:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578256/original/056286300_1782536565-dvVPydNbiYcqWraLvYl5S6Byfyasvjvq3oDKEv2V.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta Comfort food artinya makanan yang konsumsinya memberikan penghiburan atau perasaan nyaman secara psikologis. Istilah ini semakin akrab di telinga masyarakat modern, terutama ketika seseorang membutuhkan ketenangan emosional melalui hidangan tertentu yang memiliki nilai personal mendalam.
Setiap orang memiliki preferensi comfort food yang berbeda, bergantung pada budaya, kenangan masa kecil, dan pengalaman pribadinya. Comfort food merujuk pada hidangan yang menghadirkan nostalgia atau perasaan emosional positif, biasanya dikaitkan dengan masa kecil, masakan rumahan, atau tradisi budaya.
Mengutip jurnal International Journal of Gastronomy and Food Science yang diterbitkan melalui ScienceDirect, makanan jenis ini sering kali memiliki kandungan kalori tinggi, kaya gula atau karbohidrat, dan cenderung diasosiasikan dengan masa kecil serta masakan rumahan. Memahami comfort food artinya juga berarti menyelami hubungan emosional manusia dengan makanan yang melampaui sekadar rasa lapar.
Apa Itu Comfort Food? Pengertian dan Definisi Lengkap
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472970/original/046592800_1782381683-tf5GL5TZgenOUV1PC3o9TCG0cbCXYgK49jRSxkwL.jpg)
Perbesar
Istilah comfort food memiliki definisi yang beragam dalam berbagai literatur akademis maupun kamus ternama. Perbedaan perspektif ini menunjukkan betapa luasnya cakupan makna di balik fenomena kuliner yang satu ini. Konsensus mengenai definisi comfort food dalam literatur akademis memang sulit dicapai, namun beberapa rujukan resmi memberikan gambaran yang cukup jelas.
Mengacu pada riset yang dipublikasikan National Center for Biotechnology Information (NCBI), definisi comfort food ditambahkan pada tahun 1997 ke dalam dua kamus terkemuka: Collegiate Dictionary mendefinisikannya sebagai "makanan yang disiapkan dengan gaya tradisional yang umumnya memiliki daya tarik nostalgia atau sentimental," sedangkan Oxford Dictionary mendefinisikannya sebagai "makanan yang menghibur atau memberikan penghiburan."
Berikut beberapa pengertian comfort food dari berbagai sumber terpercaya:
- Definisi berdasarkan aspek psikologis. Comfort food merujuk pada makanan yang konsumsinya memberikan penghiburan atau perasaan nyaman, khususnya kenyamanan emosional secara psikologis.
- Definisi berdasarkan nostalgia. Makanan ini sering menampilkan rasa, tekstur, dan metode penyajian yang memicu kenyamanan melalui memori sensorik dan koneksi emosional.
- Definisi berdasarkan nilai nutrisi. Definisi yang tersedia saat ini di situs Oxford Dictionary menyebutkan comfort food sebagai "makanan yang membuat Anda merasa lebih baik, umumnya karena mengandung terlalu banyak gula atau karena mengingatkan Anda pada rumah."
- Definisi berdasarkan sifat subjektif. Konsumsi comfort food bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh pengalaman individu, karena makanan tersebut dikenal dan diapresiasi oleh orang yang mengonsumsinya.
- Definisi berdasarkan evolusi budaya. Comfort food adalah makanan yang memberikan rasa sejahtera dan sering dikaitkan dengan nostalgia serta kenyamanan emosional, dengan konsep yang terus berkembang mengikuti tren sosial dan kebutuhan emosional individu.
- Definisi berdasarkan koneksi personal. Makanan yang dianggap menenangkan bersifat sangat personal bagi setiap orang, berasal dari kombinasi faktor psikologis, budaya, dan fisiologis.
Baca juga: 50 Makanan Khas Indonesia dan Asalnya, Lengkap Penjelasan Kuliner Nusantara
Sejarah dan Asal-Usul Istilah Comfort Food
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3543870/original/067438200_1629277779-alex-lam-WOrdQ6Wgomw-unsplash.jpg)
Perbesar
Sebagaimana dilaporkan Psychology Today, seorang penulis untuk surat kabar Palm Beach Post pada dekade 1960-an menciptakan istilah comfort food untuk menggambarkan makanan yang sering didambakan oleh orang dewasa yang mengalami tekanan emosional.
Kutipan asli dari kolom tersebut, yang terbit pada 14 April 1966, menyebutkan bahwa orang dewasa dalam keadaan stres berat cenderung kembali pada makanan yang diasosiasikan dengan rasa aman masa kecil, seperti telur rebus buatan ibu atau sup ayam legendaris keluarga. Dari surat kabar mingguan inilah kata comfort food mulai menjadi tren dan digunakan secara luas di Amerika Serikat.
Pada era 1970-an dan 1980-an, konsep comfort food semakin populer di Amerika Serikat, awalnya dikaitkan dengan masakan kelas menengah kawasan Midwest. Seiring berjalannya waktu, hidangan-hidangan ini mulai diadopsi ke dalam menu restoran yang lebih canggih.
Selama bertahun-tahun, hidangan comfort food bahkan telah dimasukkan ke dalam menu restoran mewah, menjadi pengalaman komunal melalui buku resep dan restoran khusus. Pergeseran ini menunjukkan bahwa comfort food bukan sekadar makanan sederhana, melainkan fenomena budaya yang terus bertransformasi.
John Munafo, ilmuwan rasa dari University of Tennessee, dikutip dari Knowable Magazine menyatakan, "Makanan yang dianggap menenangkan bersifat sangat personal bagi setiap orang, berasal dari kombinasi faktor psikologis, budaya, dan fisiologis."
Menariknya, bagi banyak orang Amerika, comfort food identik dengan kemewahan berlebih, namun nilai nutrisi makanan ini bervariasi tergantung budaya. Hal ini membuktikan bahwa makanan penyaman tidak selalu bermakna negatif dari sisi kesehatan.
Di berbagai belahan dunia, konsep serupa telah lama eksis meski tanpa label khusus. Di Indonesia misalnya, semangkuk soto ayam hangat atau makanan tradisional yang beragam dari tiap daerah telah lama menjadi pelarian emosional masyarakat ketika menghadapi hari yang melelahkan.
Ilmu di Balik Comfort Food dan Reaksi Otak Saat Menikmatinya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3144312/original/048729800_1591283130-2373290.jpg)
Perbesar
Di balik sensasi nyaman yang dirasakan saat menyantap comfort food, terdapat proses neurokimia yang kompleks di dalam otak. Ada bagian spesifik di otak Anda yang disebut nucleus accumbens, yang mengendalikan pelepasan hormon kebahagiaan dopamin dan serotonin.
Dilansir dari Time Out London, Uxshely Carcamo, pendiri The Food Therapy Clinic, menjelaskan bahwa bagian otak ini "mengelola impuls kita dan membuat kita mendambakan makanan yang memberikan kesenangan jangka pendek." Jenis makanan yang paling efektif memicu respons ini adalah karbohidrat dan lemak, dua komponen yang lazim ditemukan dalam sebagian besar comfort food.
Dopamin memberi sinyal kepada tubuh bahwa ia bisa mengharapkan imbalan, dan hormon ini dapat meningkatkan pencernaan, aliran darah, memori, fokus, suasana hati, kualitas tidur, serta kemampuan mengelola stres. Berdasarkan data dari Association of Nutrition & Foodservice Professionals (ANFP), bahkan sekadar memikirkan comfort food favorit sudah dapat memicu pelepasan dopamin dan memulai siklus motivasi serta penghargaan di dalam otak, dengan hormon lain seperti serotonin dan adrenalin turut bekerja sama.
Uxshely Carcamo, dikutip dari Time Out London, menambahkan, "Otak kita senang membuat asosiasi antara aroma, rasa, dan periode waktu tertentu. Jadi makanan sering kali memicu kenangan bahagia masa kecil." Temuan ini diperkuat oleh riset terbaru.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Cognition and Emotion pada 2025 menemukan bahwa nostalgia terhadap pengalaman makanan meningkatkan kenyamanan dengan memperkuat koneksi sosial seseorang. Artinya, comfort food tidak hanya memengaruhi kimia otak secara langsung, tetapi juga bekerja melalui jalur emosional yang berkaitan dengan kenangan akan makanan tradisional dan orang-orang terkasih.
Shira Gabriel, salah satu peneliti di bidang ini, dikutip dari ScienceDirect menegaskan, "Menyamakan comfort food dengan kalori tinggi adalah kesalahpahaman tentang dari mana kenyamanan itu sebenarnya berasal."
Sebagaimana dikutip dari penelitian Washington State University, Profesor Carolyn Ross menyatakan, "Jika suatu produk membangkitkan lebih banyak nostalgia, maka kami menemukan bahwa mereka lebih menyukainya." Hal ini mempertegas bahwa aspek emosional dan memori memegang peranan yang lebih besar dibandingkan sekadar kandungan nutrisi dalam menentukan apakah suatu makanan tergolong comfort food bagi seseorang.
Baca juga: 5 Resep Masakan Indonesia Tradisional, Cocok untuk Hidangan Sehari-hari
Contoh Comfort Food di Indonesia dan Berbagai Negara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3160899/original/035796500_1592969327-flat-lay-photography-of-vegetable-salad-on-plate-1640777.jpg)
Perbesar
Pilihan comfort food sangat bervariasi di setiap negara karena dipengaruhi oleh tradisi kuliner, bahan baku lokal, dan pengalaman budaya masyarakatnya. Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa comfort food sering berfungsi sebagai jangkar emosional yang menghubungkan seseorang dengan kenangan positif tentang kumpul keluarga, rasa aman masa kecil, atau tradisi budaya, dan efektivitasnya sangat bergantung pada sejarah personal seseorang.
Berikut contoh comfort food dari Indonesia dan berbagai negara di dunia:
- Indonesia: Bakso, Soto Ayam, dan Nasi Goreng. Hidangan berkuah hangat seperti bakso dan soto ayam menjadi comfort food favorit banyak orang Indonesia. Makanan tradisional berkuah dengan rempah khas ini tidak pernah sepi peminat karena menghadirkan rasa hangat dan kenangan masa kecil. Nasi goreng buatan rumah juga kerap menjadi pelarian emosional masyarakat Indonesia.
- Indonesia (regional): Mie Celor dan Pempek Palembang. Di Sumatera Selatan, Mie Celor merupakan hidangan mi yang menjadi salah satu comfort food favorit masyarakat setempat dengan kuah santannya yang kental dan gurih.
- Amerika Serikat: Mac and Cheese, Pizza, dan Sup Ayam. Definisi kamus untuk comfort food menyebutnya sebagai "makanan yang disiapkan secara tradisional dengan daya tarik nostalgia atau sentimental," dan bagi warga Amerika, hidangan seperti mac and cheese serta pizza menjadi representasi utamanya.
- Italia: Caprese Salad dan Pasta. Makanan Italia dikenal kaya akan tradisi dan kehangatan. Hidangan pasta sederhana dengan saus tomat buatan rumah menjadi comfort food klasik yang diwariskan antarkeluarga di negeri ini.
- Korea Selatan: Bibimbap. Hidangan nasi campur dengan sayuran berwarna-warni, protein, dan saus gochujang yang pedas manis ini menjadi pilihan comfort food populer di Korea, terutama saat cuaca dingin.
- Jepang: Ramen. Semangkuk ramen dengan kuah kaldu yang kaya rasa, mi gandum tebal, dan berbagai topping seperti telur rebus serta nori telah lama menjadi simbol kenyamanan dalam budaya kuliner Jepang.
- Thailand: Tom Yum Soup. Sup pedas dan asam dengan kaldu seafood ini memberikan kehangatan dan sensasi rasa yang membangkitkan semangat, menjadikannya comfort food andalan masyarakat Thailand.
- Malaysia: Nasi Lemak. Nasi yang dimasak dengan santan kelapa, disajikan bersama ikan teri, kacang, dan sambal menjadi comfort food ikonik yang dinikmati di berbagai kesempatan.
Sebuah studi tahun 2020 yang dipublikasikan di Appetite Journal menemukan bahwa hidangan yang sama bisa terasa menyenangkan bagi satu orang namun memicu emosi negatif bagi orang lain, tergantung pada asosiasi unik mereka dengan makanan tersebut. Fenomena ini menjelaskan mengapa makanan khas nusantara bisa menjadi comfort food bagi seorang perantau Indonesia, sementara orang dari budaya lain mungkin tidak merasakan koneksi emosional yang sama.
Baca juga: 40 Makanan Khas Daerah di Indonesia Beserta Asalnya, Wajib Dicicipi
Dampak Comfort Food bagi Kesehatan dan Cara Bijak Menikmatinya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5264290/original/089773200_1750843423-young-pretty-woman-eating-pizza-pizza-bar.jpg)
Perbesar
Meskipun memberikan kenyamanan emosional, konsumsi comfort food yang berlebihan dapat berdampak pada kesehatan tubuh. Ketika seseorang mengalami stres, tubuh melepaskan kortisol yang dapat meningkatkan nafsu makan terhadap makanan berkalori tinggi yang mengaktifkan pusat penghargaan otak, memberikan rasa lega yang bersifat sementara.
Siklus ini, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi mengarah pada pola makan emosional yang tidak sehat. Makanan comfort food umumnya mengandung kadar gula, lemak, dan garam yang tinggi sehingga berpotensi menambah berat badan dan meningkatkan risiko penyakit kronis.
Ellie Krieger, ahli nutrisi dan penulis buku Comfort Food Fix, dikutip dari AZ Quotes menyatakan, "Comfort food adalah makanan yang membuat kita merasa baik — puas, tenang, diperhatikan, dan bebas dari kekhawatiran. Makanan yang mengisi kita secara emosional dan fisik. Menemukan kenyamanan dalam makanan adalah pengalaman dasar manusia." Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa comfort food pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya, melainkan perlu dikonsumsi secara bijak.
Sebagaimana disampaikan The Chelsea Psychology Clinic, banyak orang menggunakan makanan untuk menenangkan emosi dari waktu ke waktu dan hal ini wajar. Namun, comfort eating menjadi bermasalah ketika menjadi respons otomatis terhadap tekanan, yang berpotensi mengarah pada siklus makan berlebihan, rasa bersalah, dan penurunan harga diri.
Kunci utamanya adalah kesadaran dan moderasi. Beberapa langkah bijak yang bisa diterapkan antara lain membatasi porsi, memilih versi yang lebih sehat dari comfort food favorit, serta menggabungkan hidangan tradisional kaya rempah yang juga menawarkan manfaat kesehatan.
Mempraktikkan mindful eating atau makan dengan penuh kesadaran dapat menjadi alat yang ampuh dalam mengelola hasrat akan comfort food. Dengan menjadi lebih sadar terhadap emosi dan pemicu yang mengarahkan seseorang mencari comfort food, seseorang dapat membuat keputusan yang lebih sadar.
Selain itu, melakukan aktivitas fisik juga dapat menjadi mekanisme koping yang lebih sehat, mengalihkan fokus dan mengurangi ketergantungan pada makanan untuk peredaan emosional. Tidak ada yang salah dengan sesekali menikmati semangkuk miso Medan yang hangat atau kue tradisional favorit, asalkan diimbangi dengan pola makan sehat secara keseluruhan.
Baca juga: 34 Makanan Indonesia Beserta Daerah Asalnya, dari Sabang Sampai Merauke
Baca juga: Cara Memulai Bisnis Kuliner, Panduan dari Perencanaan Hingga Implementasi
Baca juga: 12 Rekomendasi Restoran Keluarga Ramah Anak di Jakarta Selatan 2026
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Comfort Food
Apa perbedaan antara comfort food dan junk food?
Comfort food dan junk food adalah dua konsep yang berbeda meskipun sering tumpang tindih. Comfort food merujuk pada makanan apa pun yang memberikan kenyamanan emosional dan nostalgia bagi seseorang, bisa berupa makanan tradisional Indonesia yang kaya nutrisi seperti soto atau sayur asem. Sementara itu, junk food secara spesifik merujuk pada makanan olahan dengan nilai gizi rendah dan kalori tinggi. Sebuah hidangan bisa menjadi comfort food tanpa harus tergolong junk food.
Mengapa seseorang mendambakan comfort food saat stres?
Ketika stres, tubuh melepaskan hormon kortisol yang meningkatkan nafsu makan terhadap makanan berkalori tinggi yang mengaktifkan pusat penghargaan otak. Comfort food memicu pelepasan neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin yang meningkatkan suasana hati dan memberikan peredaan emosional sementara. Respons biologis inilah yang membuat banyak orang secara naluriah mencari makanan tertentu saat menghadapi tekanan emosional.
Apakah comfort food selalu berkalori tinggi?
Tidak selalu. Peneliti Shira Gabriel menegaskan bahwa "menyamakan comfort food dengan kalori tinggi adalah kesalahpahaman tentang dari mana kenyamanan itu sebenarnya berasal." Comfort food lebih ditentukan oleh koneksi emosional dan nostalgia seseorang terhadap makanan tertentu. Bagi sebagian orang, sepiring salad segar atau hidangan tradisional Indonesia yang sederhana bisa menjadi comfort food jika membangkitkan kenangan indah. Tanpa koneksi psikologis terhadap makanan tertentu, seseorang mungkin menikmatinya, tetapi tidak akan menemukan sensasi menenangkan yang dicari.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

1 hour ago
2
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4477079/original/090625300_1687419920-Riset.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4737988/original/027942000_1707374607-pexels-skip-class-13548721.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510667/original/040509700_1771834944-WhatsApp_Image_2026-02-23_at_15.08.24.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8586726/original/099343900_1782550609-Semifinal_MLSC_All_Stars_12_Kudus_vs_Surabaya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8580864/original/089651700_1782540867-Untitled3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263033/original/087599000_1781856655-8e8pXPK9AyN4YYf2AlR1uuV8t5vee2YnmZ9qXqpD.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578311/original/035907600_1782536627-YXBa45vDtdEYzgKRrDlPJUU4I5WCZD2XEQ5nGRNe.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4352452/original/085780100_1678353980-20230309-Larangan-Impor-Baju-Bekas-Faizal-10.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516719/original/098019600_1782442247-MHGSDC1JneBJEvlmsjGcnmbUcFHyI94d1Rwt6nfZ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578483/original/086395300_1782536869-fahmi-fakhrudin-nzyzAUsbV0M-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516172/original/033183300_1782441636-Rvai4Q48YQrgjPsiSRKW4ayMMd7ugRcIb0VAEvLl.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4984091/original/066941400_1730181985-pexels-ekaterina-bolovtsova-4051137.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3153154/original/023813700_1592217405-technology-686298_1920.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4440392/original/009825500_1684987474-mathis-jrdl--RIHgVIKjYI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2877942/original/053432500_1565348974-img_BS9CBFo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8575192/original/046209600_1782532042-9144698472429757201.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5563984/original/065188900_1776922526-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263031/original/050114800_1781856653-3kzjRNq5KSlJNO4aVyJ2KHC7I5SbM932kp7GYRBa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8573292/original/098492400_1782528470-gendut.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8472983/original/024742200_1782381700-Ce9Bn1eF3Ngm5Z5T91Xzx3RfRQw4IKburTcffQwz.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4415431/original/078901700_1683198942-20230504AA_SEA_Games_2023_Timnas_Indonesia_Vs_Myanmar-21.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529373/original/019567300_1773329437-Persis_vs_Bali_United.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4174719/original/068939000_1664411162-42.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527338/original/066171500_1773200879-__________________________________1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525042/original/051351000_1773029160-cropped-2a244f90-7934-47c9-a587-b33c1a79edbd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5146073/original/099969400_1740749107-20250228-Mantau_Hilal-MER_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5315665/original/049375700_1755165938-20250808AA_BRI_Super_League_Persebaya_Surabaya_Vs_PSIM_Yogyakarta__2_of_75_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496194/original/006665600_1770489949-1.jpg)
