Liputan6.com, Yogyakarta - Sempat ada masa di mana antrean mengular di depan gerai-gerai Mixue di setiap sudut kota. Warunk Upnormal juga pernah menjadi tempat tongkrongan wajib anak muda. Namun kini, satu per satu nama besar itu memudar. Di balik kemeriahan itu tersimpan ironi pahit, yakni lonjakan permintaan yang tidak tertangani, ekspansi terburu-buru, hingga kehilangan identitas karena terus mengejar tren. Semua itu menjadi bumerang yang menghancurkan dari dalam. Dua nama itu hanya sedikit dari contoh usaha yang viral, lalu menghilang.
Lalu apa bedanya bisnis yang viral lalu mati dengan bisnis yang tidak pernah viral, tapi bertahan lebih dari satu dekade? Jawabannya satu kata, keberlanjutan. Di Minggir, Sleman, Yogyakarta, Andreas Bimo Wijoseno sejak 2013 tekun mengubah karung goni bekas menjadi tas, topi, dan pakaian lewat brand Gunagoni. Itu dia lakukan tanpa pitch deck, tanpa strategi viral marketing, tanpa investor. Ia adalah mantan jurnalis yang memilih pulang kampung. Berbekal tabungan pengalaman dan satu kegemaran yang tidak pernah hilang, yaitu jalan-jalan ke pasar dan mengoleksi barang bekas.
Gunagoni lahir bukan dari riset pasar atau analisis kompetitor, melainkan dari cinta pada proses. Selama 2,5 tahun pertama tidak ada satu pun pembeli, namun Bimo tetap berkarya setiap hari. Modalnya tabungan pribadi, jaringannya komunitas kecil dan art shop lokal, prinsip finansialnya sederhana, cukup untuk bayar listrik dan pulsa. Artikel ini membahas kiat agar bisnis tetap sehat meski tumbuh perlahan.
1. Mulai dari Hal yang Benar-Benar Kamu Sukai, Bukan Sekadar Ikut Tren
Gunagoni dimulai bukan dari tren, tapi dari kesenangan. Bimo tidak membuat karung goni menjadi tas karena sedang viral, ia membuatnya karena itulah yang membuatnya bahagia setiap hari.
Ini bukan motivasi klise. Ini strategi bertahan hidup yang nyata. Bisnis yang didasarkan pada tren akan mati bersama tren itu. Tapi bisnis yang didasarkan pada passion memiliki bahan bakar yang tidak habis dimakan zaman.
"Kalau aku sendiri nggak seneng pakai, berarti nggak cocok. Itu aja intinya," kata Bimo kepada reporter Liputan6.com pada Senin (8/6/2026).
Ketika pembeli sepi selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, hanya mereka yang benar-benar mencintai apa yang mereka kerjakan yang akan bertahan.
2. Jangan Pernah Berutang untuk Ekspansi di Awal
Modal Gunagoni adalah tabungan pribadi, tidak ada pinjaman bank, tidak ada investor dengan syarat-syarat memberatkan. Keputusan ini terlihat konservatif, tapi justru inilah yang menyelamatkan bisnis di masa-masa sepi.
Utang adalah beban tetap. Ketika omzet turun, cicilan tetap harus dibayar. Inilah yang menghancurkan banyak bisnis viral yang terlanjur berekspansi agresif dengan modal pinjaman.
Mulailah dengan modal sendiri, meski kecil. Lalu tumbuh secara organik. Investasi tambahan boleh dicari setelah model bisnis terbukti benar-benar bekerja, dan bukan karena tergiur proyeksi pertumbuhan di atas kertas.
3. Bangun Relasi, Bukan Sekadar Jaringan Pasar
Gunagoni tidak punya toko fisik dengan papan nama besar. Tapi ia punya jaringan, yakni komunitas pasar jadi-jadian, art shop yang bersedia dititipi produknya, dan teman-teman yang merekomendasikannya dari mulut ke mulut.
Relasi adalah aset yang tidak bisa diambil inflasi. Ketika krisis datang dan anggaran konsumen menyusut, mereka tetap akan membeli dari orang yang mereka percaya dan cintai.
"Kenapa bisa jalan? Karena banyak main. Banyak kenal. Relasi," ungkap Bimo tentang rahasianya bisa bertahan lebih dari 10 tahun.
Bangun komunitas, bukan sekadar basis konsumen. Orang yang merasa menjadi bagian dari sesuatu tidak akan begitu saja pergi saat ada tren baru.
4. Terima bahwa Akan Ada Masa Sepi dan Gunakan dengan Bijak
Dua setengah tahun. Itu lama Gunagoni masih sepi. Tapi Bimo tetap datang ke depan mejanya setiap hari, berkarya, belajar jahit, dan mengutak-atik produk.
Masa sepi bukan tanda kegagalan. Masa sepi adalah waktu yang diberikan untuk menyempurnakan. Bisnis-bisnis yang panik saat sepi lalu berganti konsep atau mengejar tren lain justru kehilangan waktu berharga itu.
Gunakanlah masa sepi untuk memperbaiki produk, membangun relasi, dan memastikan bahwa ketika pembeli datang, mereka akan mendapatkan sesuatu yang benar-benar layak untuk dipertahankan.
5. Pertahankan Kendali atas Identitas Bisnismu
Bimo pernah ditawari mengikuti program inkubasi bisnis dari pemerintah, lengkap dengan pelatihan, dan kurasi, dengan berbagai syarat administratif. Ia menolak.
"Aku nggak mau dilatih supaya manut. Nanti aku terpola. Aku bikin fashion aja nggak sesuai aturan," ungkapnya.
Ini bukan soal anti-pemerintah atau anti-kolaborasi. Ini soal menjaga jati diri. Banyak program inkubasi yang baik niatnya, tapi memaksa peserta mengikuti template pertumbuhan yang tidak sesuai karakter bisnis mereka. Hasilnya, bisnis memang tumbuh, tapi kehilangan jiwa yang membuatnya berbeda.
Lebih baik kecil tapi merdeka, daripada besar tapi kehilangan kendali atas apa yang kamu bangun.
6. Tumbuh Perlahan, Tidak Usah Buru-Buru Scale Up
"Scale up" adalah mantra dunia startup. Tapi tidak semua bisnis harus mengikuti logika itu. Gunagoni tidak punya pabrik, tidak punya karyawan tetap selain keluarga, dan tidak punya target omzet yang harus terus naik setiap kuartal.
Bimo dengan tenang menjelaskan prinsipnya yang penting bisa bayar listrik, pulsa, dan kebutuhan hidup. Terdengar sederhana, tapi di sinilah kunci keberlanjutan finansial yang sesungguhnya.
Dengan definisi "cukup" yang jelas, kamu tidak akan terjebak dalam perlombaan yang tidak ada finish line-nya. Dan ketika ada krisis ekonomi, biaya operasionalmu yang rendah menjadi pelampung yang menyelamatkan.
7. Jaga Kesehatan Keuangan dengan Prinsip Tidak Memaksakan Diri
Jangan menerima pesanan melebihi kapasitas produksi jika hasilnya akan menurunkan kualitas. Jangan membuka gerai di mall jika biaya sewa lebih besar dari margin keuntungan. Jangan mengejar pertumbuhan hanya karena takut ketinggalan peluang.
Gunagoni bahkan menolak investasi yang datang dengan syarat harus membuka pabrik dan mengambil utang untuk ekspansi, meski secara matematis peluangnya mungkin menarik.
Tumbuhlah seperti pohon, bukan seperti balon. Lambat, tapi akarnya kuat. Ketika angin besar datang, yang tumbang adalah yang paling cepat mengembang tanpa akar yang cukup dalam.
Gunagoni tidak pernah masuk halaman pertama berita teknologi. Tidak ada liputan besar di media mainstream. Tidak ada funding ratusan juta rupiah dari venture capital. Tapi ia ada, dan terus ada, sejak 2013 hingga sekarang.
Di dunia yang terus berganti tren setiap bulan, bertahan lebih dari satu dekade adalah pencapaian yang luar biasa. Dan rahasianya ternyata bukan strategi besar, melainkan cinta yang konsisten pada apa yang dikerjakan, relasi yang dijaga dengan tulus, dan prinsip finansial yang sederhana namun teguh.
Pertanyaan Seputar Peluang Usaha
Q: Apa itu usaha berkelanjutan?
A: Usaha yang mampu bertahan dalam jangka panjang — bisa puluhan tahun — tetap sehat finansial meski tidak sedang viral, serta tidak merugikan lingkungan atau komunitas sekitarnya. Gunagoni adalah contoh nyatanya, sudah berjalan lebih dari 10 tahun tanpa pernah menjadi tren besar.
Q: Apakah bisnis tidak boleh mengejar viral sama sekali?
A: Boleh saja, asalkan fondasinya sudah kuat, produk berkualitas, keuangan sehat, dan pelanggan yang loyal. Viral hanya bonus, bukan fondasi. Bisnis yang mengejar viral sebelum fondasinya siap berisiko runtuh saat hype mereda.
Q: Bagaimana cara bertahan saat krisis ekonomi?
A: Kuncinya ada tiga: tidak punya utang besar, biaya operasional rendah, dan memiliki pelanggan setia yang tetap membeli meski anggaran mereka sedang ketat. Ketiga hal ini hanya bisa dibangun perlahan — bukan dalam semalam.
Q: Apakah bisnis berkelanjutan harus lambat selamanya?
A: Tidak. Boleh tumbuh lebih cepat jika memang sudah siap dari sisi SDM, modal, dan sistem. Tapi jangan memaksakan pertumbuhan hanya karena FOMO (Fear of Missing Out). Pertumbuhan yang dipaksakan sebelum waktunya justru sering menjadi awal dari kejatuhan.
Q: Apa tanda-tanda bisnis saya sudah tidak berkelanjutan?
A: Utang menumpuk dan terus bertambah. Stok menumpuk dan tidak laku. Pelanggan hanya datang saat ada diskon besar. Dan yang paling penting: Anda sendiri sudah tidak menikmati prosesnya. Ketika semangat sudah padam, bisnis biasanya tidak lama kemudian ikut padam.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

5 days ago
18
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260856/original/085578400_1781665831-HL_makanan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260818/original/016236100_1781664345-IRT5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8060745/original/033608100_1780904847-Area_Jemuran_Sudut_Belakang_Rumah.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260746/original/067942900_1781657625-hl1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4547300/original/090479800_1692694051-fish-2230852_1280.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260755/original/017871400_1781659622-aman_untuk_balita_6a.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260551/original/035395000_1781601483-clay-banks-urH155LONWs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260486/original/075481600_1781596933-12162737442788903829.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260041/original/056241500_1781536640-1000121649.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5548317/original/001423300_1775536048-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8208627/original/078666300_1781067678-Area_Duduk_yang_Nyaman_dan_Teduh.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260609/original/038756500_1781610979-Pemain_Baru_Persebaya__dok_Persebaya_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4510968/original/042717000_1690042370-Persik_Kediri_-_Yusuf_Meilana_Fuad_Burhani_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260579/original/002063600_1781603249-Gemini_Generated_Image_fdfvzbfdfvzbfdfv.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260596/original/010610400_1781606185-1000121724.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539806/original/017629400_1774621491-20260327AA_Timnas_Indonesia_vs_Sein-06.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260523/original/064375000_1781600071-Gazebo_Taman_Kering_Tropis_Minimalis.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5916792/original/069199100_1778815278-548845334_18142649845421517_5061483859199162001_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7829922/original/011349000_1780649933-maggottt2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260403/original/081911600_1781591891-Gemini_Generated_Image_r6yh4ir6yh4ir6yh.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5401010/original/034236800_1762154457-Bocoran_warna_iPhone_18_Pro_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4415431/original/078901700_1683198942-20230504AA_SEA_Games_2023_Timnas_Indonesia_Vs_Myanmar-21.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529373/original/019567300_1773329437-Persis_vs_Bali_United.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514118/original/045495100_1772081240-kandang_Ayam_Rooftop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465586/original/014027200_1767771314-Bebek_Petelur.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4261962/original/044473000_1671083484-harga_telur_ayam_di_tingkat_peternak_mencapai_29_ribu-ARBAS_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4174719/original/068939000_1664411162-42.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527338/original/066171500_1773200879-__________________________________1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505789/original/024305000_1771396732-unnamed-10.jpg)