Liputan6.com, Jakarta - Setiap orang tentu senang ketika mendapatkan pujian, perhatian, atau pengakuan dari orang lain. Perasaan dihargai merupakan kebutuhan manusia yang wajar karena dapat membantu membangun rasa percaya diri dan membuat seseorang merasa diterima dalam lingkungan sosialnya. Namun, masalah mulai muncul ketika kebutuhan akan pengakuan tersebut menjadi terlalu besar hingga memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kondisi tertentu, seseorang bisa lebih fokus mencari validasi daripada membangun hubungan yang sehat dan tulus. Hubungan yang seharusnya menjadi ruang untuk saling memahami justru berubah menjadi sarana untuk mendapatkan perhatian, pujian, dan kepastian secara terus-menerus. Berikut adalah beberapa tanda yang sering muncul ketika seseorang lebih haus validasi dibandingkan benar-benar ingin menjalin koneksi yang mendalam dengan orang lain.
1. Selalu Ingin Menjadi Pusat Perhatian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3317990/original/026527300_1607396150-kevin-quezada-H0IIcx93e2w-unsplash.jpg)
Perbesar
Orang yang haus validasi biasanya merasa nyaman ketika perhatian orang lain tertuju kepadanya dalam berbagai situasi sosial. Ketika sedang berkumpul, mereka cenderung berusaha membuat dirinya menjadi fokus utama percakapan dengan cara menceritakan pengalaman, pencapaian, atau masalah yang sedang dialami secara berulang.
Saat orang lain mulai membahas pengalaman pribadi mereka, pembicaraan sering kali diarahkan kembali kepada dirinya sendiri. Akibatnya, percakapan yang seharusnya berlangsung dua arah berubah menjadi dominasi satu pihak yang lebih banyak berbicara dibandingkan mendengarkan.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membuat orang-orang di sekitarnya merasa tidak dihargai karena kesempatan untuk berbagi cerita menjadi sangat terbatas. Hubungan yang sehat membutuhkan keseimbangan antara berbicara dan mendengarkan sehingga kedua pihak dapat merasa diperhatikan secara setara.
2. Sangat Bergantung pada Pujian
Pujian memang dapat memberikan semangat dan meningkatkan rasa percaya diri seseorang dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, orang yang terlalu bergantung pada validasi sering menjadikan pujian sebagai sumber utama untuk menentukan nilai dirinya sendiri.
Ketika mendapatkan apresiasi, mereka bisa merasa sangat bahagia dan bersemangat sepanjang hari. Sebaliknya, ketika tidak mendapatkan respons positif yang diharapkan, suasana hati mereka dapat berubah drastis dan membuat mereka merasa tidak berharga.
Kondisi ini membuat kebahagiaan menjadi sangat bergantung pada penilaian orang lain daripada berasal dari keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. Akibatnya, mereka akan terus mencari pengakuan dari lingkungan sekitar untuk mempertahankan perasaan positif tersebut.
3. Sering Mencari Kepastian dari Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5325363/original/082927800_1755963940-man-woman-having-fight-home_11zon.jpg)
Perbesar
Salah satu tanda paling umum dari kebutuhan validasi yang berlebihan adalah kebiasaan meminta kepastian secara terus-menerus. Mereka sering bertanya apakah dirinya disukai, apakah pekerjaannya sudah cukup baik, atau apakah orang lain masih peduli terhadap dirinya.
Meskipun sudah menerima jawaban yang meyakinkan, rasa tenang tersebut biasanya hanya bertahan dalam waktu singkat. Tidak lama kemudian, keraguan yang sama muncul kembali dan membuat mereka mencari jawaban serupa dari orang yang sama maupun orang lain.
Perilaku ini menunjukkan bahwa sumber rasa aman belum berasal dari dalam diri sendiri. Selama keyakinan pribadi belum terbentuk dengan baik, kebutuhan untuk mendapatkan kepastian dari luar akan terus muncul dan sulit dihentikan.
4. Terlalu Memikirkan Reaksi Orang Lain
Orang yang haus validasi cenderung memberikan perhatian berlebihan terhadap bagaimana orang lain merespons dirinya. Setelah mengunggah foto, pendapat, atau cerita di media sosial, mereka sering memeriksa jumlah suka, komentar, atau bentuk respons lainnya secara berulang.
Bukan hanya di dunia digital, kebiasaan ini juga terlihat dalam kehidupan nyata ketika mereka terus memikirkan bagaimana orang lain menilai penampilan, ucapan, maupun keputusan yang diambil. Bahkan komentar kecil dapat terus teringat selama berhari-hari.
Karena terlalu fokus pada reaksi orang lain, mereka sering kesulitan menikmati momen yang sedang dijalani. Pikiran lebih banyak dihabiskan untuk mencari pengakuan dibandingkan membangun pengalaman yang benar-benar bermakna.
5. Tidak Nyaman dengan Keheningan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5510142/original/047664800_1771819222-59372.jpg)
Perbesar
Keheningan merupakan bagian alami dalam setiap hubungan dan percakapan. Namun, bagi seseorang yang sangat membutuhkan validasi, suasana hening sering terasa tidak nyaman karena tidak ada perhatian atau umpan balik yang sedang diterimanya.
Mereka cenderung terus berbicara, bercanda, atau mencari aktivitas lain agar interaksi tetap berjalan. Bahkan ketika tidak ada hal penting yang perlu dibahas, mereka merasa perlu mengisi setiap jeda yang muncul dalam percakapan.
Padahal, hubungan yang sehat tidak selalu membutuhkan percakapan tanpa henti. Kemampuan menikmati keheningan bersama sering menjadi tanda bahwa kedua pihak merasa aman dan nyaman tanpa harus terus mencari perhatian satu sama lain.
6. Mudah Berubah Demi Diterima
Keinginan untuk diterima dalam lingkungan sosial memang merupakan hal yang normal. Namun, orang yang terlalu mengandalkan validasi sering mengubah sikap, pendapat, dan preferensi pribadinya agar sesuai dengan harapan kelompok tertentu.
Mereka dapat menunjukkan kepribadian yang berbeda ketika berada di lingkungan yang berbeda. Apa yang disukai hari ini bisa berubah besok hanya karena ingin mendapatkan penerimaan dari orang-orang yang sedang berada di sekitarnya.
Lama-kelamaan, kebiasaan tersebut membuat seseorang kehilangan jati diri karena terlalu sering menyesuaikan diri demi memperoleh pengakuan. Akibatnya, mereka menjadi kesulitan mengenali nilai dan prinsip yang sebenarnya dimiliki.
7. Suka Menghitung Pengorbanan dalam Hubungan
Hubungan yang sehat biasanya dibangun atas dasar ketulusan dan kepercayaan tanpa perlu menghitung setiap tindakan yang dilakukan. Sebaliknya, orang yang haus validasi sering mengingat secara rinci berbagai bentuk perhatian dan pengorbanan yang pernah diberikan.
Mereka mungkin merasa kecewa ketika bantuan yang diberikan tidak mendapatkan penghargaan sesuai harapan. Bahkan tindakan baik yang dilakukan terkadang lebih bertujuan memperoleh pengakuan daripada membantu secara tulus.
Akibatnya, hubungan terasa seperti transaksi yang harus selalu seimbang dan dihitung nilainya. Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, rasa kecewa dan frustrasi mudah muncul karena perhatian yang diberikan dianggap tidak mendapatkan balasan yang setara.
8. Curhat Hanya untuk Mendapat Perhatian
Berbagi cerita dan perasaan merupakan bagian penting dalam membangun kedekatan emosional dengan orang lain. Namun, ada perbedaan antara curhat untuk mencari dukungan dan curhat untuk mendapatkan perhatian secara terus-menerus.
Orang yang haus validasi sering mengungkapkan masalah pribadinya pada momen ketika perhatian mulai beralih kepada orang lain. Dengan cara tersebut, fokus percakapan kembali tertuju kepada dirinya dan kebutuhan akan perhatian dapat terpenuhi.
Hal ini bukan berarti setiap orang yang bercerita tentang kesulitannya sedang mencari validasi. Yang menjadi pembeda adalah pola yang terus berulang dan tujuan utama yang tampaknya lebih berfokus pada perhatian daripada solusi atau kedekatan emosional.
9. Lebih Peduli pada Tampilan Hubungan
Sebagian orang sangat memperhatikan bagaimana hubungan mereka terlihat di mata orang lain. Mereka senang menunjukkan kedekatan melalui foto, unggahan media sosial, atau berbagai simbol yang menggambarkan hubungan yang tampak harmonis.
Meski terlihat akrab di permukaan, kedalaman hubungan yang sebenarnya belum tentu sekuat yang ditampilkan. Percakapan yang bermakna, saling memahami, dan dukungan emosional justru bisa sangat minim dalam hubungan tersebut.
Fokus yang berlebihan pada citra sering membuat seseorang lebih mementingkan penampilan hubungan daripada kualitas hubungan itu sendiri. Padahal kedekatan yang tulus dibangun melalui interaksi nyata, bukan sekadar kesan yang terlihat dari luar.
10. Sulit Menerima Kritik
Kritik merupakan bagian dari kehidupan yang dapat membantu seseorang berkembang menjadi lebih baik. Namun, bagi mereka yang sangat bergantung pada validasi, kritik sering dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri.
Komentar sederhana yang sebenarnya bersifat membangun dapat ditafsirkan sebagai bentuk penolakan atau serangan pribadi. Akibatnya, mereka menjadi defensif, marah, atau berusaha mencari pembenaran dari orang lain.
Karena terlalu mengaitkan kritik dengan nilai dirinya sebagai individu, mereka kesulitan memisahkan antara evaluasi terhadap tindakan dan penghargaan terhadap diri sendiri. Kondisi ini membuat proses belajar dan pengembangan diri menjadi lebih sulit dilakukan.
11. Membuat Orang Lain Merasa Tidak Didengar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4381076/original/088703100_1680493705-pexels-diva-plavalaguna-6150432.jpg)
Perbesar
Tanda yang paling jelas dari seseorang yang lebih mencari validasi daripada koneksi adalah dampak yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Setelah berinteraksi dengan mereka, orang lain sering merasa tidak benar-benar diperhatikan atau dipahami.
Percakapan lebih banyak berpusat pada kebutuhan, perasaan, dan pengalaman mereka sehingga ruang bagi orang lain menjadi semakin sempit. Meskipun tampak akrab dan sering berkomunikasi, hubungan tersebut terasa kurang seimbang.
Ketika sebuah hubungan berjalan sehat, kedua pihak memiliki kesempatan yang sama untuk didengar dan dipahami. Jika hanya satu orang yang terus menjadi pusat perhatian, maka hubungan tersebut berisiko kehilangan kedekatan yang sesungguhnya.
Pertanyaan Seputar Tanda Haus Validasi
1. Apa yang dimaksud dengan haus validasi?
Haus validasi adalah kondisi ketika seseorang sangat bergantung pada pengakuan, perhatian, atau persetujuan dari orang lain untuk merasa berharga.
2. Apakah mencari validasi itu normal?
Ya, kebutuhan akan validasi merupakan hal yang normal, tetapi menjadi masalah jika terlalu berlebihan dan memengaruhi hubungan sosial.
3. Apa penyebab seseorang haus validasi?
Penyebabnya bisa beragam, mulai dari rasa tidak percaya diri, pengalaman masa lalu, hingga harga diri yang sangat bergantung pada penilaian orang lain.
4. Apakah orang yang haus validasi selalu narsistik?
Tidak. Banyak orang yang haus validasi sebenarnya memiliki rasa tidak aman dan membutuhkan penerimaan, bukan karena memiliki sifat narsistik.
5. Bagaimana cara mengurangi kebutuhan akan validasi?
Mulailah membangun kepercayaan diri dari dalam diri sendiri, mengenali nilai pribadi, dan tidak menjadikan penilaian orang lain sebagai ukuran utama harga diri.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

6 hours ago
6
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8340011/original/094109600_1782211900-37fa0076-426d-46f2-8553-be455c43cea2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8338260/original/016823100_1782210008-Cover.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8337281/original/046540500_1782208784-hl4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8336948/original/034306300_1782207862-6383143947717163819.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8336174/original/083285700_1782206991-hl_dapur.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7814268/original/065287400_1780631863-16748699804316069778.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8332427/original/000757000_1782202644-312184c3-d90c-4913-bdef-e0ec742c1f8b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8332495/original/074137400_1782202700-17989411765790520722.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8331358/original/056747700_1782201481-hl.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274887/original/004462600_1751823453-dewa_port_nando_768608331f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8327402/original/085642000_1782197032-dc30dad9-02b5-4742-aa88-a8c779a6d2ef.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8325332/original/087273500_1782194790-f74e2952-166a-4b75-9eba-b3b9b6b4298d.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8264373/original/052303700_1782108905-6342f6fd-d4dd-4bee-904b-316eebee200b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8324992/original/077464500_1782194449-hl2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7666367/original/097563400_1780460318-Desain_Dapur_Kecil_Minimalis_dengan_Kombinasi_Roster_dan_Tanaman_Model_Roster_sebagai_Pembatas_Area.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8320530/original/089161700_1782189096-HL_usaha_irt.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8327208/original/078954100_1782196795-hl3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5377503/original/072288400_1760098669-ide_taman_rumah_dengan_kolam_ikan_u__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8329755/original/064013700_1782199598-hl.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8321358/original/090344100_1782190119-Untitledy.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5401010/original/034236800_1762154457-Bocoran_warna_iPhone_18_Pro_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4415431/original/078901700_1683198942-20230504AA_SEA_Games_2023_Timnas_Indonesia_Vs_Myanmar-21.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514118/original/045495100_1772081240-kandang_Ayam_Rooftop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529373/original/019567300_1773329437-Persis_vs_Bali_United.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465586/original/014027200_1767771314-Bebek_Petelur.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4261962/original/044473000_1671083484-harga_telur_ayam_di_tingkat_peternak_mencapai_29_ribu-ARBAS_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527338/original/066171500_1773200879-__________________________________1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4174719/original/068939000_1664411162-42.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525042/original/051351000_1773029160-cropped-2a244f90-7934-47c9-a587-b33c1a79edbd.jpg)