:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4499850/original/074071300_1689153177-man-checking-stock-market-data-tablet.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta Dunia investasi dan bisnis digital melahirkan banyak istilah gaul yang kini menjadi bagian percakapan sehari-hari. Salah satu kata yang paling sering terdengar di kalangan investor muda adalah "boncos," sebuah ungkapan singkat yang menggambarkan pengalaman pahit mengalami kerugian. Boncos artinya apa?
Boncos artinya rugi, tidak mendapatkan hasil, atau mengalami kegagalan finansial dari suatu aktivitas. Istilah ini awalnya populer di komunitas pemancing sebelum akhirnya diadopsi secara luas oleh pelaku bisnis, trader saham, hingga pengiklan digital.
Dilansir dari VectorVest, riset menunjukkan bahwa secara psikologis, manusia merasakan rasa sakit akibat kehilangan uang dua kali lebih kuat dibandingkan kesenangan saat mendapatkannya. Memahami boncos artinya bukan sekadar mengenal kosakata baru, melainkan juga pintu masuk untuk mengenali dinamika risiko dalam dunia finansial yang terus berkembang.
Baca juga: Tips Aman Investasi Saham untuk Pemula Biar Enggak Boncos
Pengertian Boncos dan Asal Usul Istilahnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4808732/original/020926400_1713761447-kbbi_daring.jpg)
Perbesar
Kata "boncos" bukan merupakan bahasa baku yang tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Istilah ini lahir dari percakapan informal dan berkembang secara organik di tengah masyarakat, khususnya generasi muda yang aktif di media sosial dan dunia investasi. Seperti halnya bahasa gaul lainnya, boncos muncul secara spontan dan cepat menyebar karena dinilai mampu merepresentasikan suatu kondisi secara ringkas dan ekspresif.
Asal usul kata boncos dapat ditelusuri ke dunia pemancingan. Para pemancing menggunakan istilah ini ketika mereka tidak mendapatkan ikan satu pun sepanjang sesi memancing. Kondisi "pulang dengan tangan kosong" inilah yang kemudian dikenal sebagai boncos. Seiring waktu, makna tersebut meluas ke konteks yang lebih beragam, terutama aktivitas yang melibatkan harapan akan suatu hasil atau keuntungan.
Berdasarkan penjelasan Wall Street Prep, konsep loss aversion yang dikembangkan oleh psikolog Daniel Kahneman dan Amos Tversky melalui teori prospek pada akhir 1970-an menunjukkan bahwa manusia secara alamiah lebih takut kehilangan daripada bersemangat mendapatkan keuntungan. Fenomena inilah yang membuat istilah boncos begitu mudah melekat di benak banyak orang, sebab kerugian secara emosional membekas lebih dalam ketimbang keuntungan dengan nilai yang sama.
Dalam perkembangannya, boncos kini tidak hanya digunakan oleh komunitas pemancing. Istilah ini telah menjadi bagian dari kosakata kekinian yang digunakan di berbagai sektor, mulai dari perdagangan saham, aset kripto, bisnis kecil, hingga dunia periklanan digital. Popularitasnya menunjukkan bagaimana bahasa terus berevolusi mengikuti kebutuhan komunikasi masyarakat modern.
Baca juga: Kata Gaul Populer di Indonesia, Ini Istilah Kekiniannya
Boncos Artinya dalam Berbagai Konteks Penggunaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4220931/original/010439400_1668038510-Laba_Rugi_3.jpg)
Perbesar
Meskipun makna dasar boncos artinya rugi atau tidak memperoleh hasil, penerapannya ternyata cukup beragam tergantung konteks penggunaannya. Berikut beberapa bidang di mana istilah boncos kerap digunakan beserta penjelasannya.
Sebagaimana disampaikan Zeed Sharia, cut loss berarti memangkas kerugian, yakni tindakan menjual aset investasi seperti saham atau kripto ketika harganya turun ke level tertentu yang ditetapkan investor, dengan tujuan meminimalkan kerugian. Kondisi yang mendorong dilakukannya cut loss inilah yang sering disebut sebagai boncos oleh para investor muda di Indonesia.
- Dunia Memancing. Konteks paling awal penggunaan boncos berasal dari komunitas pemancing. Seorang pemancing disebut boncos ketika ia tidak berhasil menangkap ikan satu pun selama sesi memancing, sehingga merasa waktu dan usahanya terbuang sia-sia.
- Investasi Saham. Dalam dunia saham, boncos menggambarkan situasi ketika harga jual aset lebih rendah dari harga beli. Investor yang menjual saham dalam posisi rugi atau terpaksa melakukan cut loss sering menggunakan istilah ini.
- Trading Aset Kripto. Volatilitas tinggi di pasar kripto membuat kondisi boncos sangat umum terjadi. Harga aset digital yang bisa anjlok dalam hitungan jam menjadikan istilah ini sangat relevan bagi para trader kripto.
- Bisnis dan Usaha. Pelaku bisnis menggunakan kata boncos ketika usaha atau proyek yang dijalankan gagal menghasilkan keuntungan atau justru menimbulkan kerugian finansial yang signifikan.
- Dunia Periklanan Digital. Dalam konteks advertising, boncos digunakan ketika biaya yang dikeluarkan untuk iklan tidak menghasilkan penjualan atau konversi yang setimpal, sehingga return on ad spend (ROAS) bernilai negatif.
- Kehidupan Sehari-hari. Di luar konteks finansial, boncos juga digunakan secara kasual untuk menggambarkan kekecewaan atas hasil yang tidak sesuai harapan, misalnya antre panjang tapi kehabisan produk yang diinginkan.
Investasi saham menjadi konteks penggunaan boncos yang paling dominan saat ini, seiring bertambahnya jumlah investor ritel muda di Indonesia.
Baca juga: 5 Cara Mulai Investasi Saham untuk Pemula Tanpa Pengalaman
Perbedaan Boncos dan Cuan dalam Dunia Investasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4658385/original/082893300_1700632786-towfiqu-barbhuiya-jpqyfK7GB4w-unsplash.jpg)
Perbesar
Dalam ekosistem investasi, boncos dan cuan adalah dua sisi dari koin yang sama. Cuan merupakan antonim atau lawan kata dari boncos, yang berarti mendapatkan keuntungan dari aktivitas investasi atau perdagangan. Keduanya termasuk kata-kata gaul populer yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kosakata investor Indonesia.
Untuk memahami perbedaannya secara konkret, bayangkan seorang investor membeli saham seharga Rp5.000 per lembar. Jika harga saham naik menjadi Rp6.500 dan investor menjualnya, maka ia mendapatkan cuan sebesar Rp1.500 per lembar. Sebaliknya, jika harga turun menjadi Rp3.800 dan investor terpaksa menjual, maka ia mengalami boncos sebesar Rp1.200 per lembar. Selisih antara harga beli dan harga jual inilah yang menentukan apakah seorang investor sedang cuan atau boncos.
Warren Buffett, investor legendaris yang dijuluki "Oracle of Omaha," dikutip dari Sure Dividend menyatakan, "Aturan nomor satu: jangan pernah kehilangan uang; aturan nomor dua: jangan lupakan aturan nomor satu."
Memangkas kerugian dalam konteks finansial adalah saat investor atau trader keluar dari suatu posisi untuk menghindari kehilangan uang lebih banyak, sekaligus berarti menghilangkan aset berkinerja buruk dari portofolio untuk diinvestasikan kembali ke aset yang lebih menjanjikan. Memahami kapan harus menerima boncos dan kapan harus bertahan menjadi keterampilan krusial yang membedakan investor sukses dari yang tidak.
Baca juga: Tips Strategi Investasi Saham untuk Pemula
Faktor Psikologis di Balik Kondisi Boncos dalam Investasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5245960/original/038439800_1749438556-Depositphotos_568965762_L.jpg)
Perbesar
Mengapa banyak investor mengalami boncos? Jawabannya tidak selalu terletak pada kondisi pasar, tetapi sering kali pada faktor psikologis yang mempengaruhi pengambilan keputusan. Sebagaimana dilaporkan Elm Wealth, kebanyakan orang secara alami cenderung bertahan terlalu lama pada keputusan yang merugi, sementara terburu-buru mencairkan keputusan yang menguntungkan — fenomena ini dikenal dengan nama "Disposition Effect" dalam bidang ekonomi perilaku.
Mengacu pada penjelasan The Decision Lab, loss aversion adalah bias kognitif di mana dampak emosional dari sebuah kerugian dirasakan jauh lebih intens dibandingkan kegembiraan atas keuntungan yang setara. Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak investor muda yang baru mengalami boncos langsung kapok dan enggan kembali berinvestasi, padahal kerugian adalah bagian alami dari proses belajar di pasar modal. Ketakutan berlebihan ini justru dapat menghambat pertumbuhan portofolio dalam jangka panjang.
Warren Buffett, dikutip dari PTM Wealth Management menyatakan, "Risiko datang dari ketidaktahuan tentang apa yang sedang kamu lakukan."
Selain loss aversion, ada beberapa jebakan psikologis lain yang kerap membuat investor boncos. Dilansir dari VectorVest, salah satunya adalah jebakan sunk cost, di mana investor sudah menghabiskan waktu untuk riset, menunggu, bahkan menambah posisi rugi, sehingga meninggalkan investasi tersebut berarti mengakui bahwa semua upaya itu sia-sia. FOMO (Fear of Missing Out) juga menjadi pemicu besar — banyak investor membeli aset hanya karena takut ketinggalan tren tanpa melakukan riset mendalam terlebih dahulu. Memahami jebakan-jebakan psikologis ini sama pentingnya dengan memahami analisis teknikal dan fundamental dalam dunia yang penuh istilah kekinian ini.
Baca juga: Tips Investasi Saham untuk Pemula, Bantu Capai Kesuksesan Finansial
Tips Efektif Menghindari Boncos Saat Berinvestasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5445177/original/040415400_1765814900-investasi.jpg)
Perbesar
Kondisi boncos memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya dari dunia investasi, namun risikonya dapat diminimalkan secara signifikan. Dibutuhkan kombinasi antara pengetahuan, disiplin, dan strategi yang tepat agar perjalanan investasi tidak berakhir dengan kerugian besar. Berikut sejumlah tips yang bisa diterapkan agar terhindar dari boncos.
Michael Marcus, seorang trader sukses, dikutip dari Aryaamoney menyatakan, "Untuk menjadi trader sukses, aturan paling penting adalah mempertahankan posisi yang menguntungkan dan memangkas yang merugi."
- Pahami Instrumen Investasi Sebelum Membeli. Langkah pertama agar tidak boncos adalah memahami seluk-beluk instrumen yang dipilih. Jangan pernah membeli saham, kripto, atau aset lain hanya berdasarkan rekomendasi orang lain tanpa riset mandiri. Warren Buffett, dikutip dari Rule One Investing menyatakan, "Jangan pernah berinvestasi pada bisnis yang tidak bisa kamu pahami."
- Gunakan Uang Dingin. Berinvestasilah hanya dengan dana yang tidak dibutuhkan untuk kebutuhan harian. Menggunakan uang dingin mengurangi tekanan emosional saat harga aset berfluktuasi, sehingga keputusan yang diambil bisa lebih rasional.
- Terapkan Stop-Loss Order. Merujuk Markets.com, penggunaan stop-loss order membantu memangkas kerugian dan melindungi modal investor. Tentukan batas kerugian maksimal yang bisa ditoleransi sebelum membeli aset, dan patuhi batas tersebut secara disiplin.
- Diversifikasi Portofolio. Prinsip klasik "jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang" tetap relevan. Sebarkan investasi ke berbagai jenis aset dan sektor industri untuk meminimalkan dampak kerugian dari satu posisi terhadap keseluruhan portofolio investasi.
- Hindari Keputusan Berdasarkan Emosi. Seperti yang diberitakan Schwab Asset Management, pertimbangkan untuk menyusun strategi rebalancing yang disiplin dan konsisten dengan tujuan jangka panjang, karena pendekatan sistematis memberi peluang lebih baik untuk menghindari keputusan yang didorong emosi.
- Manfaatkan Strategi Dollar-Cost Averaging. Investasikan sejumlah dana secara rutin dalam periode tetap, tanpa memperhatikan kondisi pasar saat itu. Strategi ini membantu meratakan harga beli rata-rata dan mengurangi risiko membeli di puncak harga.
- Evaluasi Portofolio Secara Berkala. Jangan biarkan investasi berjalan tanpa pengawasan. Lakukan evaluasi rutin terhadap kinerja aset yang dimiliki, dan jangan ragu untuk melakukan penyesuaian jika kondisi fundamental atau sentimen pasar berubah secara signifikan.
- Terus Belajar dari Setiap Pengalaman. Sebagaimana diungkapkan Zeed Sharia, setiap keputusan cut loss memberikan pelajaran berharga, dan investor biasanya belajar lebih banyak dari kerugian daripada keuntungan — sehingga pengalaman tersebut dapat digunakan untuk menyempurnakan strategi investasi di masa depan.
Memahami bahwa boncos artinya peluang untuk belajar, bukan akhir dari perjalanan investasi, adalah pola pikir yang perlu dimiliki setiap investor. Dengan menerapkan tips di atas secara konsisten, peluang untuk meraih cuan tentu akan jauh lebih besar dibandingkan risiko mengalami kerugian berkepanjangan. Pasar modal memang penuh dinamika, namun kesiapan mental dan pengetahuan yang memadai menjadi tameng terbaik bagi siapa pun yang ingin bertahan dan berkembang di dunia yang penuh istilah baru ini.
Baca juga: Arti Sokin: Memahami Istilah Gaul yang Viral di Media Sosial
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Boncos
Apa arti boncos dalam bahasa gaul dan investasi?
Boncos adalah istilah bahasa gaul yang berarti mengalami kerugian atau gagal mendapatkan hasil yang diharapkan. Dalam dunia investasi, boncos merujuk pada kondisi ketika nilai jual aset lebih rendah dari harga beli, sehingga investor mengalami kerugian finansial. Istilah ini awalnya populer di kalangan pemancing sebelum diadopsi secara luas oleh pelaku bisnis dan komunitas anak muda.
Apa perbedaan antara boncos dan cut loss?
Boncos adalah kondisi atau keadaan saat investor mengalami kerugian, sedangkan cut loss adalah strategi atau tindakan yang dilakukan untuk membatasi kerugian tersebut. Dengan kata lain, boncos menggambarkan situasinya, sementara cut loss adalah respons atau langkah yang diambil ketika boncos sudah terjadi atau diprediksi akan terjadi. Keduanya saling berkaitan erat dalam praktik manajemen risiko investasi.
Bagaimana cara mengetahui apakah investasi sudah boncos?
Cara paling sederhana untuk mengetahui apakah investasi sudah boncos adalah dengan membandingkan harga beli awal (entry price) dengan nilai pasar saat ini. Jika nilai pasar lebih rendah dari harga beli, maka secara teknis investasi tersebut sedang dalam posisi rugi atau boncos. Namun, penting untuk diingat bahwa kerugian baru benar-benar terealisasi ketika aset dijual — selama belum dijual, kerugian tersebut masih bersifat unrealized loss atau kerugian di atas kertas, yang masih bisa berbalik menjadi keuntungan.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

6 hours ago
5
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578280/original/001994200_1782536598-Ek3yqvtDmGVA0YF223Fybm89cdphS21pkSLNgbqH.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578198/original/054566800_1782536500-A9qC94dgSvQbni191ecUKXEaVVzmFTHVK0CPyu66.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5278625/original/058751700_1752116095-20250707_135157.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578154/original/067625600_1782536454-3q7ejuC9XzXP9dmRwINgXWoCRsASRJ72qkpW05SJ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8633679/original/091208900_1782633292-noah-silliman-gzhyKEo_cbU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4351250/original/038746400_1678277391-20230308-Persib-Bandung-Vs-Persik-Kediri-Iqbal-Bola-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578158/original/004335500_1782536458-4wweLHP0QWe79dQwj3jGteSmhS3V43kok8wdRqsM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578149/original/060462400_1782536450-RwhAZTworvYUdXjIV7fvmjhgn4AF5QWSUGZH6Uv2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578264/original/076010800_1782536572-wgyXmZBewIAQXBLjf7hrmPSa8pWYtgd14ggBFd8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578170/original/041557400_1782536483-d3o9xH49dfVa0GhNz4lStUk8Kgfn0SalUFExHKQw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7850682/original/021382300_1780673642-20260605BL_Timnas_Indonesia_Vs_Oman_FIFA_Matchday_2026-11.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578262/original/037938300_1782536570-Xu2bZVx1lDSpKqCz9kQ8n9C1ekywZQDK5heihgzL.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578270/original/028613200_1782536578-tX9l0H40oXOIIIH8svmqyDf3gXoguYg6LVBwXTD2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578289/original/084521300_1782536607-lsuYQudBVC1NDSDrQhC1P892fD9YExKa4Ugpq9j0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578292/original/089902900_1782536609-3JravQbeXfFIi8ZnQ1GROJtgbnQ4EBPWJeABdawb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578296/original/028590900_1782536614-cwfdHCVIHqSGnLfyL3pOF1ruaeig5TKhDoLghbE3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578298/original/013314400_1782536616-VAowCEKOE5RXsPAYYIbUf47gHU6djbvi2gJxx5FO.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8620515/original/032638400_1782610963-IMG_2451.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8056738/original/005373100_1780900510-IMG_20260608_131405_910.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566672/original/070275200_1777212489-Foto_1__19_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4415431/original/078901700_1683198942-20230504AA_SEA_Games_2023_Timnas_Indonesia_Vs_Myanmar-21.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529373/original/019567300_1773329437-Persis_vs_Bali_United.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4174719/original/068939000_1664411162-42.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527338/original/066171500_1773200879-__________________________________1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525042/original/051351000_1773029160-cropped-2a244f90-7934-47c9-a587-b33c1a79edbd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5146073/original/099969400_1740749107-20250228-Mantau_Hilal-MER_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496194/original/006665600_1770489949-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5315665/original/049375700_1755165938-20250808AA_BRI_Super_League_Persebaya_Surabaya_Vs_PSIM_Yogyakarta__2_of_75_.jpg)
