Contoh Hewan Amfibi di Sekitar Kita, Pahami Pengertian, Ciri-Ciri, Klasifikasi dan Kemampuan Uniknya

4 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta Ada banyak contoh hewan amfibi di dunia ini, bahkan banyak juga di antaranya yang dapat ditemukan di sekitar kita. Dunia fauna menyimpan keragaman luar biasa, dan salah satu kelompok yang menarik untuk dipelajari adalah hewan amfibi. Berbagai contoh hewan amfibi dapat ditemukan di lingkungan sekitar kita, mulai dari katak yang sering terdengar bersuara di malam hari hingga salamander yang menghuni kawasan hutan lembap.

Amfibi tergolong dalam vertebrata berdarah dingin (ektotermik) dari kelas Amphibia, yang memiliki kemampuan hidup di lingkungan akuatik maupun terestrial. Contoh hewan amfibi yang paling umum dijumpai adalah katak, kodok, salamander, dan sesilia.

Sekitar 8.000 spesies amfibi telah diketahui hingga saat ini, dan hampir 90% di antaranya adalah katak. Dilansir dari Britannica, kurang lebih 8.100 spesies amfibi hidup telah tercatat, dan kelompok ini pertama kali muncul sekitar 340 juta tahun lalu pada Epoch Mississippian Tengah. Lalu apa saja contoh hewan amfibi? Simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (26/6/2026).

Pengertian Hewan Amfibi

Istilah "amfibi" berasal dari kata Yunani Kuno amphi yang berarti "keduanya" dan bios yang berarti "kehidupan", mencerminkan gaya hidup ganda mereka. Secara sederhana, hewan amfibi dapat didefinisikan sebagai kelompok vertebrata berkaki empat (tetrapoda) yang mampu menjalani kehidupan di darat maupun di air. Amfibi merupakan kelompok tetrapoda berdarah dingin yang tidak memiliki membran amniotik, dan tergolong dalam kelompok parafiletik dari kelas Amphibia.

Seluruh amfibi yang masih hidup saat ini termasuk dalam subkelas Lissamphibia, yang terdiri dari tiga ordo, yaitu Anura (katak dan kodok), Urodela (salamander), dan Gymnophiona (sesilia). Ketiga ordo ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda satu sama lain, tetapi tetap saling berkerabat dekat secara evolusioner.

Mengacu pada riset yang dipublikasikan di jurnal Nature (Luedtke dkk., 2023), penilaian global kedua terhadap amfibi mengevaluasi 8.011 spesies untuk Daftar Merah IUCN dan menemukan bahwa amfibi adalah kelas vertebrata yang paling terancam, dengan 40,7% spesies tergolong terancam secara global. Fakta ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman tentang hewan amfibi bagi upaya konservasi.

Berbeda dengan reptil yang memiliki sisik dan telur bercangkang keras, hewan amfibi memerlukan akses terhadap sumber air untuk berkembang biak. Kulit amfibi umumnya lembap dan permeabel, yang membantu mereka dalam proses respirasi. Karakteristik unik inilah yang membedakan amfibi dari kelompok vertebrata lainnya.

Ciri-Ciri Hewan Amfibi

Mengenali ciri-ciri hewan amfibi merupakan langkah penting untuk membedakannya dari kelompok hewan lain. Berdasarkan data dari Science Notes, berikut adalah ciri-ciri utama yang dimiliki oleh hewan amfibi secara umum:

  1. Kulit lembap dan permeabel. Amfibi tidak memiliki sisik, melainkan kulit yang lembap dan permeabel yang membantu dalam proses respirasi. Kulit ini juga berfungsi untuk menyerap air dan oksigen.
  2. Berdarah dingin (ektotermik). Amfibi adalah vertebrata ektotermik yang tidak mempertahankan suhu tubuh melalui proses fisiologis internal, sehingga laju metabolisme mereka rendah.
  3. Mengalami metamorfosis. Amfibi bertelur di air, larvanya hidup di air dan bernapas melalui insang, lalu sebagian besar spesies mengalami metamorfosis menjadi bentuk dewasa yang hidup di darat dan bernapas dengan paru-paru serta kulit.
  4. Jantung tiga ruang. Struktur jantung amfibi terdiri dari dua atrium dan satu ventrikel, yang mengatur sistem peredaran darah tertutup mereka.
  5. Fertilisasi eksternal. Dalam hal reproduksi, amfibi tidak memerlukan perkawinan sebelum melepaskan telur bening dengan tekstur seperti jeli, karena telur mereka dibuahi setelah dikeluarkan.
  6. Berkaki empat (tetrapoda). Mayoritas amfibi memiliki empat kaki saat dewasa, meskipun ada beberapa pengecualian seperti sesilia yang tidak berkaki.
  7. Memiliki kelenjar kulit khusus. Kulit amfibi mengandung sedikit keratin, tidak bersisik, namun memiliki banyak kelenjar mukosa dan pada beberapa spesies, kelenjar racun.
  8. Karnivora saat dewasa. Setiap amfibi dewasa merupakan karnivora, dan apa pun yang cukup kecil untuk ditelan akan menjadi makanan mereka.

Baca juga: Contoh Hewan yang Mengalami Metamorfosis Sempurna, Pengertian dan Ciri-Cirinya

Klasifikasi dan Contoh Hewan Amfibi Berdasarkan Ordo

Hewan amfibi diklasifikasikan ke dalam tiga ordo utama yang masing-masing memiliki karakteristik khas. Sebagaimana dilaporkan Britannica, amfibi saat ini diwakili oleh katak dan kodok (ordo Anura), kadal air dan salamander (ordo Caudata), serta sesilia (ordo Gymnophiona), dan ketiganya diyakini berasal dari satu radiasi amfibi purba. Berikut penjelasan lengkap setiap ordo beserta contoh hewannya.

1. Ordo Anura (Katak dan Kodok)

Katak dan kodok merupakan kelompok amfibi terbesar, dengan lebih dari 7.000 spesies di seluruh dunia. Ordo Anura menjadi contoh hewan amfibi yang paling dikenal oleh masyarakat umum. Anura terdiri dari kelompok katak dan kodok yang memiliki tungkai belakang lebih panjang dari tungkai depan.

Beberapa contoh hewan amfibi dari ordo Anura meliputi:

  • Katak sawah (Fejervarya cancrivora) – sering dijumpai di persawahan Indonesia
  • Kodok (Bufo sp.) – memiliki kulit kasar dan bertekstur kasar serta kelenjar racun
  • Katak pohon (Hyla sp.) – berukuran kecil dengan warna cerah dan bantalan kaki lengket
  • Katak pelangi (Ansonia latidisca) – spesies langka dari Kalimantan
  • Katak panah beracun (Dendrobates sp.) – katak kecil berwarna cerah dari Amerika Tengah dan Selatan dengan pertahanan racun kulit.
  • Katak Goliath (Conraua goliath) – katak terbesar di dunia, mencapai 32 cm panjangnya, ditemukan di Kamerun.
  • Surinam Horned Frog (Ceratophrys cornuta) – amfibi bertanduk dari wilayah Amazon

Menariknya, anura memiliki struktur tulang khusus bernama urostyle yang membantu mentransmisikan gaya yang dihasilkan saat melompat. Struktur inilah yang membuat katak mampu melompat dengan jarak yang luar biasa.

2. Ordo Caudata (Salamander)

Salamander adalah amfibi bertubuh panjang dan ramping dengan ekor, yang juga memiliki kulit lembap untuk bernapas. Sebagaimana disampaikan IUCN SSC Amphibian Specialist Group, salamander merupakan ordo amfibi yang paling terancam, dengan 60% spesiesnya berada dalam tiga kategori terancam Daftar Merah.

Contoh hewan amfibi dari ordo Caudata antara lain:

  • Salamander raksasa Tiongkok (Andrias davidianus) – salah satu dari tiga spesies salamander primitif yang masih hidup.
  • Axolotl (Ambystoma mexicanum) – terkenal karena mencapai kematangan seksual sambil mempertahankan karakteristik juvenilnya, kondisi yang disebut neoteni.
  • Salamander punggung merah (Plethodon cinereus) – ditemukan di Amerika Utara
  • Salamander harimau (Ambystoma tigrinum) – salah satu spesies salamander darat terbesar
  • Hellbender (Cryptobranchus alleganiensis) – salamander besar dari Amerika Utara yang mempertahankan beberapa karakteristik larva.
  • Mudpuppy (Necturus sp.) – hidup di perairan timur laut Amerika Serikat dan Kanada

Beberapa spesies salamander, seperti axolotl, memiliki kemampuan luar biasa untuk meregenerasi bagian tubuh yang hilang, termasuk tungkai, ekor, jantung, dan bahkan bagian otak serta sumsum tulang belakang. Kemampuan ini menjadikan salamander sebagai subjek penelitian yang sangat penting di bidang kedokteran regeneratif.

Baca juga: Ciri-Ciri Vertebrata yang Wajib Diketahui, Beserta Klasifikasi dan Contoh Hewannya

3. Ordo Gymnophiona (Sesilia)

Sesilia merupakan tipe amfibi ketiga yang hanya ditemukan di wilayah tropis dan hidup di bawah tanah dengan cara menggali. Mereka berbeda dari amfibi lainnya karena tidak memiliki kaki dan bertubuh panjang menyerupai cacing. Sesilia sering kali menjadi contoh hewan amfibi yang paling jarang diketahui masyarakat.

Contoh spesies sesilia meliputi:

  • Sesilia Indonesia (Ichthyophis bernisi) – ditemukan di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan
  • Sesilia Amerika Selatan (Siphonops annulatus) – memiliki adaptasi unik berupa kulit khusus yang dikonsumsi oleh anak-anaknya, fenomena yang dikenal sebagai dermafagi maternal.
  • Sesilia Sumatera (Ichthyophis sumatranus)

Berbeda dari amfibi lainnya, sesilia juga tidak memiliki fase akuatik dalam siklus hidupnya dan dapat melahirkan anak hidup selama reproduksi, alih-alih mengeluarkan telur yang tidak dibuahi. Fakta ini menjadikan sesilia sebagai salah satu contoh hewan amfibi paling unik di dunia.

Adaptasi Unik dan Fakta Menarik Hewan Amfibi

Selain klasifikasi dasarnya, hewan amfibi memiliki sejumlah adaptasi dan fakta menarik yang belum banyak diketahui. Amfibi mampu berenang, berjalan, menggali, melompat, memanjat, dan bahkan meluncur di udara. Keragaman kemampuan gerak ini menjadikan mereka salah satu kelompok vertebrata paling adaptif.

Berdasarkan laporan ScienceDirect, amfibi sering kali hanya dikaitkan dengan katak dan salamander dalam bentuk klasiknya, padahal setiap ordo memiliki karakter dan spesies yang sangat terspesialisasi yang memikat peneliti maupun masyarakat umum di seluruh dunia. Berikut beberapa fakta menarik yang membuat contoh hewan amfibi semakin menakjubkan.

Beberapa spesies katak dan salamander menunjukkan biofluoresensi, yaitu kemampuan menyerap cahaya dan memancarkannya kembali sebagai warna yang berbeda. Fenomena ini relatif baru ditemukan dan masih menjadi topik penelitian aktif di kalangan ilmuwan. Selain itu, beberapa spesies amfibi bahkan beradaptasi untuk memasuki kondisi seperti hibernasi yang disebut brumasi selama musim dingin, di mana detak jantung, respirasi, dan metabolisme semuanya melambat.

Dari segi ekologi, seekor katak dapat memakan ribuan serangga per tahun, menyediakan pengendalian hama alami yang bernilai jutaan dolar dalam penghematan sektor pertanian. Fakta ini menunjukkan betapa besarnya peran amfibi dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Di Indonesia sendiri, katak berkembang biak secara ovipar dengan fertilisasi eksternal di air. Proses metamorfosisnya yang sempurna, dari telur menjadi kecebong hingga katak dewasa, menjadikannya contoh hewan amfibi paling klasik yang sering dipelajari di sekolah. Metamorfosis sempurna ini melibatkan perubahan drastis dalam struktur tubuh, sistem pernapasan, dan cara hidup.

Peran Ekologis dan Status Konservasi Hewan Amfibi

Keberadaan hewan amfibi memiliki dampak besar terhadap keseimbangan ekosistem secara global. Amfibi merupakan bioindikator penting bagi kesehatan ekosistem, selain memegang peran krusial dalam pengendalian hama dan bidang kedokteran. Karena kulit mereka yang permeabel dan sangat sensitif terhadap polutan, kondisi populasi amfibi sering dijadikan tolok ukur kesehatan lingkungan suatu wilayah.

Mengutip laporan IUCN Red List, "data ini menyampaikan pesan yang luar biasa mengkhawatirkan — 2 dari setiap 5 spesies amfibi terancam punah, menjadikan mereka kelompok vertebrata paling terancam." Dengan 41% spesies yang dinilai berada dalam kategori Kritis, Terancam, atau Rentan, amfibi jauh lebih terancam dibandingkan burung (13%), mamalia (27%), atau reptil (21%).

Merujuk laporan Nature (2023), penyakit dan hilangnya habitat menjadi penyebab 91% penurunan status antara 1980 dan 2004, sementara efek perubahan iklim kini menjadi perhatian yang semakin meningkat, mendorong 39% penurunan status sejak 2004. Kondisi ini diperburuk oleh penyakit yang disebabkan oleh jamur chytrid yang telah memusnahkan spesies amfibi di Amerika Latin, Australia, dan Amerika Serikat.

Di Indonesia, sekitar 32 jenis amfibi saat ini berada dalam kondisi sangat rentan menurut IUCN. Situasi ini menuntut upaya konservasi yang lebih serius, termasuk perlindungan habitat, pengendalian perdagangan ilegal, dan edukasi publik tentang pentingnya menjaga kelangsungan hidup hewan langka termasuk amfibi.

Baca juga: Hewan yang Berkembang Biak dengan Cara Bertelur Disebut? Simak Penjelasannya

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Contoh Hewan Amfibi

Q: Apa saja contoh hewan amfibi yang paling umum?

A: Contoh hewan amfibi yang paling umum dikenal adalah katak, kodok, dan salamander. Saat ini amfibi diwakili oleh katak dan kodok (ordo Anura), kadal air dan salamander (ordo Caudata), serta sesilia (ordo Gymnophiona). Di Indonesia, contoh hewan amfibi yang paling mudah dijumpai adalah katak sawah, kodok, dan katak pohon yang sering menghuni lingkungan lembap di sekitar sawah, sungai, atau kebun.

Q: Apa perbedaan utama antara katak dan kodok?

A: Meskipun sama-sama termasuk contoh hewan amfibi dari ordo Anura, katak dan kodok memiliki beberapa perbedaan. Secara umum katak dianggap memiliki kulit halus sedangkan kodok memiliki bintil-bintil, meskipun hal ini tidak selalu benar. Kodok cenderung memiliki tungkai belakang yang lebih pendek dan kulit yang lebih kering dibandingkan katak. Katak lebih sering hidup di dekat sumber air, sedangkan kodok lebih banyak menghabiskan waktu di darat.

Q: Mengapa hewan amfibi penting bagi ekosistem?

A: Hewan amfibi memegang peran vital dalam rantai makanan dan keseimbangan ekosistem. Kulit amfibi yang relatif rapuh membuat mereka sangat rentan terhadap polutan lingkungan, sehingga mereka dapat berfungsi sebagai bioindikator yang sangat akurat bagi kesehatan ekosistem. Selain itu, amfibi berperan sebagai pengendali populasi serangga secara alami dan menjadi sumber makanan bagi banyak predator seperti ular, burung, dan mamalia kecil.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|