Lewat KUR BRI, Ini Kisah Inspiratif Heriberto Satyo Sukses Kelola Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Menjaga kelestarian budaya di tengah derasnya arus modernisasi perkotaan bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Namun, dedikasi tinggi dan semangat pantang menyerah yang ditunjukkan oleh para penggerak lokal mampu mengubah tantangan tersebut menjadi sebuah peluang ekonomi kreatif yang bernilai tinggi.

Salah satu figur yang sukses menorehkan cerita perjuangan luar biasa di jantung Kota Yogyakarta adalah Heriberto Satyo. Ia merupakan seorang pria bersahaja yang mendedikasikan hidupnya untuk menghidupkan kembali pesona busana adat Jawa di kalangan generasi muda melalui jalinan sinergi yang harmonis bersama program pemberdayaan finansial Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.

Perjalanan hidup Satyo dalam menakhodai usaha kreatif berbasis pelestarian budaya ini penuh dengan liku-liku serta dinamika organisasi yang menguji mentalitas kepemimpinannya. Sebelum berkembang menjadi institusi formal yang diakui khalayak luas, wadah kolektif ini harus merangkak dari sebuah ikatan paguyuban jalanan yang sangat sederhana.

"Kami mendirikan kelompok ini awalnya di tahun 2018 akhir masih berbentuk paguyuban dengan nama Pokoke Blangkon yang bergerak di fotografi dengan busana Jawa. Terus tahun 2022, paguyuban ini berubah menjadi koperasi dengan nama Koperasi Pokoke Blakon Malioboro yang bergerak di fotografi dengan busana Jawa. Seperti itu," kenang Satyo mengenai masa-masa awal rintisan usahanya saat diwawancarai oleh Liputan6.com pada Jumat (15/5) kemarin. 

Dari Selasar Emperan Jalan hingga Menjadi Ketua Koperasi Mandiri

Berbicara asal-usulnya, lahirnya ide kreatif ini sejatinya dipicu oleh kepedulian sosial terhadap para pelancong yang kerap kebingungan saat ingin mengenakan atribut adat tradisional secara benar. Satyo dengan penuh ketulusan menceritakan bagaimana sejarah awal mula pembentukan usaha unik ini yang diinisiasi oleh seorang tokoh lokal di wilayah pemukiman mereka.

"Mengenai sejarahnya, di tahun 2018 itu berawal dari seseorang bernama Bapak T K Tono. Beliau awalnya menjual baju jawa. Nah, dari penjualan itu kebetulan banyak tamu ketika mereka beli terus minta berfoto, dipotoin, dipakaikan karena nggak banyak yang paham cara pakai baju Jawa. Dari situ terbesit ide untuk menyewakan aja. Jadi busana Jawa disewakan lengkap dengan fotografernya. Beliau mengajak kami dari warga wilayah, mendirikan itu tadi, Paguyuban Pokoke Blangkon," jelas Heriberto Satyo.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya arah bisnis, roda organisasi internal di dalam kelompok ini pun mulai berputar. Sang perintis awal kini telah memilih jalan baru dan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan sepenuhnya kepada warga lokal yang bertahan. Transformasi ini melahirkan struktur kepengurusan yang baru dimana Satyo sendiri terpilih menjadi ketua 2 di koperasi tersebut. 

"Beliau tahun dua tahun kemarin mengundurkan diri dari koperasi dan membentuk usaha sendiri yang sama jadi persewaan juga, ada fotografi juga dan resmi meninggalkan legasinya. Saat ini, kepala Yogyakarta saat ini diketuai oleh Bapak Sumarti sebagai Ketua 1 dan saya sebagai Ketua 2," lanjutnya.

Pasang Surut dalam Membangun Koperasi

Sebagai salah satu pemimpin di komunitas, Satyo juga harus berlapang dada dalam menghadapi pasang surut jumlah sumber daya manusia yang bernaung di bawah kepengurusannya. Seleksi alam di dunia bisnis kreatif sempat membuat jumlah anggotanya bergejolak drastis demi menemukan kemandirian ekonomi masing-masing.

“Anggota photographer ada 25 orang di awal berdiri ketika awal kami berdiri koperasi bisa sampai 73an tapi kemudian ketika berkembang banyak teman-teman yang melepaskan diri dan membentuk usaha sendiri-sendiri. Tapi ada juga yang masih di bawah naungan koperasi itu ada juga mereka membuka sendiri, punya usaha sendiri dengan berbeda tempat tapi masih di naungan koperasi itu ada. Seperti itu," ungkapnya.

Tantangan terbesar yang sempat menguji daya tahan kepemimpinan Satyo adalah urusan ruang fisik untuk beroperasi, mengingat regulasi tata kota yang dinamis di kawasan premium Malioboro. Selama bertahun-tahun, mereka harus rela bertahan di selasar pertokoan sebelum akhirnya mampu mandiri menyewa tempat permanen.

"Awal berdirinya itu kita ada di emperan toko, kita tidak punya tempat. Dua tahun yang lalu, karena sudah tidak diizinkan lagi ada di eperaan toko, dan kebetulan depan tempat nongkrong kita juga dibangun, kita menyewa tempat ini, yang beramat di Jl. Malioboro No.11, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta," jelas pria ramah ini.

Standardisasi Ketat dan Misi Luhur Mengedukasi Budaya Gagrak Ngayogyakarta

Selain itu, integritas profesionalisme selalu dijunjung tinggi oleh Satyo dalam membina setiap individu yang ingin berkecimpung di dalam ekosistem Koperasi Pokoke Blangkon. Dirinya menerapkan proses penyaringan yang ketat serta mewajibkan adanya masa orientasi atau magang khusus bagi setiap calon fotografer baru yang bergabung demi menjaga kualitas hasil kerja kelompok.

“Di awal kami rekrutment langsung. Ketika sampai 73 itu. Kita langsung, oke mau gabung, oke, oke, oke. Itu tahun 2022. Tapi di tahun 2018 awal cari temen yang mau bergabung itu susahnya minta ampun karena mereka belum membayangkan bahwa usaha seperti ini akan berkembang. Rekrutment kami, ketika mereka mau gabung, kami pasti selalu ada jangka waktu untuk belajar. selama jangka waktu itu gak boleh jualan gak boleh transaksi jadi bener-bener di situ belajar ketika tiba waktunya untuk mereka menjual hasil yang dijual yaudah udah layak udah layak worth it untuk ditukar dengan uang," tegasnya mengenai proses rekrutmen.

Faktor kelayakan perangkat penunjang kerja juga menjadi salah satu instrumen standardisasi yang diterapkan secara ketat oleh manajemen koperasi di lapangan. Setiap fotografer diwajibkan memiliki modal gawai dokumentasi pribadi yang mumpuni.

"Syaratnya Minimal punya kamera, karena kami tidak menyediakan kamera untuk dipegangkan. Mau kamera seperti apa. Ya biasanya sekarang sih paling enggak meroles jangan poket kamera dipakai, paling enggak seperti itu. Jangan sekadar asal beli kamera jauh dari teman-teman dengan hasil yang beda banget kasihan juga. Kadang-kadang mereka jualan terus dibandingkan dengan teman yang lain bedanya jauh mas, itu kan kasihan juga," ujarnya memaparkan kriteria teknis.

Konsistensi dalam memegang teguh pakem busana tradisional tradisional khas Keraton Yogyakarta (Gagrak Ngayogyakarta) menjadi jati diri utama yang membedakan kelompok ini dengan penyedia jasa sewa busana lainnya. Mereka menolak penggunaan kain instan siap pakai dan tetap mempertahankan metode lilitan manual kain jarik dari tahap awal pemakaian.

"Yang pertama ketika awal kita pasti melatih anggota untuk benar-benar layak jual hasil mereka bisa kami bertanggung jawabkan untuk lebih baik. Jadi tidak sekedar ini kamera cari fit. Kemudian membawa narasi budaya tadi. Kami memaksa fotografer untuk paham itu. Data teman-teman yang pemerhati budaya memberikan literasi tentang budaya, tentang busat Jawa tadi. Mesti kami bisa memahamkan tentang narasi budaya itu. Kemudian busana jawa yang kami pakai ini gagret, kami pastikan ini adalah gagret Yogyakarta kami tidak memakai rok yang sudah jadi kami tetap memakai lilit, kain lilit tetap dibentuk dari awal," urai Satyo penuh rasa bangga.

Menjaga Soliditas Komunitas di Tengah Badai Operasional Tempat Usaha

Mengomandoi puluhan kepala dengan karakter personal yang beraneka ragam tentu menghadirkan dinamika internal yang menuntut kedewasaan empati dari seorang Heriberto Satyo. Meskipun saat ini kondisi finansial kelompok sedang difokuskan penuh untuk membiayai modal operasional sewa tempat, kehangatan kekeluargaan di antara mereka tidak pernah memudar.

"Kami tiap hari tentu saja ketemu tiap hari. Itu yang membuat kami kompak merasakan bagaimana berkegiatan disini, kumpul setiap saat, itu yang faktor utamanya Agenda biasanya kemarin ketika kami masih, ya caranya, anggota kami banyak kemarin kan secara keuangan kami masih solid, bukan gak perlu sewa tempat, kita jalan-jalan bareng juga sering pick barang itu aja. Cuma akhir-akhir ini karena kami terpaksa masih mengejar sewa tempat, modal baru untuk usaha-usaha. Usaha-usaha dulu kan milik pribadi anggota, sekarang milik kooperasi sendiri. Kemarin kan modal habis di situ, modal habis buat sewa tempat. Belum sempat jalan-jalan ya, kumpul-kumpul di sini aja kadang belum makan-makan bareng aja dengan biasa di sini," beber Satyo secara jujur.

Berkat komitmen tinggi yang ditunjukkan oleh Satyo dalam menjaga nilai kearifan lokal, eksistensi koperasi ini perlahan mulai diakui secara luas oleh instansi pemerintahan di tingkat regional dan kelurahan.

"Pokoke Belangkon beberapa kali diajak serta pelatihan dari dinas, kemaris ada kegiatan dari Dinas Kebudayaan. Dari kami kemarin diajak untuk membentuk komunitas yang ada di sekitar Malioboro juga. Untuk komunitas secara keseluruhan komunitas penggerak jajah foto dan busana itu biasanya ke kami dari tingkat kelurahan, dari kecil kelurahan itu biasanya kesini untuk melihat flow tamu wisatawan ke kelurahan sosial, itu sebagai parameternya," ungkapnya.

Kolaborasi Strategis Satyo dengan KUR BRI

Momentum kebangkitan Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro dari himpitan keterbatasan modal finansial tidak lepas dari hadirnya peran krusial institusi perbankan pelat merah, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Satyo dengan cerdas memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai instrumen strategis untuk mempermudah akses permodalan kolektif maupun individu anggota.

"BRI bertindak sebagai lembaga pendamping yang memfasilitasi kelengkapan berkas permohonan KUR. Fasilitas ini memudahkan banyak rekan kami dalam mengajukan pinjaman tersebut. Selain itu, kami juga menerima bantuan sarana berupa payung dari BRI dan sebagian besar anggota kami kini telah aktif menggunakan Tabungan BRI" ungkap Satyo mengapresiasi kemitraan dengan BRI.

Bagi seorang Heriberto Satyo, intervensi permodalan yang disalurkan melalui instrumen keuangan KUR BRI bukan sekadar skema pinjaman komersial biasa di atas kertas dagang. Kehadiran stimulus perbankan ini diakuinya menjadi pilar penyangga utama yang menyelamatkan koperasi dari stagnasi finansial.

"Sangat berpengaruh, karena dengan adanya KUR ini kami bisa berkembang, membangun koperasi hingga saat ini koperasi kita masih pun terus berjalan," pungkas Satyo mengakhiri sesi wawancara. 

Dukungan penuh BRI Unit Pasarkembang Yogya Cik Ditiro

Komitmen BRI dalam menyokong eksistensi Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro tidak hanya berhenti pada tataran kelembagaan makro saja, melainkan menyentuh langsung kebutuhan esensial para anggotanya di lapangan. Akses pembiayaan ini dirancang khusus untuk membantu para fotografer meningkatkan kualitas produksi visual mereka melalui pembaruan perangkat kerja yang lebih modern.

Desti Dwi Hastuti selaku Kaunit BRI Pasarkembang Yogya Cik Ditiro menjelaskan bahwa kemitraan strategis yang telah terjalin lama ini berjalan dengan sangat aman berkat adanya koordinasi dan penilaian karakter yang transparan bersama pihak manajemen koperasi.

"Fasilitas pinjaman kredit untuk fotografer-fotografernya itu. Fotografernya itu kan butuh upgrade kamera dan upgrade kamera itu bisa mengajukan pinjaman di BRI," jelas Desti Dwi Hastuti.

Selain itu, pihak perbankan memastikan seluruh proses administrasi berjalan lancar tanpa kendala yang berarti karena adanya rasa saling percaya yang kuat.

"Sejauh ini pinjamannya aman, karena kan kita juga dapat referensi dari pengurus koperasinya langsung. Kita konsultasi juga bagaimana karakter, latar belakang anggotanya dan kita juga melakukan survei langsung di lapangan," tambahnya.

Lebih lanjut, keterlibatan institusi perbankan ini tidak melulu berkaitan dengan urusan kredit komersial semata. Komitmen pemberdayaan ekonomi kreatif ini juga diwujudkan dalam bentuk pemberian sarana pendukung kerja guna menunjang kenyamanan operasional harian di sepanjang Jalan Malioboro.

"Kalau yang sudah kita lakukan itu BRImemberikan bantuan properti untuk foto seperti payung lukis, juga alat untuk kemudahan pembayaran seperti qris, baik untuk koperasinya maupun fotografernya dan tabungan BRI pastinya," ungkapnya.

Hubungan baik yang harmonis ini nyatanya bukan merupakan sebuah program instan yang baru saja berjalan dalam hitungan bulan. Kolaborasi berkelanjutan ini telah melewati perjalanan waktu yang cukup panjang, dengan tingkat intensitas kemitraan yang semakin menguat seiring dengan perkembangan skala usaha koperasi.

"Mereka sudah tegabung dengan kita sejak tahun 2022 hingga kini. Cuma intensnya itu di tahun 2023," pungkas Desti.

Hasil Foto Estetik dan Pelayanan Ramah Jadi Alasan Wajib Coba

Keberhasilan Heriberto Satyo dalam menegakkan standar kualitas pelayanan serta menjaga keaslian nilai budaya adat tradisional pada akhirnya berbuah manis dalam wujud kepuasan para pelancong yang berkunjung ke Yogyakarta. Kehadiran para fotografer jalanan yang terorganisasi dengan rapi ini sukses memikat hati pasangan pelancong domestik yang tengah menikmati masa liburannya di pusat kota budaya.

Pengalaman pertama mereka mengenakan kain lilit tradisional dan berpose di ruang publik menyisakan kesan mendalam yang sangat memuaskan berkat keramahan kru lapangan dalam mengarahkan gaya dokumentasi. Saat ditemui di sela-sela aktivitasnya memilah berkas dokumentasi digital di basecamp koperasi, raut kebahagiaan terpancar jelas dari pasangan wisatawan yang mengaku sangat terkesan dengan efisiensi sistem kerja kelompok ini.

"Kami benar-benar sangat puas dengan layanan dari Koperasi Pokoke Blangkon ini, mulai dari proses pendaftaran, dibantu memakai kain lilitnya, sampai selesai foto semua pelayanannya sangat tanggap. Hasil fotonya bagus sekali, pencahayaannya natural, dan yang paling membuat kami nyaman itu para fotografernya sangat ramah serta telaten saat mengarahkan gaya kami di sepanjang jalanan Malioboro," ungkap Arini dengan penuh antusias.

Senada dengan pasangannya, Nugraha juga mengakui bahwa kehadiran model bisnis kreatif berbasis kebudayaan luhur ini memberikan sebuah warna baru yang segar sekaligus mengedukasi masyarakat luas bagi lanskap industri pariwisata daerah. Dirinya memandang aktivitas berfoto mengenakan busana adat daerah dengan kualitas jepretan profesional merupakan sebuah agenda pelengkap liburan yang wajib dicoba agar memori keindahan Kota Jogja terekam dengan sempurna.

"Bagi para wisatawan lain yang punya rencana ingin berkunjung ke Jogja, khususnya di kawasan Malioboro, saya sangat merekomendasikan sekali untuk mencoba menggunakan jasa foto ini. Selain tarifnya yang sangat aman di kantong, kita bisa mendapatkan kenang-kenangan foto yang estetik sekaligus merasakan langsung pengalaman unik mengenakan busana adat Jawa yang asli," tutup Nugraha dengan senyum sumringah.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|