Liputan6.com, Jakarta - Memahami beda biopori dan losida kini semakin penting bagi setiap keluarga, terutama yang tinggal di kawasan perkotaan dengan lahan terbatas. Pengetahuan ini mendorong perubahan perilaku dari sekadar membuang sampah menjadi mengolahnya sebagai nutrisi tanah secara mandiri. Penerapan yang tepat juga membantu menekan timbulan sampah organik yang biasanya membusuk di TPA dan menimbulkan bau tidak sedap.
Secara teknis, perbedaan biopori dan losida terlihat dari cara pemasangan pipa. Biopori ditanam rata dengan tanah untuk menyerap air, sedangkan losida dibuat sedikit menonjol agar memudahkan pembuangan sisa dapur. Pemahaman teknis yang sederhana ini memudahkan pemula memilih metode yang paling sesuai dengan kondisi halaman rumah, sekaligus mendukung lingkungan yang lebih sehat dan bebas banjir.
Masalah sampah rumah tangga kerap menjadi beban ketika layanan pengangkutan terlambat. Padahal, sekitar 60 persen sampah rumah tangga merupakan sampah organik yang bisa diolah langsung di halaman sendiri. Keraguan warga umumnya muncul karena keterbatasan lahan, bahkan banyak rumah yang halamannya sudah tertutup semen.
Dinas Lingkungan Hidup terus mendorong pengolahan sampah dari sumbernya melalui metode Lubang Resapan Biopori dan Lodong Sisa Dapur. Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah DLH Klaten, Waluyo (56), menegaskan pentingnya penyesuaian metode dengan kondisi lapangan.
"Dengan biopori seperti kawasan rumah-rumah yang sudah padat. Heeh. Mereka untuk membuat jugangan tidak memungkinkan. Kemudian kita arahnya paling dua alternatif dengan sistem biopori ember atau losida," jelasnya kepada Liputan6.com.
Memahami Fungsi: Resapan Air vs. Pabrik Kompos Dapur
Perbedaan paling mendasar antara Biopori dan Losida terletak pada tujuan utamanya. Biopori diciptakan oleh Dr. Kamir R. Brata dari IPB dengan fokus utama sebagai lubang resapan untuk meningkatkan kemampuan tanah menyerap air hujan, sehingga mencegah banjir. Sementara Losida adalah inovasi yang lebih memfokuskan diri sebagai "wadah" penguraian limbah dapur yang intensif.
Waluyo menekankan bahwa Losida adalah solusi bagi ibu rumah tangga yang ingin membuang sisa masakannya tanpa ribet. Dengan Losida, sampah dapur tidak perlu ditumpuk di kantong plastik yang justru akan berbau.
"Sehingga setiap hari ibu-ibu yang memasak sehingga ada sisa sayuran yang tidak termasak. Kemudian ada buah-buahan yang membusuk itu bisa langsung dipotong aja ke sini," terangnya.
Perbandingan Karakteristik
Biopori: Lubang vertikal yang ditanam sepenuhnya di dalam tanah. Fokus pada pergerakan fauna tanah (cacing) untuk menciptakan liang-liang (pori) udara dan air.
Losida: Pipa yang sebagian menyembul ke atas. Fokus pada proses pembusukan oleh mikroba dan bakteri dengan bantuan starter tanah di bagian bawah
Setiap metode memiliki sisi positif dan tantangannya masing-masing. Memahami Beda Biopori dan Losida dari sisi efektivitas membantu kita menyesuaikan dengan ketersediaan waktu dan tenaga yang kita miliki untuk merawatnya. Waluyo menyebutkan bahwa kenyamanan dalam mengambil hasil kompos menjadi salah satu pertimbangan warga.
"Itu keunggulannya di situ. Nanti untuk istilahnya untuk memanennya kan lebih mudah (pada Losida). Tapi kalau dengan biopori di halaman rumah itu kan mau enggak mau untuk pengambilan hasil komposnya... kita harus manual lagi," ungkapnya.
Berikut adalah rincian keunggulan dan kekurangan masing-masing:
Biopori
Keunggulan:
- Sangat efektif untuk peresapan air hujan, sehingga menjadi tabungan air tanah yang berharga saat musim kemarau.
- Mempercepat proses pembusukan sampah kebun melalui aktivitas mikroba alami tanah.
- Mencegah air meluap ke jalan karena kapasitas serap tanah meningkat drastis.
- Kekurangan:
Proses panen kompos cenderung lebih sulit karena harus menggunakan alat manual atau bor untuk mengangkat tanah dari kedalaman lubang.
Losida (Lodong Sisa Dapur)
Keunggulan:
- Sangat praktis untuk warga yang tidak memiliki lahan tanah luas (bisa menggunakan sistem ember).
- Desainnya memastikan sampah organik tidak tercampur air hujan secara berlebihan, sehingga tidak becek.
- Pemanenan hasil kompos jauh lebih mudah dan bersih dibandingkan biopori tanam.
Kekurangan:
Kurang maksimal dalam hal fungsi resapan air hujan jika dibandingkan dengan biopori yang ditanam dalam skala luas.
Panduan Teknis Pembuatan Biopori di Halaman Rumah
Membuat biopori sebenarnya sangat mudah dan hanya membutuhkan satu alat utama: bor biopori manual. Jika Anda tidak memilikinya, alat ini banyak tersedia di toko bangunan atau bisa meminjam ke pihak RW setempat yang biasanya memiliki stok untuk gerakan lingkungan.
Mengenai kedalaman lubang, Waluyo menyarankan agar lubang dibuat cukup dalam agar tidak cepat penuh oleh sampah daun kering.
"Panjangnya diusahakan minimal untuk 50 sampai 60. Lebih panjang lebih bagus... kalau lebih dalam itu kan mungkin satu bulan mungkin baru penuh," sarannya.
Langkah-langkah Membuat Biopori:
- Tentukan Titik: Pilih area tanah (bisa di bawah saluran air atau sekitar pohon).
- Lubangi Tanah: Gunakan bor biopori, putar searah jarum jam hingga kedalaman 80-100 cm.
- Masukkan Pipa: Gunakan pipa paralon ukuran 3 atau 4 inci yang sudah dilubangi kecil-kecil di seluruh sisinya. Masukkan hingga bibir pipa rata dengan tanah.
- Isi Sampah: Masukkan sampah organik (daun kering atau rumput). Jangan biarkan kosong karena pipa bisa terjepit oleh tekanan tanah.
- Tutup: Gunakan tutup pipa yang berlubang agar air hujan tetap bisa masuk namun orang tidak terperosok.
Cara Membuat Losida: Inovasi untuk Lahan yang Sudah Dicor
Bagaimana jika halaman rumah sudah penuh dengan paving block atau semen? Inilah keunggulan Losida. Losida bisa dipasang langsung di tanah atau dimodifikasi menggunakan media ember jika tanahnya sangat sulit ditembus.
Waluyo memberikan tips cerdas bagi warga yang minim lahan dengan menggunakan sistem ember. "Ya kalau memang sudah enggak punya lahan untuk dibor ya kita pakai ember kasih tanah. Kemudian baru nanti paralon," ungkapnya. Tanah di dalam ember berfungsi sebagai pengganti tanah alami untuk menyediakan bakteri pengurai.
Langkah-langkah Membuat Losida (Sistem Tanam):
Siapkan Pipa: Gunakan paralon ukuran 3-4 inci dengan panjang sekitar 70-80 cm.
- Lubangi Pipa: Lubangi bagian bawah pipa (sekitar 50 cm dari bawah) untuk jalan keluar masuk cacing dan rembesan air lindi. Biarkan bagian atas pipa (20 cm) tetap utuh tanpa lubang.
- Gali Tanah: Gali lubang sedalam 50-60 cm.
- Pemasangan: Masukkan pipa ke dalam lubang. Pastikan ada sekitar 15-20 cm pipa yang mencolok ke atas permukaan tanah.
- Lapisan Starter: Masukkan tanah secukupnya ke dasar pipa sebagai starter mikroba sebelum sampah dimasukkan. "Yang penting ember itu sudah diisi tanah dulu sebelum ada penanaman lusidanya," tambah Waluyo.
Mengapa Losida Harus Punya Bagian yang Menonjol?
Secara estetika, mungkin Losida terlihat lebih mencolok dibanding biopori yang tersembunyi. Namun, ada alasan teknis mengapa pipa Losida harus menyembul ke atas permukaan tanah. Hal ini berkaitan dengan kemudahan akses dan kontrol proses pengomposan.
Waluyo menjelaskan bahwa bagian yang menonjol ini adalah kunci efisiensi bagi ibu rumah tangga. "Kurang lebih ada sekitar 15 cm mencolok ke atas nanti dengan tutup rapat," katanya. Keunggulan dari model menonjol ini antara lain:
- Akses Mudah: Tidak perlu membungkuk atau menggali tanah setiap kali ingin membuang sisa sayuran.
- Terhindar dari Banjir: Saat hujan deras, mulut pipa yang tinggi mencegah air permukaan masuk berlebihan yang bisa mematikan mikroba pengurai.
- Kontrol Bau: Karena mulut pipa berada di atas, penutupan bisa dilakukan lebih rapat menggunakan cap paralon standar.
Proses Panen: Mengubah Sampah Menjadi Emas Hitam
Setelah beberapa bulan diisi secara rutin, sampah di dalam biopori atau losida akan berubah menjadi kompos atau yang sering disebut "emas hitam" karena kesuburannya. Proses ini terjadi secara alami berkat bantuan mikroba dan fauna tanah.
Waluyo menjelaskan bahwa tanda kompos sudah jadi adalah volumenya yang menurun drastis. "Nanti kalau sudah berumur bawah sampai jadi kompos bener kan pasti longgar kan. Iya pasti turun semua karena sudah terurai kan. Itu tinggal masukin lagi masukin lagi itu aja," tuturnya.
Untuk memanennya:
- Pada Biopori: Anda bisa menggunakan bor biopori untuk menarik keluar tanah hitam yang sudah matang di dasar lubang.
- Pada Losida: Jika menggunakan sistem ember, Anda bisa mengangkat pipa dan mengambil komposnya dengan lebih mudah. Jika ditanam, cukup gunakan sekop kecil untuk mengambil bagian bawah yang sudah hancur sempurna.
Target Masa Depan: TPA Hanya untuk Residu
Inovasi Biopori dan Losida bukan hanya soal hobi berkebun, tapi bagian dari strategi besar pengelolaan sampah nasional. Pihak DLH berharap setiap rumah tangga mampu mandiri mengelola sampahnya sendiri sehingga beban TPA bisa berkurang signifikan.
"Harapan dari Dinas itu bahwa sampah yang terbuang itu memang hanya sampah anorganik... karena kami sudah gencar bahwa yang boleh dibuang di TPA nantinya hanya residu," tegas Waluyo.
Residu adalah sampah yang benar-benar tidak bisa didaur ulang atau dikomposkan, seperti pembalut, popok, atau material komposit lainnya.
Dengan mulai memasang satu atau dua lubang biopori/losida di rumah, kita telah memutus rantai polusi gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah organik di TPA. Langkah kecil ini jika dilakukan serentak akan membawa perubahan besar bagi kualitas lingkungan hidup kita.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Mana yang lebih baik antara Biopori dan Losida?
Tergantung kebutuhan. Jika lahan luas dan butuh resapan air, gunakan Biopori. Jika fokus mengolah sisa makanan di lahan sempit, gunakan Losida.
Apakah Losida akan menimbulkan bau di halaman?
Tidak, asalkan ditutup rapat dan tidak dimasuki sampah anorganik. Tanah starter di bagian bawah juga membantu menetralisir bau selama proses penguraian.
Bolehkah memasukkan sisa daging ke dalam Losida?
Sebaiknya hindari sisa daging atau lemak yang terlalu banyak karena proses penguraiannya lebih lama dan berpotensi mengundang lalat. Fokuslah pada sisa sayur dan buah.
Berapa jarak antar lubang jika ingin membuat lebih dari satu?
Idealnya diberi jarak 50 cm hingga 1 meter antar lubang agar jangkauan resapan dan aktivitas cacing tanah merata di seluruh halaman.
Apa yang harus dilakukan jika lubang Biopori penuh?
Tekan sampah menggunakan tongkat agar lebih padat. Jika sudah benar-benar penuh dan tidak bisa turun lagi, biarkan 2-3 bulan hingga menjadi kompos, lalu panen hasilnya.

2 hours ago
1
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4405077/original/063246200_1682311808-medium-shot-barista-wearing-mask__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504138/original/053033800_1771225533-model_teras.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4798215/original/037865200_1712567866-AP24096774483427.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503364/original/081695200_1771137012-Kandang_Ayam_Tray.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504081/original/083263400_1771223757-teras_rumah_sempit.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3271648/original/098569700_1603099779-cute-3284412_1920.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502185/original/023175100_1770971678-desert_box.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504005/original/070175900_1771219461-Ide_Rumah_Kecil_Tanpa_Banyak_Dinding_agar_Terasa_Lebih_Lapang.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5400184/original/044015200_1762068222-InShot_20251102_134540718.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504110/original/096522000_1771224711-gamis_outer_transparan_dengan_aksen_tali_pinggang_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504058/original/015318800_1771222376-unnamed__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504018/original/078163400_1771220547-trainer-man-lying-lifting-dumbbells-gym.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502280/original/082840600_1770975859-ide22.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5503595/original/029995200_1771173402-IMG_2083.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486141/original/013385000_1769577116-Cincin_Nikah_Couple_Tren_2026_yang_Cocok_untuk_Gen_Z_Model_Ukiran_Nama_atau_Tanggal_Pernikahan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503998/original/093942900_1771218587-teras_rumah_di_kampung_dengan_pohon_dan_kursi_kayu_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503983/original/062922700_1771217866-Kandang_Ayam.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476182/original/007933900_1768716260-Flare_Pants__Cutbray___Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503876/original/024973000_1771215537-Kecoak_Muncul_dari_Kamar_Mandi.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407835/original/000490000_1762756179-rumah_mungil_ala_villa_dengan_mezzanine_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407806/original/029507600_1762755207-model_gamis_abaya_warna_pastel_anti_gerah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407928/original/066044200_1762757831-Gemini_Generated_Image_6aq8ve6aq8ve6aq8.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407853/original/063538400_1762756283-desain_rumah__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5399792/original/021697400_1762005267-InShot_20251101_204835762.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407831/original/043493200_1762756167-atasan_brokat_bawah_batik_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5319153/original/007607300_1755506626-bansos.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382923/original/000118700_1760607895-warung_jajan_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407860/original/065539800_1762756285-unnamed_-_2025-11-10T121554.931.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453294/original/050897400_1766474273-3b763600-b9ea-4b9e-bedd-17ed90a573e4.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453102/original/079572900_1766468512-dapur_cantik_minimalis_terbaru_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453276/original/089690800_1766473880-desain_teras_samping_memanjang__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453266/original/028409900_1766473688-Gemini_Generated_Image_3hozdt3hozdt3hoz_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407718/original/020057100_1762751958-Zamenis_longissimus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5419331/original/064204700_1763689880-unnamed__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453091/original/043931500_1766468139-Model_Dress_A_Line_untuk_Perayaan_Libur_Akhir_Tahun_yang_Elegan_dan_Stylish_Detail_Wrap.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453126/original/093428100_1766470604-unnamed_-_2025-12-23T131456.592.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453003/original/051206800_1766464788-Anting_emas_yang_tidak_membuat_telinga_pegal.jpg)