Liputan6.com, Jakarta - Saat teman-temannya turun ke jalan berdemo soal darurat sampah di Yogyakarta, Muji Purwanto memilih diam di rumah. Bukan karena tak peduli, tapi ia sedang mencari jawaban yang berbeda. Dari kegelisahan itulah lahir Kandang Gadri, sebuah peternakan ayam kampung dan alba dengan konsep zero waste yang kini produknya jadi incaran orang-orang yang sedang dalam masa pemulihan pasca operasi.
Siapa sangka, jalan menuju peternakan ayam organik konsep zero waste ini diawali bukan dari bangku ilmu peternakan, melainkan dari dunia arsitektur, komunitas pecinta alam, dan sebuah game Playstastion lawas berjudul "Harvest Moon." Muji Purwanto, lulusan arsitektur yang akrab dengan dunia desain, bukanlah sosok yang tiba-tiba jatuh cinta pada ayam. Perjalanannya bermula antara 2021–2022, saat Yogyakarta dilanda darurat sampah.
"Darurat sampah ini yang membuat saya khawatir, kok banyak orang yang demo, terutama teman-teman aktivis saya banyak demo, tapi tidak beraksi atau menemukan solusi," ungkap Muji kepada repoerter Liputan6.com di peternakannya Sleman, Yogyakarta, Senin (27/4/2026).
Terinspirasi Game Harvest Moon
Titik baliknya datang tak terduga, dari sebuah konten Instagram milik Kang Priyatna asal Bali yang memperlihatkan beternak ayam skala rumahan. Muji langsung mendaftar ke workshop tersebut. Namun ada satu benang merah lagi yang mungkin tak pernah disebut di buku peternakan mana pun, yakni kenangan bermain game Harvest Moon.
“Saya suka banget Harvest Moon main game zaman dulu kecil,” ungkapnya sambil tersenyum. Game simulasi bertani itu rupanya menanamkan cinta pada ritme kehidupan di lahan yang tumbuh perlahan dalam benak Muji jauh sebelum ia sadar. Ketika ia memulai beternak, setiap kali pulang dari proyek arsitektur, ia akan memposting kegiatan panen telur dan aktivitas kandangnya seolah sedang menjalani permainan Harvest Moon dalam dunia nyata.
Nama “Gadri” bukan dipilih sembarangan. Muji menemukannya dari teks berbahasa Jawa saat mengikuti ibadah di gereja. Dalam tatanan arsitektur Jawa, gadri berarti ruang samping tempat menyimpan hasil panen, sekaligus ruang pertemuan keluarga.
“Saya berharap ini tuh sebagai tempat lumbung pangan kami, sekaligus tempat bertemu keluarga,” jelas Muji. Makna itu kini terasa hidup, karena Kandang Gadri bukan sekadar tempat ayam bertelur, ia adalah ruang di mana filosofi hidup Muji tentang keberlanjutan dan kepedulian pangan terwujud nyata.
Peternakan Ayam Organik Konsep Zero Waste
Inti dari peternakan ayam organik konsep zero waste di Kandang Gadri ada pada satu prinsip sederhana, yakni tidak ada yang terbuang sia-sia. Limbah dapur menjadi pakan, kotoran ayam menjadi kompos, dan kompos kembali menyuburkan tanaman pakan. Sebuah siklus yang berjalan rapi.
Pakan di Kandang Gadri berasal dari sumber-sumber yang selama ini dianggap sampah. Jeroan ikan selalu direbus terlebih dahulu untuk membunuh bakteri, lalu dicampur dengan cacahan daun pepaya Jepang dan talas sebagai sumber protein nabati yang mudah tumbuh di sekitar rumah. Bekatul dan nasi aking menjadi bahan karbohidrat utama, dilengkapi dengan limbah roti, jagung, dan sisa buah yang didapat dari minimarket terdekat. Ampas kelapa dari penjual bubur ayam milik kerabat turut dimanfaatkan, sementara sisa buah segar langsung diberikan ke ayam tanpa perlu diolah lebih lanjut.
Setiap pagi, Muji menyiapkan dua ember besar berkapasitas sekitar 20 kilogram. Jeroan ikan atau bahan berprotein hewani lainnya direbus hingga matang, lalu disisihkan. Sementara itu, daun talas, daun pepaya Jepang, atau dedaunan lain dicacah hingga mengisi sekitar seperempat dari ember. Ampas kelapa sekitar tiga hingga empat kilogram, nasi aking dua ember kecil, dan bekatul ditambahkan ke dalam campuran bersama limbah roti atau jagung yang tersedia. Kunci komposisinya adalah minimal 60 persen dari total campuran harus berupa bahan berkarbohidrat, karena itulah yang mendorong semangat bertelur si ayam.
Setelah semua bahan tercampur rata, kadar air dijaga agar tidak terlalu basah. Campuran kemudian ditutup rapat dan dibiarkan berfermentasi secara alami selama 24 jam. Barulah sore harinya, campuran fermentasi itu digabungkan dengan jeroan yang sudah direbus, lalu disajikan ke ayam. Proses fermentasi tersebut tanpa menggunakan tambahan bakteri starter EM4 maupun ragi, Muji memilih fermentasi alami. “Kalau pakai EM4, baunya lebih ke arah tape, bahkan bisa ke arah ciu. Saya beberapa kali mencoba kok tidak cocok,” ungkapnya.
Telur dan Daging yang Dicari Orang Pasca Operasi
Saat ini Kandang Gadri fokus memelihara dua jenis ayam, yakni KUB (Kampung Unggulan Balitbangtan) dan Elba. Keduanya bukan dipilih secara kebetulan. Ayam KUB adalah ras ayam kampung resmi yang dikeluarkan pemerintah melalui Kementerian Pertanian yang lebih tahan penyakit, dan mampu menghasilkan 180 hingga 200 butir telur per tahun. Selain itu, KUB juga unggul sebagai ayam pedaging karena bobot tubuhnya yang layak potong. Sementara ayam Elba, yang tengah naik daun, menawarkan produktivitas telur jauh lebih tinggi, mencapai 300 butir per tahun, dengan ukuran telur yang hampir menyamai ayam petelur komersial dan ketahanan tubuh yang cukup kuat.
“Bagi kami yang paling utama itu bukan jenis breed-nya, tapi lebih ke arah pakan apa yang diberikan. Karena itu yang mempengaruhi kualitas telur paling utama,” tegas Muji.
Pelanggan pertama Kandang Gadri adalah dosen Muji, yang istrinya usai kecelakaan dan disarankan dokter mencari ayam kampung dengan pakan non-pabrikan. Dari satu pelanggan itu, cerita menyebar dari mulut ke mulut.
Kini, segmen terbesar pelanggan Kandang Gadri dapat dikelompokkan ke dalam tioga kategori. Yang pertama adalah mereka yang sedang menjalani masa pemulihan pasca operasi yang memerlukan protein berkualitas tanpa risiko alergi dari bahan kimia pakan pabrikan. Yang kedua adalah lansia yang menjaga pola makan lebih ketat. Terakhir, balita yang orang tuanya sangat selektif dalam memilih sumber protein.
Muji juga menceritakan bahwa beberapa konsumen yang alergi saat mengonsumsi ayam broiler atau petelur komersial, ternyata tidak mengalami reaksi serupa saat mengonsumsi produk Kandang Gadri.
“Saya enggak bisa mengeklaim kandang kami lebih baik, tapi yang pasti yang paling banyak mencari itu malah orang-orang yang alergi pakan,” tuturnya.
Kualitas telur pun mendapat perhatian konsumen. Kuning dan putih telurnya disebut lebih padat, mudah dipisahkan, dan warnanya lebih cerah dibanding telur komersial.
Lebih dari Sekadar Bisnis Peternakan
Salah satu hal yang menarik perhatian banyak orang tentang Kandang Gadri adalah cara pengemasan telurnya, yakni dengan menggunakan pelepah pisang kering. Ide ini lahir dari kebutuhan praktis, bukan dari strategi branding yang matang. Mengingat masih banyak ruas jalan di Indonesia yang berlubang membuat Muji khawatir telur yang telah dipesan pelanggannya retak di perjalanan. Setelah trial and error dengan jerami ala Jepang dan karton susu, ia menemukan solusi yang justru ada di sekitarnya, yakni pelepah pisang yang dikeringkan.
“Intinya packaging itu bukan untuk membranding awalnya. Cuma untuk safety aja, untuk aman ngantar,” ujar Muji. Tapi tanpa ia duga, kemasan ramah lingkungan yang bisa terurai secara alami ini menjadi viral di grupnya dan ditiru.
Bukan itu saja yang membuat Kandang Gadri lebih dari sekadar bisnis peternakan. Di dalam kandang ayam,m Muji juga dilengkapi dengan komposter aktif. Kotoran ayam, sisa pakan, dan limbah organik lain diolah menjadi kompos, yang hanya cukup dijaga kelembaban dan sering di-layer (ditumpuk berlapis) agar tidak bau.
“Saya senangnya bisa menciptakan kandang dengan bau yang tidak menyengat, bahkan hampir tidak berbau. Teman-teman yang ke sini pun bilang, ‘Oh, kok enggak bau ya?’” kata Muji.
Tanda bahwa kompos berjalan baik adalah munculnya uap panas saat dibongkar. Itu merupakan tanda bahwa bakteri pengurai sedang aktif bekerja. Kompos hasil olahan digunakan sendiri untuk menyuburkan tanaman di kebun Muji, menutup lingkaran zero waste dengan sempurna.
FAQ
Q: Apa itu peternakan ayam organik konsep zero waste?
A: Peternakan ayam organik konsep zero waste adalah sistem beternak yang meminimalkan limbah dengan cara mengolah limbah organik rumah tangga menjadi pakan fermentasi, dan mengolah kotoran ayam menjadi kompos. Hasilnya, siklus tertutup tanpa bahan kimia pabrikan dan hampir tanpa sisa yang dibuang percuma—seperti yang dipraktikkan Kandang Gadri di Kalasan, Sleman.
Q: Mengapa telur ayam kampung Kandang Gadri dicari orang pasca operasi?
A: Karena pakannya bebas dari bahan pabrikan yang berpotensi memicu alergi. Beberapa konsumen yang alergi terhadap ayam broiler atau petelur komersial melaporkan tidak mengalami reaksi serupa saat mengonsumsi produk Kandang Gadri. Dokter pun menyarankan konsumsi ayam kampung dengan pakan non-pabrikan untuk pasien dalam masa pemulihan.
Q: Apa jenis ayam yang digunakan di Kandang Gadri?
A: Kandang Gadri memfokuskan diri pada dua jenis: ayam KUB (Kampung Unggulan Balitnak)—ayam kampung resmi dari pemerintah Indonesia—dan ayam Elba (Alba) yang produktivitas telurnya mencapai 300 butir per tahun. Keduanya dipilih karena ketahanan tubuh yang baik dan daya adaptasi terhadap sistem umbaran dalam kandang.
Q: Bagaimana cara membuat pakan fermentasi dari limbah rumah tangga?
A: Kunci utamanya adalah komposisi: minimal 60% bahan berkarbohidrat seperti nasi aking, bekatul, roti, dan jagung, sisanya bahan berprotein seperti jeroan ikan yang sudah direbus, ampas kelapa, dan daun-daunan. Campuran ditutup rapat dan difermentasi alami selama 24 jam tanpa tambahan bakteri starter. Hindari terlalu banyak air agar fermentasi tidak menghasilkan bau kecut yang membuat ayam tidak mau makan.
Q: Apakah Kandang Gadri terbuka untuk kunjungan atau belajar bersama?
A: “Oh, silakan, saya sangat terbuka,” kata Muji. Namun ia menyarankan untuk membuat janji terlebih dahulu karena ia masih aktif berprofesi sebagai arsitek. Kandang berlokasi di Krajan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

4 hours ago
1
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567478/original/056734600_1777282427-Gemini_Generated_Image_76bb0y76bb0y76bb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567535/original/063351100_1777286307-IMG_20260427_114519.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4482605/original/038108800_1687839159-356628882_649873363846025_1238592168932116034_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5561385/original/014968400_1776747938-pic-1-10.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5566682/original/060339100_1777213418-prediksi_PSJ_Vs_PSO.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567559/original/022140800_1777287714-Perjuangan_tak_kenal_lelah_berbuah_kemenangan_penting__RiungxBaliUnited__Reignite__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567557/original/006116000_1777287628-1000312487.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307862/original/009171400_1754487646-WhatsApp_Image_2025-08-06_at_20.27.15-2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5565766/original/098117700_1777086011-unnamed__30_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4809121/original/067224000_1713780891-donat_kentang_oatmeal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514809/original/060272800_1772107854-IMG-20260226-WA0032.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5565514/original/065351600_1777027127-IMG_20260424_173332_796.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567518/original/034674000_1777285342-Pilihan_Warna_Cat_Rumah_untuk_Rumah_di_Desa_Menghadap_Timur_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567363/original/049649400_1777277481-Desain_Rumah_Industrial_Ekspos_kecil_COV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567086/original/026450800_1777264795-caraka.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567284/original/007406300_1777274117-usaha_ternak_bersama_ibu_kader_desa_modal_kecil_hasil_rutin.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550853/original/062747800_1775710624-fa6ddd9d-94ad-4641-b8f6-c535bf936fd2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1031698/original/009989200_1445690389-Kucing.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5549427/original/049669400_1775618975-unnamed__40_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566892/original/048677400_1777259803-Jenis_Pohon_Alpukat_Pendek_yang_Cocok_di_Halaman_Rumah_Sempit_2.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4897279/original/047157000_1721544216-IMG_20240721_131658.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5482943/original/058250300_1769302357-54cb0e1a-9b5f-43ac-b9d3-4f7a7bd14f4c.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500419/original/020749000_1770864866-Model_Ruang_Tamu_Open_Space.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469055/original/011269000_1768048972-cesar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486588/original/012358000_1769591525-Tips_Mengatasi_Kucing_Garuk_Sofa_Terus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482519/original/004242000_1769226806-pelaku_usaha_UMKM_Bantul_Rifqi_Rozanah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5454293/original/050430700_1766556442-1000101929.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383986/original/067984300_1760708009-Saddil-Ramdani.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461719/original/099491300_1767433319-WhatsApp_Image_2026-01-03_at_15.59.48__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5462350/original/069630300_1767550955-20260104_222549.jpg)