Cara Menetaskan Telur Ayam Menggunakan Lampu Bohlam di Rumah

6 days ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Menetaskan telur ayam di rumah bisa menjadi pengalaman yang memuaskan dan edukatif. Dengan memanfaatkan lampu bohlam sebagai sumber panas, Anda dapat menciptakan inkubator sederhana yang efektif. Proses ini memerlukan perhatian khusus terhadap beberapa faktor kunci, seperti pemilihan telur yang tepat, pengaturan suhu dan kelembapan, serta perawatan pasca-penetasan. 

Metode penetasan telur ayam menggunakan lampu bohlam ini merupakan alternatif praktis bagi mereka yang tidak memiliki mesin tetas khusus. Ini memungkinkan siapa saja, bahkan pemula, untuk mencoba beternak ayam dari awal di lingkungan rumah. Keberhasilan penetasan sangat bergantung pada ketelitian dalam mengikuti setiap langkah dan menjaga kondisi lingkungan inkubator agar tetap optimal bagi perkembangan embrio.

Memahami setiap detail, mulai dari karakteristik telur yang ideal hingga langkah-langkah perawatan anak ayam yang baru menetas, akan sangat membantu. Lantas bagaimana saja cara menetaskan telur ayam menggunakan lampu bohlam di rumah? Melansir dari berbagai sumber, Jumat (6/2), simak ulasan informasinya berikut ini.

1. Pemilihan Telur yang Tepat untuk Penetasan

Keberhasilan penetasan telur ayam sangat bergantung pada kualitas telur yang dipilih sejak awal. Pemilihan telur yang tepat merupakan langkah krusial yang tidak boleh diabaikan. Telur yang akan ditetaskan haruslah fertil, yaitu berasal dari proses pembuahan antara induk betina dan pejantan. Telur non-fertil yang umumnya dijual di pasaran tidak akan dapat ditetaskan, sehingga penting untuk mendapatkan telur fertil dari ayam sendiri atau toko daring yang menyediakan telur khusus penetasan.

Selain faktor fertil, bentuk, ukuran, dan usia telur juga memegang peranan penting. Telur yang ideal memiliki bentuk oval dengan perbandingan panjang dan lebar sekitar 2:3. Penting untuk menghindari pemilihan telur yang terlalu besar atau terlalu kecil, terlalu lonjong, atau terlalu bulat, karena bentuk yang tidak standar dapat menyulitkan proses penetasan atau menghasilkan anak ayam dengan ukuran kecil. Usia telur juga harus diperhatikan; pastikan telur tidak terlalu lama disimpan, dengan maksimum 10 hari sejak dikeluarkan oleh induknya, atau idealnya tidak lebih dari 5 hari untuk hasil yang lebih baik.

Kondisi fisik telur juga harus prima. Telur harus dalam kondisi bersih, dan jika terdapat kotoran pada cangkang, cukup bersihkan dengan kain atau spons kering secara perlahan tanpa menggunakan air. Penggunaan air dapat menyebabkan bakteri masuk ke pori-pori telur, kecuali jika air tersebut dicampur dengan larutan formalin atau antiseptik. Hindari memilih telur dengan permukaan yang tipis atau yang memiliki retakan kecil, karena telur-telur tersebut memiliki kemungkinan besar gagal dalam proses penetasan.

2. Persiapan Inkubator Sederhana Menggunakan Lampu Bohlam

Membuat inkubator sederhana di rumah adalah solusi praktis dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan dan lampu bohlam sebagai sumber panas utama. Untuk memulai, siapkan kardus bekas berukuran sekitar 40 x 40 x 40 cm. Bahan dan peralatan lain yang dibutuhkan meliputi lampu pijar 5 watt, kabel, saklar, stop kontak, termometer, wadah air, sekam atau koran sebagai alas telur, serta cutter atau alat potong. Lampu pijar STARLUX 5W dengan sinar kekuningan sangat ideal sebagai pemanas penetas, meskipun beberapa sumber juga merekomendasikan penggunaan lampu 25-40 Watt untuk pemanas, terutama saat anak ayam baru menetas.

Langkah selanjutnya adalah pembuatan struktur inkubator. Buat lubang pada kardus bekas untuk sirkulasi udara dan tempat meletakkan lampu. Secara spesifik, lubangi kardus dengan satu lubang berukuran 6 x 6 cm di bagian atas dan dua lubang samping berdiameter 1 cm untuk ventilasi. Pastikan untuk memasang lampu dengan kabel yang aman dan letakkan telur jauh dari lampu agar tidak terpapar panas berlebih. Jarak ideal antara lampu dan telur perlu diperhatikan secara cermat untuk memastikan daya tetas yang maksimal.

Setelah struktur inkubator siap, pasang alas dan tempatkan telur dengan benar. Gunakan sekam setebal sekitar ±5 cm sebagai alas, kemudian tambahkan koran di atasnya. Telur diletakkan di atas alas ini agar posisinya stabil dan mendapatkan kehangatan yang merata. Penting untuk menempatkan telur secara miring dengan derajat kemiringan 40°, dengan bagian ujung tumpul (bagian yang lebih besar) berada di sebelah atas, yang membantu perkembangan embrio.

3. Pengaturan Suhu Optimal dalam Inkubator

Suhu merupakan faktor yang paling krusial dalam proses penetasan telur, bahkan lebih penting dari kelembapan. Suhu yang tidak tepat dapat menyebabkan kegagalan penetasan atau menghasilkan anak ayam yang lemah dan tidak sehat. Kisaran suhu ideal yang harus dipantau menggunakan termometer adalah antara 37–38°C. Secara umum, kisaran temperatur yang pas bagi penetasan adalah antara 37,5°C hingga 40°C, dengan suhu penetasan yang tepat untuk telur ayam spesifik antara 38,33°C hingga 40,55°C. Penting juga untuk diperhatikan bahwa dari hari pertama hingga hari ke-18, suhu dalam inkubator harus dijaga pada 36-38°C, kemudian diturunkan menjadi 35-37°C pada hari ke-18 hingga ke-21.

Stabilitas suhu sangat penting untuk perkembangan embrio yang sehat. Jika temperatur terlalu tinggi namun tidak sampai membunuh embrio, telur akan menetas lebih cepat dari waktu normal (di bawah 21 hari), namun anak ayam yang dihasilkan cenderung lemah dan memiliki tingkat kematian yang tinggi, seringkali disertai kelainan pada kaki dan kepala. Sebaliknya, jika temperatur terlalu rendah dan tidak membunuh embrio, telur akan menetas lebih lambat dari waktu normal. Kondisi ini dapat menyebabkan kehilangan kelembapan berlebihan, sehingga anak ayam kesulitan untuk keluar dari cangkang telur.

Untuk mempertahankan suhu yang stabil, inkubator harus selalu dalam keadaan tertutup, kecuali bagian ventilasinya, untuk meminimalkan pengaruh dari temperatur luar dan memastikan pergantian udara segar. Penggunaan termometer secara rutin sangat esensial untuk memantau suhu dan melakukan penyesuaian jika diperlukan. Dengan demikian, fluktuasi suhu dapat diminimalisir, menciptakan lingkungan yang optimal bagi embrio untuk berkembang.

4. Pengaturan Kelembapan dalam Inkubator

Selain suhu, kelembapan juga merupakan faktor vital yang sangat memengaruhi keberhasilan penetasan telur. Tingkat kelembapan yang tepat sangat penting karena sekitar 70% dari berat sebutir telur adalah air, sehingga menjaga kelembapan yang stabil diperlukan untuk mencegah penguapan air dalam telur. Kisaran kelembapan ideal yang perlu dijaga adalah 45–55%. Jika kelembapan turun di bawah 45%, Anda perlu menambahkan air dalam wadah di dalam inkubator, namun hindari kelembapan di atas 55% agar embrio tidak mati. Tingkat kelembapan ideal secara keseluruhan berkisar 60-70 persen, tetapi pada masa pengeraman 1-18 hari, embrio tidak memerlukan kelembapan tinggi dan tidak boleh melebihi 55% karena dapat menyebabkan kematian embrio.

Kelembapan yang tidak tepat, baik terlalu tinggi maupun terlalu rendah, dapat berdampak negatif pada perkembangan embrio. Kadar kelembapan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan embrio mati, sementara kelembapan yang terlalu rendah akan mengakibatkan dehidrasi pada embrio dan kesulitan bagi anak ayam untuk memecahkan cangkang saat menetas. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan kelembapan adalah kunci untuk memastikan embrio berkembang dengan baik.

Ada beberapa cara untuk menjaga tingkat kelembapan dalam inkubator. Ini dapat dilakukan dengan mempertahankan temperatur di dalam mesin, mengatur ventilasi alat tetas, menambah air di nampan ketika airnya menyusut, serta memberikan sehelai kain atau kapas pada dasar nampan air. Rutin memerhatikan kondisi kelembapan dengan hidrometer juga sangat membantu untuk memastikan kelembapan tetap dalam kisaran yang diinginkan. Menambahkan air dalam wadah di dalam inkubator adalah cara umum dan efektif untuk meningkatkan kelembapan.

5. Pemutaran dan Peneropongan Telur

Selama masa inkubasi, dua aktivitas penting yang harus dilakukan secara rutin adalah memutar telur dan meneropongnya. Pemutaran telur, atau turning, bertujuan untuk mencegah kuning telur menempel ke cangkang dan memastikan perkembangan embrio optimal. Telur harus dibalik 2–3 kali sehari, dimulai dari hari ke-2 atau ke-3 hingga hari ke-18. Pemutaran telur harus dilakukan secara rutin minimal 3 kali sehari dan dihentikan saat telur berumur 19 hari. Saat memutar telur secara manual, pastikan tangan Anda bersih untuk menghindari transfer bakteri dan minyak yang dapat membahayakan embrio.

Aktivitas penting berikutnya adalah peneropongan telur, atau candling, yang tujuannya untuk mengetahui apakah telur tersebut fertil atau tidak, serta memantau perkembangan embrio di dalamnya. Peneropongan dapat dimulai pada hari ke-3 hingga hari ke-18 masa inkubasi. Ini adalah cara efektif untuk mengidentifikasi telur yang tidak fertil atau telur yang busuk, sehingga dapat segera dikeluarkan dari inkubator.

Peneropongan dapat dilakukan dengan mudah menggunakan senter atau lampu flash dari ponsel. Telur fertil yang berkembang akan menunjukkan pembuluh darah dan embrio yang hidup saat diteropong, sedangkan telur infertil tidak akan menunjukkan tanda-tanda perkembangan embrio atau pembuluh darah. Dengan melakukan peneropongan secara berkala, Anda dapat memastikan hanya telur yang sehat dan berkembang yang tetap berada di dalam inkubator.

6. Masa Penetasan dan Bantuan Penetasan

Masa inkubasi telur ayam umumnya berlangsung selama 3 minggu atau 21 hari. Menjelang akhir periode ini, sekitar hari ke-18, pemutaran telur harus dihentikan. Hal ini dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada anak ayam untuk menentukan posisi yang sesuai di dalam cangkang dan bersiap untuk menetas. Menghentikan pemutaran juga membantu memperkuat otot leher anak ayam sebelum memecahkan cangkang.

Proses penetasan dimulai ketika anak ayam mulai mematuk cangkang dari dalam, sebuah proses yang dikenal sebagai pipping. Proses ini bisa memakan waktu yang bervariasi, dari beberapa jam hingga satu hari penuh. Penting untuk tidak terburu-buru memberikan bantuan kepada anak ayam untuk keluar dari cangkang, kecuali ada tanda-tanda kesulitan yang jelas dan berkepanjangan. Campur tangan yang terlalu dini justru dapat membahayakan anak ayam, karena mereka mungkin belum siap sepenuhnya untuk hidup di luar cangkang.

Bantuan penetasan umumnya tidak disarankan. Intervensi hanya boleh dipertimbangkan jika anak ayam terlihat sangat kesulitan dan proses penetasannya terhenti selama lebih dari 24 jam setelah patukan pertama. Meskipun demikian, risiko cedera atau infeksi tetap ada, sehingga keputusan untuk membantu harus diambil dengan sangat hati-hati dan hanya sebagai upaya terakhir. Biarkan proses alamiah berjalan semaksimal mungkin.

7. Perawatan Anak Ayam Setelah Menetas

Setelah anak ayam berhasil menetas, perawatan yang tepat sangat penting untuk memastikan kelangsungan hidup dan pertumbuhannya yang sehat. Segera setelah menetas, anak ayam perlu dipindahkan ke kandang brooder yang telah disiapkan secara higienis. Kandang brooder ini krusial karena anak ayam yang baru menetas belum mampu mengatur suhu tubuhnya sendiri. Ruang kandang harus dipanaskan menggunakan lampu (25 - 40 Watt) yang dinyalakan terus-menerus selama sehari semalam, dan suhu ini dipertahankan hingga anak ayam berumur 6 hari. Suhu ideal di awal adalah sekitar 35°C, yang kemudian diturunkan secara bertahap seiring bertambahnya usia anak ayam. Indikator visual suhu yang tepat adalah ketika anak ayam menyebar merata di seluruh kandang, tidak saling berdesakan di bawah lampu.

Pemberian pakan dan air minum juga memerlukan perhatian khusus. Anak ayam yang baru menetas tidak perlu langsung diberikan pakan, karena mereka masih memiliki cadangan makanan berupa sisa kuning telur di dalam tubuh, sehingga mereka akan dipuasakan terlebih dahulu selama sehari semalam. Setelah periode ini, pakan pre-starter sebaiknya diberikan secara ad libitum (selalu tersedia) dengan jumlah sekitar 13-17 gram per ekor per hari untuk merangsang nafsu makan. Air minum bersih harus selalu tersedia dan mudah dijangkau oleh anak ayam.

Kebersihan dan kesehatan kandang adalah faktor utama yang tidak boleh diabaikan, mengingat anak ayam yang baru menetas sangat rentan terhadap serangan penyakit. Pembersihan kandang harus dilakukan secara rutin, termasuk menyapu lantai, dinding, dan mencuci peralatan makan/minum. Selain itu, vaksinasi NCD (Newcastle Disease) perlu diberikan pada DOC (Day Old Chick) yang sudah berumur 4 hari untuk melindungi mereka dari penyakit mematikan tersebut. Dengan perawatan yang cermat, anak ayam diharapkan dapat tumbuh sehat dan kuat.

Pertanyaan & Jawaban Seputar Topik

1. Bagaimana cara memilih telur yang tepat untuk ditetaskan menggunakan lampu bohlam?

Jawaban: Pilih telur yang fertil, berasal dari pembuahan induk betina dan pejantan. Pastikan telur berbentuk oval ideal (2:3), tidak terlalu besar atau kecil, dan berusia maksimal 10 hari (ideal 5 hari). Telur harus bersih dan tidak retak.

2. Berapa suhu dan kelembapan ideal dalam inkubator lampu bohlam?

Jawaban: Suhu ideal adalah 37-38°C (36-38°C untuk hari 1-18, lalu 35-37°C untuk hari 18-21). Kelembapan harus dijaga antara 45-55%, dengan <55% pada hari 1-18. Gunakan termometer dan wadah air untuk memantau dan mengatur.

3. Mengapa telur perlu diputar dan diteropong selama masa inkubasi?

Jawaban: Pemutaran telur (2-3 kali sehari, hari ke-2/3 hingga ke-18) mencegah kuning telur menempel ke cangkang dan memastikan embrio berkembang optimal. Peneropongan (hari ke-3 hingga ke-18) untuk memeriksa kesuburan telur dan perkembangan embrio.

4. Kapan sebaiknya memberikan bantuan saat anak ayam menetas?

Jawaban: Bantuan penetasan umumnya tidak disarankan. Intervensi hanya boleh dilakukan jika anak ayam terlihat sangat kesulitan dan proses penetasan terhenti selama lebih dari 24 jam setelah patukan pertama. Intervensi dini dapat membahayakan anak ayam.

5. Bagaimana perawatan awal anak ayam setelah menetas?

Jawaban: Pindahkan anak ayam ke kandang brooder yang higienis dengan suhu sekitar 35°C, dipanaskan lampu 25-40 Watt selama 6 hari. Anak ayam dipuasakan sehari semalam sebelum diberi pakan pre-starter ad libitum dan air bersih. Jaga kebersihan kandang dan berikan vaksinasi NCD pada hari ke-4.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|