:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333422/original/085105500_1787755254-nep6.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta - Bencana banjir bandang terjadi di Nepal setelah video detik-detik air bah menerjang kawasan dekat perbatasan Nepal-Tibet viral di media sosial. Rekaman dari Instagram @nepal.360 memperlihatkan warga dan pekerja berusaha menyelamatkan diri saat aliran air bercampur lumpur dan batu tiba-tiba datang hingga menyapu bangunan serta kendaraan di sekitarnya.
Video lain merekam seorang pekerja terseret arus dan bertahan dengan berpegangan pada pohon. Dalam waktu singkat, aliran air membawa lumpur, batu, dan material lain hingga bangunan di sekitar lokasi ikut tersapu. Rekaman tersebut memperlihatkan bagaimana banjir datang tanpa memberi banyak waktu bagi warga untuk menjauh.
Banjir yang terjadi pada 26 Agustus 2026 itu melanda wilayah Rasuwa, Nepal, di dekat perbatasan Tibet. Peristiwa tersebut merusak permukiman, jalan, dan jembatan di sepanjang aliran sungai. Lantas, apa penyebab banjir bandang Nepal tersebut? Simak ulasannya, Kamis (27/8).
1. Runtuhnya Gletser Menjadi Awal Banjir Bandang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333506/original/017979900_1787792443-ev9.jpg)
Perbesar
Merujuk The Guardian, bagian bawah gletser di kawasan Himalaya runtuh dan jatuh ke lembah pada pagi hari. Analisis citra satelit menunjukkan bagian es tersebut berada di ketinggian sekitar 5.200 meter sebelum runtuh ke wilayah yang lebih rendah. Jatuhan es dan batu kemudian menghantam aliran Sungai Lhende sehingga membawa air, lumpur, batu, dan material lain ke arah hilir.
Pergerakan material tersebut membuat aliran sungai berubah dalam waktu singkat. Material yang masuk ke sungai sempat menghambat aliran sebelum tekanan air mendorongnya kembali bergerak. Kondisi itu menghasilkan gelombang air dan lumpur yang kemudian melaju menuju kawasan di Nepal dan Tibet. Karena terjadi dalam waktu singkat, warga memiliki waktu terbatas untuk menyelamatkan diri.
USGS kemudian menjelaskan bahwa getaran yang sempat disebut sebagai gempa berkaitan dengan runtuhan gletser tersebut. Peristiwa runtuhan itu tercatat sebagai getaran dengan kekuatan 5,2, tetapi bukan gempa bumi. Penjelasan ini mengubah informasi awal mengenai penyebab bencana yang sebelumnya beredar di tengah masyarakat.
2. Air, Lumpur, dan Batu Bergerak ke Permukiman
Setelah material masuk ke Sungai Lhende, aliran bergerak menuju sungai lain yang terhubung dengan wilayah Nepal. Air kemudian membawa lumpur, batu, es, dan material dari lereng menuju kawasan yang lebih rendah. Jalur sungai membuat dampak bencana meluas hingga sejumlah wilayah yang berada jauh dari lokasi runtuhan awal.
Salah satu wilayah yang terdampak berada di Distrik Rasuwa, dekat perbatasan Nepal dan Tibet. Permukiman seperti Timure dan Syapru Besi terdampak, sedangkan aliran berikutnya mencapai wilayah Nuwakot dan Dhading. Rumah, jalan, jembatan, serta fasilitas lain yang berada dekat sungai ikut terkena aliran tersebut.
Rekaman yang beredar menunjukkan bagaimana air dan lumpur bergerak melewati kawasan yang sebelumnya dipenuhi bangunan. Dalam beberapa video, aliran tampak membawa benda berukuran besar dan menutup bagian jalan. Rekaman tersebut menjadi gambaran mengenai cepatnya perubahan kondisi di lokasi ketika banjir bandang mulai bergerak.
3. Mengapa Banjir Terjadi Saat Tidak Hujan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333501/original/034669500_1787792442-ev4.jpg)
Perbesar
Banjir Nepal kali ini menarik perhatian karena laporan awal menyebut tidak terjadi hujan ketika air mulai bergerak. Kondisi tersebut membuat warga dan sejumlah petugas tidak memiliki tanda seperti hujan deras yang biasanya menjadi perhatian sebelum banjir. Sumber air justru berasal dari peristiwa di kawasan pegunungan yang kemudian mengalir ke wilayah bawah.
Runtuhnya gletser membuat es dan batu jatuh ke lembah serta mengganggu aliran sungai. Ketika material tersebut bergerak, air dan sedimen ikut terbawa. Aliran yang terbentuk kemudian bergerak mengikuti jalur sungai menuju kawasan permukiman. Proses tersebut menjelaskan mengapa banjir dapat terjadi tanpa hujan langsung di lokasi yang terdampak.
Kondisi pegunungan Himalaya juga membuat perubahan di wilayah atas dapat berdampak pada kawasan yang berada jauh di bawahnya. Sungai menjadi jalur yang membawa air dan material dari daerah tinggi menuju daerah rendah. Karena itu, masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai tetap dapat terdampak meskipun tidak mengalami hujan ketika bencana dimulai.
4. Detik-Detik Banjir Nepal Terekam Kamera
Sejumlah video yang beredar memperlihatkan air dan lumpur bergerak melewati kawasan perbatasan serta permukiman di Nepal. Rekaman dari lokasi menunjukkan warga berusaha menjauh ketika aliran mulai mendekat. Beberapa bangunan dan kendaraan terlihat berada di jalur aliran yang kemudian membawa material ke kawasan lebih rendah.
Salah satu kesaksian datang dari Bibek Kumal, pekerja yang berada di wilayah hilir Rasuwa. Ia mengatakan mendengar suara sebelum melihat aliran air, lumpur, dan batu datang. Kumal kemudian terseret aliran dan bertahan dengan berpegangan pada pohon hingga berhasil diselamatkan.
Rekaman tersebut memperlihatkan risiko yang muncul ketika banjir bandang bergerak tanpa waktu peringatan yang panjang. Aliran dapat berubah dari sungai menjadi jalur material dalam hitungan menit. Kondisi ini membuat jarak dari sungai menjadi salah satu faktor penting bagi keselamatan warga yang berada di kawasan pegunungan.
5. Dampak Banjir dan Pencarian Korban
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333499/original/099017400_1787792441-ev3.jpg)
Perbesar
Banjir menerjang sejumlah kawasan di Nepal dan Tibet. Rumah, jalan, jembatan, serta fasilitas lain mengalami kerusakan akibat aliran air dan material. Sejumlah wilayah juga menghadapi kendala akses karena jalan terputus dan endapan lumpur menutup jalur yang biasa digunakan untuk menuju lokasi bencana.
Jumlah korban masih berubah karena pencarian terus berlangsung. Laporan terbaru menyebut sedikitnya 165 orang meninggal di Nepal, sementara ratusan orang masih belum ditemukan. Di sisi Tibet, laporan pemerintah China menyebut terdapat korban meninggal dan orang yang belum ditemukan. Angka tersebut dapat berubah setelah proses pencarian selesai.
Banyak warga dan warga negara asing berada dalam daftar orang yang belum ditemukan. Sebagian merupakan wisatawan dan peziarah yang berada di kawasan sekitar jalur menuju Kailash Mansarovar. Tim penyelamat menggunakan kendaraan, helikopter, dan peralatan lain untuk menjangkau lokasi yang terputus dari jalur darat.
6. Hubungan Perubahan Iklim dengan Risiko di Himalaya
Para peneliti masih mempelajari faktor yang membuat bagian gletser tersebut runtuh. Salah satu perhatian adalah perubahan suhu di kawasan Himalaya yang dapat memengaruhi kondisi es dan salju.
Namun, menurut pakar iklim dari Department of Earth and Environmental Sciences, University of Michigan di laman resminya, Ingrid Hendy, menyebut proses penarikan alami gletser secara umum, sebagai salah satu dampak pemanasan global yang paling jelas, di mana hal ini sering melibatkan pergerakan massa es dan batu menuruni lereng gunung, sehingga meningkatkan risiko banjir bandang di lembah pegunungan.
Perubahan pada gletser dapat meningkatkan risiko peristiwa yang berkaitan dengan air dan material dari pegunungan. Ketika es mencair atau struktur gletser berubah, air dapat terkumpul dan aliran sungai dapat mengalami perubahan. Kondisi pegunungan yang curam kemudian membuat air dan material bergerak cepat menuju kawasan di bawahnya.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Banjir Nepal
1. Apa penyebab banjir bandang Nepal?
Penyebab Banjir Bandang Nepal berkaitan dengan runtuhnya bagian gletser di kawasan Himalaya. Runtuhan es dan batu masuk ke sungai lalu memicu aliran air, lumpur, dan material menuju wilayah yang lebih rendah.
2. Apakah banjir Nepal disebabkan gempa?
Tidak. USGS menyatakan getaran yang sempat dikira gempa berasal dari runtuhan gletser dan material yang bergerak.
3. Di mana banjir bandang Nepal terjadi?
Dampak terbesar berada di Distrik Rasuwa dekat perbatasan Nepal-Tibet. Aliran kemudian mencapai sejumlah wilayah lain melalui jaringan sungai.
4. Mengapa banjir terjadi tanpa hujan?
Banjir berasal dari runtuhan gletser yang membawa air, es, batu, dan lumpur ke sungai. Karena sumbernya berada di kawasan pegunungan, banjir dapat terjadi meskipun tidak turun hujan di wilayah terdampak.
5. Berapa jumlah korban banjir Nepal?
Jumlah korban masih diperbarui. Hingga 27 Agustus 2026, laporan menyebut sedikitnya 165 orang meninggal di Nepal dan ratusan lainnya masih belum ditemukan.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

2 hours ago
2
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334190/original/013730900_1787823787-9b58aff8-0b34-4d19-b65e-3c367c8cfd45.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333747/original/096863400_1787805412-fe258b87-709f-4664-8437-442d6fa3b0ad.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9329515/original/081347900_1787283679-5Ug9sAHtgPyKvKWbzp3bq5zZuZ0TeqqI0CWT5Q2b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499854/original/092636400_1770797030-mencucui_beras.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334076/original/018558800_1787819646-Gemini_Generated_Image_6dg2lf6dg2lf6dg2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333952/original/051322900_1787814987-Risiko_Membuang_Air_Mendidih_ke_Wastafel.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333725/original/034956100_1787804858-Gemini_Generated_Image_ne79j9ne79j9ne79.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334128/original/017048800_1787821079-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334096/original/058254900_1787820321-3f7fd350-af6f-4216-85da-66ce892813cb.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309068/original/090033100_1785218010-4cb37853-194d-488f-9ef6-40e95a01b105.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334028/original/094576200_1787817977-wdfdsa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9329494/original/010394300_1787283643-0Iv4uYpndxRFMmmQewCYDLY9p56KIojaU6fEKy5b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5202511/original/055713800_1745902371-20250427AA_BRI_Liga_1_Persija_Jakarta_vs_Semen_Padang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467166/original/054850400_1767864909-Taman_Vertikal_dari_Botol_Bekas__DIY_Super_Murah_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333800/original/031432000_1787807961-HL.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333851/original/026931400_1787809844-A.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333707/original/080632200_1787804136-b714758a-61fb-435c-a424-4e57c8b0269e.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333884/original/047527800_1787811120-Screenshot_2026-08-27_130702.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9332965/original/074527000_1787725598-1280px-KA_436_Siliwangi_CJ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333875/original/046362400_1787810735-pexels-olly-3765117.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6202765/original/030351500_1779081726-Screenshot_2026-05-18_122019.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495753/original/010090000_1770427969-persib_vs_malut-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559170/original/057781900_1776523941-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5565946/original/060695200_1777098813-lemos.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307862/original/009171400_1754487646-WhatsApp_Image_2025-08-06_at_20.27.15-2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4439357/original/023748200_1684915919-IMG_3716.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531415/original/071066900_1773586899-villa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406767/original/073611600_1762596719-runtukahu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482712/original/018563100_1769240916-klok_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5582864/original/078653400_1778130434-7ad81446-6c8d-439a-b9fd-a7f4c5bd1008.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569530/original/005470400_1777445507-Ternak_Ayam_Petelur_Skala_Rumahan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5570763/original/015593800_1777540240-Cover___Lead__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5296281/original/085419800_1753547299-20250726AA_Persija_Jakarta_VSArema_FC-1.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5313542/original/006368300_1755009869-ChatGPT_Image_Aug_12__2025__09_37_15_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5312034/original/057920500_1754902026-Persija_Jakarta_vs_Persita_Tangerang-36.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5664204/original/074297000_1778334438-20260509_PSS_Sleman_vs_Garudayaksa-03.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5574133/original/061152700_1777963929-Gemini_Generated_Image_kegwc5kegwc5kegw.jpeg)