Liputan6.com, Jakarta Begitu musim hujan tiba, linimasa media sosial langsung penuh video jalanan yang berubah jadi sungai dan perabot rumah yang terendam. Banjir bukan lagi masalah Jakarta saja, melainkan langganan tahunan dari kota besar sampai pelosok desa seiring cuaca yang makin sulit ditebak. Di sisi lain, tren bekerja dari rumah dan mahalnya harga tanah di kota membuat banyak keluarga muda melirik kembali kampung halaman. Di titik inilah desain rumah panggung kembali menjadi pilihan hunian masa depan yang cerdas sekaligus estetik.
Bukan sekadar nostalgia arsitektur nusantara, rumah panggung punya logika teknis yang kuat: lantai yang diangkat membuat air, kelembapan, dan hama sulit masuk, sementara kolongnya melancarkan sirkulasi udara. Tak heran ia kini jadi solusi hunian aman di daerah rawan banjir.
Artikel ini merangkum tujuh desain, dari kayu tradisional sampai beton modern, lengkap dengan spesifikasi teknis, pilihan material, estimasi biaya per meter, plus kelebihan dan kekurangannya secara jujur agar Anda bisa memilih yang paling pas dengan lokasi, iklim, dan isi dompet.
Mengapa Desain Rumah Panggung Masih Sangat Relevan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326100/original/095419600_1786956036-18123747-36a4-424d-835a-4ef697e688a6.jpg)
Perbesar
Prinsip meninggikan bangunan ini punya dasar rekayasa, bukan sekadar tradisi. Mengacu pada riset International Journal of Research in Civil Engineering, Architecture & Design, rumah panggung telah lama digunakan di Bangladesh dan sejumlah wilayah Asia sebagai bentuk adaptasi terhadap banjir.
Desain hunian yang ditinggikan memungkinkan air mengalir di bawah bangunan sehingga dapat membantu mengurangi risiko kerusakan akibat banjir Kelebihan ini berlipat pada pemilihan pondasinya. Menurut Angi, pondasi pier and beam cocok untuk area yang lembap dan rawan banjir karena dapat meninggikan bangunan sekaligus memberikan aliran udara yang baik untuk membantu mencegah pertumbuhan jamur.
Secara struktural, keunggulannya juga nyata. Sebagaimana dilaporkan NewHomeSource, tiang pancang dapat menyalurkan beban fondasi melewati lapisan tanah bagian atas hingga mencapai lapisan penopang yang lebih kuat. Desain ini membantu mencegah fondasi bergeser dan menjaga bangunan tetap tertambat saat menghadapi badai dan angin kencang.
Selain fungsi, rumah panggung nusantara juga sarat filosofi, membagi bangunan menjadi tiga tingkat: kolong sebagai dunia bawah, badan rumah sebagai dunia manusia, dan atap sebagai dunia atas. Nilai kearifan lokal inilah yang menjadikannya lebih dari sekadar tempat berteduh, seperti terlihat pada beragam rumah adat di Indonesia.
1. Rumah Panggung Kayu Tradisional: Warisan yang Tak Lekang Waktu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5330513/original/050812200_1756362699-Gemini_Generated_Image_27sz9z27sz9z27sz.jpg)
Perbesar
Model ini mengadaptasi rumah adat nusantara seperti rumah Bugis, Toraja, hingga Rumah Lamin khas Dayak. Ciri visualnya kuat: tiang kayu kokoh, papan dinding horizontal, dan ukiran khas daerah. Secara teknis, siapkan lahan minimal 100 m2 untuk bangunan tipe 45-60 dengan 2-3 kamar tidur, 1-2 kamar mandi, dapur, dan ruang keluarga. Gunakan pondasi umpak batu kali dengan tiang kayu, atap pelana atau limasan berkemiringan 30-40 derajat, tinggi plafon 2,8-3,2 meter, serta lantai panggung 1-2 meter dari tanah.
Material utamanya tiang kayu ulin atau jati kelas awet I, dinding papan kayu, atap genteng tanah atau sirap, dan lantai papan. Di desa, kayu lokal relatif mudah didapat; untuk menekan biaya, kayu kelapa (glugu) atau bambu bisa jadi alternatif. Kelebihannya: sirkulasi udara alami sangat baik, aman dari banjir dan tanah lembap, serta bernilai budaya tinggi. Kekurangannya: rentan rayap dan lapuk sehingga butuh perawatan rutin, dan kayu berkualitas kini makin mahal serta langka. Tingkat kesulitan sedang hingga sulit, namun struktur kayu yang lentur justru relatif tangguh terhadap gempa.
Estimasi biayanya Rp 4-6 juta per m2, atau sekitar Rp 200-270 juta untuk tipe 45, dengan porsi pondasi dan tiang 20%, struktur dan dinding 35%, atap 20%, serta finishing 25%. Model ini ideal bagi pencinta budaya di pedesaan dataran rendah beriklim tropis lembap, dan mudah dikembangkan dengan menambah ruang di kolong. Tips implementasinya: lakukan pengawetan anti rayap secara berkala. Kesalahan umum yang wajib dihindari adalah memakai kayu yang belum kering karena akan menyusut dan retak setelah terpasang.
2. Desain Rumah Panggung Beton Modern Minimalis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5387866/original/049727800_1761105698-Rumah_Panggung_Modern_dengan_Kolong_Beton_Tertutup.jpg)
Perbesar
Inilah wajah rumah panggung masa kini: kolom beton tegas, garis bersih, dan filosofi bentuk mengikuti fungsi. Lahan minimal cukup 72 m2 untuk tipe 36-60 dengan 2-3 kamar tidur. Andalkan pondasi cakar ayam dengan kolom beton bertulang, atap dak beton datar atau miring satu arah, dan tinggi plafon 3 meter. Kolong setinggi 1,5-2,5 meter umumnya dimanfaatkan sebagai carport atau ruang serbaguna.
Material utamanya beton bertulang untuk kolom dan pelat lantai, dinding bata ringan (hebel) atau panel GRC, atap dak atau genteng metal, dan lantai keramik atau semen poles. Semen dan besi mudah didapat sampai ke desa, meski hebel kadang harus dipesan dari kota, sehingga batako lokal bisa jadi pengganti. Kelebihannya: sangat tahan gempa, kebal rayap dan kelembapan, serta minim perawatan jangka panjang. Kekurangannya: biaya lebih tinggi dan menuntut tukang yang paham struktur beton serta bekisting. Tingkat kesulitannya sedang dengan ketahanan cuaca yang prima, cocok untuk iklim tropis yang panas dan basah sekaligus.
Kisaran biayanya Rp 5-7 juta per m2, sekitar Rp 250-320 juta untuk tipe 45, dengan komposisi pondasi 15%, struktur 40%, atap 15%, dan finishing 30%. Model ini pas untuk keluarga muda urban, pekerja WFH, dan lahan sempit di kota yang rawan banjir maupun gempa. Untuk berhemat, bangun struktur lengkap dulu lalu finishing bertahap. Kesalahan umum yang harus dihindari: membuat kolong terlalu rendah sehingga tidak fungsional dan justru menjadi sarang lembap, mengaburkan keunggulan utama konsep panggung yang bisa ditelusuri dari sejarah panjang rumah panggung.
3. Rumah Panggung Tropis Kontemporer yang Hemat Energi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5282838/original/004371900_1752485809-Gemini_Generated_Image_2017542017542017.jpg)
Perbesar
Desain ini memadukan bukaan lebar, ventilasi silang, dan atap menjulang untuk memaksimalkan iklim tropis lewat pendekatan desain pasif. Lahan minimal 90-120 m2 untuk tipe 60-70 dengan 3 kamar tidur. Gunakan pondasi strauss pile atau tiang pancang mini, atap pelana curam 35-45 derajat agar tercipta rongga pembuang panas, dan plafon tinggi 3,5-4 meter. Suzanne Martinson, arsitek asal Miami, mengatakan kepada WLRN bahwa wilayahnya memiliki karakter yang cukup unik karena berada di lingkungan tropis dengan tingkat kelembapan tinggi.
Struktur baja ringan dipadu kayu, dengan dinding kombinasi kayu, kaca, dan roster untuk aliran udara. Atap memakai genteng metal atau tanah, sementara lantai kayu atau vinyl; bambu laminasi menjadi alternatif lokal yang menarik. Kelebihannya: hemat energi karena minim AC, pencahayaan alami melimpah, dan interior yang adem. Kekurangannya: bukaan lebar menuntut solusi privasi dan berisiko tampias saat hujan deras, serta biaya kaca yang tidak murah. Soal biaya, arsitek Sonia Chao, dikutip WLRN, menyatakan bahwa desain pasif tidak sekadar persoalan gaya dan tidak harus rumit atau lebih mahal jika dirancang oleh tenaga ahli.
Estimasi biayanya Rp 5-8 juta per m2, dengan porsi pondasi 15%, struktur 35%, atap 20%, dan finishing 30%. Tingkat kesulitannya sedang. Model ini cocok untuk keluarga muda dan pekerja WFH di dataran rendah hingga menengah beriklim panas lembap, dan cocok pula dipasangkan dengan pilihan plafon yang tepat untuk rumah tropis. Tips utamanya: pakai overstek atap lebar untuk menahan tampias sekaligus terik. Kesalahan umum: salah orientasi bangunan sehingga fasad kaca terpapar matahari barat dan ruangan malah panas.
4. Rumah Panggung Pesisir Anti Rob dan Badai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5279302/original/011214800_1752133495-Gemini_Generated_Image_djn6kidjn6kidjn6.jpg)
Perbesar
Terinspirasi gaya pesisir dan Queenslander Australia, model ini bercirikan teras keliling dan tiang tinggi. Siapkan lahan minimal 100 m2 untuk tipe 45-70. Kuncinya ada pada pondasi tiang pancang beton yang ditanam dalam agar tahan abrasi, dengan kolong 1,8-3 meter, cukup tinggi untuk mengantisipasi pasang laut. Sebagaimana dijelaskan urdesignmag, dinding di bawah area hunian pada rumah panggung sering dibuat sebagai "breakaway walls", yakni dinding non-struktural yang dirancang untuk runtuh ketika terkena tekanan air banjir tanpa mengganggu fondasi maupun struktur bangunan di atasnya.
Karena lingkungan pantai penuh garam dan kelembapan, gunakan material tahan korosi seperti kayu olahan, komposit, baja galvanis, dan GRC. Kelebihannya: aman dari rob dan badai, ventilasi laut yang segar, serta pemandangan lepas. Kekurangannya: risiko korosi menuntut biaya material anti-karat yang tinggi, dan pengerjaan tergolong sulit. Merujuk pedoman FEMA untuk rumah yang ditinggikan di zona banjir, area di bawah hunian sebaiknya digunakan hanya untuk parkir, penyimpanan, atau akses bangunan, bukan sebagai ruang tinggal. Bagian bangunan yang berpotensi terkena banjir juga perlu menggunakan material tahan kerusakan akibat air.
Estimasi biayanya Rp 6-9 juta per m2 karena material tahan korosi mahal, dengan porsi pondasi 25%, struktur 35%, atap 15%, dan finishing 25%. Cocok untuk keluarga nelayan atau hunian wisata di pesisir berangin asin. Pendekatan berdamai dengan air ini tercermin dalam pernyataan Arnoud Molenaar, chief resilience officer Kota Rotterdam, yang dikutip Architecture Helper: "Alih-alih memandang air sekadar sebagai musuh, kami melihatnya sebagai sebuah peluang." Tips implementasinya: pastikan seluruh sambungan memakai baja galvanis dan finishing anti garam. Kesalahan fatal yang sering terjadi adalah memakai besi biasa sehingga cepat berkarat, mirip tantangan pada hunian di dekat pantai. Untuk yang menyukai suasana tenang, konsep serupa juga apik diterapkan pada rumah panggung rustic di tepi sungai.
5. Rumah Panggung Perkotaan untuk Lahan Sempit
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5350747/original/014298700_1758007104-Gemini_Generated_Image_usop79usop79usop.jpg)
Perbesar
Siapa bilang rumah panggung hanya untuk desa? Untuk kota padat, model dua lantai dengan kolong fungsional adalah jawaban cerdas. Lahan minimal 60-72 m2 (misalnya 6x10 meter) sudah cukup untuk tipe 36-45 per lantai. Gunakan pondasi cakar ayam, kolong sebagai carport atau gudang, dan atap miring atau dak beton dengan plafon 3 meter. Konsep ini menjawab keterbatasan lahan tanpa mengorbankan fungsi, selaras dengan tren rumah kecil dua lantai anti banjir.
Materialnya beton bertulang dipadu bata ringan, dengan fasad GRC atau kayu sintetis agar ringan dan modern. Kelebihannya: hemat lahan, carport terlindung dari hujan, dan pemanfaatan ruang vertikal yang maksimal. Kekurangannya: butuh perizinan dan koordinasi dengan tetangga karena rapatnya permukiman, serta kehadiran tangga yang kurang ramah lansia. Tingkat kesulitannya sedang. Estimasi biaya Rp 4,5-6,5 juta per m2, dengan porsi pondasi 15%, struktur 40%, atap 15%, dan finishing 30%.
Model ini pas untuk keluarga muda di kota. Tips: manfaatkan kolong sebagai ruang penyimpanan atau area kerja agar tidak ada meter persegi yang mubazir, prinsip yang juga berlaku pada hunian berlahan kecil. Kesalahan umum yang harus dihindari: mengabaikan bukaan silang antar-rumah yang berdempetan sehingga rumah gerah dan pengap meski sudah berbentuk panggung.
6. Rumah Panggung Industrial Berkarakter
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582346/original/009158300_1778129623-Rumah_Semi_Panggung_Beton.jpg)
Perbesar
Bagi penyuka tampilan tegas, gaya industrial memadukan beton ekspos, besi, dan kayu dengan finishing sengaja dibiarkan mentah (unfinished). Lahan minimal 90 m2 untuk tipe 60. Gunakan pondasi cakar ayam atau kolom beton, atap pelana atau miring, dan plafon yang mengikuti bentuk atap agar ruang terasa lega. Material utamanya beton ekspos, besi hitam, kayu, dan roster, dengan lantai semen poles yang khas.
Kelebihannya: hemat biaya finishing karena permukaan dibiarkan ekspos, karakter visual yang kuat, dan struktur yang tahan lama. Kekurangannya: material besi dan beton menghantar panas sehingga interior bisa terasa gerah, dan butuh insulasi atap yang baik. Tingkat kesulitannya sedang. Estimasi biaya Rp 5-7 juta per m2, dengan porsi pondasi 15%, struktur 40%, atap 20%, dan finishing 25%; justru bagian finishing inilah yang paling bisa ditekan berkat konsep ekspos.
Model ini digemari anak muda kreatif dan pekerja WFH di kawasan urban dataran rendah. Rating estetikanya tinggi berkat perpaduan tekstur kasar yang dihangatkan sentuhan kayu alami. Tips: selalu kombinasikan beton dan besi dengan elemen kayu agar tidak terkesan dingin. Kesalahan umum: lupa memasang insulasi di bawah atap metal sehingga panas siang hari menyergap ke dalam rumah.
7. Rumah Panggung Bambu Ramah Lingkungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582719/original/048203900_1778130217-desa_murah_3.jpeg)
Perbesar
Untuk anggaran paling irit dan jejak karbon rendah, bambu adalah bintangnya. Model eco-friendly ini mengusung filosofi keberlanjutan. Mengutip HomeLane, bambu menjadi salah satu material yang cocok untuk rumah panggung di area lembap karena memiliki ketahanan terhadap air. Struktur bambu disebut dapat bertahan lebih lama di lingkungan lembap dibandingkan kayu, membutuhkan sedikit perawatan, serta mudah diganti dengan biaya dan tenaga yang relatif rendah. Siapkan lahan minimal 100 m2 untuk tipe 36-60, dengan pondasi umpak beton berpadu tiang bambu petung atau beton, atap alang-alang, ijuk, atau sirap, serta plafon tinggi agar sejuk.
Bambu petung dan wulung sangat tersedia serta murah di desa; agar awet, awetkan dengan perendaman larutan borax. Kelebihannya: biaya sangat rendah, material lokal, ramah lingkungan, dan interior yang adem alami. Soal kenyamanan udara, arsitek René Gonzalez, dikutip WLRN, menjelaskan bahwa efek desain pasif "tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis". Menurutnya, aliran udara, ruang terbuka, dan elemen air dapat membuat penghuni secara psikologis merasa lebih sejuk. Kekurangannya: perlu pengawetan berkala terhadap rayap dan kumbang bubuk, umur pakai lebih pendek bila abai perawatan, serta stigma "kurang bergengsi" di sebagian masyarakat.
Estimasi biayanya paling ringan, Rp 2,5-4 juta per m2, dengan porsi pondasi dan tiang 20%, struktur 40%, atap 25%, dan finishing 15%. Tingkat kesulitannya mudah hingga sedang. Model ini ideal untuk petani, hunian eco-tourism, dan berbagai daerah lembap dari dataran rendah sampai pegunungan. Tips: pilih bambu tua yang sudah diawetkan dan gunakan material tahan rayap pada bagian struktural, sebagaimana ulasan tentang jenis kayu tahan rayap dan material yang tidak disukai rayap. Kesalahan umum: memakai bambu muda atau tanpa pengawetan sehingga cepat keropos dalam hitungan tahun.
Tabel Perbandingan Desain Rumah Panggung
| Kayu Tradisional | Rp 4-6 juta | 100 m2 | Sedang-Sulit | Pedesaan, dataran rendah rawan banjir | 4,5/5 |
| Beton Modern Minimalis | Rp 5-7 juta | 72 m2 | Sedang | Perkotaan, rawan gempa & banjir | 4,5/5 |
| Tropis Kontemporer | Rp 5-8 juta | 90 m2 | Sedang | Dataran rendah-menengah, tropis panas | 5/5 |
| Pesisir Anti Rob | Rp 6-9 juta | 100 m2 | Sulit | Pesisir, rawan rob & badai | 4,5/5 |
| Perkotaan Lahan Sempit | Rp 4,5-6,5 juta | 60 m2 | Sedang | Kota padat penduduk | 4/5 |
| Industrial | Rp 5-7 juta | 90 m2 | Sedang | Urban, dataran rendah | 4/5 |
| Bambu Eco-Friendly | Rp 2,5-4 juta | 100 m2 | Mudah-Sedang | Desa, pegunungan, eco-tourism | 4/5 |
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Desain Rumah Panggung
Berapa biaya membangun rumah panggung?
Biayanya sangat bergantung pada material. Untuk versi kayu, beton, atau tropis kontemporer, kisarannya Rp 4-8 juta per meter persegi, sedangkan bambu bisa mulai Rp 2,5-4 juta per meter persegi. Artinya, rumah tipe 45 umumnya menelan sekitar Rp 200-360 juta. Memakai tukang lokal harian biasanya 20-30% lebih hemat dibanding kontraktor borongan, meski kontraktor menawarkan biaya yang lebih terukur dan terjadwal. Simak pula tips membangun rumah yang aman dari banjir agar anggaran tidak membengkak.
Apakah rumah panggung tahan gempa dan banjir?
Ya, selama dirancang dengan benar. Lantai yang ditinggikan membuat air banjir mengalir bebas di bawah rumah tanpa merendam ruang hunian, sementara struktur bertiang cenderung lebih lentur sehingga mampu meredam guncangan gempa dibanding dinding masif. Kuncinya ada pada kekuatan pondasi, mutu tiang, dan sambungan antar-elemen. Konsep tiang yang tangguh ini bahkan menjadi identitas rumah adat tradisional yang bertumpu pada banyak tiang.
Material apa yang paling awet untuk tiang rumah panggung?
Untuk tiang, pilih kayu berkelas awet tinggi seperti ulin atau jati yang tahan air dan tidak disukai rayap. Di daerah pesisir atau sangat lembap, kolom beton bertulang dan baja galvanis lebih andal karena kebal korosi dan rayap. Bambu tetap bisa dipakai asalkan sudah melalui proses pengawetan. Sesuaikan pilihan tiang dengan kondisi tanah dan iklim lokasi, karena inilah komponen yang menopang keseluruhan beban rumah panggung Anda.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

10 hours ago
6
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341638/original/086087300_1788669892-Rumah_Depan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341686/original/006911400_1788674660-71c7307a-6e18-4bd1-8ff5-959e325f72fd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/9341600/original/062280300_1788665735-20260906_102107.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341601/original/020480400_1788665891-7b57422c-0965-45ce-b537-90b121a8c35c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341646/original/029502800_1788670066-Screenshot__475_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9288587/original/061784900_1783327073-1001433500.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341223/original/052908100_1788592343-1001631471.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543608/original/009620500_1775030492-sumur_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341471/original/008558700_1788625202-sty.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341549/original/084644900_1788658603-Darije_Kalezic.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340064/original/008397000_1788464141-indo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341522/original/049915800_1788652795-joksic.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340046/original/042978600_1788451244-U-20.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1556074/original/089484400_1579869202-Madura_United.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341391/original/037184100_1788609396-Gemini_Generated_Image_eki591eki591eki5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341065/original/084111100_1788578163-persib.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9332315/original/062721500_1787651641-ChatGPT_Image_Aug_13__2026__03_05_00_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341468/original/044267500_1788623985-1000980529.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336541/original/057810300_1788165256-2150700358.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5744932/original/052272700_1778643448-11fb065e-6d5a-4a8e-af8c-935083fae6f1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9325772/original/012824000_1786935429-WhatsApp_Image_2026-08-17_at_09.51.49__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5624085/original/037396800_1778215933-The_Jak-3.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336339/original/036670800_1788155727-11bf7afb-d0ee-47d2-a46c-72a1c9954b40.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336360/original/068351100_1788156938-Gemini_Generated_Image_vgh6gmvgh6gmvgh6__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336388/original/070866500_1788159552-051f86cb-0545-4991-a7f1-c5730be5aaaf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4242270/original/090051000_1669625532-043199800_1645433192-kevin-wolf-LgZfYaH6OAU-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336595/original/083266200_1788167124-f7575cef-c1ce-4105-bb37-74f1cfe3b27c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335997/original/062436600_1788086219-persib.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336566/original/005951400_1788166224-pexels-anntarazevich-5629138.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6202765/original/030351500_1779081726-Screenshot_2026-05-18_122019.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495753/original/010090000_1770427969-persib_vs_malut-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326731/original/044655800_1787034649-01M09H5EZC0CJF22ZHH9BPEA9C.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4922986/original/030767500_1724131220-WhatsApp_Image_2024-08-19_at_11.21.08_af746275.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263241/original/026820600_1781870752-Budidaya_Azolla_sebagai_Pakan_Alternatif.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335142/original/082058400_1787912714-ASDFGHGFDDFCDX.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336522/original/062149400_1788164466-2.jpg)