Liputan6.com, Jakarta - Menatap tumpukan sampah dapur yang kian menggunung setiap hari sering kali memicu kecemasan tersendiri bagi sebagiana orang. Ditambah lagi, meroketnya pengeluaran bulanan untuk kebutuhan dapur, mulai dari sayuran segar, telur, hingga daging, kerap kali membuat dompet terasa tipis. Banyak dari kita yang tinggal di area perkotaan atau kompleks perumahan merasa tidak berdaya karena menganggap kegiatan bertani dan beternak membutuhkan lahan yang sangat luas layaknya di pedesaan.
Namun, kegelisahan di tengah keterbatasan lahan urban ini sebenarnya bisa dipecahkan melalui pendekatan holistik yang bersahabat dengan alam. Solusi cerdas yang kini mulai banyak dilirik adalah dengan menerapkan kombinasi kebun dan ternak ramah lingkungan menggunakan prinsip integrated farming (pertanian terpadu) skala rumahan. Melalui sistem ini, siklus energi diatur sedemikian rupa agar berjalan dalam rantai tertutup tanpa menghasilkan limbah terbuang (zero waste).
Keuntungan nyata dari metode terpadu ini tidak main-main. Di samping mampu memangkas anggaran belanja pangan rumah tangga hingga lebih dari 70%, Anda juga berkontribusi langsung dalam menekan volume pembuangan sampah ke TPA. Yang paling berharga, Anda sekeluarga bisa menikmati pasokan bahan pangan yang jauh lebih sehat, segar, dan bebas dari paparan residu kimia berbahaya. Berikut adalah 7 inspirasi aplikatif dari para praktisi nyata yang telah sukses mengembangkannya, siap untuk Anda tiru di rumah.
1. Sistem Cekerator – Ayam sebagai Pengolah Kompos Otomatis
Inspirasi luar biasa ini lahir dari tangan kreatif tim Piramida Projects yang digawangi oleh Taufik Azhari. Mereka mendesain sebuah kandang ayam dengan sistem umbaran terbatas yang alasnya dimanfaatkan sebagai pabrik pupuk organik. Ayam-ayam dibiarkan bebas bergerak bebas di atas alas kandang khusus yang tebal.
Secara alami, ayam memiliki insting biologis untuk menggaruk-garuk, mengorek, dan mengaduk tanah atau dedaunan kering yang ada di bawah kaki mereka. Konsep inilah yang diadopsi dalam sistem "cekerator". Ketika ayam membuang kotoran, kotoran tersebut akan langsung tercampur dan diaduk secara mandiri oleh ceker ayam bersama bahan organik pengisi alas kandang.
Dalam kurun waktu sekitar 3 hingga 4 bulan, tumpukan material di lantai kandang tersebut akan terurai secara alami dan berubah wujud menjadi pupuk kompos berkualitas premium siap pakai. Hebatnya lagi, sistem ini membuat kandang sama sekali tidak mengeluarkan bau busuk yang mengganggu tetangga karena kotoran langsung diserap dan dikeringkan oleh material alasnya. Anda tidak perlu lagi repot-repot membersihkan kandang setiap hari. Untuk menerapkannya di rumah, Anda cukup menyediakan alas kandang setebal 10–15 cm menggunakan campuran daun-daun kering atau sekam padi, lalu biarkan ayam-ayam peliharaan Anda bekerja sebagai "petani mini" otomatis.
2. Air Lele untuk Pupuk Tanaman – Nutrisi Gratis dari Kolam Ikan
Masih dari pengalaman Piramida Projects, kolam ikan lele rumahan ternyata menyimpan potensi emas sebagai penyubur tanaman. Air kolam bekas budidaya lele sering kali dianggap sebagai limbah berbau, padahal cairan ini sangat kaya akan kandungan unsur nitrogen, amonia, serta berbagai nutrisi makro yang berasal dari sisa pakan serta ekskresi metabolisme ikan lele yang terurai oleh mikroorganisme bermanfaat.
Alih-alih membuang air kolam ke selokan begitu saja, Anda bisa memanfaatkannya sebagai pupuk organik cair gratis untuk area kebun Anda. Lakukan pembuangan air kolam bagian bawah selama beberapa puluh detik secara rutin, lalu tampung air kaya nutrisi tersebut ke dalam wadah penyiraman.
Aplikasi penyiraman air lele ini sangat ideal dilakukan setiap 3 hari sekali ke tanaman sayur-sayuran maupun buah-buahan di pekarangan rumah. Hasilnya, tanaman di kebun Anda akan tumbuh jauh lebih subur dan hijau tanpa memerlukan tambahan pupuk kimia sintetis yang mahal. Di sisi lain, sirkulasi air kolam lele Anda pun tetap terjaga kebersihannya sehingga ikan terhindar dari stres akibat penumpukan amonia berlebih.
3. Maggot BSF – Pemakan Sampah Organik yang Rakus
Jika Anda mencari solusi tercepat dalam menghabiskan sisa makanan dapur, maggot dari lalat Black Soldier Fly (BSF) adalah jawabannya. Berdasarkan uji coba dari Rejo Farm yang didirikan oleh Dimas Christy Kusuma Putra, serangga ini merupakan agen pengurai organik terbaik. Fakta mencengangkan juga diungkan oleh Taufik dari Piramida Projects bahwa sekitar 10 gram telur maggot BSF mampu melahap habis hingga 100 kg sampah organik hanya dalam waktu 24 hari.
Siklus pengolahan limbah ini membentuk mata rantai yang sangat efisien. Sampah sisa sayur, kulit buah, dan nasi basi dari dapur langsung diberikan sebagai pakan maggot. Setelah tumbuh besar dan kaya protein, maggot tersebut dipanen untuk dijadikan pakan hidup berkualitas tinggi bagi ayam petelur maupun ikan lele Anda.
Selain dapat dimanfaatkan untuk budidaya magot, limbah-limbah organik ini juga dimanfaatkan untuk dijadikan pupuk hingga pakan ayam.
"Kita riset soal pupuk organik padat, pupuk organik cair, pembuatan pakan ayam dari limbah," ungkap Dimas Christy Kusuma Putra kepada reporter Liputan6.com ketika diwawancarai pada Senin (11/5/2026), menekankan pentingnya manajemen siklus tertutup. Untuk memulainya di rumah, Anda cukup menyediakan ember atau wadah plastik bekas, lalu pancing kehadiran lalat BSF menggunakan umpan beraroma khas atau membeli telur maggot secara online dengan harga yang sangat terjangkau.
4. Pakan Ayam dari Limbah Dapur & Warung
Muji Purwanto, seorang arsitek yang kini mengelola Kandang Gadri, mengawali peternakannya murni karena rasa gelisah terhadap krisis kedaruratan sampah di daerahnya. Dari situ, ia menemukan formula jitu dalam menekan biaya pakan ayam harian dengan memanfaatkan sisa makanan dari dapur rumah tangga serta warung-warung makan di sekitar lingkungannya.
Bahan baku pakan alternatif yang bisa Anda kumpulkan meliputi nasi aking, sisa roti kedaluwarsa, ampas kelapa, jeroan sisa pembersihan ikan/ayam, hingga hijauan kaya nutrisi seperti daun pepaya Jepang dan tanaman talas. Kombinasi pakan yang ideal untuk menjaga produktivitas ayam adalah dengan menjaga rasio seimbang antara 60% sumber karbohidrat (seperti nasi atau roti) dan 40% sumber protein tinggi (seperti jeroan dan hijauan).
Namun, ada standar operasional prosedur (SOP) penting yang wajib Anda ikuti demi menjaga kesehatan ternak.
"Jeroan itu harus direbus dulu minimal, dimatangkan supaya membunuh bakteri yang lain," kata Muji kepada reporter Liputan6.com ketika diwawacarai pada Senin (27/4/2026). Dengan memasak terlebih dahulu bahan pakan dari limbah terutama jeroan, ayam Anda akan terhindar dari serangan bakteri patogen, menghasilkan kualitas cangkang telur yang lebih padat, dan daging yang bebas dari residu zat kimia sintetis berbahaya.
5. Kebun Panen Berkali-kali (Multi-harvest) – Tanam Sekali, Panen Terus
Bagi Anda yang menghadapi keterbatasan lahan di area perumahan, memilih jenis tanaman yang tepat adalah kunci kesuksesan kebun Anda. Tim Piramida Projects menyarankan untuk berfokus pada penanaman tanaman multi-harvest atau jenis tanaman sayuran yang bisa dipanen berulang kali tanpa harus membongkar akar dan menanam bibit baru dari awal.
Beberapa jenis sayuran yang sangat direkomendasikan untuk kombinasi kebun dan ternak ramah lingkungan di rumah antara lain:
- Bayam Brazil: Karakteristik sayuran ini sangat unik, karena semakin sering Anda memetik pucuk daunnya, maka akan semakin banyak percabangan baru yang tumbuh rimbun.
- Kemangi: Cukup potong atau gunting pada bagian pucuk bunga dan daunnya, maka tunas-tunas baru yang wangi akan segera bermunculan kembali.
- Kangkung: Saat memanen, jangan mencabut akarnya. Potong batang bagian atas dan sisakan beberapa sentimeter di atas tanah agar tunas baru dapat tumbuh kembali dalam waktu singkat.
- Cabai, Tomat, dan Terong: Tanaman hortikultura ini mampu terus berbuah berulang kali dalam jangka panjang selama kebutuhan nutrisinya terpenuhi secara konsisten.
Keunggulan metode ini adalah efisiensi waktu, tenaga, dan ruang yang luar biasa. Anda bisa menanam sayuran-sayuran tersebut di dalam polybag atau sistem vertikal, lalu rutin menyiramnya menggunakan air kolam lele kaya nutrisi setiap 3 hari sekali.
6. Packing Telur dari Pelepah Pisang – Alternatif Plastik
Keberlanjutan sebuah ekosistem tidak hanya berhenti pada proses budidaya, melainkan hingga tahap pengemasan hasil panen. Di Kandang Gadri, Muji Purwanto menerapkan konsep kelestarian lingkungan yang menyeluruh dengan memanfaatkan pelepah pisang kering sebagai pengganti kemasan plastik atau mika pelindung telur ayam.
Pelepah pisang yang sudah tua dikumpulkan dari kebun, kemudian dipotong-potong sesuai kebutuhan ukuran wadah. Pelepah tersebut dijemur selama 2 hingga 3 hari hingga layu, tetapi dijaga agar tidak terlalu kering agar serat alaminya tetap empuk dan memiliki daya pegas. Pelepah pisang yang layu ini kemudian dijalin atau dibentuk sedemikian rupa menjadi bantalan pelindung di dalam wadah telur.
Penggunaan pelepah pisang ini terbukti sangat efektif meredam benturan sehingga telur tidak mudah retak atau pecah saat dibawa. Selain memberikan kesan estetis yang unik, tradisional, dan bernilai human interest yang tinggi, bahan pengemasan alami ini bersifat gratis, mudah didapatkan, serta dapat terurai kembali ke tanah (biodegradable) menjadi kompos dalam waktu singkat.
7. Sistem Integrasi Lengkap – Kebun + Ayam + Lele + Maggot + Kompos
Puncak dari penerapan kombinasi kebun dan ternak ramah lingkungan di rumah adalah ketika Anda berhasil menghubungkan seluruh komponen di atas menjadi satu kesatuan rantai ekosistem sirkular yang utuh. Tim Piramida Projects berhasil membuktikan bahwa sistem terpadu ini mampu memotong biaya belanja dapur keluarga hingga angka 70% hingga 82% karena minimnya ketergantungan pada pasokan luar.
Mari kita lihat bagaimana siklus utuh dari integrasi zero waste ini bekerja di pekarangan Anda:
- Limbah Dapur ➔ Maggot BSF ➔ Pakan Ternak (Ayam & Lele)
- Kotoran Ayam ➔ Sistem Cekerator ➔ Pupuk Kompos ➔ Kebun Sayur
- Air Kolam Lele ➔ Pupuk Cair Alami ➔ Kebun Sayur
- Hasil Kebun ➔ Dikonsumsi Manusia & Sisa Organiknya Kembali ke Maggot
Berdasarkan gambaran siklus di atas, terlihat jelas bahwa tidak ada satu pun sisa materi yang terbuang sia-sia menjadi polusi. Sampah dapur diurai maggot menjadi pakan ternak ; kotoran ayam diproses mandiri oleh sistem cekerator menjadi pupuk kebun; air lele menjadi asupan nutrisi tanaman sayuran; dan sisa-sisa pangkasan sayuran dari kebun dikembalikan lagi menjadi makanan maggot.
Jika Anda merasa kewalahan untuk membangun ekosistem ini sekaligus, jangan berkecil hati. Para praktisi menyarankan untuk memulai dari kombinasi 2 komponen terlebih dahulu yang paling mudah bagi Anda, misalnya mengawali dengan memelihara beberapa ekor ayam petelur bersama pembuatan kompos cekerator , atau memelihara kolam lele rumahan yang terintegrasi dengan budidaya maggot BSF. Setelah sistem awal tersebut berjalan dengan stabil, barulah Anda bisa menambah komponen kebun dan ternak lainnya secara bertahap.
Tips Memulai Kombinasi Kebun dan Ternak Ramah Lingkungan dari Nol
Memulai langkah awal dalam dunia pertanian terpadu memang membutuhkan ketekunan, tetapi prosesnya sangat menyenangkan jika dijalani dengan santai dan tanpa beban. Berikut adalah panduan praktis berdasarkan rangkuman pengalaman trial & error para founder Rejo Farm, Piramida Projects, dan Kandang Gadri yang bisa Anda terapkan:
- Mulailah dari skala yang sangat kecil: Jangan langsung bernafsu membangun seluruh sistem secara masif di hari pertama. Cobalah memelihara 3 ekor ayam petelur terlebih dahulu di pojok halaman, disandingkan dengan beberapa pot tanaman bayam Brazil di dinding rumah. Ukuran jumlah ternak awal sebaiknya disesuaikan dengan kapasitas penanganan limbah harian keluarga Anda.
- Hentikan kebiasaan langsung membeli pakan pabrikan mahal: Maksimalkan pemanfaatan barang-barang sisa di sekitar Anda. Kumpulkan nasi aking dari rumah, sayuran layu yang tidak termasak, atau mintalah ampas kelapa sisa dari pedagang pasar terdekat untuk diolah menjadi pakan alternatif.
- Gunakan wadah dan media seadanya: Anda tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli peralatan modern. Manfaatkan galon air bekas yang dipotong sebagai wadah pembesaran maggot, ember cat bekas untuk wadah pembuatan kompos dapur, serta botol plastik atau wadah bekas lainnya sebagai wadah tanaman vertikal.
- Dokumentasikan setiap kegagalan Anda: Perlu diingat bahwa semua praktisi ahli seperti Taufik Azhari, Dimas Christy Kusuma Putra, dan Muji Purwanto pernah mengalami kegagalan berulang kali di awal perjalanan mereka, seperti tanaman mati misterius atau eksperimen kompos yang berbau menyengat. Catat setiap kendala sebagai bahan evaluasi untuk menyempurnakan sistem Anda.
- Bergabunglah secara aktif dengan komunitas sehobi: Jangan ragu untuk masuk ke dalam grup-grup diskusi WhatsApp, Telegram, atau Facebook yang membahas tema pertanian berkelanjutan. Komunitas ini merupakan tempat terbaik untuk bertukar pikiran, mencari solusi saat ternak sakit, hingga berburu bibit tanaman gratis.
- Alihkan fokus dari orientasi komersial di tahap awal: Di bulan-bulan pertama, pusatkan seluruh energi dan pikiran Anda untuk mencukupi kebutuhan konsumsi pangan dapur keluarga sendiri terlebih dahulu. Jangan terburu-buru memikirkan keuntungan ekonomi dari berjualan hasil panen sebelum sistem sirkular di rumah Anda benar-benar berjalan dengan stabil dan konsisten.
Menghadirkan ekosistem alam mini di halaman rumah bukan sekadar tentang menghemat uang belanja atau memanen telur segar setiap pagi. Kegiatan fisik menyiram tanaman, memberi makan ternak, dan merawat bumi secara langsung terbukti menjadi media meditasi dan penyembuhan mental yang sangat ampuh untuk melepaskan penat serta stres dari tekanan pekerjaan sehari-hari. Mari mulai langkah kecil kita hari ini dari pekarangan rumah demi masa depan bumi yang lebih hijau dan berkelanjutan!
Pertanyaan Seputar Kebun dan Peternakan Ramah Lingkungan
Q: Apakah kombinasi kebun dan ternak ramah lingkungan bisa dilakukan di lahan sempit (perumahan)?
A: Sangat bisa. Tim Piramida Projects telah membuktikan keberhasilan sistem ini di area perumahan urban yang padat penduduk, bukan di wilayah pedesaan yang luas.
Kuncinya adalah dengan menerapkan metode kandang ayam sistem umbaran terbatas (cage free) yang higienis, memanfaatkan kolam terpal portable berukuran mini untuk lele, serta mengoptimalkan teknik kebun vertikal (vertical farming) memanfaatkan dinding rumah atau rak bertingkat menggunakan media polybag.
Q: Berapa modal awal untuk memulai sistem seperti ini?
A: Modal awal yang dibutuhkan sangatlah minim dan ramah di kantong, berkisar antara Rp200.000 hingga Rp500.000 saja jika Anda memanfaatkan kreativitas. Alokasi dana tersebut utamanya digunakan untuk membeli 3 ekor bibit ayam petelur siap bertelur (sekitar Rp150.000) dan beberapa paket benih tanaman sayuran multi-harvest (sekitar Rp50.000). Sisanya, Anda bisa menggunakan ember cat bekas, galon bekas, dan limbah organik dapur secara gratis tanpa perlu mengeluarkan biaya tambahan.
Q: Apakah ayam umbaran (cage free) berisiko sakit dibanding ayam kurungan?
A: Justru sebaliknya, ayam yang dipelihara dengan sistem umbaran terbatas (cage free) di dalam ruangan kandang khusus memiliki tingkat imunitas dan daya tahan tubuh yang jauh lebih kuat. Hal ini dikarenakan ayam bebas bergerak aktif menyalurkan sifat alaminya serta mendapatkan asupan variasi pakan alami yang kaya nutrisi.
Pengalaman dari Kandang Gadri menunjukkan bahwa pemilihan jenis ras ayam lokal seperti ayam KUB (Kampung Unggulan Balitnak) dan ayam Elba memiliki daya banting yang sangat luar biasa terhadap perubahan cuaca ekstrem di Indonesia. Yang terpenting, pastikan pemberian vaksinasi dasar pada ayam tetap dilakukan di awal pemeliharaan.
Q: Bagaimana cara mengatasi bau dari kandang atau kolam?
A: Masalah bau busuk sepenuhnya bisa diatasi dengan penerapan manajemen limbah yang benar. Untuk kandang ayam, penggunaan sistem cekerator dengan alas tebal dari sekam padi dan daun kering terbukti ampuh menyerap kelembapan kotoran seketika sehingga kandang terbebas dari bau menyengat. Sementara untuk kolam ikan lele, Anda cukup membuang endapan kotoran amonia di dasar kolam secara berkala selama 10–20 detik setiap beberapa hari sekali, lalu mengalirkan air buangan tersebut langsung sebagai pupuk ke area kebun tanaman.
Q: Apakah hasil panen dari sistem ini benar-benar lebih sehat?
A: Ya, kualitas hasil panen dari ekosistem mandiri ini terbukti jauh lebih premium dan menyehatkan. Berdasarkan pengalaman konsumen dari Kandang Gadri, telur ayam yang dihasilkan memiliki tekstur kuning telur yang jauh lebih kental, padat, dan tidak berbau amis menyengat.
Produk pangan yang dihasilkan dari sistem ini murni bebas dari suntikan residu hormon pertumbuhan maupun antibiotik kimia karena seluruh asupan pakannya bersumber dari bahan-bahan organik alami di sekitar rumah. Banyak konsumen yang memiliki riwayat alergi terhadap produk telur ayam pabrikan konvensional justru merasa aman dan tidak mengalami gejala alergi saat mengonsumsi telur dari sistem terpadu alami ini.
A: Sistem ini memberikan hasil dalam waktu yang relatif singkat. Untuk sektor sayuran segar, Anda sudah bisa menikmati panen perdana dalam waktu 1 hingga 2 bulan saja setelah masa tanam. Untuk sektor perikanan lele, ikan sudah berukuran layak konsumsi dalam rentang waktu 1,5 hingga 2 bulan dari masa tebar bibit.
Sementara untuk sektor peternakan, ayam ras petelur yang sudah dewasa akan mulai berproduksi secara rutin setiap hari dalam waktu singkat (di mana 5 ekor ayam sehat mampu menyuplai sekitar 3–4 butir telur per hari, sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan protein harian keluarga kecil Anda). Secara keseluruhan, ekosistem integrasi total di rumah Anda akan mencapai titik keseimbangan sirkular yang mapan dan stabil pada bulan ke-4 hingga bulan ke-6 sejak pertama kali dimulai.
Q: Apakah ada buku panduan atau sumber belajar yang direkomendasikan?
A: Tentu saja ada. Tim dari Piramida Projects telah menerbitkan sebuah buku panduan praktis yang sangat komprehensif berjudul "114 Surat". Terinspirasi dari jumlah surat di dalam Al-Qur'an, buku ini disusun khusus sebagai kitab pedoman problem solving yang merangkum ratusan studi kasus nyata di lapangan—seperti cara mengatasi daun tanaman yang menguning, penanganan hama kebun, hingga solusi teknis berkebun dan beternak terpadu bagi pemula agar tidak perlu lagi melakukan tebak-tebakan yang berujung stres.
Selain itu, Anda juga direkomendasikan untuk mengikuti program lokakarya (workshop) urban farming terpercaya atau bergabung ke dalam jaringan grup edukasi WhatsApp komunitas pertanian lokal.

4 hours ago
2
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6922620/original/077258600_1779693129-jejamuran__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6928330/original/030381400_1779698374-jukut_2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5498686/original/033215600_1770714433-WhatsApp_Image_2026-02-10_at_15.58.21.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6718601/original/053413600_1779534644-BL1_1283__1_.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6927125/original/048495400_1779697291-ChatGPT_Image_May_25__2026__03_20_12_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6823202/original/003532900_1779612029-12.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4420595/original/063665100_1683615104-Ujian_Tulis_Berbasis_Komputer__UTBK__dalam_rangka_Seleksi_Nasional_Berdasarkan_Tes__SNBT_-ARBAS_9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5442496/original/021714600_1765540473-20251212BL_Timnas_Indonesia_U-22_Vs_Myanmar_SEA_Games_2025-03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6930928/original/070220800_1779700978-Untitledd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6935907/original/083142600_1779704888-WhatsApp_Image_2026-05-23_at_11.14.33_PM__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6936554/original/010123700_1779705557-1000429617.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6927181/original/003164300_1779697319-sarang_burung_walet.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6922427/original/022281800_1779692938-Gemini_Generated_Image_vg0wp2vg0wp2vg0w.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6728274/original/048734500_1779542570-BL1_1056.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6300024/original/045699400_1779174537-Gemini_Generated_Image_23vsad23vsad23vs.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6921391/original/077186700_1779691749-1112081227344759272.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6826820/original/016446300_1779615644-nangoma.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6928866/original/034379000_1779699006-1000429821.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461750/original/074970100_1767439018-Mariano_Peralta.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6920981/original/097888900_1779691273-polybag_mangga.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4897279/original/047157000_1721544216-IMG_20240721_131658.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5482943/original/058250300_1769302357-54cb0e1a-9b5f-43ac-b9d3-4f7a7bd14f4c.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500419/original/020749000_1770864866-Model_Ruang_Tamu_Open_Space.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486588/original/012358000_1769591525-Tips_Mengatasi_Kucing_Garuk_Sofa_Terus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485935/original/098401900_1769570166-kambing.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467303/original/064555300_1767869802-fl.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490835/original/086889800_1770026577-1000761221.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495693/original/051356400_1770394579-WhatsApp_Image_2026-02-06_at_10.19.48_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5207890/original/044419100_1746284199-Ilustrasi_-_Maarten_Paes_copy.jpg)