Liputan6.com, Jakarta - Tren dekorasi interior saat ini membuat hunian terasa lebih hidup, hangat dan mencerminkan selera pemiliknya. Berbagai aksesori, furnitur unik, tanaman, karya seni, hingga ornamen kecil mampu memperkaya tampilan ruangan. Akan tetapi, penataan tanpa pertimbangan dapat memunculkan dekorasi rumah yang terasa terlalu berlebihan, sehingga suasana terasa penuh.
Tren maksimalis juga semakin banyak diminati melalui permainan warna, motif, tekstur dan aksesori dalam jumlah cukup banyak. Gaya tersebut tetap terlihat menarik, selama komposisinya seimbang. Sebaliknya, dekorasi rumah yang terasa terlalu berlebihan cenderung membuat perhatian mata berpindah ke terlalu banyak objek dalam satu ruangan.
Kondisi ruangan tidak hanya ditentukan luas area atau jumlah perabot. Susunan benda, ruang kosong, titik fokus, fungsi aksesori, hingga karakter penghuni turut memengaruhi kenyamanan interior. Saat berbagai elemen hadir tanpa arah jelas, dekorasi rumah yang terasa terlalu berlebihan bisa membuat hunian kehilangan kesan personal.
Mengenali tanda-tanda tersebut sangat penting, sebelum melakukan perubahan besar pada interior. Beberapa petunjuk bisa terlihat dari kebiasaan sering memindahkan barang, sulit merasa tenang, hingga pandangan mata tidak menemukan area untuk beristirahat. Melalui evaluasi sederhana, dekorasi rumah yang terasa terlalu berlebihan dapat ditata kembali supaya hunian tetap menarik, nyaman dan memiliki karakter.
Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (14/9/2026).
1. Setiap Permukaan Dipenuhi Dekorasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316899/original/015723100_1785995977-19bcca94-2517-47c6-9a47-f08ded493d08.jpg)
Perbesar
Salah satu tanda paling mudah terlihat saat dekorasi rumah mulai terasa terlalu berlebihan adalah hampir tidak adanya permukaan kosong. Meja ruang tamu dipenuhi vas bunga, lilin aromaterapi, bingkai foto, patung kecil, buku, tanaman, hingga berbagai aksesori lain. Kondisi serupa juga dapat terlihat pada rak, lemari, meja samping sofa, atau kabinet televisi. Hampir setiap bagian memiliki benda dekoratif sehingga ruangan terlihat sangat ramai.
Pada dasarnya, setiap benda tersebut mungkin memiliki bentuk menarik ketika dilihat secara terpisah. Masalah muncul ketika terlalu banyak aksesori ditempatkan dalam satu area tanpa memberikan ruang di antara satu benda dan benda lain. Mata akhirnya menerima terlalu banyak informasi visual dalam waktu bersamaan dan kesulitan menentukan elemen mana seharusnya menjadi pusat perhatian.
Untuk mengatasinya, coba kurangi beberapa benda dari permukaan meja atau rak secara bertahap. Pertahankan aksesori paling disukai, memiliki nilai sentimental, atau benar-benar sesuai dengan gaya ruangan. Tidak perlu mengisi setiap ruang kosong. Area kosong justru dapat memberikan jeda visual sehingga dekorasi tersisa terlihat lebih menonjol dan ruangan terasa lebih lega.
2. Anda Sering Mengubah Tata Letak Barang
Kebiasaan memindahkan furnitur dan aksesori secara terus-menerus dapat menjadi tanda bahwa komposisi ruangan belum terasa nyaman. Hari ini meja diletakkan di dekat sofa, beberapa hari kemudian dipindahkan ke sudut lain. Setelah posisi furnitur berubah, berbagai aksesori di atas meja atau rak ikut ditata ulang. Siklus tersebut dapat terus terjadi tanpa pernah menghasilkan susunan akhir yang benar-benar memuaskan.
Jika Anda sering melakukan perubahan tanpa merasa menemukan posisi ideal, masalahnya mungkin bukan hanya pada tata letak. Jumlah barang di dalam ruangan bisa saja sudah terlalu banyak. Ketika terlalu banyak furnitur dan aksesori hadir dalam satu area, pilihan susunan menjadi semakin terbatas sehingga Anda terus mencoba berbagai kombinasi.
Cobalah mengevaluasi setiap barang sebelum kembali memindahkan furnitur. Pertimbangkan fungsi, nilai sentimental, ukuran, dan kesesuaiannya terhadap ruangan. Barang tanpa kegunaan atau makna khusus dapat disimpan sementara di tempat lain. Setelah beberapa benda dikeluarkan, Anda mungkin akan lebih mudah menemukan tata letak sederhana dan nyaman.
3. Semua Sudut Rumah Terlihat Ditata
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5548928/original/000357100_1775556746-unnamed__25_.jpg)
Perbesar
Rumah memang akan terasa lebih menarik ketika tertata rapi, tetapi bukan berarti setiap sudut harus memiliki dekorasi. Keinginan untuk membuat semua area terlihat cantik justru dapat menyebabkan ruangan terasa terlalu penuh. Sudut dekat jendela, area samping lemari, atas kabinet, hingga bagian bawah tangga mungkin semuanya diisi tanaman, lampu, keranjang, patung, atau aksesori lainnya.
Godaan untuk mengisi ruang kosong sering muncul ketika melihat suatu bagian rumah terasa belum lengkap. Anda mungkin berpikir bahwa sudut tersebut membutuhkan tambahan dekorasi agar terlihat lebih menarik. Setelah satu benda ditambahkan, muncul keinginan menambahkan benda lain supaya komposisinya terasa seimbang. Tanpa disadari, jumlah aksesori terus bertambah.
Padahal, ruang kosong bukan berarti rumah terlihat tidak terawat. Area tanpa dekorasi dapat menjadi penyeimbang bagi bagian ruangan yang sudah memiliki banyak elemen. Biarkan beberapa sudut tetap sederhana agar mata memiliki ruang untuk beristirahat. Komposisi seperti ini justru dapat membuat dekorasi utama terlihat lebih jelas dan ruangan terasa lebih lapang.
4. Ruangan Membuat Anda Merasa Kewalahan
Perasaan ketika memasuki sebuah ruangan dapat menjadi petunjuk penting. Jika mata sulit menemukan tempat untuk beristirahat, Anda merasa ruangan terlalu ramai, atau perhatian terus berpindah dari satu benda ke benda lain, kemungkinan jumlah elemen visual di dalamnya sudah terlalu banyak.
Kondisi tersebut dapat muncul akibat kombinasi berbagai warna, motif, tekstur, furnitur, karya seni, tanaman, dan aksesori dalam jumlah besar. Masing-masing elemen mungkin terlihat bagus jika berdiri sendiri. Akan tetapi, ketika semuanya berada dalam satu ruangan tanpa hierarki visual, hasil akhirnya dapat terasa melelahkan.
Jika mulai merasa kewalahan, coba keluarkan beberapa benda dari ruangan untuk sementara. Tidak perlu langsung membuang atau menyumbangkan barang tersebut. Simpan di tempat lain selama beberapa hari, lalu perhatikan perubahan suasana ruangan. Jika ruangan terasa lebih ringan dan nyaman, Anda dapat menentukan kembali aksesori mana yang memang layak dikembalikan.
5. Rumah Tidak Mencerminkan Kepribadian Penghuninya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347856/original/012001000_1789370858-Gemini_Generated_Image_tk11gttk11gttk11.jpg)
Perbesar
Dekorasi rumah seharusnya tidak hanya berfungsi mempercantik ruangan, tetapi juga menunjukkan karakter orang yang tinggal di dalamnya. Foto keluarga, koleksi buku, hasil kerajinan, karya seni favorit, benda dari perjalanan, atau barang warisan dapat memberikan cerita tersendiri. Detail semacam ini membuat hunian terasa lebih personal dan tidak seperti ruang pamer.
Sebaliknya, rumah dapat terasa kurang memiliki karakter ketika seluruh dekorasinya hanya mengikuti tren. Penggunaan furnitur dan aksesori populer memang dapat menghasilkan tampilan menarik, tetapi jika tidak ada sentuhan pribadi, ruangan bisa terasa kaku. Interior mungkin terlihat seperti katalog toko, tetapi tidak memberikan gambaran mengenai kebiasaan, hobi, atau selera penghuninya.
Pilih benda yang benar-benar memiliki arti bagi Anda. Tidak perlu mengikuti aturan tertentu mengenai jumlah aksesori, foto, tanaman, atau karya seni dalam sebuah ruangan. Lebih baik memiliki beberapa benda bermakna daripada memenuhi seluruh area menggunakan dekorasi tanpa hubungan personal. Dengan cara ini, rumah tetap menarik sekaligus terasa nyaman untuk dihuni.
6. Tidak Ada Titik Fokus di Dalam Ruangan
Titik fokus merupakan elemen utama yang secara alami menarik perhatian ketika seseorang memasuki ruangan. Elemen tersebut dapat berupa sofa berdesain menarik, lukisan berukuran besar, lampu dekoratif, televisi, perapian, meja unik, atau furnitur tertentu. Kehadiran titik fokus membantu mata memahami hierarki visual dalam sebuah ruangan.
Masalah muncul ketika terlalu banyak benda berusaha menjadi pusat perhatian pada saat bersamaan. Rak penuh aksesori mencolok, dinding dihiasi banyak gambar, meja dipenuhi ornamen, sementara furnitur utama juga memiliki desain kuat. Mata akhirnya berpindah dari satu objek ke objek lain tanpa menemukan area utama untuk beristirahat.
Untuk mengatasinya, tentukan satu elemen utama sebagai titik fokus. Setelah itu, posisikan dekorasi lain sebagai pendukung. Aksesori tambahan tidak perlu memiliki bentuk atau warna terlalu mencolok. Dengan adanya hierarki visual, ruangan tetap dapat memiliki banyak karakter tanpa terlihat kacau.
7. Terlalu Banyak Pernak-pernik Kecil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342914/original/077156200_1788837508-12f8e62b-d54a-4dc8-b868-d6f4175ebafb.jpg)
Perbesar
Pernak-pernik berukuran kecil memang dapat memberikan detail menarik pada interior. Patung mini, vas mungil, lilin, bingkai foto, tempat perhiasan, ornamen keramik, hingga berbagai benda koleksi dapat membuat ruangan terasa lebih personal. Akan tetapi, terlalu banyak benda kecil dalam satu area justru lebih mudah menciptakan kesan berantakan.
Rak yang dipenuhi berbagai aksesori berukuran kecil dapat terlihat ramai meskipun setiap benda memiliki bentuk menarik. Ketika tidak ada ruang kosong di antara aksesori, masing-masing benda juga kehilangan kesempatan untuk terlihat secara jelas. Akibatnya, dekorasi yang seharusnya menjadi pemanis justru berubah menjadi kumpulan benda yang sulit dinikmati secara visual.
Cobalah mengelompokkan beberapa aksesori berdasarkan bentuk, warna, atau fungsi, kemudian simpan sebagian lainnya. Anda juga dapat menggabungkan benda berukuran berbeda agar komposisinya lebih dinamis. Misalnya, satu benda tinggi dipadukan dengan beberapa objek lebih rendah. Cara ini dapat menghasilkan susunan menarik tanpa memenuhi seluruh permukaan.
8. Dekorasi Lebih Banyak daripada Furnitur Fungsional
Rumah bukan hanya tempat untuk menampilkan dekorasi. Setiap ruangan tetap perlu mendukung aktivitas sehari-hari penghuninya. Ruang tamu membutuhkan area duduk nyaman, kamar tidur membutuhkan ruang istirahat, ruang makan memerlukan area bergerak, sedangkan dapur membutuhkan permukaan kerja yang cukup.
Jika ruang tamu dipenuhi meja kecil, vas, patung, tanaman, lampu, dan berbagai aksesori hingga tidak tersedia cukup ruang untuk duduk atau berjalan, keseimbangan antara estetika dan fungsi sudah terganggu. Hal serupa dapat terjadi di ruangan lain ketika benda dekoratif mulai mengambil alih area utama untuk beraktivitas.
Utamakan kebutuhan utama ruangan terlebih dahulu. Pastikan furnitur fungsional tersedia dan jalur pergerakan tetap nyaman. Setelah itu, tambahkan dekorasi secara bertahap sesuai ruang tersisa. Dengan pendekatan tersebut, aksesori berfungsi sebagai pelengkap interior, bukan menjadi penghalang aktivitas.
9. Anda Membeli Barang Hanya untuk Mengisi Ruang Kosong
Ruang kosong sering membuat seseorang merasa harus membeli sesuatu. Ketika melihat sudut rumah belum terisi, muncul keinginan menambahkan tanaman, rak kecil, lampu, meja, lukisan, atau aksesori lain. Kebiasaan ini terlihat sederhana, tetapi jika terus dilakukan dapat membuat jumlah barang bertambah tanpa perencanaan.
Sebelum membeli dekorasi baru, tanyakan kepada diri sendiri apakah benda tersebut memang dibutuhkan. Pertimbangkan fungsi, ukuran, kesesuaian warna, dan posisi benda tersebut setelah berada di rumah. Jika jawabannya hanya untuk membuat suatu sudut terlihat tidak kosong, sebaiknya pikirkan kembali keputusan tersebut.
Ruang kosong sebenarnya dapat menjadi bagian dari desain interior. Tidak semua sudut harus memiliki fungsi dekoratif. Mempertahankan area kosong dapat membuat ruangan terasa lebih lega sekaligus memberikan keseimbangan bagi bagian lain yang memiliki banyak elemen. Kebiasaan memilih dekorasi secara selektif juga membantu mencegah jumlah barang bertambah tanpa kendali.
Cara Mengurangi Dekorasi Rumah yang Terasa Berlebihan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333775/original/092096100_1787806763-fb8e52a4-0563-47d7-84af-dd30ca932365.jpeg)
Perbesar
Jika menemukan beberapa tanda di atas, Anda tidak perlu langsung melakukan perubahan besar. Mulailah dari satu ruangan atau satu area kecil agar prosesnya lebih mudah.
- Periksa setiap aksesori dan tanyakan apakah benda tersebut memiliki fungsi, nilai sentimental, atau benar-benar membuat Anda bahagia. Jika tidak ada alasan kuat untuk mempertahankannya, pertimbangkan untuk menyimpannya di tempat lain.
- Tidak semua meja, rak, atau sudut harus diisi. Area kosong dapat memberikan jeda visual sehingga dekorasi di sekitarnya justru terlihat lebih menonjol.
- Daripada menyebarkan aksesori kecil ke seluruh ruangan, coba kelompokkan beberapa benda dalam satu komposisi. Teknik ini dapat membuat tampilan lebih terarah.
- Tentukan elemen utama dalam setiap ruangan. Setelah itu, posisikan dekorasi lain sebagai pendukung agar tidak saling berebut perhatian.
- Jangan takut membiarkan beberapa area terlihat digunakan. Buku di meja, selimut di sofa, atau benda pribadi tertentu dapat membuat rumah terasa lebih hidup dan mencerminkan penghuninya.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Dekorasi Rumah yang Terasa Terlalu Berlebihan
Apa tanda utama dekorasi rumah terasa terlalu berlebihan?
Tanda utamanya adalah ruangan terasa penuh, mata sulit menemukan titik fokus, banyak permukaan dipenuhi barang, dan penghuni merasa kurang nyaman saat berada di dalamnya.
Apakah rumah bergaya maksimalis pasti terlihat berlebihan?
Tidak. Gaya maksimalis tetap dapat terlihat teratur jika warna, motif, furnitur, dan aksesori memiliki komposisi seimbang.
Mengapa terlalu banyak dekorasi dapat membuat ruangan terasa sesak?
Terlalu banyak elemen visual membuat mata menerima banyak informasi dalam waktu bersamaan. Akibatnya, ruangan dapat terasa ramai meski ukuran fisiknya cukup luas.
Apakah semua ruang kosong perlu diberi dekorasi?
Tidak perlu. Ruang kosong justru dapat menjadi jeda visual dan membantu aksesori utama terlihat lebih menonjol.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

8 hours ago
3
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9344498/original/060651200_1788947310-7d0b7462-efd5-4883-8055-6e3a6a4764aa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330426/original/011237600_1787377579-pexels-79376109-9081154.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9348120/original/051070600_1789382914-Gemini_Generated_Image_67xhqr67xhqr67xh.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347979/original/050643000_1789377391-Gemini_Generated_Image_xdtgvgxdtgvgxdtg.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5343214/original/075690200_1757410253-2025098AA_Timnas_Indonesia_Vs_Lebanon-044.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9317823/original/015455700_1786073602-abc1b3a1-00a2-4c28-adc4-127f7a037b02.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9348016/original/083936200_1789378849-Gemini_Generated_Image_sddf9rsddf9rsddf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5388311/original/045344100_1761118122-inspirasi_dapur_sempit_tapi_rapi__9_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4995966/original/024798800_1731056165-20240811IQ_Erick_Thohir_Tinjau_SUGBK-9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323178/original/081041100_1786604029-1d75909c-8119-46cb-9d04-41c8de207e1f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347930/original/049537100_1789375753-photo-collage.png__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347908/original/078304800_1789375337-Hl.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9348118/original/034751900_1789382742-pexels-helenalopes-27177504.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9306570/original/065391700_1784884452-4e4c5b23-91d3-4cbe-8050-fe31853cec99.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347726/original/059534400_1789366193-Gemini_Generated_Image_g65qnjg65qnjg65q.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347833/original/031345100_1789370394-pexels-karola-g-7588361.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347753/original/085233200_1789366685-Gemini_Generated_Image_65t84r65t84r65t8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9325754/original/067131500_1786934606-MAS_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347796/original/066657400_1789368490-HL.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9320362/original/044518300_1786346864-Kedung_Sepur_SMT_wikipedia.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336541/original/057810300_1788165256-2150700358.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9325772/original/012824000_1786935429-WhatsApp_Image_2026-08-17_at_09.51.49__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336339/original/036670800_1788155727-11bf7afb-d0ee-47d2-a46c-72a1c9954b40.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336360/original/068351100_1788156938-Gemini_Generated_Image_vgh6gmvgh6gmvgh6__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340881/original/091999400_1788528140-borneo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336388/original/070866500_1788159552-051f86cb-0545-4991-a7f1-c5730be5aaaf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4242270/original/090051000_1669625532-043199800_1645433192-kevin-wolf-LgZfYaH6OAU-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5193002/original/077128400_1745210638-Dean_Zandbergen_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336595/original/083266200_1788167124-f7575cef-c1ce-4105-bb37-74f1cfe3b27c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495753/original/010090000_1770427969-persib_vs_malut-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335997/original/062436600_1788086219-persib.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336566/original/005951400_1788166224-pexels-anntarazevich-5629138.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6202765/original/030351500_1779081726-Screenshot_2026-05-18_122019.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9340694/original/096958400_1788514411-rotan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337890/original/028721700_1788261978-edfxzx.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326731/original/044655800_1787034649-01M09H5EZC0CJF22ZHH9BPEA9C.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4922986/original/030767500_1724131220-WhatsApp_Image_2024-08-19_at_11.21.08_af746275.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263241/original/026820600_1781870752-Budidaya_Azolla_sebagai_Pakan_Alternatif.jpeg)