8 Desain Ruang Tamu Lesehan yang Estetik, Hemat Tempat, dan Bikin Betah

1 hour ago 2

Liputan6.com, Jakarta Harga tanah yang terus menanjak dan tren hunian mungil membuat banyak keluarga Indonesia berpikir ulang soal furnitur besar. Sofa yang memakan tempat perlahan mulai ditinggalkan, digantikan konsep duduk di lantai yang terasa lebih lapang dan akrab. Di titik inilah desain ruang tamu lesehan menemukan momennya, yakni cara menata ruang tamu tanpa sofa yang hemat tempat, hangat, sekaligus estetik.

Konsep ini juga fleksibel untuk gaya hidup masa kini, mulai dari pekerja WFH yang butuh sudut santai multifungsi hingga keluarga yang sering menggelar acara kumpul. Kuncinya sederhana, yaitu karpet nyaman, alas duduk empuk, meja rendah, dan pencahayaan yang pas.

Sebelum masuk ke pilihan gayanya, mari pahami dulu mengapa tren ini begitu diburu, lalu bandingkan delapan model beserta estimasi biayanya agar Anda bisa langsung mempraktikkannya di rumah.

Kenapa Desain Ruang Tamu Lesehan Kian Diburu

Duduk beralas lantai sebenarnya bukan hal baru. Ini adalah tradisi kuno masyarakat Asia yang kini kembali populer sebagai tren desain interior modern, bahkan merambah dunia Barat. Selain menghemat furnitur, penataan rendah membuat pandangan mata tidak terhalang sehingga ruangan kecil pun terasa lebih luas dan lega.

Dilansir dari Coohom, konsep lesehan menghadirkan fleksibilitas, menghemat ruang, dan menciptakan nuansa santai yang cozy, sehingga ideal untuk apartemen kecil maupun ruang serbaguna. Ada pula sisi kesehatan yang jarang dibahas. Duduk di lantai memaksa otot inti bekerja dan menjaga kelenturan sendi pinggul, lutut, serta pergelangan kaki. Bahkan, kemampuan bangkit dari lantai tanpa bantuan tangan kerap dikaitkan dengan indikator kebugaran fungsional dan usia harapan hidup yang lebih panjang.

Dr. Christopher Bise, asisten profesor terapi fisik di University of Pittsburgh, dikutip dari HuffPost, mengatakan, "Dari sisi kesehatan muskuloskeletal, posisi duduk bersila sangat membantu rentang gerak pinggul, punggung bawah, dan lutut." Kombinasi manfaat estetika, efisiensi ruang, dan kesehatan inilah yang membuat gaya lesehan naik daun, terutama pada desain ruang tamu kecil tanpa sofa di rumah sederhana.

1. Desain Ruang Tamu Lesehan Gaya Jepang (Washitsu)

Filosofi dan ciri khas: Gaya ini berakar dari washitsu, ruang tradisional Jepang beralas tatami, yang mengusung kesederhanaan dan keselarasan dengan alam. Cirinya adalah palet warna earth tone (krem, coklat, putih hangat), furnitur rendah yang minim, meja pendek chabudai, serta alas duduk zabuton.

Tata ruang dan material: Cukup untuk sudut berukuran mulai 2x2 meter dengan plafon ideal 2,6-3 meter agar terasa lega. Elemen utamanya berupa tatami atau karpet polos, meja chabudai setinggi 30-35 cm, dan 4-6 zabuton berisi kapuk atau dakron berbalut katun/linen. Alternatif lokal yang hemat adalah tikar mendong atau pandan sebagai pengganti tatami impor.

Kelebihan dan kekurangan: Serat alami tatami membantu mengatur kelembapan ruangan sehingga cocok untuk iklim tropis. Gaya ini juga menenangkan dan hemat furnitur. Kekurangannya, tatami asli mahal dan rentan berjamur di ruangan lembap, serta duduk seiza bisa membuat pemula pegal. Tingkat kesulitan: sedang.

Estimasi biaya: Karpet netral Rp300 ribu-Rp1,5 juta, zabuton Rp75-200 ribu per buah, dan chabudai Rp250 ribu-Rp1,2 juta, sehingga total sekitar Rp1,5-4 juta.

Cocok untuk dan tips: Ideal bagi pencinta ketenangan dan pekerja WFH di apartemen. Umé Studio, dikutip dari Dezeen, menjelaskan, "Ketika lantai tinggi populer pada abad ke-17, zabuton dipakai untuk memberi kenyamanan bagi tempat duduk kaum bangsawan." Jaga sirkulasi udara agar alas alami tidak berjamur, dan tambahkan zaisu (kursi lantai bersandaran) demi kenyamanan punggung. Kesalahan umum adalah memasang alas alami di lantai lembap tanpa lapisan anti-air.

2. Ruang Tamu Lesehan Japandi

Filosofi dan ciri khas: Japandi adalah perpaduan Jepang dan Skandinavia yang menggabungkan filosofi wabi-sabi (keindahan dalam ketidaksempurnaan) dengan lagom (secukupnya). Palet warnanya netral hangat, seperti krem, beige, coklat, dan hijau daun lembut, dipadu material kayu bergaris bersih. Anda bisa menyelami perbedaannya lewat panduan beda model Scandinavian, Japandi, dan Industrial.

Tata ruang dan material: Cocok untuk ruang terbuka mungil mulai 2,5x3 meter. Gunakan karpet wol atau katun bertekstur, meja kayu rendah, floor chair bersandaran, dan satu-dua tanaman. Alternatif lokal: kayu jati, sungkai, atau mahoni serta anyaman rotan. Inspirasinya bisa dilihat pada interior rumah ala Japandi yang mengedepankan estetika dan fungsi.

Kelebihan dan kekurangan: Keunggulannya adalah keseimbangan hangat-minimalis, fleksibel untuk lahan terbatas, dan tahan tren. Kekurangannya, konsep ini menuntut kedisiplinan decluttering dan furnitur kayu berkualitas cenderung mahal. Tingkat kesulitan: sedang.

Estimasi biaya: Total sekitar Rp2,5-6 juta. Untuk menekan biaya, gunakan kayu lokal dan lakukan finishing natural secara mandiri.

Pas bagi kaum urban muda dan keluarga kecil di rumah 5x7 meter. Batasi palet pada 2-3 warna dan biarkan tekstur kayu tampil apa adanya. Kesalahan umum adalah mencampur terlalu banyak warna atau motif sehingga kehilangan kesan tenang.

3. Ruang Tamu Lesehan Minimalis Modern

Filosofi dan ciri khas: Gaya ini menekankan kesederhanaan dan fungsi dengan garis tegas serta satu focal point yang kuat. Warna dominan putih, abu-abu, atau krem membuat ruangan tampak bersih dan lapang.

Tata ruang dan material: Cocok untuk hunian mungil mulai 2x2 meter. Gunakan karpet tebal netral, tambahkan bean bag atau bantal duduk warna kontras seperti biru tua atau hijau emerald sebagai titik fokus, dan lengkapi meja kopi rendah yang minimalis. Model semacam ini banyak diulas pada model ruang tamu lesehan untuk rumah minimalis.

Kelebihan dan kekurangan: Mengacu pada Architectural Digest, desain minimalis mampu menciptakan kesan ruang yang lebih lapang. Selain itu, gaya ini mudah dibersihkan dan fleksibel. Kekurangannya, bisa terasa dingin atau kaku bila kurang tekstur, dan tanpa sandaran punggung. Tingkat kesulitan: mudah.

Estimasi biaya: Sekitar Rp1,5-4 juta, tergantung kualitas karpet dan meja.

Cocok untuk dan tips: Ideal bagi penyewa dan keluarga muda. Heather Goerzen, editor desain di Havenly, dikutip dari Livingetc, menuturkan, "Saya ingin memastikan karpet benar-benar menjangkarkan ruang dan menyatukan semua elemen sehingga membentuk sebuah cerita." Tambahkan satu lukisan besar atau tanaman agar tidak monoton. Kesalahan umum adalah memilih karpet terlalu kecil sehingga area duduk tampak tidak menyatu.

4. Ruang Tamu Lesehan Skandinavia

Filosofi dan ciri khas: Mengusung semangat hygge, gaya Skandinavia tampil terang, fungsional, dan hangat. Cirinya adalah warna putih dan abu muda dengan aksen kayu terang, karpet bulu lembut, serta tekstur kain yang halus.

Tata ruang dan material: Cocok untuk ruang mulai 2,5x3 meter. Gunakan karpet bulu atau wol, bantal duduk bertekstur, meja bundar kecil berkaki kayu, dan maksimalkan cahaya alami. Lantai kayu terang atau vinil motif kayu memperkuat kehangatannya. Referensinya bisa Anda temukan pada ulasan interior gaya Jepang dan Skandinavia.

Kelebihan dan kekurangan: Terasa homey dan terang, cocok untuk ruang kecil, serta nyaman untuk berlama-lama. Kekurangannya, karpet bulu sulit dirawat di area berdebu atau lembap dan palet terang mudah terlihat kotor. Tingkat kesulitan: mudah hingga sedang.

Estimasi biaya: Sekitar Rp2-5 juta.

Cocok untuk dan tips: Pas bagi keluarga muda, terutama di daerah dataran tinggi yang sejuk karena karpet bulu menambah kehangatan. Maksimalkan cahaya alami dengan gorden transparan. Kesalahan umum adalah over-dekorasi yang justru mengaburkan kesan bersih khas Skandinavia.

5. Ruang Tamu Lesehan Bohemian

Filosofi dan ciri khas: Boho tampil bebas, eklektik, penuh warna dan tekstur, dengan pengaruh gaya Maroko atau majlis (susunan duduk lantai bergaya Arab dengan karpet kilim). Warna cerah seperti merah bata, mustard, dan toska berpadu motif etnik, makrame, serta banyak bantal.

Tata ruang dan material: Cocok untuk ruang mulai 3x3 meter. Andalkan karpet motif etnik sebagai focal point, bantal lantai berbagai ukuran, pouf, meja kayu rustic, dan dekorasi gantung. Alternatif lokal: kain tenun dan batik, rotan, serta anyaman pandan. Gaya ini sangat pas untuk ruang TV lesehan saat kumpul keluarga.

Kelebihan dan kekurangan: Hangat dan berkarakter, fleksibel menampung banyak tamu, serta mudah diubah suasananya. Desainer interior Deborah French, dikutip dari Homes & Gardens, menyatakan, "Dengan aneka warna, tekstur, dan motif, bantal lantai bisa menghadirkan kepribadian, kontras, atau keselarasan dalam dekorasi." Kekurangannya, rawan tampak berantakan bila berlebihan dan tekstilnya butuh banyak perawatan. Tingkat kesulitan: sedang.

Estimasi biaya: Sekitar Rp2-5 juta karena banyaknya elemen tekstil.

Cocok untuk dan tips: Ideal bagi pencinta seni dan keluarga besar. Susun bantal secara berjenjang dari besar ke kecil dan batasi palet warna agar tidak norak. Kesalahan umum adalah menumpuk terlalu banyak motif tanpa warna penyeimbang.

6. Ruang Tamu Lesehan Tradisional Nusantara

Filosofi dan ciri khas: Gaya ini mengangkat budaya lokal dengan filosofi membumi. Alasnya tikar pandan atau rotan, bantalnya bermotif batik atau tenun, dan mejanya kayu jati atau bambu.

Tata ruang dan material: Cukup untuk ruang 2x2 meter. Material seperti tikar mendong, bambu, kayu jati, dan kain batik/tenun/songket melimpah dan murah, terutama di pedesaan. Konsep ini sangat cocok untuk ruang tamu rumah kampung yang minimalis maupun hunian tanpa sekat di desa.

Kelebihan dan kekurangan: Paling terjangkau dengan material lokal yang mudah didapat, terasa adem karena serat alami, dan beridentitas kuat. Kekurangannya, tikar alami kurang awet sehingga perlu diganti berkala, dan tampilannya bisa terkesan jadul bila tidak ditata modern. Tingkat kesulitan: mudah.

Estimasi biaya: Paling hemat, sekitar Rp500 ribu-Rp2 juta.

Cocok untuk dan tips: Ideal untuk rumah desa, pensiunan, dan daerah tropis panas karena serat alami membuat ruangan lebih sejuk. Padukan tikar dengan bantal tenun berwarna modern agar tampilan tetap segar. Kesalahan umum adalah memakai tikar tipis yang cepat rusak di area yang sering dipakai.

7. Ruang Tamu Lesehan Industrial

Filosofi dan ciri khas: Industrial tampil tegas, maskulin, dan unfinished. Warna abu-abu, hitam, dan coklat tua berpadu dinding bata atau semen ekspos, besi, serta kayu solid.

Tata ruang dan material: Cocok untuk ruang mulai 3x3 meter. Gunakan lantai semen poles atau karpet nilon senada, meja kayu solid berkaki besi, bantal kulit sintetis atau kanvas tebal, serta pencahayaan spotlight dengan bukaan besar. Karakter tegasnya berbeda jelas jika dibandingkan gaya lain, seperti dibahas dalam ulasan perbedaan tiga gaya modern populer.

Kelebihan dan kekurangan: Tahan lama dan minim perawatan (semen poles), berkarakter kuat, serta hemat biaya finishing karena tampilan ekspos. Kekurangannya, ruangan bisa terasa gelap dan dingin sehingga butuh pencahayaan ekstra, dan lantai semen yang keras wajib dilapisi karpet tebal agar nyaman untuk lesehan. Tingkat kesulitan: sedang.

Estimasi biaya: Sekitar Rp2-5 juta, tergantung meja dan pengerjaan dinding ekspos.

Cocok untuk dan tips: Pas bagi anak muda dan hunian bergaya loft urban. Maksimalkan cahaya alami serta spotlight di plafon, dan jangan lupa karpet tebal di atas semen. Kesalahan umum adalah melupakan alas empuk sehingga aktivitas lesehan justru terasa tidak nyaman.

8. Ruang Tamu Lesehan Platform Multifungsi

Filosofi dan ciri khas: Ini adalah lesehan dengan panggung rendah (raised platform) atau split level yang kerap dilengkapi penyimpanan tersembunyi. Cocok bagi yang ingin tampilan tidak biasa sekaligus fungsional.

Tata ruang dan material: Cocok untuk ruang mulai 2,5x3 meter. Buat platform kayu setinggi 20-40 cm dengan laci atau kompartemen di bawahnya, alasi kasur lantai atau floor cushion, lalu lengkapi meja lipat dan rak dinding. Rangkanya bisa dari kayu atau multipleks.

Kelebihan dan kekurangan: Platform lesehan built-in memaksimalkan ruang dengan penyimpanan tersembunyi sekaligus mendefinisikan zona, dan bisa merangkap tempat tidur tamu. Kekurangannya, butuh jasa tukang sehingga biaya awal lebih tinggi, dan sifatnya permanen sehingga sulit diubah. Tingkat kesulitan: sulit.

Estimasi biaya: Paling tinggi, sekitar Rp3-10 juta untuk pengerjaan custom.

Cocok untuk dan tips: Ideal untuk rumah atau apartemen mungil yang haus penyimpanan. Manfaatkan sudut ruangan atau area di bawah tangga, dan pakai tutup model lift-up agar isi laci mudah diakses. Kesalahan umum adalah membuat platform terlalu tinggi sehingga plafon terasa pendek.

Tabel Perbandingan Desain Ruang Tamu Lesehan

Model Estimasi Biaya Luas Minimum Tingkat Kesulitan Cocok untuk Daerah Rating Estetika
Gaya Jepang (Washitsu) Rp1,5-4 juta 2x2 m Sedang Tropis, ventilasi baik 4,7/5
Japandi Rp2,5-6 juta 2,5x3 m Sedang Perkotaan, lahan terbatas 4,8/5
Minimalis Modern Rp1,5-4 juta 2x2 m Mudah Apartemen, perkotaan 4,5/5
Skandinavia Rp2-5 juta 2,5x3 m Mudah-sedang Dataran tinggi, sejuk 4,6/5
Bohemian Rp2-5 juta 3x3 m Sedang Serbaguna 4,4/5
Tradisional Nusantara Rp500 ribu-2 juta 2x2 m Mudah Pedesaan, tropis panas 4,3/5
Industrial Rp2-5 juta 3x3 m Sedang Urban, hunian loft 4,2/5
Platform Multifungsi Rp3-10 juta 2,5x3 m Sulit Hunian mungil 4,5/5

Untuk membandingkan lebih banyak opsi tata ruang, Anda juga bisa menyimak cara menata ruang tamu kecil tanpa kursi besar serta trik dekorasi murah yang membuat ruang tamu terlihat lebih mahal. Sebagai catatan, Sebagaimana dilaporkan DesignCafe, penataan lesehan sangat mudah dikustomisasi sekaligus menjadi cara terjangkau untuk memperbarui dekorasi rumah.

Merujuk laporan Homelane, penambahan furnitur dudukan rendah bersandaran juga memberi ketinggian yang nyaman bagi anggota keluarga yang tak terbiasa duduk lama di lantai.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Desain Ruang Tamu Lesehan

Apakah duduk lesehan baik untuk kesehatan?

Secara umum, duduk lesehan bisa bermanfaat karena mengaktifkan otot inti dan menjaga kelenturan pinggul, lutut, serta punggung bawah, apalagi jika Anda kerap berganti posisi seperti bersila atau bersimpuh. Namun, bagi penderita masalah sendi atau lansia sebaiknya gunakan alas empuk dan sandaran, serta batasi durasi di awal, lalu tingkatkan bertahap sesuai kenyamanan tubuh.

Berapa biaya membuat ruang tamu lesehan?

Biayanya sangat fleksibel tergantung gaya dan material. Konsep tradisional Nusantara bisa dimulai dari sekitar Rp500 ribu dengan tikar dan bantal lokal, sedangkan gaya Japandi atau Skandinavia umumnya Rp2-6 juta. Jika ingin platform multifungsi dengan penyimpanan tersembunyi, siapkan sekitar Rp3-10 juta karena membutuhkan jasa tukang. Kuncinya, prioritaskan karpet yang nyaman dan alas duduk berkualitas terlebih dahulu.

Bagaimana agar ruang tamu lesehan tidak lembap dan bikin pegal?

Pastikan sirkulasi udara lancar dengan bukaan atau ventilasi yang cukup, jemur karpet dan bantal secara berkala, serta pilih alas dari serat yang mudah kering di iklim tropis. Untuk mengurangi pegal, gunakan karpet tebal berlapis dengan bantal lantai yang empuk, dan tambahkan kursi lantai bersandaran agar punggung tetap tertopang saat duduk lama.

Pada akhirnya, menghadirkan desain ruang tamu lesehan tidak menuntut anggaran besar maupun ruang luas. Mulailah dari sehelai karpet yang nyaman, beberapa bantal lantai, dan sebuah meja rendah, lalu kembangkan gayanya sesuai karakter dan iklim rumah Anda. Bila butuh ide tambahan, telusuri tips menata ruang tamu tanpa sofa, ide dekorasi ruang tamu dengan budget terbatas, inspirasi ruang keluarga lesehan yang hangat, sentuhan segar dari tanaman hias indoor pembersih udara, hingga trik membuat rumah terlihat lebih luas saat acara kumpul.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|