Liputan6.com, Jakarta - Job hugging menjadi istilah yang ramai dibicarakan, menggambarkan sikap karyawan bertahan di posisi mereka saat ini meski merasa jenuh atau minim peluang berkembang, akibat ketidakpastian ekonomi dan pasar kerja yang melambat sejak pertengahan 2025.
Berbeda dengan job hopping semasa Great Resignation, tren ini menunjukkan karyawan enggan pindah kerja karena takut kehilangan stabilitas. Rasa was-was akan PHK, otomatisasi AI, dan minim lowongan baru membuat banyak orang memilih bertahan meski tak puas.
Meski terlihat aman, job hugging berpotensi menurunkan produktivitas dan semangat kerja karena karyawan bertahan bukan karena termotivasi. Perusahaan perlu mengenali gejala ini agar bisa menjaga keterlibatan tim, bukan hanya melihat rendahnya angka turnover. Simak ulasannya oleh Liputan6.com, Kamis (27/8/2026).
Apa Itu Job Hugging?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4961083/original/099491700_1728179400-pexels-ivan-samkov-4240571.jpg)
Perbesar
Job hugging secara sederhana bisa diartikan sebagai perilaku karyawan yang "memeluk erat" pekerjaannya, bertahan di posisi yang sama dalam waktu lama meski tidak lagi merasa puas atau melihat peluang untuk naik jenjang karier.
Berdasarkan laporan Monster yang dikutip Forbes, sekitar 75% pekerja berencana bertahan di pekerjaan mereka hingga 2027, dan hampir separuh dari mereka mengaku bertahan karena rasa takut dan ketidakpastian ekonomi, bukan karena kepuasan kerja.
Fenomena ini merupakan kebalikan dari job hopping, tren yang populer selama era Great Resignation ketika banyak pekerja berpindah-pindah perusahaan demi gaji lebih tinggi atau posisi yang lebih baik.
Anthony Klotz, akademisi dari UCL School of Management yang dikenal sebagai pencetus istilah "Great Resignation", menjelaskan bahwa karyawan yang takut kehilangan pekerjaan cenderung melakukan berbagai upaya ekstra demi mempertahankan posisinya, mulai dari memuji atasan, lembur, hingga aktif dalam rapat-rapat yang sebenarnya bersifat opsional.
Mengapa Tren Job Hugging Muncul?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331013/original/002027000_1787469837-1.jpg)
Perbesar
Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya fenomena job hugging di dunia kerja global, terutama di Amerika Serikat sebagai episentrum tren ini.
1. Perlambatan pasar kerja. Data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan penurunan jumlah lowongan kerja serta angka pengunduran diri sukarela yang tetap rendah dibandingkan masa puncak Great Resignation pada 2022. Kondisi ini membuat pekerja merasa peluang di luar perusahaan semakin sempit dan sulit didapat.
2. Kekhawatiran terhadap otomatisasi dan AI. Menurut laporan CBS News, tren job hugging paling terlihat di kalangan pekerja kerah putih pada sektor keuangan, teknologi informasi, dan jasa bisnis profesional, yakni sektor-sektor yang paling terdampak perubahan berbasis kecerdasan buatan dalam proses rekrutmen maupun pemangkasan tenaga kerja. Banyak perusahaan besar mengaitkan pemutusan hubungan kerja terbaru dengan adopsi teknologi AI.
3. Kebutuhan akan rasa aman dan stabilitas. Laporan dari Culture Amp menyebutkan bahwa job hugging pada dasarnya adalah dinamika pasar tenaga kerja di mana karyawan semakin memprioritaskan stabilitas pekerjaan, terlepas dari seberapa besar keterlibatan mereka terhadap perusahaan. Karyawan memilih tetap tinggal karena rasa takut dan ketidakpastian, bukan karena benar-benar merasa terikat secara emosional dengan pekerjaannya.
Dampak Job Hugging bagi Karyawan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4456876/original/011234900_1686127188-pexels-cottonbro-studio-4065625_1_.jpg)
Perbesar
Meski terlihat memberi rasa aman jangka pendek, job hugging menyimpan sejumlah konsekuensi yang perlu diwaspadai oleh individu pekerja.
Pertama, perkembangan keterampilan menjadi stagnan. Karyawan yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang sama tanpa tantangan baru cenderung berhenti belajar hal-hal baru, sehingga daya saing mereka di pasar kerja justru menurun seiring waktu.
Kedua, kesehatan mental ikut terdampak. Rasa cemas berkepanjangan akibat kekhawatiran kehilangan pekerjaan dapat memicu stres kronis dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan. Ketidaknyamanan yang dipendam dalam waktu lama juga berisiko memicu burnout.
Ketiga, efisiensi kerja menurun. Salah satu konsultan asal Washington D.C. yang dikutip Axios mengungkapkan bahwa rasa paranoid akan kehilangan pekerjaan justru membuatnya kurang efisien karena waktu dan energi banyak terkuras oleh kekhawatiran, bukan fokus pada pekerjaan itu sendiri.
Dampak Job Hugging bagi Perusahaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4933089/original/043171700_1725089474-pexels-karolina-grabowska-8546593.jpg)
Perbesar
Bagi perusahaan, job hugging bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, tingkat retensi karyawan yang tinggi dapat menekan biaya rekrutmen dan membantu mempertahankan pengetahuan institusional di dalam organisasi. Di sisi lain, keterlibatan karyawan yang rendah akibat rasa terpaksa bertahan berpotensi menggerus produktivitas dan budaya kerja secara perlahan.
HR Dive mencatat bahwa penting bagi tim manajemen sumber daya manusia untuk tidak sekadar puas melihat rendahnya angka turnover. Perusahaan perlu memahami motivasi sebenarnya di balik keputusan karyawan untuk bertahan, apakah karena benar-benar terlibat dan termotivasi, atau semata karena rasa takut terhadap situasi pasar kerja yang tidak menentu.
Selain itu, job hugging juga bisa menyulitkan perusahaan dalam menarik talenta baru. Para profesional berkinerja tinggi yang biasanya terbuka terhadap peluang baru kini justru enggan pindah, sehingga persaingan untuk mendapatkan kandidat unggulan menjadi semakin ketat bagi perusahaan yang sedang membutuhkan tenaga kerja berkualitas.
Cara Mengatasi Job Hugging di Tempat Kerja
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5262979/original/043595200_1750759687-medium-shot-woman-working-laptop.jpg)
Perbesar
Beberapa langkah berikut dapat membantu perusahaan mengelola fenomena job hugging secara lebih proaktif:
-
Bangun komunikasi terbuka. Pahami motivasi sesungguhnya di balik keputusan karyawan untuk bertahan, bukan hanya mengandalkan data turnover sebagai indikator kesuksesan retensi.
-
Ciptakan micromobility. Berikan kesempatan bagi karyawan untuk mencoba proyek jangka pendek lintas fungsi tanpa harus mengganti peran secara total, sehingga mereka tetap merasa berkembang meski tidak berpindah posisi.
-
Perkuat proposisi nilai perusahaan. Sampaikan secara jelas rencana pertumbuhan jangka panjang, visi perusahaan, dan peluang pengembangan karier agar karyawan merasa yakin bertahan bukan semata karena rasa takut.
-
Pantau performa, bukan hanya kehadiran. Bandingkan tingkat keterlibatan dengan capaian kinerja aktual untuk mendeteksi tanda-tanda disengagement sejak dini.
Pertanyaan Seputar Job Hugging
Apa itu job hugging?
Job hugging adalah tren di mana karyawan memilih bertahan di pekerjaan mereka saat ini dalam waktu lama, meski merasa tidak puas atau minim peluang berkembang, karena didorong rasa takut terhadap ketidakpastian ekonomi dan pasar kerja.
Apa perbedaan job hugging dan job hopping?
Job hopping adalah kecenderungan berpindah-pindah pekerjaan demi peluang atau gaji yang lebih baik, seperti yang populer saat Great Resignation. Job hugging justru kebalikannya, yaitu karyawan enggan pindah kerja karena takut kehilangan stabilitas di tengah pasar kerja yang lesu.
Apa penyebab utama tren job hugging?
Penyebab utamanya meliputi perlambatan pasar kerja, menyempitnya lowongan baru, kekhawatiran terhadap otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya kecemasan terhadap risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).
Bagaimana cara perusahaan menghadapi fenomena job hugging?
Perusahaan dapat membangun komunikasi terbuka dengan karyawan, menciptakan peluang micromobility lintas fungsi, memperkuat proposisi nilai jangka panjang, serta memantau tingkat keterlibatan berdasarkan capaian kinerja, bukan hanya angka turnover semata.
Bagaimana 'job hugging' memengaruhi perusahaan?
Bagi perusahaan, 'job hugging' dapat menyebabkan tenaga kerja yang stagnan, kurangnya inovasi, dan rendahnya keterlibatan karyawan. Ini menuntut perusahaan untuk lebih fokus pada pengembangan internal dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih menarik.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

5 hours ago
5
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333851/original/026931400_1787809844-A.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333707/original/080632200_1787804136-b714758a-61fb-435c-a424-4e57c8b0269e.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333884/original/047527800_1787811120-Screenshot_2026-08-27_130702.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9332965/original/074527000_1787725598-1280px-KA_436_Siliwangi_CJ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333875/original/046362400_1787810735-pexels-olly-3765117.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333786/original/098604500_1787807163-118ed24b-49cf-4ece-ade0-c9105275b3ae.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3558580/original/014125500_1630551817-29cccc00ef6aae3e8e27a0e76869f777.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5064590/original/030419200_1735023812-28228.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326648/original/013476500_1787030839-salman-rameli-eoQotEG6io8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333823/original/034703300_1787808343-Screenshot_2026-08-27_122300.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333765/original/069556500_1787806751-Gemini_Generated_Image_wkgq4bwkgq4bwkgq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333808/original/002683300_1787807997-b8439398-8c0b-4090-a03d-34bc9b7decb3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9331277/original/093579600_1787536512-watermarked_img_9460632797984467791.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460715/original/071076300_1767273436-kereta.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5323884/original/036803800_1755834674-1755833343.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9328768/original/067132800_1787208112-duy-le-duc-NWuNNFAm4d4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542232/original/079192600_1774937536-Gemini_Generated_Image_l3zwikl3zwikl3zw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333676/original/091531600_1787801832-pexels-gustavo-fring-5622495.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5015234/original/039630800_1732154575-20241119IQ_Timnas_IndonesiavsArab_Saudi-61.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4039815/original/054871100_1654106565-20220601IQ_Timnas_Indonesia_Vs_Bangladesh_12.JPG)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6202765/original/030351500_1779081726-Screenshot_2026-05-18_122019.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495753/original/010090000_1770427969-persib_vs_malut-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559170/original/057781900_1776523941-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5565946/original/060695200_1777098813-lemos.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307862/original/009171400_1754487646-WhatsApp_Image_2025-08-06_at_20.27.15-2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4439357/original/023748200_1684915919-IMG_3716.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531415/original/071066900_1773586899-villa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406767/original/073611600_1762596719-runtukahu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482712/original/018563100_1769240916-klok_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5582864/original/078653400_1778130434-7ad81446-6c8d-439a-b9fd-a7f4c5bd1008.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569530/original/005470400_1777445507-Ternak_Ayam_Petelur_Skala_Rumahan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5570763/original/015593800_1777540240-Cover___Lead__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5296281/original/085419800_1753547299-20250726AA_Persija_Jakarta_VSArema_FC-1.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5313542/original/006368300_1755009869-ChatGPT_Image_Aug_12__2025__09_37_15_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5312034/original/057920500_1754902026-Persija_Jakarta_vs_Persita_Tangerang-36.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5664204/original/074297000_1778334438-20260509_PSS_Sleman_vs_Garudayaksa-03.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5574133/original/061152700_1777963929-Gemini_Generated_Image_kegwc5kegwc5kegw.jpeg)