Liputan6.com, Jakarta Lebaran, momen berkumpul keluarga yang seharusnya penuh kebahagiaan, terkadang diwarnai dengan body shaming yang menyakitkan. Komentar-komentar kurang menyenangkan tentang berat badan, penampilan, atau pilihan makanan bisa membuat suasana hati langsung hancur.
Kamu enggak sendirian, banyak orang mengalami hal serupa. Body shaming termasuk bentuk pelecehan yang berbahaya dan dapat berdampak buruk pada kesehatan mental seseorang.
Komentar-komentar yang tampaknya tidak berbahaya pun bisa sangat menyakitkan dan merusak kepercayaan diri seseorang. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa itu body shaming dan bagaimana cara menghadapinya dengan efektif.
Dalam artikel ini akan dibahas apa itu body shaming, bentuk-bentuknya, dampaknya bagi kesehatan mental, dan yang terpenting, strategi jitu untuk menghadapinya dengan bijak. Dengan bekal pengetahuan dan strategi yang tepat, kamu bisa melewati Lebaran dengan lebih tenang dan percaya diri, tanpa harus terbebani oleh komentar-komentar negatif.
Ingat, kamu berhak merasa nyaman dan dihargai dalam lingkungan keluarga. Jangan ragu untuk memprioritaskan kesehatan mentalmu dan menetapkan batasan yang jelas. Simak rangkuman Liputan6.com dari Very Well Mind, Business Insider, dan Psycholgy Today, Kamis (3/4/2025).
Body shaming merupakan suatu perilaku mengkritik atau mengomentari fisik atau tubuh diri sendiri maupun orang lain dengan cara yang negatif. Baik itu mengejek tubuh gendut, kurus, pendek, atau tinggi, sama seperti saat Anda melakukan bullying secara ...
Apa Itu Body Shaming?
Body shaming adalah tindakan memberikan komentar negatif tentang tubuh seseorang. Ini bisa berupa komentar tentang ukuran tubuh, berat badan, bentuk tubuh, rambut, pakaian, makanan, atau tingkat daya tarik seseorang. Komentar-komentar ini seringkali bertujuan untuk membuat seseorang merasa buruk tentang dirinya sendiri dan penampilannya.
Body shaming bisa datang dari siapa saja, termasuk keluarga, teman, pasangan, bahkan orang asing. Sayangnya, body shaming telah menjadi hal yang umum terjadi di masyarakat kita, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui media sosial. Hal ini diperparah oleh standar kecantikan yang tidak realistis yang seringkali dipromosikan oleh media.
Bentuk-Bentuk Body Shaming
Body shaming bisa muncul dalam berbagai bentuk. Berikut beberapa contohnya:
- Komentar negatif tentang berat badan: "Kamu gemukan ya?", "Sudah gendut banget sih?"
- Komentar negatif tentang bentuk tubuh: "Kok perutnya buncit banget?", "Pinggulnya lebar sekali."
- Komentar negatif tentang pilihan makanan: "Jangan makan banyak-banyak, nanti tambah gemuk!" , "Kok makannya itu terus? Nggak sehat!"
- Perbandingan dengan orang lain: "Adikmu lebih langsing darimu." , "Lihat saja si A, badannya bagus sekali."
- Komentar negatif tentang penampilan fisik lainnya: "Rambutnya kusut sekali." , "Bajunya norak banget!"
Body Shaming dalam Keluarga
Sayangnya, body shaming juga sering terjadi dalam lingkungan keluarga, terutama saat momen-momen berkumpul seperti Lebaran. Keluarga terkadang merasa berhak berkomentar tentang tubuh anggota keluarganya, dengan dalih perhatian atau kekhawatiran. Namun, komentar-komentar tersebut seringkali disampaikan dengan cara yang tidak sensitif dan justru melukai perasaan.
Di lingkungan keluarga yang dekat, komentar-komentar tersebut mungkin terkesan lebih halus, namun tetap menyakitkan. Misalnya, pertanyaan seperti "Kok kamu nggak kurus-kurus?" atau "Kamu makan apa sih, kok gemuk banget?" bisa terasa sangat menyindir dan membuat kamu merasa tidak nyaman.
Situasi ini diperparah dengan adanya tradisi makanan Lebaran yang melimpah. Kamu mungkin merasa tertekan untuk makan banyak, atau sebaliknya, merasa bersalah jika menolak makanan yang ditawarkan. Semua ini bisa memicu perasaan negatif tentang diri sendiri dan memperburuk dampak body shaming.
Dampak Body Shaming
Body shaming memiliki dampak negatif yang serius bagi kesehatan mental. Berikut beberapa dampaknya:
- Penurunan kepercayaan diri dan harga diri
- Kecemasan dan depresi
- Gangguan pola makan, seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa
- Gangguan citra tubuh (body dysmorphia)
- Perilaku makan yang tidak sehat
- Meningkatkan risiko bunuh diri
Seperti yang dijelaskan dalam berbagai sumber, body shaming dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan mental, termasuk depresi, kecemasan, dan gangguan citra tubuh. Studi menunjukkan bahwa body shaming dapat memicu perilaku makan yang tidak sehat dan bahkan meningkatkan risiko bunuh diri.
Cara Menghadapi Body Shaming dari Keluarga: Pahami dan Analisis Situasi
Berikut beberapa cara bijak menghadapi body shaming dari keluarga:
1. Jangan langsung bereaksi
Coba pahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan keluarga. Apakah itu murni niat buruk atau hanya bentuk perhatian (meski caranya salah)? Pertimbangkan konteks budaya keluarga kamu.
2. Evaluasi perasaan kamu
Bagaimana komentar tersebut membuat kamu merasa? Kecewa? Tersinggung? Marah? Mengenali emosi kamu akan membantu kamu merespon dengan lebih efektif.
3. Tentukan hubungan yang diinginkan
Bagaimana kamu ingin hubungan kamu dengan keluarga tersebut ke depannya? Apakah kamu ingin memperbaiki komunikasi atau menjaga jarak? Tujuan ini akan memandu cara kamu merespons.
Cara Menghadapi Body Shaming dari Keluarga: Komunikasikan Perasaan dengan Bijak
4. Percakapan jujur namun asertif
Jika kamu merasa nyaman, bicarakan perasaan kamu dengan keluarga yang melakukan body shaming. Ungkapkan ketidaknyamanan kamu dengan tenang dan tegas, tanpa menyalahkan atau menyerang balik.
Contoh: 'Tante, aku merasa sedikit tersinggung dengan komentar tentang berat badanku. Aku menghargai perhatian tante, tapi aku lebih nyaman jika kita bicara tentang hal lain.'
5. Tetapkan batasan
Beri tahu keluarga kamu bahwa komentar tentang tubuh kamu tidak pantas dan kamu tidak ingin mendengarnya lagi. Tetapkan batasan yang jelas dan konsisten.
6. Gunakan humor (jika sesuai)
Tergantung pada hubungan kamu dengan keluarga, humor bisa menjadi cara yang efektif untuk meredakan situasi. Contoh: 'Wah, tante, aku memang lagi menikmati hidangan Lebaran, tapi aku tetap menjaga kesehatan kok!'
Cara Menghadapi Body Shaming dari Keluarga: Fokus pada Diri Sendiri
7. Cintai dan hargai diri sendiri
Ini adalah langkah terpenting. Body shaming seringkali berasal dari ketidakamanan orang lain, bukan dari kekurangan kamu. Bangun rasa percaya diri dan harga diri kamu sendiri. Latih pikiran positif tentang tubuh kamu.
8. Abaikan dan alihkan pembicaraan
Jika percakapan menjadi tidak nyaman, kamu berhak untuk mengabaikan komentar tersebut dan mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Contoh: 'Wah, tante, baju baru tante cantik sekali! Di mana tante membelinya?'
9. Cari dukungan
Berbicara dengan teman, pasangan, atau terapis dapat membantu kamu memproses emosi dan membangun rasa percaya diri.
10. Pertimbangkan konteks budaya
Sadari bahwa beberapa komentar mungkin berasal dari niat baik namun disampaikan dengan cara yang tidak tepat. Cobalah untuk memahami perspektif keluarga kamu, tetapi tetap tegas dalam menetapkan batasan.
Penting untuk diingat: Kamu berhak merasa nyaman dan dihargai. Jangan ragu untuk menetapkan batasan dan melindungi kesehatan mental kamu.
Jika body shaming terus berlanjut dan berdampak negatif pada kesehatan mental kamu, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional. Ingat, kamu berhak untuk merasa nyaman dan dihargai. Jangan ragu untuk menetapkan batasan dan melindungi kesehatan mentalmu.