Liputan6.com, Jakarta - Di banyak pekarangan, kebun, maupun lahan kosong, sering muncul berbagai jenis tumbuhan liar tanpa sengaja ditanam. Kehadirannya kerap dianggap mengganggu pertumbuhan tanaman utama, sehingga langsung dicabut atau dibersihkan. Padahal, ada sejumlah tanaman yang sering dikira gulma padahal bisa dijual mahal dan memiliki nilai ekonomi cukup menjanjikan apabila dikenali secara tepat.
Tidak sedikit masyarakat belum mengetahui bahwa beberapa tumbuhan liar ternyata memiliki manfaat sebagai bahan herbal, sayuran, tanaman hias, hingga kebutuhan industri tertentu. Kondisi tersebut membuat banyak potensi keuntungan terlewat begitu saja. Oleh sebab itu, informasi mengenai tanaman yang sering dikira gulma padahal bisa dijual mahal semakin menarik perhatian, terutama bagi pecinta tanaman dan pelaku usaha pertanian.
Perubahan tren gaya hidup juga turut mendorong meningkatnya permintaan terhadap produk alami berbasis tumbuhan. Berbagai jenis tanaman liar kini mulai dilirik sebagai komoditas bernilai jual tinggi di pasaran. Bahkan, beberapa tanaman yang sering dikira gulma padahal bisa dijual mahal telah dibudidayakan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan konsumen dari berbagai daerah.
Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (4/6/2026).
1. Ciplukan
Ciplukan merupakan salah satu tanaman liar yang cukup mudah ditemukan di berbagai wilayah, baik di lahan kosong, tepi jalan, kebun, area persawahan, maupun pekarangan rumah. Tanaman ini biasanya tumbuh secara alami tanpa memerlukan perawatan khusus sehingga sering kali dianggap sebagai tumbuhan biasa yang tidak memiliki nilai penting. Ciri khas utama ciplukan terletak pada buahnya yang berukuran kecil dan terbungkus oleh kelopak tipis menyerupai lampion alami. Saat masih muda, buah ciplukan berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kuning keemasan ketika telah matang dan siap dikonsumsi.
Di balik penampilannya yang sederhana, ciplukan ternyata memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas tanaman ini meningkat seiring bertambahnya minat masyarakat terhadap bahan pangan alami dan produk kesehatan berbasis herbal. Buah ciplukan diketahui mengandung berbagai nutrisi penting yang membuatnya semakin diminati oleh konsumen. Tidak hanya dijual dalam kondisi segar, buah ini juga sering diolah menjadi berbagai produk kesehatan dan minuman herbal yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Selain buahnya, beberapa bagian lain dari tanaman ciplukan juga kerap dimanfaatkan dalam berbagai ramuan tradisional yang telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat. Tingginya permintaan pasar terhadap tanaman ini membuat sebagian petani mulai melirik ciplukan sebagai komoditas yang layak dibudidayakan secara lebih serius. Tanaman yang dahulu sering dianggap tidak berguna kini justru memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan apabila dikelola dengan baik.
2. Krokot
Krokot merupakan tanaman yang sangat mudah tumbuh dan sering ditemukan di sela-sela paving, halaman rumah, kebun sayuran, lahan pertanian, hingga area terbuka yang jarang dirawat. Pertumbuhannya yang cepat dan kemampuannya menyebar dalam waktu singkat membuat banyak orang menganggap tanaman ini sebagai gulma yang mengganggu keberadaan tanaman budidaya lainnya. Oleh sebab itu, krokot sering dicabut dan dibuang saat proses pembersihan lahan dilakukan.
Meskipun sering dianggap sebagai tanaman pengganggu, krokot sebenarnya memiliki kandungan nutrisi yang sangat mengesankan. Tanaman ini dikenal kaya akan asam lemak omega-3, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh. Kandungan tersebut menjadikan krokot mulai mendapatkan perhatian luas di berbagai negara sebagai salah satu sumber pangan alami yang bernilai tinggi. Bahkan di beberapa wilayah, krokot telah lama dimanfaatkan sebagai sayuran sehat yang dikonsumsi dalam berbagai jenis hidangan.
Selain dimanfaatkan sebagai bahan pangan, beberapa varietas krokot juga memiliki daya tarik visual yang cukup tinggi sehingga sering digunakan sebagai tanaman hias. Bunganya yang berwarna-warni mampu mempercantik taman maupun pekarangan rumah. Perpaduan antara manfaat kesehatan dan nilai estetika tersebut membuat krokot memiliki potensi ekonomi yang semakin besar dan membuka peluang usaha yang cukup menarik bagi para pembudidaya tanaman.
3. Pegagan
Pegagan merupakan tanaman menjalar yang banyak tumbuh di lingkungan yang memiliki tingkat kelembapan cukup tinggi, seperti pematang sawah, area perkebunan, pinggiran saluran air, serta halaman rumah. Tanaman ini memiliki ciri khas berupa daun berbentuk bulat menyerupai kipas kecil dengan tangkai yang relatif panjang. Bentuknya yang unik membuat pegagan cukup mudah dikenali meskipun sering tumbuh bercampur dengan berbagai jenis tanaman liar lainnya.
Sejak lama pegagan dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang memiliki banyak manfaat sehingga sering dimanfaatkan dalam berbagai produk kesehatan. Daunnya banyak digunakan sebagai bahan pembuatan minuman kesehatan, suplemen herbal, hingga produk perawatan tubuh yang memanfaatkan kandungan alami dari tanaman tersebut. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat turut mendorong permintaan pegagan di berbagai pasar, baik untuk kebutuhan domestik maupun industri.
Di sejumlah negara Asia, pegagan bahkan telah menjadi bahan baku untuk berbagai produk kesehatan premium yang dipasarkan kepada konsumen dengan nilai jual cukup tinggi. Kondisi tersebut membuat pegagan tidak lagi dipandang sebagai tanaman liar biasa. Sebaliknya, tanaman ini kini memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan dan semakin banyak dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang.
4. Sintrong
Sintrong merupakan tanaman liar yang banyak ditemukan tumbuh di area terbuka, lahan pertanian, kebun, maupun pekarangan yang jarang dibersihkan. Kemampuannya untuk tumbuh dengan cepat dan menyebar secara alami membuat banyak orang menganggap sintrong sebagai gulma yang tidak memiliki manfaat. Akibatnya, tanaman ini sering dicabut dan dibuang tanpa mengetahui potensi yang dimilikinya.
Padahal, sintrong merupakan salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Daunnya sering diolah menjadi berbagai hidangan tradisional seperti lalapan, urap, pecel, maupun aneka masakan khas daerah lainnya. Selain memiliki cita rasa yang khas dan cukup disukai oleh sebagian masyarakat, sintrong juga mengandung berbagai nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh sehingga layak dijadikan bagian dari menu sehari-hari.
Meningkatnya minat masyarakat terhadap pangan lokal dan bahan makanan alami membuat sintrong mulai mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan sebelumnya. Di beberapa daerah, daun sintrong bahkan telah diperjualbelikan di pasar tradisional sebagai sayuran konsumsi. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman yang selama ini dianggap sebagai gulma ternyata memiliki nilai ekonomi yang cukup menarik apabila dimanfaatkan secara tepat.
5. Bandotan
Bandotan dikenal sebagai salah satu jenis gulma yang paling mudah ditemukan di berbagai wilayah. Tanaman ini dapat tumbuh dengan cepat di kebun, lahan pertanian, tepi jalan, halaman rumah, maupun area terbuka lainnya tanpa memerlukan perawatan khusus. Kemampuannya berkembang secara alami membuat bandotan sering dianggap sebagai tanaman pengganggu yang harus dibersihkan agar tidak mengganggu tanaman utama.
Meskipun sering dipandang sebagai gulma yang merugikan, bandotan ternyata memiliki manfaat yang cukup besar, terutama dalam bidang pertanian organik. Daunnya mengandung berbagai senyawa alami yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pestisida nabati. Pestisida berbahan dasar bandotan banyak digunakan untuk membantu mengendalikan berbagai jenis hama tanaman tanpa bergantung sepenuhnya pada bahan kimia sintetis.
Seiring meningkatnya perhatian terhadap praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan, kebutuhan terhadap bahan alami untuk pengendalian hama juga semakin bertambah. Kondisi ini membuat bandotan mulai dilirik sebagai tanaman yang memiliki nilai ekonomi tersendiri. Apa yang dahulu hanya dianggap sebagai gulma ternyata dapat menjadi sumber manfaat yang bernilai bagi dunia pertanian modern.
6. Meniran
Meniran merupakan tanaman berukuran kecil yang sering tumbuh liar di berbagai lokasi seperti pekarangan rumah, kebun, tepi jalan, maupun lahan kosong. Penampilannya yang sederhana membuat banyak orang tidak menyadari bahwa tanaman ini memiliki potensi yang cukup besar. Meniran biasanya tumbuh secara alami tanpa memerlukan perlakuan khusus dan mampu berkembang dengan baik pada berbagai kondisi lingkungan.
Dalam dunia herbal, meniran termasuk salah satu tanaman yang cukup populer dan banyak dimanfaatkan. Berbagai bagian tanaman ini sering digunakan sebagai bahan baku pembuatan jamu tradisional, ekstrak herbal, serta produk kesehatan alami lainnya. Tingginya minat masyarakat terhadap produk berbahan alami membuat permintaan terhadap meniran tetap stabil dari waktu ke waktu.
Selain mudah ditemukan di alam, meniran juga relatif mudah dibudidayakan dalam skala kecil maupun besar. Kemudahan dalam proses penanaman serta peluang pasar yang cukup baik menjadikan tanaman ini menarik untuk dikembangkan sebagai sumber penghasilan tambahan. Oleh sebab itu, meniran merupakan salah satu contoh tanaman liar yang sering diabaikan, padahal memiliki nilai ekonomi dan manfaat yang tidak bisa dianggap remeh.
Pertanyaan Seputar Tanaman yang Sering Dikira Gulma
Apa saja tanaman yang sering dikira gulma padahal bernilai jual tinggi?
Beberapa tanaman yang sering dikira gulma namun memiliki nilai jual tinggi antara lain ciplukan, biji teratai, pegagan, daun dewa, sambiloto, sirih cina, krokot, meniran, patikan kebo, beluntas, dan rumput teki.
Mengapa ciplukan dan biji teratai memiliki nilai ekonomi tinggi?
Ciplukan memiliki buah yang manis dan lezat, serta dimanfaatkan sebagai obat herbal dengan harga mencapai Rp500.000 per kilogram. Biji teratai, meskipun tumbuh liar, diminati perusahaan obat-obatan karena khasiatnya dan dihargai sekitar Rp30.000 per kilogram.
Tanaman liar apa saja yang dikenal memiliki khasiat medis tinggi?
Tanaman liar dengan khasiat medis tinggi meliputi pegagan (meningkatkan fungsi otak), daun dewa (mengobati luka, peradangan, menurunkan hipertensi), dan sambiloto (bahan baku obat herbal untuk berbagai penyakit).
Bagaimana tanaman seperti krokot dan sirih cina dapat menjadi peluang bisnis?
Krokot mulai naik kelas sebagai superfood karena kandungan omega-3 nabati dan vitamin. Sirih cina kaya antioksidan dan mineral, bermanfaat untuk radang sendi hingga menurunkan kolesterol, menunjukkan potensi pasar yang baik jika dikelola menjadi produk bernilai.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

5 hours ago
5
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7758585/original/090189600_1780567915-1928163730180626540.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7591053/original/027682300_1780373467-Media_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5549685/original/044942600_1775627882-mf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7734379/original/072051600_1780540305-mozambik.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7756287/original/074671800_1780565390-Google_Maps_Tugu_Yogyakarta_Februari_2015.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5340227/original/012749100_1757156252-20250904AA_Timnas_Indonessia_Vs_China_Taipei-159.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516975/original/076209200_1772372351-diks.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7755926/original/049725600_1780564945-15431069960656123881.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7754993/original/088786000_1780563865-model_pagar.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480492/original/041121400_1769057781-Model_Karung_Horizontal__Slab_Garden_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7754404/original/010756300_1780563218-WhatsApp_Image_2026-06-04_at_15.50.26__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7268270/original/074430500_1780053866-ChatGPT_Image_May_29__2026__06_22_51_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7757374/original/089035300_1780566496-WhatsApp_Image_2026-06-04_at_16.47.44.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7750805/original/077707800_1780559015-HL_es_krim.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7755054/original/060141300_1780563915-hl.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7750939/original/090021000_1780559080-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6493867/original/025420800_1779351314-unnamed__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5551115/original/028309200_1775718082-unnamed_-_2026-04-09T135919.858.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7749100/original/054849600_1780557073-hl2.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500419/original/020749000_1770864866-Model_Ruang_Tamu_Open_Space.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495693/original/051356400_1770394579-WhatsApp_Image_2026-02-06_at_10.19.48_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5401010/original/034236800_1762154457-Bocoran_warna_iPhone_18_Pro_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529373/original/019567300_1773329437-Persis_vs_Bali_United.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514118/original/045495100_1772081240-kandang_Ayam_Rooftop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4415431/original/078901700_1683198942-20230504AA_SEA_Games_2023_Timnas_Indonesia_Vs_Myanmar-21.JPG)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495699/original/087407300_1770395606-IMG-20260206-WA0103.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465586/original/014027200_1767771314-Bebek_Petelur.jpg)
