Liputan6.com, Jakarta - Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia merayakan Hari Kartini, sebuah momen penting untuk menghargai perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di masa penjajahan. Puisi tentang Hari Kartini selalu menjadi salah satu medium yang kuat untuk mengenang perjuangannya melalui rangkaian kata yang sederhana namun penuh makna.
Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif, singkat, dan padat, dengan mengutamakan keindahan bahasa, irama, rima, dan makna mendalam. Puisi sering menggunakan gaya bahasa kiasan (majas) dan disusun dalam bentuk bait serta baris, berbeda dengan prosa.
Mari resapi setiap kata, setiap rima, dan setiap pesan yang terkandung di dalam puisi tentang hari Kartini, sebagai pengingat bahwa perjuangan untuk kesetaraan dan kemajuan perempuan adalah perjuangan yang tak pernah usai, dan semangat Kartini akan selalu menjadi obor penerang jalan. Berikut informasi selengkapnya sebagaimana dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (20/4/2026).
1. Kepada Kartini (Karya Gunoto Saparie)
Sekadar diketahui, Gunoto Saparie, lahir pada 22 Desember 1955, adalah salah satu penyair terkenal di Indonesia. Ia memublikasikan puisi, cerita pendek, cerita bersambung, dan esai sastranya di berbagai media massa, daerah, maupun nasional. Dari deretan karyanya yang luar biasa, salah satunya adalah puisi berjudul Kepada Kartini.
Melalui bait-baitnya, Saparie menyerukan agar tidak ada lagi luka dan duka bagi perempuan, serta mengajak untuk terus berjuang meraih impian dan harapan. Pesan "Habis Gelap Terbitlah Terang" menjadi penutup yang kuat, memotivasi untuk menghadapi segala tantangan dan penindasan demi terwujudnya cita-cita Kartini.
adalah karena kau, pahlawan
wanita pun sadar akan haknya
menembus batas pemisah purba
antara pria dan perempuan
kau adalah inspirasi tiap perempuan
kau adalah ibu bangsa Indonesia
berjuang dengan tajamnya pena
dengan kalam indah berpendaran
ketika perempuan dikekang kau tak suka
ketika perempuan dilarang kau tak rela
ketika perempuan terbelakang kau berduka
namun kau tak kuasa, tak berdaya
hanya kata, kata, dan kata
meluncur dalam surat-surat fana
ide dan gagasan cemerlang tiada tara
bahwa perempuan harus merdeka
jangan lagi ada luka bagi perempuan
jangan lagi ada duka bagi perempuan
ketika impian dan harapan
belumlah sudah, belumlah tergenggam
habis gelap terbitlah terang
ya, habis gelap terbitlah terang
kita terjang badai dan topan
melawan segala aral dan penindasan
2. Suara-Suara Pagi Putih buat Kartini (Karya Diah Hadaning)
Suara-suara Pagi Putih buat Kartini merupakan puisi karya Diah Hadaning. Diketahui, Diah Hadaning merupakan sastrawati berkebangsaan Indonesia. Puisi-puisinya kebanyakan mengangkat tema anti-perbedaan suku, ras, agama, dan antar-golongan. Karya Suara-suara Pagi Putih buat Kartini menjadi salah satu yang terkenal.
Ada risik angin di ladang ketika pagi belum datang
dan nafas hangat bocah dusun dalam pelukan
mimpi tentang mandi dengan sabun wangi
dan sarapan pagi yang bukan ubi
sementara perempuan-perempuan ibunya
siap menyalakan api
ada lengkingan di dalam hati:
"datanglah matahari
berikan kehangatan dan harapan hari ini
untuk diriku, untuk anakku, untuk kerabatku
kata orang, Kartini pernah datang untuk kami
kata orang, Kartini juga telah menyalakan api
lantas membakar gelap yang menyelubungi umat
hari ini di pendapa desa konon ada sedikit pesta
dan bu lurah akan bicara tentang Kartini
datanglah matahari
terangi jalan setapak di ujung rumah ini
ke sana pula aku mesti pergi
bukankah aku juga anak Kartini?"
Kartini kau dengarlah suara-suara
kala pagi putih di sudut desa
buminya perempuan-perempuan sederhana
yang sampai sekarang masih selalu rindu cahaya.
3. Kartini Pengejar Mimpi (Karya Afif Maulana)
"Kartini Pengejar Mimpi" karya Afif Maulana adalah sebuah ode untuk semangat pantang menyerah Kartini dalam meraih cita-citanya. Puisi ini menggambarkan perjuangan yang penuh tantangan, diibaratkan menyusuri bukit penuh duri, namun dengan mimpi yang terangkai suci. Semangat Kartini digambarkan begitu besar, mampu membelah langit dan bumi, serta menggoreskan pena di dalam hati setiap perempuan.
Menyusuri bukit penuh duri.
Memikul mimpi yang terangkai suci.
Semangatnya membelah langit dan bumi.
Menggoreskan pena di dalam hati.
Kartini-kartini pengejar mimpi.
Terbangkan nama ibu pertiwi.
Melangkah kaki di atas lautan api
.Tak gentar walau musuh menghalangi.
Melangkah kaki dalam kesunyian diri.
Kartini yang senantiasa mengejar mimpi.
Takkan lupa akan janji suci nan abadi.
Senantiasa menari sepanjang khatulistiwa.
Senantiasa mengukir seluas samudera.
Senantiasa bersimpuh dalam doa.
Kartini-kartini pengejar mimpi.
Ciptakan sejarah sepanjang masa.
Tiupkan seruling syahdu irama.
Sinarkan lentera terangi cakrawala.
Berjuang dalam sepenuh nyawa.
4. Kartini (Wing Kardjo)
Wing Kardjo lahir di Garut, jawa Barat, pada 23 April 1937, merupakan seorang penyair ternama asal Indonesia yang aktif pada masa pemapanan sastra Indonesia era 1965an sampai 1998an. Banyak karya telah dilahirkannya, dari kumpulan puisi Selembar Daun, Perumahan, Fragmen Malam, dan lain-lain. Ia juga melahirkan puisi menyentuh tentang Kartini.
Meski hanya satu bait, puisi ini mampu membangkitkan empati terhadap kondisi yang pernah dialami perempuan. Ini juga secara implisit menegaskan bahwa semangat Kartini adalah jawaban atas kesunyian tersebut, membawa inspirasi untuk bangkit dan mengisi hidup dengan makna.
Apakah yang lebih sedih
dari nyanyian salih
Apakah yang lebih sunyi
dari keluh ke langit tinggi
Putih: betapa bersih
pikiran jernih
5. Menari di Atas Lidah Api (Karya Dimas Arika Miharja)
Dimas Arika Miharja bernama asli Sudaryono, lahir pada 3 Juli 1959. Ia merupakan sastrawan berkebangsaan Indonesia dengan akrya-karyanya berupa puisi dan esai yang diterbitkan di berbagai media massa. Beberapa karya terkenalnya adalah Sang Guru Sejati (1991), Upacara Gerimis (1994), Luka Liwa (1993), Negeri Bayang-Bayang (1996), dan lain-lain. Di bawah ini akan dipaparkan salah satu puisi terkenal lainnya dari Dimas Arika Miharja tentang Hari Kartini berjudul Menari di Atas Lidah Api.
Bagi jejak Kartini, kini, di sini
di bumi yang semakin menua:
bersama kita tuai tarian di atas lidah api.
Selendang kasih sayang membentang
di sepanjang lorong kehidupan
kemudian di antara selendang yang membelit selangkang
ialah ular berkepala dua, tak lelah menjulurkan lidah api
siap melumat hasrat yang bergelora.
Di atas permadani bergambar daun waru
tak letih aku menari dengan jiwa lepuh.
6. Sang Pioner Emansipasi Wanita (Karya Dessy Kurniawati)
Puisi "Sang Pioner Emansipasi Wanita" karya Dessy Kurniawati adalah sebuah penghormatan yang tulus kepada Ibu Kartini. Karya ini mengangkat peran Kartini sebagai pelopor gerakan emansipasi wanita di Indonesia. Sosoknya digambarkan tak lekang oleh waktu dan akan tetap abadi selamanya dalam ingatan bangsa.
Ibu Kartini.
Sang pioner emansipasi wanita.
Sosokmu tak lekang oleh waktu.
Dan akan tetap abadi selamanya.
Semangat dan perjuanganmu.
Melahirkan Kartini muda.
Dengan segudang karya.
Demi Indonesia tercinta.
Meskipun kini kau telah berada di pusara.
Semangatmu.
Karya-karyamu.
Akan terkenang abadi dalam sanubari wanita Indonesia.
Terima kasih, Ibu Kartini.
Doa kami akan selalu bersamamu.
7. Pahlawan Peradaban (Karya Abu Bakar Al Lailul Qodry)
Dik, taukah peradaban kini berubah?
Taukah dulu kaum wanita tertindas oleh kaum laki-laki?
Dengan tutur manis memandang kaum wanita itu lenyai
Dengan tabiatnya berpandangan wanita bagaikan benalu kehidupan!
Sebab peradaban buruk menimpa kaum wanita yang memicu kesengsaraan
Dik, tauhkah pahlawan peradaban telah terbit?
Dengan berjuang menuntut emansipasi wanita
Memicu kesetaraan kaum wanita berdiri tegak di atas dunia dalam berbagai bidang
Membuat asmanya melambung diatas dunia dengan perjuangannya mendulang kemerdekaan kaum wanita
Dik, taukah kamu dibalik tabir kemerdekaan kaum wanita berkat darah juang siapa?
Tentu ibu Kartini sang proklamator kemerdekaan kaum wanita
Sang pahlawan dalam peradaban emas indonesia
Sebab berbuah mengorbitkan pendidikan sebagai landasan masa depan kaum wanita
Memicu generasi emas sontak berhamburan
Sehingga peradaban tak seperti zaman jahiliah
Melahirkan kehidupan mencapai puncak kejayaan
Sebab pahlawan peradaban mengonveriskan habis gelap terbitlah terang
8. Terang Kartini (Anonim)
"Terang Kartini," sebuah puisi anonim, secara lugas menggambarkan transisi dari kegelapan menuju terang yang dibawa oleh Raden Ajeng Kartini. Karya ini menyoroti bagaimana Kartini datang membawa harapan, memungkinkan perempuan untuk bermimpi tanpa batas dan tanpa ragu.
Dari gelap menuju terang.
Kartini datang membawa harapan.
Kini kami bisa bermimpi.
Tanpa batas, tanpa ragu.
9. Sajak Kecil buat Kartini (Karya Diah Hadaning)
Dalam kemelut ombak kehidupan hari ini
ketika melati-melati putih terhempas
tersangkut di karang pantai cemarnya noda kemajuan
ketika Jepara bangkit dari sunyi tidurnya
menjadi tonggak awal bertolak hari ini
Kartini, binar pandangmu membakar jiwa kami
Kartini, tandas suaramu menggugah gairah kami
perempuan-perempuan sederhana yang sibuk rumah tangga
wanita-wanita cendekia yang menjadi tiang penyangga
dan dengarlah hari ini sekali lagi
kami berikrar setia di sini
Kartini, kami sedang berjalan di jalanmu
Kartini, kami mau menaklukan matahari.
10. Ksatria Wanita Indonesia (Karya Aisyah Nabilla)
Ketika mereka menganggap wanita rendah
Disitulah kau memendam amarah
Ketika mereka berargumen wanita tak pantas sekolah
Kau datang berusaha mematahkannya
Kau datang menyelamatkan negeri ini
Dari tangisan wanita yang merindukan edukasi
Cita-citamu murni untuk negeri
Berjuang mengedepankan emansipasi
Kartini bagi perempuan laksana pahlawan
Kartini bagi perempuan laksana bintang
Kartini bagi perempuan laksana perwira
Kartini bagi perempuan laksana ksatria
Tak ada yang lebih berani darinyaSang wanita perwira pahlawan Negara
Sang wanita yang pantang mundur sebelum setara
Memperjuangkan hak-nya dengan jiwa dan raga
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik
1. Apa makna Hari Kartini bagi perempuan Indonesia?
Hari Kartini adalah momentum refleksi atas perjuangan emansipasi wanita, pendidikan, dan kesetaraan yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini, serta menjadi inspirasi bagi perempuan untuk terus berkarya dan berdaya.
2. Bagaimana puisi berperan dalam memperingati Hari Kartini?
Puisi menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan pesan perjuangan, keteguhan hati, dan harapan akan masa depan perempuan yang lebih setara, serta menghormati jasa-jasa Kartini melalui untaian kata yang indah dan penuh makna.
3. Siapa saja penyair yang karyanya ditampilkan dalam artikel ini?A
Salah satunya adalah penyair terkenal yang karyanya ditampilkan antara lain Gunoto Saparie.
4. Apa tema umum yang diangkat dalam puisi-puisi Hari Kartini?
Tema umum yang diangkat meliputi perjuangan emansipasi wanita, pentingnya pendidikan, keberanian, kemandirian, kesetaraan, serta peran perempuan dalam membangun bangsa.

5 hours ago
2
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560003/original/039248100_1776655503-unnamed-69.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560293/original/039705300_1776663193-f32868d7-8e5b-40f7-ade9-7c7a0cfd35f3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560277/original/011353100_1776662834-w.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5183331/original/035554500_1744179524-Depositphotos_537630134_S.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560096/original/046740500_1776658321-unnamed__9_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560248/original/027990900_1776660931-784b7957-2e87-463b-b0bf-85b866343bf5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560126/original/028006900_1776659766-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477918/original/004984000_1768885470-Gemini_Generated_Image_enx31yenx31yenx3.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1244465/original/054991200_1464163051-Generic-office.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560050/original/035427400_1776656972-HL__ayam.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559937/original/007074900_1776653502-2913881e-5f0f-49d9-9e98-11e83c439f20.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559952/original/098491100_1776654004-unnamed__14_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559288/original/088043200_1776564539-unnamed__60_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560031/original/025833300_1776656494-Kebun_Ibu_ibu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5187158/original/070948500_1744682219-Media.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559960/original/002357100_1776654187-LG.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560011/original/032536600_1776655512-Gemini_Generated_Image_q3der2q3der2q3de.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559930/original/014475300_1776653382-unnamed__85_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559922/original/018183700_1776653319-HL_han_river.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/857547/original/018363800_1429593617-ilustrasi-kartini-1.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453294/original/050897400_1766474273-3b763600-b9ea-4b9e-bedd-17ed90a573e4.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453102/original/079572900_1766468512-dapur_cantik_minimalis_terbaru_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453091/original/043931500_1766468139-Model_Dress_A_Line_untuk_Perayaan_Libur_Akhir_Tahun_yang_Elegan_dan_Stylish_Detail_Wrap.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453266/original/028409900_1766473688-Gemini_Generated_Image_3hozdt3hozdt3hoz_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453276/original/089690800_1766473880-desain_teras_samping_memanjang__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407718/original/020057100_1762751958-Zamenis_longissimus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453126/original/093428100_1766470604-unnamed_-_2025-12-23T131456.592.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453003/original/051206800_1766464788-Anting_emas_yang_tidak_membuat_telinga_pegal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452923/original/061535600_1766463159-Gelang_serut.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453046/original/024157300_1766466396-Kebun_Bebas_Hama_dan_Pestisida.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452950/original/038809600_1766463357-natal8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3293682/original/072535700_1605093228-circular-white-pills-spilling-from-glass-bottle-yellow-background_23-2147867015.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5138272/original/076888800_1740023227-allec-gomes-5-rU7F9bj9A-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4897279/original/047157000_1721544216-IMG_20240721_131658.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5482943/original/058250300_1769302357-54cb0e1a-9b5f-43ac-b9d3-4f7a7bd14f4c.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453250/original/000931700_1766473380-Ular_Hijau_Ekor_Merah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453131/original/081345800_1766470696-Gemini_Generated_Image_yhj4aryhj4aryhj4.png)