Liputan6.com, Jakarta - Di sebuah rumah di Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, ada lelaki yang tiap hari duduk di depan mesin jahit tanpa target produksi, tanpa pesanan harus sekian lusin, dan tanpa tekanan investor. Namanya Andreas Bimo Wijoseno. Dan apa yang ia buat dari karung goni bekas, entah itu tas, topi, dan berbagai aksesori, kini sudah dikenal dari Yogyakarta sampai Jakarta. Namanya usaha itu "Gunagoni." Goni bekas yang berarti lagi.
Sebelum mengenal karung goni, Bimo adalah seorang jurnalis. Ia pernah bekerja di media nasional, tahu betul cara membangun narasi, memahami branding, dan membaca arah zaman. Tapi kapal besar media Indonesia mulai goyah. Bimo memilih tidak menunggu tenggelam.
"Orang sudah jelas-jelas kapal besar ini tenggelam kok. Ya mau ngapain lagi? Aku udah di media nasional. Mau ngapain lagi?" ungkapnya pada reporter Liputan6.com pada Senin (8/6/2026)
Ia kemudian pulang memutuskan untuk menetap di Sleman. Ia tak ingin sekadar berwirausaha, ia ingin hidup dengan cara yang ia pilih sendiri. Slow living, kata orang sekarang. Tapi Bimo sendiri bahkan tidak tahu istilah itu saat mulai menjalaninya.
Ospek, Karung Goni, dan Kenangan yang Berubah Jadi Produk
Semua bermula dari hobi yang sudah lama ia tekuni, yaitu berburu barang bekas di pasar tradisional. Bukan karena terpaksa, tapi karena memang cinta. Menurutnya, barang bekas bukan sekadar barang murah, ia adalah kapsul waktu, membawa memori dari tangan ke tangan.
Suatu hari, di sebuah grosiran kacang tanah, ia menjumpai tumpukan karung goni bekas. Harganya tiga ribu rupiah. Ia beli tanpa tahu mau diapakan.
Jawabannya datang dari memori lama, ospek tahun 90-an, ketika mahasiswa baru diwajibkan mengenakan karung goni sebagai simbol kerendahan hati, atau tepatnya, kehinaan. Tapi Bimo justru terbalik cara pandangnya.
Ia mulai coba-coba. Bukan dengan pola jahitan yang presisi. Bukan dengan modal yang sudah dihitung. Ia mengaku ngawur.
"Cuma kotak doang, kasih tali, ya sudah," ungkap Bimo tentang bagaimana ia memulai membuat tas dari goni.
Dibangun dari Relasi, Bukan dari Strategi
Gunagoni tidak punya business plan. Tidak ada riset pasar yang sistematis. Tidak ada target penjualan bulanan. Yang ada hanyalah jalan-jalan, kenal orang, dan produk yang pelan-pelan berbicara sendiri.
Awal penjualan dilakukan di pasar komunitas. Mereka mengundang teman-teman, berkumpul sebulan sekali. Tidak ada yang mau datang dari luar circle karena pasarnya terdengar "aneh." Tapi dari sanalah jaringan tumbuh.
Titip di art shop. Muncul di Instagram. Diajak ke Jogja Fashion Week bukan karena mendaftar, tapi karena relasi. Begitulah Gunagoni berjalan, organik, lambat, namun justru kuat karena itu.
"Kenapa bisa jalan, itu karena perjalanan dan tidak berstrategi," ungkap Bimo terkait strategi bisnisnya.
Menolak Scale Up, Menolak Dilatih, dan Tetap Bertahan
Satu hal yang membuat Gunagoni berbeda dari kisah sukses bisnis pada umumnya, Bimo tidak mau besar. Bukan karena tidak mampu, tapi karena memilih tidak.
Ia menolak program pemerintah yang syaratnya terlalu panjang. Ia menolak investor yang mengharapkan scale up besar-besaran. Ia bahkan menolak mengikuti pelatihan karena takut "jadi manut" dan terpolar dari nilai-nilainya sendiri.
"Aku bikin fashion aja nggak sesuai aturan. Nanti aku harus ngutang sekian, harus buka pabrik dan sebagainya," jelasnya. Baginya, industri yang rakus hanya akan mengulang kesalahan masa lalu, yaitu produksi berlebihan yang mengakibatkan sampah menumpuk.
Yang ia kejar bukan omzet berlipat. Yang penting baginya bisa bayar listrik, beli pulsa, dan setiap hari tetap ada satu karya yang lahir dari tangannya.
Ekofriendly? Kebetulan, Bukan Niat
Orang-orang melabelinya ecopreneur. Sustainable fashion. Circular economy. Bimo tertawa mendengarnya.
"Kebetulan eco. Aku tambah-tambahin aja sebagai semangatku. Sebenernya aku nggak mikir apakah ini ecofriendly. Aku pilih yang nyaman buat aku. Nyaman di duit, nyaman karena udah sering ngeliput tentang ekologi. Ga main plastik lah, itu udah otomatis, tapi bukan diniatin," katanya.
Ia hanya ingin, ketika sesuatu rusak, yang menanggung adalah dirinya sendiri, bukan lingkungan. Prinsip sesederhana itu ternyata jauh lebih kuat dari slogan apapun.
Bertahan Lebih dari 1 Dekade
Berdiri sejak 2013, artinya Gunagoni kini sudah lebih dari satu dekade. Dua setengah tahun pertama nyaris tidak laku. Tapi Bimo tidak berhenti. Produknya kini ada di banyak art shop, pernah tampil di banyak pagelaran fashion, dan dikenal lewat Instagram @gunagoni. Kuncinya bukan strategi. Bukan modal. Bukan koneksi orang penting.
"Kalau ini kan saya karena seneng ya. Emang kalau udah seneng tuh walaupun sempet nggak laku sepi itu pasti. Tapi kalau emang udah seneng kan lain itu," ungkapnya tentang alasannya masih bertahan.
Pertanyaan Seputar Gunagoni
Q: Apa itu Gunagoni dan produk apa yang dijual?
A: Gunagoni adalah usaha kerajinan berbasis di Minggir, Sleman, Yogyakarta yang mengolah karung goni bekas menjadi produk fashion seperti tas, topi, dan aksesori. Semua bahan baku berupa karung goni impor bekas dari India yang pernah digunakan sebagai wadah biji kopi, cokelat, dan kacang.
A: Siapa pendiri Gunagoni?
Andreas Bimo Wijoseno, mantan jurnalis media nasional yang memutuskan pulang ke kampung halamannya di Sleman dan memulai Gunagoni dari hobi berburu barang bekas di pasar tradisional.
Q: Mengapa karung goni yang dipilih sebagai bahan utama?
A: Ada alasan romantis di baliknya, yakni kenangan ospek tahun 90-an ketika karung goni dipakai sebagai simbol kerendahan diri. Bimo ingin mengubah simbol itu menjadi sesuatu yang justru keren. Selain itu, goni adalah serat alam dari rami atau rosella — kuat, tahan lama, dan ramah lingkungan secara alami.
Q: Di mana bisa membeli produk Gunagoni?
A: Gunagoni bisa ditemukan melalui Instagram @gunagoni, serta beberapa art shop dan toko kerajinan di Yogyakarta. Produk mereka juga pernah hadir di berbagai pasar komunitas dan pameran di Yogyakarta.
Q: Apakah Gunagoni menerima pesanan dalam jumlah besar atau kolaborasi bisnis?
A: Gunagoni adalah usaha kecil yang disengaja tetap kecil. Bimo tidak membuka jalur produksi massal dan tidak menerima investasi dengan syarat scale up. Kolaborasi yang terbuka biasanya dibangun melalui relasi personal dan komunitas, bukan jalur korporasi.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

1 week ago
20
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262780/original/012668500_1781847585-1703345885812368220.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8083510/original/075601500_1780929846-4545C94F-DBA3-4E9C-920D-227B0E2A806E.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5464154/original/022157500_1767680956-0906211623197802859399710.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262702/original/088453400_1781843559-batu_alam_gelas_buram_4a.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262666/original/072810600_1781841446-ban_bertingkat.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262660/original/052188300_1781841230-delima_COVVV.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5462232/original/013223100_1767517916-UI.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262613/original/078509500_1781839968-Ide_Usaha_untuk_Ibu_Rumah_Tangga.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262516/original/070654600_1781832600-5935185046628922304.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262596/original/076924000_1781838751-dapur_4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262555/original/081505000_1781836864-Screenshot_2026-06-19_092646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262559/original/072936300_1781837008-Tanaman_Buah_yang_Bisa_Berbuah_Lebat_di_Drum_Bekas_dan_Mudah_Dirawat_Pemula.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486364/original/089438600_1769583991-model_teras_ada_kolam_ikan4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1495067/original/082497700_1486023784-bacang-fsui_wodpress.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262243/original/084495300_1781776481-HL_sayur.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7336618/original/055797600_1780120424-20260530_105918.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4572146/original/084941000_1694499511-Ilustrasi_anjing_dan_kucing.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5138911/original/094180600_1740046297-IMG-20250219-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262168/original/042313500_1781773795-18430178727068253082.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262204/original/033146900_1781774708-Desain_Gazebo_Minimalis_Modern_untuk_Lahan_Sempit_Ukuran_2x2_Meter.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5401010/original/034236800_1762154457-Bocoran_warna_iPhone_18_Pro_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4415431/original/078901700_1683198942-20230504AA_SEA_Games_2023_Timnas_Indonesia_Vs_Myanmar-21.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514118/original/045495100_1772081240-kandang_Ayam_Rooftop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529373/original/019567300_1773329437-Persis_vs_Bali_United.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465586/original/014027200_1767771314-Bebek_Petelur.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4261962/original/044473000_1671083484-harga_telur_ayam_di_tingkat_peternak_mencapai_29_ribu-ARBAS_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4174719/original/068939000_1664411162-42.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527338/original/066171500_1773200879-__________________________________1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513604/original/091062600_1772031776-What_a_goal_from_Gali_Freitas______Persebaya__PersebayaUntukSemua.jpg)