Ciri-ciri Penyakit Darah Tinggi pada Urine, Perlu Diwaspadai

1 day ago 8

Liputan6.com, Jakarta Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi di mana tekanan darah dalam arteri meningkat secara terus-menerus. Penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal, sehingga disebut sebagai silent killer. Namun, dalam jangka panjang, hipertensi dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk kerusakan ginjal.

Ginjal berperan penting dalam menyaring darah dan membuang limbah melalui urine. Jika tekanan darah terlalu tinggi, pembuluh darah di ginjal dapat mengalami kerusakan, yang pada akhirnya mengganggu fungsi penyaringan ginjal. Salah satu tanda yang dapat muncul akibat kondisi ini adalah perubahan dalam urine, yang bisa menjadi indikator adanya komplikasi hipertensi terhadap ginjal.

Lalu, apa saja ciri-ciri penyakit darah tinggi yang bisa terlihat dari urine? Simak penjelasannya berikut ini.

Promosi 1

1. Adanya Darah dalam Urine (Hematuria)

Salah satu tanda hipertensi yang sudah mempengaruhi ginjal adalah adanya darah dalam urine atau hematuria.

Bagaimana darah tinggi menyebabkan hematuria?

  • Hipertensi yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal.
  • Akibatnya, ginjal tidak bisa menyaring darah dengan sempurna, sehingga sel darah merah bocor ke dalam urine.
  • Warna urine bisa berubah menjadi merah muda, kemerahan, atau kecokelatan, tergantung pada jumlah darah yang keluar.

Jika Anda mengalami urine berwarna kemerahan tanpa penyebab yang jelas (misalnya infeksi atau batu ginjal), sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter.

2. Urine Berbusa atau Berbuih

Urine yang tampak berbusa atau berbuih bisa menjadi tanda adanya protein dalam urine (proteinuria), yang sering dikaitkan dengan kerusakan ginjal akibat hipertensi.

Mengapa hipertensi menyebabkan proteinuria?

  • Tekanan darah tinggi dapat merusak filter ginjal, sehingga protein yang seharusnya tetap dalam darah malah bocor ke dalam urine.
  • Salah satu protein yang sering ditemukan dalam kondisi ini adalah albumin, yang berfungsi menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh.
  • Jika urine tampak berbusa, terutama jika busanya tidak cepat hilang setelah buang air kecil, itu bisa menjadi tanda adanya protein dalam urine.

Proteinuria dalam jangka panjang bisa menjadi indikator penyakit ginjal kronis yang memerlukan penanganan segera.

3. Frekuensi Buang Air Kecil yang Tidak Normal

Hipertensi yang telah mempengaruhi ginjal dapat menyebabkan perubahan dalam pola buang air kecil, baik dalam hal frekuensi maupun volume urine yang dikeluarkan.

Perubahan yang mungkin terjadi:

  • Lebih sering buang air kecil pada malam hari (nocturia), yang bisa menjadi tanda bahwa ginjal tidak bekerja dengan baik.
  • Jumlah urine yang lebih sedikit dari biasanya, yang mungkin mengindikasikan bahwa ginjal mulai kehilangan fungsinya dalam menyaring cairan dari tubuh.
  • Buang air kecil terasa nyeri atau tidak nyaman, yang dapat menjadi gejala tambahan jika hipertensi sudah menyebabkan infeksi atau peradangan pada ginjal.

Jika Anda mengalami perubahan dalam kebiasaan buang air kecil, penting untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.

4. Urine Berwarna Gelap atau Pekat

Urine yang berwarna gelap atau pekat juga bisa menjadi tanda adanya gangguan fungsi ginjal akibat hipertensi.

Faktor yang menyebabkan urine gelap pada penderita hipertensi:

  • Jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, limbah dalam darah tidak tersaring secara efektif, menyebabkan urine tampak lebih pekat.
  • Dehidrasi akibat gangguan ginjal juga dapat membuat urine berwarna lebih gelap dari biasanya.
  • Jika disertai dengan kelelahan, pembengkakan, atau tekanan darah yang semakin tinggi, kondisi ini bisa menjadi tanda penyakit ginjal kronis.

5. Pembengkakan di Kaki dan Wajah Akibat Retensi Cairan

Ginjal yang terganggu akibat hipertensi tidak mampu mengeluarkan cairan dan garam dengan baik, sehingga terjadi penumpukan cairan dalam tubuh.

Tanda-tanda retensi cairan akibat hipertensi:

  • Pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, atau wajah, terutama di pagi hari.
  • Urine yang lebih sedikit dan lebih pekat, karena ginjal tidak mampu mengeluarkan cairan dengan optimal.
  • Rasa kembung atau berat di tubuh, akibat kelebihan cairan yang tidak dapat dikeluarkan dengan baik.

Jika Anda mengalami pembengkakan yang tidak biasa dan disertai dengan gejala lain seperti tekanan darah tinggi, segera periksakan diri ke dokter.

Bagaimana Cara Mencegah Kerusakan Ginjal akibat Hipertensi?

Mencegah kerusakan ginjal akibat hipertensi dapat dilakukan dengan menjaga tekanan darah tetap dalam batas normal dan menerapkan gaya hidup sehat.

Langkah-langkah pencegahan:

Rutin memeriksa tekanan darah dan pastikan tetap dalam batas normal (di bawah 140/90 mmHg).

Batasi konsumsi garam, karena natrium dapat meningkatkan tekanan darah dan memperberat kerja ginjal.

Minum air yang cukup, agar ginjal dapat bekerja dengan optimal dalam menyaring limbah tubuh.

Konsumsi makanan sehat, seperti buah, sayuran, dan protein rendah lemak untuk menjaga kesehatan ginjal.

Hindari merokok dan alkohol, karena dapat memperburuk hipertensi dan meningkatkan risiko penyakit ginjal.

Rutin berolahraga, minimal 30 menit sehari, untuk membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.

Konsultasi dengan dokter jika mengalami gejala hipertensi atau tanda-tanda gangguan ginjal.

Pertanyaan Umum tentang Hipertensi dan Urine

1. Apakah hipertensi bisa menyebabkan gagal ginjal?

Ya, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak ginjal dan menyebabkan gagal ginjal kronis.

2. Apa warna urine yang menandakan masalah kesehatan akibat hipertensi?

Warna urine yang kemerahan, berbusa, atau sangat pekat bisa menjadi tanda adanya masalah ginjal akibat tekanan darah tinggi.

3. Apakah tekanan darah tinggi bisa menyebabkan sering buang air kecil?

Ya, hipertensi yang sudah mempengaruhi ginjal bisa menyebabkan perubahan dalam frekuensi buang air kecil, terutama lebih sering di malam hari (nocturia).

4. Bagaimana cara mengetahui ada protein dalam urine?

Tes urine di laboratorium dapat mendeteksi adanya protein dalam urine, yang bisa menjadi tanda awal kerusakan ginjal akibat hipertensi.

5. Kapan harus ke dokter jika mengalami perubahan urine?

Jika mengalami urine berbusa, berdarah, atau perubahan frekuensi buang air kecil yang tidak biasa, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|