Budikdamber vs Kolam Terpal, Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula?

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Memulai budidaya ikan di rumah tidak selalu membutuhkan lahan luas. Budikdamber vs kolam terpal, mana yang lebih cocok untuk pemula menjadi pertanyaan yang wajar, terutama bagi orang yang baru ingin mencoba memelihara ikan lele di pekarangan terbatas. Keduanya sama-sama relatif sederhana, tetapi memiliki kebutuhan pengelolaan dan kapasitas berbeda.

Budikdamber atau budi daya ikan dalam ember menggabungkan pemeliharaan ikan dan tanaman dalam satu wadah. Sistem ini menggunakan prinsip akuaponik sederhana sehingga air dari wadah ikan sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman. Sementara itu, kolam terpal menawarkan ruang pemeliharaan yang lebih besar sehingga lebih sesuai ketika jumlah ikan yang dibudidayakan mulai meningkat.

Pilihan antara keduanya sebaiknya tidak hanya dilihat dari harga wadah. Luas lahan, jumlah ikan, kemampuan merawat kualitas air, tujuan budidaya, hingga keinginan mendapatkan hasil tambahan berupa sayuran perlu dipertimbangkan. Penelitian tentang budikdamber bahkan menunjukkan bahwa sistem ember dapat menjadi alternatif untuk masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. Berikut ulasan Liputan6.com, Jumat (21/8/20276).

Mengenal budikdamber dan kolam terpal

Budikdamber merupakan sistem budidaya ikan dan sayuran dalam satu wadah berupa ember. Berdasarkan penelitian Alexander Simon Tanody dan Wahyuni Fanggi Tasik dalam JVIP tahun 2023, budikdamber berbasis pada teknologi akuaponik sederhana yang menggabungkan akuakultur dan hidroponik. Ikan dan tanaman ditempatkan dalam satu sistem sehingga keduanya dapat saling mendukung.

Dalam penelitian tersebut, sistem budikdamber menggunakan ember berkapasitas 80 liter yang diisi air setinggi 50 sentimeter atau sekitar 60 liter. Pada bagian atas ember ditempatkan gelas plastik berisi arang kayu sebagai media tanam kangkung. Gelas diberi lubang kecil agar air dapat masuk ke media tanam. Sistem tersebut dirancang untuk menampung 60 ekor ikan lele. Menariknya, sistem ini tidak membutuhkan listrik seperti sistem resirkulasi akuaponik pada umumnya.

Kolam terpal memiliki konsep yang berbeda. Terpal digunakan sebagai wadah atau pelapis kolam sehingga air dapat ditampung tanpa harus menggali tanah secara permanen. IPB Digitani menjelaskan bahwa kolam terpal bersifat fleksibel, relatif murah, mudah dipasang dan dapat digunakan untuk berbagai jenis ikan air tawar. Jenis kolam ini juga populer pada budidaya skala kecil hingga menengah.

Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng juga menyebut kolam terpal sebagai pilihan praktis untuk budidaya lele. Kolam ini cocok digunakan pada lahan sempit dengan modal terbatas dan tidak membutuhkan persiapan serumit kolam tanah.

Perbedaan kapasitas budikdamber dan kolam terpal

Perbedaan paling mudah terlihat adalah ukuran wadah. Dalam penelitian Tanody dan Tasik, budikdamber menggunakan sekitar 60 liter air, sedangkan sistem konvensional menggunakan kolam terpal bundar berdiameter 1 meter dengan volume air sekitar 300 liter. Kolam terpal dalam penelitian tersebut menampung 150 ekor lele dengan kepadatan dua ekor per liter.

Perbedaan kapasitas ini membuat keduanya mempunyai sasaran yang sedikit berbeda. Budikdamber lebih tepat untuk pemula yang ingin memulai dari skala sangat kecil. Seseorang tidak perlu langsung menyediakan area khusus untuk membuat kolam besar. Beberapa ember bahkan dapat ditempatkan di pekarangan rumah selama lokasi tersebut memungkinkan.

Kolam terpal lebih menarik bagi orang yang sejak awal ingin memelihara ikan dalam jumlah lebih banyak. Ukurannya dapat disesuaikan dengan lahan dan kemampuan pemeliharaan. IPB Digitani mencatat fleksibilitas sebagai salah satu keunggulan kolam terpal karena wadah ini dapat digunakan di berbagai lokasi dan relatif mudah dibongkar atau dipindahkan.

Kelebihan budikdamber untuk pemula

Budikdamber mempunyai keunggulan utama berupa kebutuhan lahan yang kecil. Penelitian Tanody dan Tasik secara khusus menempatkan sistem ini sebagai alternatif budidaya ikan bagi masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan.

Wadah yang sederhana juga membuat pemula lebih mudah memahami dasar-dasar pemeliharaan ikan. Pemilik dapat mengamati kondisi ikan, jumlah pakan, perubahan air, serta pertumbuhan tanaman tanpa harus mengelola kolam berukuran besar.

Keunggulan lain adalah adanya tanaman kangkung. Dalam penelitian tersebut, kangkung dapat dipanen sekitar setiap 20 hari. Selama pemeliharaan 60 hari, kangkung dipanen tiga kali dengan rata-rata tiga ikat setiap panen per ember.

Tanaman juga bukan sekadar pelengkap. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kangkung dapat berfungsi sebagai biofilter dengan menyerap dan memanfaatkan limbah amonia dari kegiatan pemeliharaan ikan. Kehadiran tanaman juga memberikan peluang bagi bakteri untuk membantu menguraikan bahan organik dan anorganik yang berbahaya bagi ikan.

Kekurangan budikdamber yang perlu diketahui

Meski sederhana, budikdamber bukan berarti bebas perawatan. Justru karena volume airnya kecil, perubahan kualitas air perlu diperhatikan. Dalam penelitian tersebut, kadar amonia meningkat hingga 1 mg/liter setelah tiga hari pemeliharaan sehingga pergantian air diperlukan paling lambat pada hari kelima.

Kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bagi pemula. Ember memang mudah disiapkan, tetapi ikan tetap membutuhkan lingkungan air yang layak. Penelitian mencatat suhu, pH, oksigen terlarut dan amonia sebagai parameter penting dalam kualitas air.

Budikdamber juga mempunyai kapasitas terbatas. Jika tujuan utama adalah menghasilkan ikan dalam jumlah banyak, penggunaan banyak ember dapat menjadi kurang praktis dibandingkan satu kolam terpal berukuran lebih besar.

Kelebihan kolam terpal

Kolam terpal unggul dalam kapasitas dan fleksibilitas. Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng menjelaskan bahwa terpal dapat membantu menahan air pada daerah dengan kondisi tanah yang porous. Kolam terpal juga relatif mudah dibersihkan, pengeringannya lebih cepat, serta dapat mempermudah proses pemanenan.

IPB Digitani menambahkan bahwa kolam terpal relatif murah dan cocok untuk berbagai ikan air tawar. Karakteristik tersebut membuatnya menarik bagi pembudidaya skala kecil hingga menengah.

Kapasitas air yang lebih besar juga memberikan ruang lebih luas untuk ikan. Dalam penelitian Tanody dan Tasik, sistem kolam terpal menggunakan 300 liter air dibandingkan 60 liter pada budikdamber.

Bagi pemula yang memiliki halaman cukup luas dan ingin belajar budidaya ikan dengan orientasi produksi, kolam terpal dapat menjadi pilihan yang lebih mudah dikembangkan. Setelah memahami dasar pengelolaan air dan pakan, kapasitas kolam juga relatif lebih mudah ditingkatkan.

Kekurangan kolam terpal

Kolam terpal memang praktis, tetapi bukan berarti tanpa kekurangan. Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng mencatat bahwa kolam terpal membutuhkan perhatian terhadap pH dan suhu. Pakan alami seperti plankton dan hewan renik juga lebih sulit berkembang dibandingkan kolam tanah sehingga kebutuhan pakan perlu diperhatikan dengan baik.

Kualitas air juga harus dipantau. Penelitian Tanody dan Tasik menemukan bahwa kadar oksigen terlarut pada sistem terpal berada pada kisaran 3–5,6 mg/liter, sedangkan pada ember 2–3,6 mg/liter. Kedua sistem membutuhkan pengelolaan air untuk menjaga kondisi selama pemeliharaan.

Artinya, ukuran kolam yang lebih besar tidak otomatis membuat pemeliharaan lebih mudah. Pemula tetap perlu memahami kepadatan ikan, pemberian pakan, kebersihan kolam dan pengelolaan air.

Bagaimana hasil budikdamber dibandingkan kolam terpal?

Bagian ini menarik karena penelitian yang digunakan memang membandingkan kedua sistem tersebut secara langsung. Selama 60 hari pemeliharaan, ikan lele dalam budikdamber memiliki rata-rata panjang 20,79±3,49 cm dan bobot 63,58±29,29 gram. Pada sistem konvensional menggunakan kolam terpal, rata-rata panjangnya 18,32±2,85 cm dan bobot 40,26±19,32 gram.

Namun, hasil tersebut tidak berarti budikdamber selalu lebih baik daripada kolam terpal dalam semua kondisi. Penelitian dilakukan dengan desain, volume air, jumlah ikan dan kondisi pemeliharaan tertentu. Karena itu, hasil tersebut lebih tepat dijadikan gambaran bahwa budikdamber dapat bekerja dengan baik sebagai sistem alternatif, bukan sebagai bukti bahwa setiap budikdamber pasti menghasilkan ikan lebih besar.

Nilai kelangsungan hidup kedua sistem juga relatif berdekatan. Budikdamber mencatat survival rate 89 persen, sedangkan sistem konvensional 90 persen.

Jadi, budikdamber atau kolam terpal untuk pemula?

Jika pertanyaannya adalah budikdamber vs kolam terpal, mana yang lebih cocok untuk pemula, jawabannya bergantung pada tujuan dan kondisi lahan.

Budikdamber lebih cocok jika:

  • lahan sangat terbatas;
  • ingin mencoba budidaya dalam skala kecil;
  • ingin sekaligus menanam kangkung;
  • belum ingin mengeluarkan biaya untuk membuat kolam lebih besar;
  • ingin belajar dasar pemeliharaan ikan secara sederhana.

Kolam terpal lebih cocok jika:

  • memiliki pekarangan yang cukup luas;
  • ingin memelihara ikan dalam jumlah lebih banyak;
  • tujuan budidayanya mengarah pada produksi;
  • ingin memiliki ruang yang lebih leluasa untuk pertumbuhan ikan;
  • berencana mengembangkan budidaya setelah memperoleh pengalaman.

Untuk pemula yang tinggal di perkotaan dan sekadar ingin mencoba, budikdamber bisa menjadi titik awal yang menarik. Penelitian menunjukkan sistem ember 80 liter dapat digunakan untuk memelihara lele sekaligus menghasilkan kangkung dan tidak membutuhkan listrik.

Sementara itu, pemula yang memiliki lahan lebih lega dan sejak awal ingin belajar mengelola budidaya ikan dengan kapasitas lebih besar dapat memilih kolam terpal. Pilihan ini juga sejalan dengan keterangan IPB Digitani bahwa jenis kolam perlu disesuaikan dengan skala budidaya, jenis ikan dan kondisi lingkungan.

Pada akhirnya, wadah hanyalah salah satu bagian dari budidaya. Kualitas benih, pemberian pakan, kepadatan tebar, kondisi air, kebersihan wadah dan konsistensi perawatan tetap menentukan keberhasilan. Pemula sebaiknya memilih sistem yang sanggup dirawat secara rutin, bukan sekadar sistem yang terlihat paling murah atau paling praktis.

Tanya Jawab Seputar Kolam Ikan

1. Apakah budikdamber cocok untuk pemula?

Ya. Budikdamber dirancang dengan wadah sederhana dan membutuhkan lahan relatif kecil. Penelitian Tanody dan Tasik menunjukkan sistem ini dapat digunakan untuk pemeliharaan lele di lahan terbatas.

2. Apakah kolam terpal lebih baik daripada budikdamber?

Tidak selalu. Kolam terpal memiliki kapasitas lebih besar dan cocok untuk budidaya yang ingin dikembangkan, sedangkan budikdamber lebih unggul dari sisi efisiensi lahan dan integrasi ikan dengan tanaman. IPB Digitani menekankan bahwa pemilihan kolam perlu mempertimbangkan skala, jenis ikan dan kondisi lingkungan.

3. Berapa kali air budikdamber perlu diganti?

Dalam penelitian yang menjadi rujukan artikel ini, pergantian air dilakukan paling lambat pada hari kelima karena kadar amonia meningkat selama pemeliharaan. Praktik pergantian air tetap perlu disesuaikan dengan kondisi nyata wadah dan kualitas air.

4. Apakah kolam terpal cocok untuk lahan sempit?

Ya. Kolam terpal dapat digunakan pada lahan yang terbatas dan mempunyai bentuk serta ukuran yang fleksibel. Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng juga menyebut kolam terpal cocok untuk budidaya lele dengan lahan sempit dan modal terbatas.

5. Apa yang harus diperhatikan saat memilih kolam ikan?

Perhatikan jenis ikan, ukuran dan jumlah ikan, luas lahan, volume air, kondisi lingkungan, kualitas bahan kolam, saluran pembuangan serta kemampuan melakukan perawatan. IPB Digitani menegaskan bahwa pemilihan media hidup perlu disesuaikan dengan kebutuhan ikan dan kondisi lingkungan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|