Tak Ingin Warisan Nenek Moyang Punah, Ibu Rumah Tangga di Kulon Progo Sulap Besek Bambu Tradisional Jadi Ekslusif

11 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Batang bambu yang dulu terbengkalai kini berubah menjadi produk bernilai ekonomi di tangan Reni Marlia (45), warga Padukuhan Graulan, Desa Giripeni, Wates, Kulon Progo. Melalui usaha bernama Griya Besek Graulan, ia mengembangkan besek bambu tradisional menjadi produk custom yang digunakan untuk keperluan hantaran, souvenir, parcel, hingga kebutuhan hotel dan hajatan.

Reni mengaku awalnya tertarik menjalankan usaha ini setelah melihat banyak bambu di lingkungan sekitar yang terbuang begitu saja dan tidak dimanfaatkan maksimal. Padahal, menurutnya, bambu memiliki nilai ekonomi dan bisa diolah menjadi produk yang lebih ramah lingkungan dibanding plastik.

Pengalaman masa kecil di tanah kelahirannya, yakni di Desa Guntur, Purworejo, Jawa Tengah, juga menjadi bekal tersendiri. Di kampung halamannya itu, banyak ibu rumah tangga menganyam besek untuk tambahan penghasilan keluarga. Kebiasaan tersebutlah yang kemudian menginspirasi Reni saat menetap di Kulon Progo.

Ketika disambangi Liputan6, Rabu (13/5) lalu, dirinya turut bercerita panjang tentang usahanya ini. Berbekal modal sekitar Rp100 ribu dan dua batang bambu, dirinya lantas mulai merintis usaha pada 2023. Dari rumah sederhananya, Reni kemudian mencoba membuat besek sendiri sambil mempelajari berbagai model anyaman melalui media sosial dan YouTube.

“Saya dulu sempat mencari ide, usaha apa, ya, yang cocok untuk saya. Nah, kemudian, pas keliling itu saya melihat beberapa batang bambu yang tadinya tidak berguna, dan hanya dijadikan kandang ayam. Tetapi, ternyata, di balik itu ada potensi lainnya yang kemudian bisa saya manfaatkan,” kata Reni, saat tengah menyelesaikan pesanan besek untuk dikirim ke Malaysia, di tempat tinggalnya sekaligus rumah produksi besek.

Berawal dari Besek Hantaran dan Kini Bisa Custom Jadi Ekslusif

Awalnya, Reni hanya membuat besek sederhana untuk kebutuhan hantaran dan kemasan makanan. Bentuknya masih umum seperti besek pasar pada umumnya, yakni terbuat dari anyaman bambu persegi dan menyerupai mangkuk kotak.

Namun seiring waktu, ia mulai mencoba membuat model lain agar produknya berbeda dari yang banyak dijual di pasaran. Ia lantas membuat besek dengan tambahan aksesoris pegangan, model lonjong, keranjang, tas anyaman, tempat souvenir, hingga kemasan parcel untuk hari besar dengan berbagai ukuran.

Menurut Reni, keunggulan produknya terletak pada motifnya yang bisa didesain sesuai pesanan. Konsumen bisa menentukan sendiri ukuran, bentuk, hingga model sesuai referensi, dan kebutuhan fungsi penggunaannya sehingga produknya semakin ekslusif.

“Kalau di tempat saya tidak saklek ukurannya, tidak selalu kotak tradisional biasa begitu. Tetapi ini bisa dicustom sesuai permintaan konsumen, jadi bentuknya bisa macam-macam,” kata Reni.

Diameter produk yang dibuat Griya Besek Graulan juga beragam, mulai ukuran kecil untuk tempat sabun hotel hingga ukuran besar untuk parcel dan hantaran hajatan. Bahkan ia memiliki pelanggan tetap di wilayah Yogyakarta yang kerap menjadikan produknya sebagai kemasan produk oleh-oleh getuk di Kabupaten Bantul.

Proses Pembuatan Dimulai dari Memilih Bambu Tua

Dalam proses produksi, Reni memilih bambu yang sudah tua agar hasil anyaman lebih kuat, tidak mudah patah, dan tahan lebih lama. Pemilihan bahan menjadi bagian penting karena mempengaruhi kualitas besek yang dihasilkan.

Setelah dipotong, bambu dibelah menjadi bagian kecil lalu diiris tipis menjadi bilah anyaman. Tahap membilah ini menurut Reni justru paling sulit dan memakan waktu dibanding proses menganyam.

“Yang susah itu membilah bambunya supaya tipis dan rapi. Ini harus hati-hati agar produknya sesuai standar produksi di sini. Tapi, kalau menganyam satu besek sebenarnya hanya memakan waktu sekitar 10 menit, sudah jadi,” ujarnya.

Bilah bambu yang sudah siap kemudian dianyam satu per satu secara manual sesuai model pesanan. Dalam sehari, Reni mampu memproduksi sekitar 100 pieces besek dan produk anyaman lainnya. Dirinya mengerjakan pesanan secara bergantian, serta Tak jarang dibantu sang suami saat selesai bekerja.

Saat pesanan meningkat, ia juga melibatkan kelompok ibu rumah tangga di Desa Guntur, Purworejo, untuk membantu proses produksi. Cara ini sekaligus membuka peluang tambahan penghasilan bagi perempuan di kampung halamannya.

Media Sosial Bantu Pesanan Datang dari Berbagai Daerah

Perlahan, produk Griya Besek Graulan mulai dikenal lebih luas. Awalnya, Reni hanya menawarkan produknya dari mulut ke mulut. Namun kini pemasaran juga dilakukan melalui Instagram, TikTok, dan WhatsApp.

Banyak pelanggan akhirnya datang langsung ke rumah produksinya di Kulon Progo. Pesanan pun terus berdatangan dari berbagai daerah seperti Bogor, Medan, Kalimantan, Jawa Timur, hingga Bantul.

Untuk kebutuhan hajatan, jumlah pemesanan bisa mencapai ratusan pieces dalam sekali order. Salah satu pelanggan di Bantul bahkan rutin memesan sekitar 200 pasang setiap minggu untuk kemasan oleh-oleh.

Reni juga mengaku pernah mengirim sekitar 600 pasang besek ke Medan saat momen Lebaran. Ini jadi momen keberkahan baginya. Selain itu, produk anyamannya kini juga mulai dipesan dari Malaysia untuk kebutuhan souvenir.

“Kalau ke Malaysia ini pesanannya sampai 1.100 keranjang, tapi ini saya juga kerjakan bertahan karena rentang waktu pemesanannya panjang. Saya juga masih terbatas tenaga, sehingga tidak bisa sekaligus produksinya,” tuturnya.

Membawa Misi Melestarikan Besek dan Mengurangi Plastik

Bagi Reni, selain sebagai jalan untuk mencari penghasilan, usaha ini juga merupakan upayanya dalam melestarikan lingkungan sekaligus nguri-uri kabudayan nenek moyang. Ia ingin besek bambu tetap dikenal sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga.

Dirinya pun ingin penggunaan besek bambu juga menjadi bagian dalam meramaikan tren diet plastik karena menggunakan bahan alami yang lebih ramah lingkungan. Ia melihat minat masyarakat terhadap kemasan alami kini mulai meningkat. Banyak konsumen memilih besek bambu karena tampilannya lebih alami dan cocok digunakan untuk konsep ramah lingkungan.

Selain digunakan sebagai hantaran dan kemasan makanan, produk anyamannya juga dipakai untuk kemasan gudeg, parcel, souvenir, hingga perlengkapan hotel.

“Kalau tidak ada yang melestarikan, saya takut besek lama-lama hilang. Padahal ini warisan nenek moyang. Saya juga inginnya ini bantu masyarakat yang ingin melakukan diet plastik, karena bahan besek kan alami dari bambu,” katanya.

BRI Membantu Griya Besek Grawulan Mengenal Transaksi Digital

Seiring meningkatnya pesanan, omzet usaha Griya Besek Graulan kini berangsur-angsur meningkat setiap bulannya. Harga produk bervariasi tergantung ukuran dan tingkat kerumitan model. Untuk besek standar ukuran 18x18 sentimeter, harganya sekitar Rp2.700 per pieces. Sementara keranjang dan tas anyaman dijual mulai Rp5.000 hingga Rp6.000 lebih tergantung desain dan ukuran.

Dalam menjalankan usaha, Reni juga memanfaatkan layanan transaksi digital melalui QRIS BRI. Menurutnya, fasilitas tersebut memudahkan konsumen yang datang langsung maupun pembeli dari luar kota.

“Kalau dulu itu modal awal saya ada di Rp100 ribuan, modalnya dari bambu juga hanya dua bentang gitu. Kalau sekarang Alhamdulillah kemarin itu omzetnya bisa sampai Rp5 juta,” tutur Reni.

Banyak pelanggan menggunakan rekening BRI sehingga proses transfer menjadi lebih praktis. Konsumen juga bisa langsung melakukan pembayaran non tunai saat datang ke rumah produksinya.

“Untungnya saya pakai rekening BRI, dan ini saya pakai untuk transaksi di usaha besek saya. Terus di sini juga bisa pakai QRIS, orang-orang jadi bisa membeli banyak tanpa harus membayar cash, atau saya cari kembalian,” terangnya.

Ke depan, Reni berharap dapat memiliki rumah produksi sendiri agar kapasitas usaha semakin besar. Saat ini, seluruh proses produksi masih dilakukan di rumah dengan peralatan sederhana. Ia juga ingin menambah tenaga kerja agar pesanan dalam jumlah besar bisa ditangani lebih maksimal sekaligus membuka peluang kerja bagi lebih banyak perempuan di sekitar tempat tinggalnya.

“Jadi inginnya saya punya rumah produksi sendiri, punya tenaga kerja gitu, karena bisa membantu untuk menangani pesanan besek bambu serta turunannya yang banyak,” tambah Reni.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|