Liputan6.com, Jakarta - Rumah menjadi lingkungan pertama tempat anak belajar mengenali kebiasaan, aturan, dan cara menjalani aktivitas sehari-hari. Ketika seorang anak tumbuh di rumah yang sering kotor, berantakan, atau kurang terawat, mereka dapat terbiasa melihat kondisi tersebut sebagai sesuatu yang normal. Namun, hal ini tidak berarti setiap anak yang dibesarkan dalam lingkungan seperti itu pasti memiliki perilaku yang sama, karena kebiasaan anak juga dipengaruhi oleh pola asuh, karakter, pengalaman, dan lingkungan sosial lainnya.
Meski begitu, lingkungan tempat anak tumbuh memang dapat ikut membentuk cara mereka memandang kebersihan, kerapian, dan rutinitas sehari-hari. Anak yang sejak kecil jarang melihat aktivitas membersihkan rumah, misalnya, mungkin tidak mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mempelajari bagaimana menjaga lingkungan tetap rapi. Sebaliknya, sebagian anak justru dapat tumbuh menjadi sangat teratur karena ingin menciptakan kondisi yang berbeda dari apa yang mereka alami ketika kecil.
Karena itu, membahas kebiasaan anak yang dibesarkan di rumah yang kotor bukan berarti memberikan label atau menyalahkan keluarga. Ada sejumlah pola perilaku yang mungkin muncul ketika anak terbiasa dengan lingkungan rumah yang tidak terawat, dan beberapa di antaranya bahkan dapat terbawa hingga dewasa. Lantas apa saja kebiasaan anak-anak yang dibesarkan di rumah yang kotor? Melansir dari berbagai sumber, Senin (14/9/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
1. Terbiasa Menganggap Kondisi Berantakan sebagai Hal yang Normal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1541961/original/016909800_1489992032-o-CLUTTERED-HOUSE-facebook.jpg)
Perbesar
Anak pertama kali mengenal kebiasaan sehari-hari dari lingkungan terdekatnya, termasuk cara keluarga memperlakukan kebersihan dan kerapian rumah. Jika sejak kecil anak terus-menerus melihat barang berserakan, permukaan rumah jarang dirapikan, atau rutinitas membersihkan rumah tidak berjalan secara konsisten, kondisi tersebut berpotensi menjadi sesuatu yang terasa biasa bagi mereka. Ketika tidak ada contoh atau aturan yang jelas mengenai kapan dan bagaimana sebuah ruangan perlu dirapikan, anak mungkin tidak mengembangkan standar kerapian yang sama dengan anak yang tumbuh dalam lingkungan lebih terstruktur.
Hal ini bukan berarti anak otomatis menjadi malas atau tidak peduli kebersihan. Anak belajar melalui pengamatan dan pengulangan, sehingga rutinitas yang sering dilihat dapat menjadi referensi mengenai apa yang dianggap normal di rumah. Penelitian tentang household chaos juga menunjukkan bahwa lingkungan yang ditandai ketidakteraturan, kurangnya rutinitas, dan ketidakpastian berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan anak, meskipun hubungan tersebut tidak sederhana dan tidak selalu berarti lingkungan menjadi satu-satunya penyebab.
Psychology Today juga pernah membahas bagaimana lingkungan fisik dapat memengaruhi perilaku dan kesejahteraan psikologis. Dalam artikel tentang clutter, Elizabeth Earnshaw, MA, LMFT, seorang terapis pasangan dan keluarga, menjelaskan bahwa rumah yang berantakan dapat berkaitan dengan beban mental dan stres, sementara kebiasaan memberikan tempat khusus untuk barang dapat membantu mengurangi kekacauan. Jadi, kebiasaan anak yang tampak kurang peduli terhadap kerapian sebaiknya dipahami sebagai sesuatu yang bisa dipelajari dan diubah, bukan sebagai sifat permanen.
2. Tidak Terbiasa Mengembalikan Barang ke Tempatnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344833/original/046837100_1789007392-d4111b4d-9d9d-440a-925c-066ae2bdf49c.jpg)
Perbesar
Anak yang tumbuh dalam rumah dengan barang-barang yang sering berpindah tempat mungkin tidak mendapatkan rutinitas yang konsisten mengenai pengelolaan barang. Misalnya, mainan dibiarkan di lantai setelah digunakan, pakaian tidak memiliki tempat penyimpanan yang jelas, atau barang sehari-hari sering diletakkan di sembarang permukaan. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus tanpa adanya kebiasaan membereskan, anak dapat tumbuh tanpa menganggap mengembalikan barang sebagai bagian penting dari aktivitas sehari-hari.
Kebiasaan ini dapat terbawa ketika anak semakin besar, terutama jika tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk belajar mengatur barang miliknya sendiri. Ketika dewasa, seseorang mungkin merasa membereskan rumah adalah pekerjaan tambahan yang dilakukan hanya ketika keadaan sudah sangat berantakan. Padahal, keterampilan mengelola barang sebenarnya dapat dibangun secara bertahap melalui rutinitas sederhana, misalnya mengembalikan benda setelah digunakan atau menyediakan tempat khusus untuk barang tertentu.
Namun, tidak tepat jika langsung menyimpulkan bahwa anak yang tumbuh di rumah berantakan pasti akan menjadi orang dewasa yang tidak rapi. Anak juga bisa belajar dari sekolah, teman, pasangan, atau pengalaman hidup lainnya. Bahkan, sebagian orang yang tumbuh dalam kondisi rumah yang sangat berantakan justru menjadi sangat teratur ketika dewasa karena mereka secara sadar ingin menciptakan lingkungan yang berbeda dari masa kecilnya.
3. Bisa Kesulitan Membedakan antara “Berantakan Biasa” dan Kondisi yang Sudah Mengganggu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4056421/original/043256100_1655473697-pexels-cottonbro-3662845.jpg)
Perbesar
Tidak semua rumah yang tidak rapi dapat disebut bermasalah. Rumah dengan anak kecil memang sering memiliki mainan, pakaian, buku, dan berbagai benda lain yang tidak selalu tersusun sempurna. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kekacauan sudah mengganggu fungsi rumah, misalnya sulit menemukan barang penting, jalur berjalan terhalang, meja tidak bisa digunakan, atau aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit dilakukan.
Anak yang sejak kecil terbiasa dengan tingkat kekacauan yang tinggi mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenali batas tersebut. Mereka bisa saja melihat kamar yang sangat penuh barang sebagai sesuatu yang biasa karena belum memiliki pembanding yang jelas. Dalam literatur psikologi, household chaos sendiri tidak hanya berarti rumah kotor, tetapi juga mencakup ketidakteraturan, kebisingan, kurangnya rutinitas, dan minimnya struktur dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, kebiasaan yang dapat membantu bukan sekadar menyuruh anak “jangan jorok”, melainkan mengajarkan indikator sederhana tentang kapan sebuah ruang perlu dibereskan. Misalnya, lantai harus tetap memiliki jalur untuk berjalan, sampah harus dibuang, pakaian kotor masuk keranjang, dan barang yang selesai digunakan dikembalikan ke tempatnya. Aturan yang konkret jauh lebih mudah dipahami anak dibandingkan tuntutan abstrak untuk selalu menjaga rumah tetap sempurna.
4. Cenderung Menunda Pekerjaan yang Berkaitan dengan Merapikan atau Membersihkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328959/original/005069000_1787215365-Sudut_Baca_dan_Ruang_Bermain.jpeg)
Perbesar
Anak yang jarang melihat rutinitas membersihkan rumah mungkin tidak menganggap pekerjaan tersebut sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari. Akibatnya, membereskan kamar, mencuci piring, melipat pakaian, atau membuang sampah bisa terasa seperti pekerjaan besar yang hanya dilakukan ketika keadaan sudah sangat buruk. Pola seperti ini berpotensi terbawa menjadi kebiasaan menunda, meskipun tentu saja tidak semua anak yang tumbuh di rumah kotor akan mengalami hal tersebut.
Kebiasaan menunda juga dapat dipengaruhi banyak faktor lain, termasuk usia, kemampuan mengatur diri, perhatian, tuntutan sekolah, stres, dan cara orang tua memberikan struktur. Sebuah penelitian mengenai hubungan household chaos dan perilaku anak menemukan bahwa kemampuan self-regulation dapat menjadi faktor yang memengaruhi hubungan tersebut. Dengan kata lain, lingkungan rumah dan kemampuan anak mengatur perilaku tidak dapat dipisahkan begitu saja menjadi hubungan sebab-akibat sederhana.
Karena itu, kebiasaan merapikan sebaiknya diperkenalkan dalam bentuk tugas kecil dan konsisten. Anak tidak harus diminta membersihkan seluruh rumah sekaligus. Mereka bisa mulai dari memasukkan mainan ke kotak, menaruh pakaian kotor di keranjang, atau membersihkan meja setelah makan. Ketika aktivitas tersebut dilakukan secara rutin, pekerjaan rumah dapat berubah dari sesuatu yang terasa berat menjadi bagian normal dari kehidupan sehari-hari.
5. Bisa Memiliki Hubungan yang Rumit dengan Barang dan Kebiasaan Menyimpan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328952/original/016694500_1787215349-HL_ruang_bermain.jpg)
Perbesar
Lingkungan rumah yang penuh barang dapat membuat anak memiliki pengalaman berbeda dalam memandang benda. Pada sebagian anak, barang yang menumpuk mungkin dianggap sebagai sesuatu yang biasa sehingga mereka tidak merasa perlu memilah atau membuang benda yang sudah tidak digunakan. Namun, pada anak lain, pengalaman tinggal di lingkungan yang sangat penuh justru dapat membuat mereka ingin menjaga ruang pribadi dengan sangat rapi dan tidak menyukai barang yang berlebihan.
Jerry Bubrick, PhD, seorang clinical psychologist di Child Mind Institute, menjelaskan bahwa pada anak dengan masalah hoarding, keterikatan terhadap benda dapat menjadi sangat kuat dan membuang barang dapat memicu kecemasan atau tekanan emosional. Child Mind Institute juga menekankan bahwa kamar anak yang berantakan saja tidak berarti anak mengalami hoarding disorder; yang menjadi perhatian adalah ketika keterikatan pada benda dan kesulitan membuangnya sudah mengganggu fungsi sehari-hari.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan label seperti “penimbun” hanya karena kamar anak penuh barang. Yang lebih penting adalah melihat perilakunya secara keseluruhan. Apakah anak masih bisa menggunakan tempat tidurnya? Apakah meja belajar masih bisa dipakai? Apakah mereka sangat cemas ketika diminta membuang benda yang sudah tidak berguna? Jika keterikatan terhadap barang sudah menyebabkan gangguan signifikan, konsultasi dengan profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang lebih tepat daripada memarahi anak.
6. Bisa Menjadi Sangat Sensitif terhadap Kondisi Rumah Ketika Dewasa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328960/original/060241500_1787215365-ruang_bermain.jpeg)
Perbesar
Menariknya, dampak lingkungan masa kecil tidak selalu membuat seseorang menjadi semakin berantakan. Sebagian orang justru dapat berkembang menjadi sangat teratur karena memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dengan kondisi rumah yang berantakan. Mereka mungkin merasa lebih tenang ketika semua barang berada di tempatnya, rutin membersihkan rumah, atau merasa tidak nyaman jika melihat benda berserakan.
Pola seperti ini dapat dipahami sebagai salah satu kemungkinan respons terhadap pengalaman masa kecil, bukan aturan yang berlaku untuk semua orang. Artikel Psychology Today mengenai anak-anak yang tumbuh dalam rumah dengan kondisi hoarding mencatat bahwa sebagian orang dewasa mengenang pengalaman tersebut dengan keinginan kuat untuk menciptakan ruang yang lebih normal dan teratur. Bahkan, ada yang berkembang menjadi sangat rapi sebagai respons terhadap pengalaman tersebut.
Karena itu, seseorang yang sangat teratur ketika dewasa belum tentu sekadar “suka bersih”. Ada kemungkinan pengalaman hidupnya ikut membentuk cara ia memandang rumah dan keteraturan. Meski demikian, tidak tepat pula menganggap semua orang dengan masa kecil seperti itu pasti mengalami dampak psikologis tertentu. Respons setiap orang berbeda dan dipengaruhi banyak faktor, termasuk dukungan sosial, hubungan keluarga, pengalaman positif lainnya, serta kemampuan beradaptasi.
7. Kurang Terbiasa dengan Rutinitas Rumah yang Terstruktur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3910931/original/095881300_1642760851-pexels-scott-mcniel-7662359.jpg)
Perbesar
Rumah yang tidak terawat sering kali bukan hanya persoalan debu atau barang berserakan, tetapi juga bisa berkaitan dengan tidak adanya rutinitas yang jelas. Misalnya, tidak ada waktu tertentu untuk mencuci pakaian, membersihkan kamar, membuang sampah, atau merapikan ruang bersama. Bagi anak, rutinitas seperti ini sebenarnya membantu mereka memahami urutan aktivitas dan belajar bahwa pekerjaan tertentu perlu dilakukan secara berkala meskipun tidak selalu menyenangkan.
Ketika struktur tersebut tidak konsisten, sebagian anak mungkin tumbuh tanpa memiliki pola yang kuat dalam mengatur aktivitas rumah. Mereka baru membersihkan ketika sudah sangat kotor atau baru mencari barang ketika benar-benar membutuhkannya. Riset tentang household chaos menunjukkan bahwa kurangnya rutinitas dan struktur merupakan bagian dari lingkungan rumah yang chaotic dan berkaitan dengan berbagai hasil perkembangan anak. Namun, hubungan tersebut tetap dipengaruhi oleh faktor keluarga dan karakteristik anak sehingga tidak boleh dianggap sebagai hubungan sebab-akibat tunggal.
Kabar baiknya, keterampilan tersebut dapat dipelajari kapan saja. Anak maupun orang dewasa yang tidak terbiasa dengan rutinitas dapat memulainya dari jadwal yang sederhana, seperti merapikan tempat tidur setelah bangun, mengembalikan barang setelah digunakan, membuang sampah setiap hari, dan melakukan pembersihan ringan secara berkala. Jadi, kebiasaan yang terbentuk pada masa kecil bukan berarti tidak dapat berubah. Lingkungan baru, pengalaman baru, dan latihan yang konsisten tetap dapat membentuk pola perilaku yang berbeda.
Pertanyaan & Jawaban Seputar Kebiasaan Anak-Anak yang Dibesarkan di Rumah yang Kotor
1. Apakah rumah yang kotor pasti membuat anak memiliki kebiasaan buruk?
Tidak. Kondisi rumah merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat memengaruhi kebiasaan, tetapi bukan satu-satunya penentu perilaku anak. Pola asuh, karakter, pengalaman, hubungan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial juga dapat berpengaruh.
2. Kebiasaan apa yang mungkin terbentuk pada anak yang tumbuh di rumah kotor?
Beberapa kemungkinan antara lain terbiasa dengan kondisi berantakan, kurang konsisten mengembalikan barang ke tempatnya, menunda pekerjaan rumah, atau kurang memiliki rutinitas kebersihan. Namun, respons setiap anak bisa berbeda.
3. Apakah kebiasaan tersebut bisa terbawa sampai dewasa?
Bisa, terutama jika kebiasaan tersebut terus dilakukan dan tidak pernah mendapat pola atau rutinitas yang berbeda. Namun, kebiasaan masa kecil bukan sesuatu yang permanen dan dapat berubah melalui pengalaman serta lingkungan baru.
4. Apakah anak yang tumbuh di rumah kotor pasti menjadi orang dewasa yang tidak rapi?
Tidak. Sebagian orang justru tumbuh menjadi sangat teratur karena ingin menciptakan kondisi rumah yang berbeda dari pengalaman masa kecilnya. Jadi, tidak tepat menentukan karakter seseorang hanya berdasarkan kondisi rumah tempat ia dibesarkan.
5. Apakah rumah berantakan sama dengan rumah yang tidak sehat bagi anak?
Tidak selalu. Rumah yang sesekali berantakan merupakan hal yang wajar, terutama jika ada anak kecil. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kondisi rumah sangat tidak teratur, tidak higienis, atau sampai mengganggu aktivitas, keselamatan, dan kesejahteraan penghuninya.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

7 hours ago
4
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9344498/original/060651200_1788947310-7d0b7462-efd5-4883-8055-6e3a6a4764aa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330426/original/011237600_1787377579-pexels-79376109-9081154.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9348120/original/051070600_1789382914-Gemini_Generated_Image_67xhqr67xhqr67xh.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347979/original/050643000_1789377391-Gemini_Generated_Image_xdtgvgxdtgvgxdtg.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5343214/original/075690200_1757410253-2025098AA_Timnas_Indonesia_Vs_Lebanon-044.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9317823/original/015455700_1786073602-abc1b3a1-00a2-4c28-adc4-127f7a037b02.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9348016/original/083936200_1789378849-Gemini_Generated_Image_sddf9rsddf9rsddf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5388311/original/045344100_1761118122-inspirasi_dapur_sempit_tapi_rapi__9_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4995966/original/024798800_1731056165-20240811IQ_Erick_Thohir_Tinjau_SUGBK-9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323178/original/081041100_1786604029-1d75909c-8119-46cb-9d04-41c8de207e1f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347930/original/049537100_1789375753-photo-collage.png__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347908/original/078304800_1789375337-Hl.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9348118/original/034751900_1789382742-pexels-helenalopes-27177504.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347726/original/059534400_1789366193-Gemini_Generated_Image_g65qnjg65qnjg65q.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347855/original/004094900_1789370858-Gemini_Generated_Image_7us2537us2537us2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347833/original/031345100_1789370394-pexels-karola-g-7588361.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347753/original/085233200_1789366685-Gemini_Generated_Image_65t84r65t84r65t8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9325754/original/067131500_1786934606-MAS_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347796/original/066657400_1789368490-HL.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9320362/original/044518300_1786346864-Kedung_Sepur_SMT_wikipedia.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336541/original/057810300_1788165256-2150700358.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9325772/original/012824000_1786935429-WhatsApp_Image_2026-08-17_at_09.51.49__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336339/original/036670800_1788155727-11bf7afb-d0ee-47d2-a46c-72a1c9954b40.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336360/original/068351100_1788156938-Gemini_Generated_Image_vgh6gmvgh6gmvgh6__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340881/original/091999400_1788528140-borneo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336388/original/070866500_1788159552-051f86cb-0545-4991-a7f1-c5730be5aaaf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4242270/original/090051000_1669625532-043199800_1645433192-kevin-wolf-LgZfYaH6OAU-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5193002/original/077128400_1745210638-Dean_Zandbergen_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336595/original/083266200_1788167124-f7575cef-c1ce-4105-bb37-74f1cfe3b27c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495753/original/010090000_1770427969-persib_vs_malut-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335997/original/062436600_1788086219-persib.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336566/original/005951400_1788166224-pexels-anntarazevich-5629138.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6202765/original/030351500_1779081726-Screenshot_2026-05-18_122019.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340694/original/096958400_1788514411-rotan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337890/original/028721700_1788261978-edfxzx.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326731/original/044655800_1787034649-01M09H5EZC0CJF22ZHH9BPEA9C.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4922986/original/030767500_1724131220-WhatsApp_Image_2024-08-19_at_11.21.08_af746275.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263241/original/026820600_1781870752-Budidaya_Azolla_sebagai_Pakan_Alternatif.jpeg)