Liputan6.com, Jakarta Kecanduan belanja online bisa dikendalikan lewat langkah sederhana yang dijalankan konsisten. Cara mengatasi kecanduan belanja online paling dasar adalah membatasi akses ke aplikasi sekaligus menyadari pemicu emosi di baliknya.
Menata ulang keuangan dan mencari kegiatan pengganti juga terbukti meredam dorongan belanja impulsif. Dengan strategi yang tepat, cara mengatasi kecanduan belanja online dapat dilakukan siapa saja tanpa merasa tersiksa.
Dilansir dari Healthline, kecanduan belanja atau compulsive buying disorder adalah dorongan untuk terus mengeluarkan uang tanpa memandang kebutuhan maupun kemampuan finansial. Meski American Psychiatric Association belum mengakuinya sebagai diagnosis resmi tersendiri, banyak ahli menilai perilaku ini memiliki pola adiktif yang nyata dan layak ditangani secara serius.
Cara Mengatasi Kecanduan Belanja Online dengan Membatasi Akses Digital
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3463762/original/027719300_1621847043-WhatsApp_Image_2021-05-24_at_15.29.14.jpeg)
Perbesar
Godaan terbesar justru lahir dari kemudahan akses yang ada di dalam genggaman. Karena itu, cara mengatasi kecanduan belanja online yang pertama berfokus pada memperkecil peluang untuk tergoda, mulai dari aplikasi, media sosial, hingga notifikasi promo.
Elias Aboujaoude, psikiater dari Stanford University, dikutip dari Forbes menyatakan, "Tingkat gangguan belanja kompulsif lebih tinggi pada mereka yang berbelanja secara eksklusif atau utamanya secara online dibandingkan yang berbelanja di toko fisik."
-
Hapus aplikasi belanja dan matikan notifikasi: Aplikasi e-commerce dirancang membuat proses beli hanya sejauh satu ketukan, lengkap dengan pengingat keranjang dan flash sale. Menghapusnya dari ponsel serta mematikan notifikasi promo akan memutus rangsangan yang memancing pembelian spontan. Saat pemberitahuan diskon tidak lagi berkedip, otak memperoleh jeda untuk menimbang apakah sebuah barang memang dibutuhkan.
-
Berhenti mengikuti akun toko dan langganan email promosi: Berhenti mengikuti akun jualan serta kreator yang gemar memamerkan haul membantu menutup keran godaan visual. Berhenti berlangganan newsletter juga mencegah tawaran "terbatas" masuk ke pikiran. Konten diskon yang terus bermunculan dapat memancing rasa takut ketinggalan tren atau FOMO yang berujung pada belanja tidak perlu.
-
Batasi waktu browsing dan hindari belanja larut malam: Semakin lama menatap etalase daring, semakin banyak barang menarik yang terpapar ke mata. Menjelang tidur, kelelahan mental menurunkan kendali diri sehingga keputusan menjadi impulsif. Tetapkan jam khusus untuk membuka aplikasi dan jauhkan ponsel dari jangkauan ketika hendak beristirahat.
-
Persulit proses pembayaran: Hapus data kartu yang tersimpan otomatis agar setiap transaksi menuntut usaha ekstra. Ketika Anda harus mengetik ulang nomor kartu, muncul jeda berharga untuk berpikir ulang. Hambatan kecil semacam ini kerap sudah cukup untuk membatalkan pembelian yang sebetulnya tidak penting.
-
Blokir situs belanja favorit: Manfaatkan fitur parental control, pemblokir situs, atau ekstensi peramban untuk mengunci akses ke toko langganan. Walau Anda tahu cara melewatinya, lapisan penghalang tambahan sering kali sudah ampuh untuk mengurungkan niat berbelanja.
Cara Mengatasi Kecanduan Belanja Online lewat Pengelolaan Keuangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4932095/original/003130400_1724986408-Ilustrasi_belanja_online__belanja__shopping__refund.jpg)
Perbesar
Uang yang terlalu mudah dijangkau membuat rem belanja nyaris tidak berfungsi. Menata ulang kondisi keuangan menjadi cara mengatasi kecanduan belanja online yang langsung menyentuh akar pemborosan.
Sebagaimana dilaporkan U.S. Bank, mengendalikan belanja impulsif bukan semata soal tekad, melainkan soal membangun sistem-sistem kecil yang menyela dorongan sebelum transaksi benar-benar terjadi.
-
Susun skala prioritas kebutuhan dan keinginan: Pisahkan pengeluaran menjadi kebutuhan pokok, kebutuhan sekunder, dan keinginan agar uang mengalir ke pos yang tepat. Dengan pemetaan ini, barang yang berada di luar daftar prioritas otomatis dikenali sebagai keinginan, bukan kebutuhan. Metode populer seperti aturan 50/30/20 untuk mengatur keuangan bisa menjadi kerangka awal yang mudah diikuti.
-
Buat anggaran dan catat setiap pengeluaran: Aplikasi pencatat keuangan membantu melacak ke mana uang pergi dan memberi peringatan saat mendekati batas. Mencatat harga, tanggal, sekaligus alasan membeli memunculkan kesadaran penuh atas pola konsumsi. Kebiasaan menyusun anggaran bulanan yang rapi membuat setiap rupiah lebih terkontrol, apalagi bila dilengkapi tips mengatur keuangan untuk pemula.
-
Terapkan aturan tunda 24 hingga 72 jam: Jangan langsung menekan tombol beli saat menemukan barang yang menarik. Berdasarkan panduan SoFi, menunggu setidaknya 24 jam sebelum membeli barang yang bukan kebutuhan memberi waktu untuk memikirkannya ulang. Setelah jeda itu, banyak orang menyadari bahwa keinginan awalnya ternyata hanya sesaat.
-
Utamakan uang tunai dan hindari paylater: Membayar dengan uang tunai membuat sensasi berpisah dengan uang terasa lebih nyata dibanding sekadar "klik". Sisihkan kartu kredit di rumah agar tidak mudah tergoda saat bepergian. Waspadai pula risiko layanan paylater yang mempermudah belanja konsumtif dan menumpuk utang.
-
Buat rekening khusus dan target menabung: Alokasikan dana belanja dalam rekening terpisah dan jadikan itu satu-satunya sumber untuk berbelanja. Tetapkan target tabungan tiap bulan agar ada sesuatu yang diperjuangkan. Melihat tabungan yang bertumbuh memberi motivasi kuat untuk menahan belanja.
Sebagaimana disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total utang masyarakat melalui layanan Buy Now Pay Later di sektor perbankan menembus Rp 22,78 triliun per Maret 2025, sebuah sinyal bahwa kemudahan bayar belakangan rentan memicu belanja di luar kemampuan. Membiasakan diri dengan sejumlah langkah agar tidak boros akan menjaga arus kas tetap sehat dalam jangka panjang.
Cara Mengatasi Kecanduan Belanja Online dengan Mengelola Emosi dan Pemicu
Belanja berlebihan sering kali hanyalah gejala dari persoalan emosi yang lebih dalam. Maka, cara mengatasi kecanduan belanja online tidak akan tuntas tanpa membenahi pemicu psikologis yang mendasarinya. Mengutip Mental Health America, belanja kompulsif kerap didorong oleh perasaan cemas, depresi, atau harga diri yang rendah.
Dr Saliha Afridi, psikolog klinis di The LightHouse Arabia, dikutip dari Gulf News menyatakan, "Pada pembelanja kompulsif, dopamin dilepaskan di otak setiap kali mereka berbelanja, zat kimia yang sama yang muncul saat kita menikmati makanan penutup."
-
Kenali pemicu emosi sebelum membeli: Perhatikan perasaan yang muncul menjelang belanja, apakah sedang bosan, stres, kesepian, atau kecewa. Dengan mengenali pola ini, Anda bisa menyiapkan respons yang lebih sehat ketimbang lari ke keranjang belanja. Bertanya "apakah aku benar-benar butuh ini?" adalah rem sederhana yang efektif.
-
Ganti belanja dengan kegiatan bermakna: Isi waktu luang dengan aktivitas yang memberi kepuasan tanpa harus mengeluarkan uang, seperti olahraga, memasak, atau berkebun. Menekuni hobi positif yang produktif membantu tubuh memproduksi hormon bahagia secara alami. Sesekali luangkan pula momen me time yang menenangkan sebagai pengganti dorongan belanja.
-
Audit lemari dan terapkan aturan satu masuk, satu keluar: Tinjau barang yang sudah dimiliki agar sadar bahwa banyak di antaranya serupa atau bahkan belum terpakai. Kesadaran ini menurunkan hasrat menambah koleksi baru. Barang menganggur pun bisa disulap jadi karya lewat ide kreasi dari barang bekas ketimbang membeli yang baru.
-
Libatkan orang terdekat sebagai pendukung: Ceritakan masalah dan pemicunya kepada keluarga atau teman yang dapat dipercaya. Meminta seseorang ikut memantau pengeluaran menciptakan rasa tanggung jawab dan mempersulit belanja diam-diam. Dukungan yang penuh empati membuat proses berhenti terasa lebih ringan.
-
Cari bantuan profesional bila diperlukan: Jika dorongan tetap sulit dikendalikan, berkonsultasilah dengan psikolog atau psikiater. Mengacu pada The Recovery Village, penanganan kecanduan belanja mencakup terapi individu, terapi kelompok, teknik manajemen diri, hingga kelompok dukungan. Pendekatan cognitive behavioral therapy (CBT) khususnya membantu memutus siklus pikiran dan perilaku yang memicu belanja.
Susan Albers, psikolog di Cleveland Clinic, dikutip dari Cleveland Clinic menyatakan, "Belanja kompulsif berjalan beriringan dengan emosi dan kesehatan mental. Ini sering menjadi cara mengatasi stres, kecemasan, dan depresi." Alih-alih berbelanja, cobalah cara efektif mengelola stres, terapkan strategi mengatasi stres menurut psikologi, atau isi waktu luang dengan hal bermanfaat.
Tanda dan Penyebab Kecanduan Belanja Online yang Perlu Diwaspadai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3596926/original/084968200_1633709796-e-commerce.jpg)
Perbesar
Mengenali tanda sejak dini membantu seseorang bertindak sebelum keuangan dan hubungan sosial ikut terganggu. Belanja daring yang sehat dilakukan sesuai kebutuhan dengan tenang dan terencana, sedangkan yang bermasalah lahir dari dorongan mendesak yang sukar dikendalikan. Merujuk Choosing Therapy, kasus belanja kompulsif cenderung meningkat dan kerap beririsan dengan gangguan suasana hati, kecemasan, serta kecenderungan menimbun barang.
Pamela Roberts, Manajer Program Adiksi di Priory Hospital Woking, dikutip dari Priory menyatakan, "Orang dengan oniomania merasa benar-benar dikuasai oleh dorongan untuk berbelanja dan menghabiskan uang, baik untuk diri sendiri maupun memberi hadiah berlebihan kepada orang lain."
-
Belanja impulsif: Muncul dorongan kuat untuk langsung membeli begitu melihat suatu barang, tanpa pertimbangan matang dan sering kali tanpa kebutuhan nyata.
-
Euforia sesaat lalu menyesal: Ada rasa senang berlebihan saat berbelanja, tetapi cepat berganti menjadi rasa bersalah, malu, atau kecewa setelahnya.
-
Menyembunyikan kebiasaan belanja: Pembelian disembunyikan dari keluarga atau pasangan untuk menghindari kritik, dan pelaku cenderung memilih belanja sendirian.
-
Menumpuk barang tidak terpakai: Barang menumpuk tanpa pernah digunakan, menandakan belanja dilakukan karena dorongan, bukan kebutuhan. Pola inilah yang menjadi ciri perilaku konsumtif.
-
Sulit berhenti meski sadar dampaknya: Sudah berkali-kali mencoba mengurangi belanja, tetapi selalu kembali ke pola lama, terutama saat menghadapi tekanan.
-
Pelarian dari emosi negatif: Belanja dijadikan mekanisme mengatasi stres, kesepian, atau kekosongan, padahal kelegaan yang didapat hanya bersifat sementara.
-
Tekanan sosial dan gengsi: Tuntutan untuk tampil setara dengan lingkungan mendorong belanja berkelanjutan yang khas pada budaya konsumerisme.
-
Keuangan yang berantakan: Pengeluaran melampaui kemampuan, tabungan sulit terkumpul, dan risiko utang membesar, sejalan dengan berbagai dampak negatif hidup boros.
Aviv Weinstein, profesor di Departemen Ilmu Perilaku Ariel University, dikutip dari NBC News menyatakan, "Pembeli kompulsif biasanya tidak mengecek cara menghemat, dan tidak menikmati pembeliannya. Motivasinya sering untuk meredakan depresi dan kecemasan, bukan kesenangan."
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kecanduan Belanja Online
Apa tanda seseorang kecanduan belanja online?
Tandanya meliputi dorongan membeli yang sulit ditahan, belanja impulsif tanpa pertimbangan, euforia sesaat yang diikuti rasa bersalah, kebiasaan menyembunyikan belanjaan, serta menumpuk barang yang tidak terpakai. Bila belanja mulai mengganggu keuangan dan hubungan sosial, itu adalah sinyal untuk segera mengambil tindakan.
Apakah kecanduan belanja online bisa disembuhkan?
Bisa dikendalikan dengan kombinasi perubahan kebiasaan, penataan keuangan, dan pengelolaan emosi. Untuk kasus yang berat, terapi seperti cognitive behavioral therapy (CBT) bersama profesional kesehatan mental sangat membantu memutus siklus kecanduan dan membenahi akar masalahnya.
Kenapa belanja online membuat ketagihan?
Setiap pembelian memicu pelepasan dopamin di otak yang menimbulkan rasa senang sesaat. Kemudahan akses, promo tanpa henti, dan sistem bayar sekali klik membuat dorongan itu makin mudah terpenuhi sehingga perilaku terus berulang.
Kecanduan belanja online bukan sekadar kebiasaan boros, melainkan persoalan perilaku yang dapat diatasi dengan pendekatan menyeluruh. Mulailah dari langkah kecil yang paling mudah, seperti menghapus satu aplikasi atau menunda satu pembelian, lalu bangun kebiasaan baru secara bertahap sambil belajar meregulasi stres dan menata keuangan rumah tangga secara sehat. Jika dorongan tetap sukar dikendalikan, meminta bantuan orang terdekat maupun tenaga profesional adalah keputusan yang bijak, bukan tanda kelemahan.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

1 hour ago
1
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9308834/original/095917900_1785204820-watermarked_img_15624322765532582258.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9308824/original/035420300_1785204368-baf323f5-3742-4015-8030-6f9bfe433f84.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5909209/original/068322800_1778808152-Anggur.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9308816/original/055848300_1785203474-Kolam_Mini_dari_Galon_Bekas_yang_Dipadukan_Mini_Garden.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9308813/original/048800700_1785203352-Gemini_Generated_Image_evf1axevf1axevf1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9308796/original/066771400_1785202352-ChatGPT_Image_28_Jul_2026__08.29.43.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477918/original/004984000_1768885470-Gemini_Generated_Image_enx31yenx31yenx3.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9308789/original/058816900_1785202018-Kebun_botol_2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9308775/original/011135800_1785201108-8bb1e45a-c729-4dd3-bfc7-16bd811b1fd5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9308777/original/002323800_1785201180-pexels-kawerodriguess-16313512.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9306909/original/030897400_1784919395-ChatGPT_Image_Jul_25__2026__01_43_13_AM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9308794/original/060788800_1785202090-timnas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9308748/original/040741300_1785199557-kuning.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9308723/original/067808700_1785171639-20260727BS_Timnas_Indonesia_vs_Kamboja_07.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9308730/original/007714800_1785176782-IMG-20260728-WA0004.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9308670/original/050994200_1785162011-WhatsApp_Image_2026-07-27_at_21.08.14.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9308652/original/077991900_1785156334-ChatGPT_Image_Jul_27__2026__07_41_54_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9308715/original/025386000_1785170912-20260727BS_Timnas_Indonesia_vs_Kamboja_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9308672/original/058695100_1785162331-WhatsApp_Image_2026-07-27_at_21.22.04.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9308704/original/031218800_1785166605-0L5A5210.JPG.jpeg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496194/original/006665600_1770489949-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541758/original/002826400_1774891756-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541727/original/083908500_1774880359-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541745/original/025257900_1774887438-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-23.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5540311/original/082032500_1774698654-timnas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541713/original/026364000_1774879959-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-03.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541708/original/058501100_1774879682-20260330AA_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520996/original/003480100_1772675440-unnamed__57_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5284895/original/077745100_1752650004-frans.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5451616/original/008026000_1766317691-20251221IQ_Persita_Tangerang_vs_Persik_Kediri-13.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546031/original/069166900_1775269649-Gemini_Generated_Image_2xrq5s2xrq5s2xrq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4738220/original/039321900_1707387131-Snapinsta.app_425427452_18416718079023123_1907590650915415216_n_1080.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541349/original/073673000_1774859926-solomon_kitts.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541714/original/005147800_1774879977-20260330AA_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-7.jpg)
