Cocok Jadi Ide Bisnis Kekinian, Perempuan di Sukoharjo Sukses Sulap Kain Goni Jadi Fashion Cantik

5 days ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Tidak banyak orang yang melihat kain goni sebagai bahan baku produk fashion. Bagi sebagian masyarakat, goni masih identik dengan karung penyimpanan hasil pertanian yang berbahan kasar, kaku, dan jauh dari kesan modis.

Namun anggapan itu rupanya berhasil dipatahkan oleh Erina Cahya Anggraeni. Perempuan 36 tahun asal Jalan Gajahmada, Gebyok RT 03/RW 05, Ngemplak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, ini, justru menemukan peluang usaha dari bahan yang selama bertahun-tahun dianggap tak berharga. Melalui Erlene Handycraft, ia mengubah kain goni menjadi tas, outer, sepatu, hingga berbagai produk fashion yang memiliki nilai fashion serta diminati pasar.

Diungkapkan Erina, perjalanannya membangun usahanya ini tidak lahir dalam semalam. Di balik setiap produk goni yang dihasilkan, tersimpan proses panjang, riset yang tidak mudah, hingga anggapan miring dari orang-orang di luar sana yang belum mengetahui kualitas produknya. Menurutnya, saat awal mengenalkan produk, Erlene Handycraft sempat dipandang sebelah mata karena menggunakan bahan goni.

“Produk-produk fashion yang kami produksi ini memang menggunakan bahan utama goni. Nah, ini awalnya orang-orang sering menanyakan, apakah goni yang kami pakai itu sama dengan karung goni?,” kata Erina, sembari mengingat-ingat jatuh bangunnya di masa merintis, saat bercerita kepada Liputan6 di galerinya, Jumat (5/6).

Berawal dari Usaha Kecil yang Terus Mengikuti Perubahan Zaman

Jauh sebelum dikenal sebagai pengusaha fashion berbahan goni, Erina lebih dulu memulai usaha dari produk-produk aksesori. Pada 2012, ia melihat peluang dari tren hijab yang sedang berkembang dan memanfaatkan kain perca batik serta lurik untuk dijadikan aksesori dengan sentuhan kearifan lokal.

Ketika tren berubah, ia pun ikut beradaptasi. Produk berbahan sifon, mutiara air tawar, hingga batu alam sempat menjadi bagian dari perjalanan usahanya. Berbekal pengalaman bekerja di perusahaan yang memproduksi tas dan aksesori, Erina memahami bahwa dunia fashion selalu bergerak dan menuntut pelaku usaha untuk terus mencari ide baru.

Alih-alih bertahan pada satu produk, ia lantas memilih mengikuti kebutuhan pasar. Setiap perubahan tren dijadikan bahan pembelajaran untuk menemukan peluang berikutnya. Langkah tersebut membuat usahanya tetap berjalan meski tren terus berganti dari tahun ke tahun.

Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya pada sebuah keputusan besar untuk masuk ke industri fashion yang lebih serius, khususnya produk tas dan perlengkapan berbahan goni.

"Erlene sendiri itu awalnya berdiri di tahun 2012, tapi memang dari proses awal kami itu nggak langsung bikin tas. Kami awalnya main di aksesori dan terus berkembang mengikuti tren yang ada," ujar Erina.

Terinspirasi Cerita Orang Zaman Dulu yang Bersekolah Pakai Tas Goni

Titik balik usaha Erlene Handycraft muncul ketika Erina mendengar keluhan konsumen mengenai tas berbahan kulit sintetis yang mudah rusak setelah beberapa tahun digunakan. Keluhan itu membuatnya mulai mempelajari karakter berbagai bahan yang biasa digunakan dalam industri fashion.

Di tengah pencarian tersebut, ia teringat cerita yang ia sering dengar tentang orang-orang zaman dahulu yang menggunakan tas berbahan goni untuk bersekolah. Cerita sederhana itu memunculkan pertanyaan besar dalam benaknya. Jika goni dahulu bisa digunakan sebagai tas yang kuat dan tahan lama, mengapa bahan tersebut tidak dikembangkan menjadi produk fashion yang lebih modern?

Rasa penasaran membuatnya mulai berkeliling pasar untuk mencari bahan goni. Ia mendatangi satu kios ke kios lainnya, membeli goni bekas, lalu membawanya pulang untuk diuji dan diolah menjadi berbagai bentuk produk.

Saat itu, banyak orang mungkin menganggap ide tersebut tidak lazim. Namun bagi Erina, justru di situlah peluangnya berada. Ia ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda sekaligus memiliki karakter kuat di tengah persaingan industri fashion.

"Orang-orang tua zaman dulu itu kan kalau sekolah pakainya tas dari karung goni. Dari situ kami mencari konsep sampai akhirnya menemukan ide untuk mengembangkan goni menjadi produk fashion," katanya.

Pakai Goni Khusus Bukan Karung Goni

Membangun usaha berbahan goni ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Pada awal percobaan, Erina menggunakan goni bekas yang biasa dipakai untuk kebutuhan industri. Proses pembersihannya sangat rumit karena harus menghilangkan bau, minyak, dan berbagai kotoran yang menempel pada serat kain.

Berbagai cara dicoba. Mulai dari mencuci, mengeringkan, hingga melakukan perlakuan khusus agar goni terlihat lebih bersih dan layak digunakan sebagai bahan fashion. Namun hasil yang didapat belum sesuai harapan.

Masalah baru terus muncul. Ada goni yang masih terasa kasar dan berserabut. Ada pula yang menghitam setelah melalui proses tertentu. Ketika terkena hujan dan udara lembap, sebagian bahan bahkan memunculkan jamur yang membuat kualitas produk tidak bisa dipertahankan.

Alih-alih menyerah, Erina terus mencari solusi. Hingga akhirnya ia menemukan pemasok yang menyediakan goni khusus untuk kebutuhan fashion. Bahan tersebut lebih halus, lebih awet, dan dapat dicuci tanpa merusak kualitasnya. Dari situlah Erlene Handycraft mulai menemukan identitas produknya memakai goni ekslusif.

"Kami sempat mencoba banyak jenis goni. Setelah berproses cukup panjang, akhirnya kami menemukan goni yang memang khusus untuk fashion dan kualitasnya jauh lebih baik dan bukan bahan karung goni yang berserat," tuturnya.

Ketika Banyak Orang Tidak Percaya Goni Bisa Menjadi Fashion

Tantangan berikutnya bukan lagi soal bahan baku, melainkan mengubah cara pandang masyarakat. Saat mulai mengikuti berbagai pameran, Erina sering menerima pertanyaan yang sama dari pengunjung.

Banyak orang merasa heran melihat tas, outer, dan produk fashion lain yang dibuat dari goni. Sebagian bahkan tidak percaya bahwa bahan yang identik dengan karung bisa tampil menarik dan nyaman digunakan.

Keraguan tersebut justru menjadi kesempatan bagi Erina untuk memberikan edukasi. Ia menjelaskan bahwa tidak semua goni memiliki karakter yang sama. Ada jenis goni yang memang dirancang untuk kebutuhan fashion dengan tekstur lebih nyaman dan tampilan yang lebih rapi.

Perlahan, persepsi masyarakat mulai berubah. Produk-produk yang awalnya hanya menimbulkan rasa penasaran mulai dilirik sebagai pilihan fashion yang unik dan memiliki nilai berbeda dibanding produk yang umum di pasaran.

"Di pameran banyak yang bertanya, kok bahan goni dibuat tas, kok bahan goni dibikin baju, apa tidak gatal. Kami jelaskan bahwa goni itu ada banyak klasifikasinya dan yang kami gunakan memang khusus untuk fashion," ungkapnya.

Berkolaborasi Bersama Ibu Rumah Tangga dari Lingkungan Sekitar

Di balik suksesnya Erlene Handycraft, ada peran perempuan yang dianggap penting bagi usaha tersebut. Di sana, Erina turut membuka kesempatan bagi ibu rumah tangga di sekitar tempat usahanya untuk ikut terlibat dalam proses produksi.

Sistem kerja yang diterapkan cukup fleksibel. Para ibu dapat mengerjakan pekerjaan dari rumah sambil tetap menjalankan perannya mengurus keluarga dan anak-anak. Pola kerja seperti ini membuat mereka tetap memiliki kesempatan memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan tanggung jawab di rumah.

Menurut Erina, pendekatan tersebut menjadi salah satu cara agar usaha yang dibangun bisa turut bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Semakin banyak pesanan yang masuk, semakin banyak pula pekerjaan yang dapat dibagikan kepada para mitra produksi.

"Mereka bisa sambil momong anak di rumah, ngurus keluarga, jadi waktunya lebih fleksibel. Yang penting target pekerjaan bisa selesai," kata Erina.

Semangat Berproses Bersama Erlene Handycraft

Kehadiran bisnis kreatif tersebut rupanya berhasil membuka kesempatan bagi perempuan-perempuan di lingkungan sekitar untuk memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan peran mereka sebagai ibu rumah tangga, seperti yang dirasakan oleh Ratri (32).

Diungkapkan perempuan berusia 32 tahun yang telah bergabung membantu proses produksi sejak 2018 itu, awalnya, ia diminta membantu ketika pesanan sedang meningkat. Saat itu, pekerjaan yang dilakukan masih sederhana, yakni membantu memotong bahan goni yang akan digunakan dalam proses produksi.

Seiring berjalannya waktu, Ratri pun kini menjadi bagian dari tim yang membantu mewujudkan berbagai rancangan yang dibuat Erina menjadi produk siap jual. Mulai dari proses pemotongan bahan hingga pengerjaan produk, semuanya dilakukan Ratri dengan ketelitian tinggi.

"Saya mulai membantu di sini sejak 2018. Dulu itu saya membantu mengerjakan pembuatan produk fashion dari goni dan masih bisa dibawa pulang, karena ketika itu masih ada bayi, jadi saya kerjakan sembari momong," ujar Ratri.

Bagi Ratri, bekerja di Erlene Handycraft merupakan pengalaman yang menyenangkan. Ia merasakan lingkungan kerjanya nyaman dan penuh kekeluargaan. Suasana kerja juga tidak kaku, sehingga membuat dirinya betah hingga sekarang.

Pendapatan yang diperoleh dari pekerjaannya kemudian turut membantu kebutuhan keluarga sehari-hari. Kehadiran Erlene Handycraft pun menjadi bukti bahwa usaha kreatif dapat memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar, khususnya perempuan yang ingin tetap produktif tanpa harus meninggalkan rumah.

"Kalau bekerja di sini nyaman sih, soalnya saya bisa nyambi momong anak juga di rumah. Terus cukup membantu pemasukan juga, jadi bisa nambah uang jajan juga untuk anak," kata Ratri.

Erina Merasakan Dampak Nyata dari Kehadiran Bank BRI

Perjalanan Erlene Handycraft juga turut mendapat sokongan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui program pembinaan yang diikuti di BRIncubator 2025. Erina di sana memperoleh berbagai materi yang berkaitan dengan pengembangan usaha, mulai dari pemasaran digital, legalitas usaha, pengelolaan keuangan, hingga strategi bisnis.

Menurutnya, program tersebut memberikan banyak wawasan baru yang langsung dapat diterapkan dalam pengelolaan usaha sehari-hari. Salah satu manfaat yang paling dirasakan adalah meningkatnya pemahaman tentang pentingnya manajemen keuangan dan strategi pemasaran digital yang lebih tertata rapi.

Selain itu, pemanfaatan layanan transaksi digital dari BRI juga membantu mempermudah proses pembayaran bagi konsumen dari berbagai daerah. Saat mengikuti pameran maupun menerima pesanan langsung, pembayaran dapat dilakukan dengan lebih praktis melalui transfer maupun QRIS BRI.

Dukungan tersebut menjadi salah satu bekal bagi Erlene Handycraft untuk terus berkembang dan memperluas pasar. Dari ide sederhana yang terinspirasi cerita orang tua zaman dulu, kini lahir produk fashion berbahan goni yang mampu menunjukkan bahwa kreativitas bisa mengubah sesuatu yang sebelumnya dipandang sebelah mata.

"Yang menjadi pembeda setelah ikut pembinaan adalah kami mendapatkan banyak ilmu yang benar-benar bisa dipakai untuk mengembangkan usaha, mulai dari pemasaran digital sampai pengelolaan usaha," tambah Erina.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|