari. Padahal, pendekatan tersebut tidak selalu efektif karena hukum terus berkembang mengikuti perubahan kondisi masyarakat.

Mahasiswa memang perlu memahami aturan yang berlaku, tetapi fokus utama seharusnya terletak pada pemahaman konsep, asas hukum, serta kemampuan menganalisis penerapan hukum dalam berbagai kasus nyata. Pemahaman yang mendalam jauh lebih bermanfaat dibandingkan sekadar hafalan. Pendekatan tersebut membuat mahasiswa lebih siap menghadapi persoalan hukum yang membutuhkan analisis, bukan sekadar mengingat bunyi pasal tertentu.

"Kalau di silabus saya, saya lebih ingin mahasiswa itu memahami tentang teori hukum, sekaligus bagaimana relevansinya saat berlaku di masyarakat kita sekarang. Itulah pentingnya mahasiswa mengikuti perkembangan kasus yang saat ini sedang ramai diperbincangkan, lalu mengelaborasikannya dengan pengetahuan hukum (think law) yang sudah dipelajari." Terangnya.

6. Biasakan Membaca Putusan dan Jurnal Hukum

Kebiasaan membaca merupakan salah satu faktor yang membedakan mahasiswa hukum berprestasi dengan mahasiswa yang hanya mengandalkan materi kuliah. Semakin banyak referensi yang dibaca, semakin luas pula wawasan hukum yang dimiliki.

Selain buku teks, mahasiswa perlu membiasakan diri membaca putusan pengadilan, jurnal ilmiah, artikel akademik, maupun perkembangan regulasi terbaru. Sumber-sumber tersebut memberikan gambaran nyata mengenai penerapan teori hukum dalam praktik.

Melalui kebiasaan membaca yang konsisten, mahasiswa akan lebih mudah memahami hubungan antara teori dan realitas. Kemampuan tersebut sangat penting karena dunia hukum selalu menuntut pembelajaran berkelanjutan bahkan setelah seseorang lulus dari perguruan tinggi.

7. Latih Critical Thinking dalam Setiap Pembelajaran

Berpikir kritis merupakan kemampuan yang wajib dimiliki mahasiswa hukum sejak semester awal. Tanpa kemampuan ini, mahasiswa akan kesulitan memahami hubungan antara teori, fakta, dan penerapan hukum dalam sebuah kasus.

Critical thinking membantu mahasiswa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang sebelum mengambil kesimpulan. Kemampuan ini juga berperan penting dalam menyusun argumentasi yang logis, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun profesional. Mahasiswa dapat melatih kemampuan tersebut dengan menganalisis kasus, mengikuti simulasi peradilan, serta membiasakan diri mengkaji berbagai putusan pengadilan.

"Critical thinking ini sangat penting untuk argumentasi hukum dan melogikakannya dengan kasus," jelas Irfan.

8. Tingkatkan Kemampuan Membaca dan Menulis

Kemampuan membaca dan menulis merupakan keterampilan dasar yang tidak dapat dipisahkan dari dunia hukum. Hampir seluruh aktivitas akademik mahasiswa hukum berkaitan dengan kedua kemampuan tersebut, mulai dari memahami teori hingga menyusun karya ilmiah.

Mahasiswa perlu membiasakan diri membaca dokumen hukum yang panjang dan kompleks agar mampu memahami substansi persoalan secara menyeluruh. Kemampuan membaca yang baik juga membantu mereka menemukan dasar hukum yang relevan untuk suatu kasus.

Sementara itu, kemampuan menulis dibutuhkan untuk menyusun opini hukum, makalah, artikel ilmiah, hingga skripsi. Semakin baik kemampuan menulis yang dimiliki, semakin mudah mahasiswa menyampaikan gagasan hukum secara sistematis dan meyakinkan.

9. Seimbangkan Teori dengan Pengalaman Praktik

Belajar hukum tidak cukup hanya dilakukan melalui perkuliahan di dalam kelas. Mahasiswa juga perlu mencari pengalaman praktik agar memahami bagaimana teori diterapkan dalam kehidupan nyata dan sistem hukum yang berlaku.

Kegiatan seperti magang di lembaga bantuan hukum, mengikuti klinik hukum, peradilan semu, maupun organisasi kemahasiswaan dapat menjadi sarana belajar yang sangat bermanfaat. Pengalaman tersebut membantu mahasiswa memahami persoalan hukum dari sudut pandang yang lebih praktis.

Keseimbangan antara teori dan praktik akan membuat mahasiswa lebih siap menghadapi dunia kerja. Selain memperoleh pengalaman, mereka juga dapat membangun jaringan profesional yang berguna setelah menyelesaikan pendidikan.

10. Perhatikan Pembelajaran agar Tidak Terlambat Lulus

Keterlambatan lulus masih menjadi masalah yang cukup sering terjadi di berbagai perguruan tinggi. Dalam banyak kasus, penyebabnya bukan karena kemampuan akademik yang rendah, melainkan kurangnya kemampuan mengatur waktu dan menentukan prioritas.

Mahasiswa hukum memang perlu aktif dalam organisasi dan berbagai kegiatan pengembangan diri. Namun, aktivitas tersebut harus tetap seimbang dengan kewajiban akademik agar tidak mengganggu proses perkuliahan dan penyelesaian tugas akhir.  Manajemen waktu yang baik akan membantu mahasiswa menyelesaikan kuliah tepat waktu tanpa harus mengorbankan pengalaman organisasi maupun pengembangan kompetensi lainnya.

"Yang penting berlatihlah membagi waktu," tegas Irfan saat menjelaskan salah satu penyebab mahasiswa sering terlambat menyelesaikan studi.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

Apakah kuliah jurusan hukum harus pandai menghafal?

Tidak. Mahasiswa lebih dituntut memahami konsep, asas, dan penerapan hukum dibandingkan sekadar menghafal pasal.

Apa keterampilan paling penting bagi mahasiswa hukum?

Kemampuan berpikir kritis, komunikasi, argumentasi hukum, membaca, dan menulis.

Apakah mahasiswa hukum wajib mengikuti organisasi?

Tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan karena dapat membantu mengembangkan keterampilan praktis dan jaringan profesional.

Bagaimana cara cepat memahami materi hukum?

Rajin membaca teori, jurnal, putusan pengadilan, serta aktif berdiskusi dan menganalisis kasus.

Apa kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa hukum?

Terlalu fokus pada hafalan, kurang melatih critical thinking, dan tidak menyeimbangkan teori dengan praktik.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|