- Apa produk utama Qatula dan bahan dasarnya?
- Bagaimana proses pengembangan produk Qatula?
- Apa keunggulan camilan Qatula dibandingkan yang lain?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Bagi banyak orang, bekatul jagung selama ini selalu identik dengan pakan ternak. Bahan hasil sampingan penggilingan jagung itu kerap dianggap tidak memiliki nilai lebih untuk diolah menjadi makanan. Pandangan itulah yang kemudian coba ditepis oleh pria asal Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Astu Danardana.
Lewat tangan pria 34 tahun itu, hasil bekatul jagung yang selama ini dipandang sebelah mata justru diolah menjadi makanan sehat berbentuk brownies krispi. Ia juga mengemasnya secara rapi dan kekinian, sehingga bisa dipasarkan di berbagai toko oleh-oleh, stasiun, bandara, hingga menggandeng pasar hotel.
Danar merasakan masa-masa tak mudah saat mengenalkan produk buatannya itu. Belum lagi, proses penyempurnaan hingga menjadi produk pangan yang enak, variatif serta lezat seperti sekarang membutuhkan waktu yang panjang.
Diawali dari riset, try and eror, pengetesan rasa berkali-kali hingga pengecekan laboratorium, produknya kemudian bisa diterima pasar dengan baik. Kini, usaha yang dirintisnya mulai terlihat berkembang. Dari produk berbasis bahan yang jarang dilirik, Qatula mampu mencatat omzet puluhan juta rupiah per bulan.
“Pada awal mulanya sekali, brand ini justru lahirnya di Yogyakarta, tahun 2012. Waktu itu, saya kuliah di sana juga, dan sudah melalui proses research and development (R&D) yang sangat panjang,” ucap Danar saat ditemui Liputan6 di Rumah BUMN Solo, Selasa (5/5) lalu.
Terinspirasi Resep Eyang di Probolinggo
Dikisahkan bahwa ide mengolah bekatul jagung sempat berangkat dari cerita keluarga. Sejak kecil, ia mendengar kisah dari eyangnya di Probolinggo, Jawa Timur, yang memanfaatkan bekatul jagung sebagai bahan pangan sehari-hari.
Di kampung, bekatul jagung saat itu biasa digunakan sebagai campuran pengganti nasi dan jenang. Meski sederhana, kebiasaan tersebut membuat Danar melihat bahwa bahan yang kerap dianggap pakan ternak sebenarnya juga aman dikonsumsi manusia.
Mulanya ia ragu, apakah bekatul ini aman sebagai konsumsi. Dirinya berkali-berkali memastikan ke sang eyang bahwa ini bisa dimakan dan menyehatkan. Dari cerita itu kemudian menjadi pijakan awal saat keluarga merintis merek Qatula. Bekatul jagung dipilih sebagai bahan utama untuk menciptakan produk pangan alternatif yang berbeda dari camilan pada umumnya.
“Nah kalau dari cerita eyang, bekatul jagung ini dulunya justru dipakai untuk campuran nasi dan jenang. Dari situ saya yakin bahan ini sebenarnya punya potensi untuk diolah lebih jauh, selain sebagai pakan ternak juga,” kata Danar.
Dibawa ke Solo dan Dirintis Ulang dari Nol
Qatula sebelumnya sempat berjalan di Yogyakarta dan diteruskan keluarga di Malang dengan konsep yang berbeda. Namun pada 2022, dirinya memutuskan membawa kembali merek tersebut ke Solo dan merancang ulang produknya.
Dirinya lantas memilih fokus pada camilan kering karena dinilai lebih efisien untuk pemasaran. Produk kering juga lebih mudah dikirim dan memiliki masa simpan lebih panjang dibanding cake basah yang sebelumnya pernah dijalankan.
Danar kemudian kembali memulai proses riset dari awal. Ia mencoba mencari bentuk produk yang cocok dengan karakter bekatul jagung dan sesuai dengan selera pasar saat ini.
Setahun Bereksperimen hingga Lahir Brownies Krispi Sehat
Mengolah bekatul jagung menjadi makanan siap jual bukan perkara mudah. Dirinya mengaku menghabiskan hampir satu tahun untuk riset dan pengembangan agar bahan tersebut bisa menghasilkan produk yang sehat, aman dikonsumsi, enak dan stabil kualitasnya.
Bekatul jagung yang dipakai pun harus melalui proses pengayakan dan sangrai berulang hingga teksturnya menyerupai tepung halus. Dari satu kilogram bahan mentah, hanya sekitar 30 sampai 40 persen saja yang bisa digunakan.
Perlahan tapi pasti melalui berbagai percobaan, lahirlah brownies krispi yang kini menjadi produk unggulan Qatula. Prosesnya berbeda dengan brownies biasa, karena adonan cake yang sudah matang dipanggang kembali setelah didiamkan semalaman agar teksturnya menjadi renyah.
Segmentasi pasarnya juga jelas, yakni masyarakat yang sedang mencari camilan sehat namun tetap enak. Apalagi, bekatul memang kaya serat dan baik dikonsumsi bagi yang memiliki asam lambung.
“Jadi keunggulan produk kami ini, bahwa camilan itu sebenarnya tidak harus yang asal manis ya, tapi tetap harus sehat dan bermanfaat bagi tubuh. Brownies ini memang konsepnya less gluten. Makannya di belakang kemasannya tertulis lembut di mulut dan nyaman di perut,” terang Danar.
Diungkap Danar, bahwa modal terbesar di awal justru ada di proses riset. Ia mengeluarkan sekitar Rp25 juta untuk percobaan bahan, resep, hingga pengujian daya tahan produk.
Tak Bosan Mengedukasi Pasar
Tantangan terbesar datang saat memperkenalkan produk ke konsumen. Diakuinya bahwa banyak orang ragu ketika mendengar bahan utama produknya berasal dari bekatul jagung.
Stigma sebagai pakan ternak membuat calon pembeli sempat enggan mencoba. Bahkan saat masuk ke toko oleh-oleh, ia harus menjelaskan berulang kali bahwa bekatul jagung telah melalui proses pengolahan aman dan memiliki kandungan serat tinggi.
Untuk meyakinkan pasar, dirinya selalu membawa sampel brownies krispi dan bahan bakunya saat menawarkan produk ke toko maupun pameran. Cara itu kemudian membuat orang tertarik mencicipi dan memahami produknya.
“Kalau saya cuma cerita, orang belum tentu percaya. Makanya saya selalu bawa sampel dan bahan mentahnya sekalian, ini lo jenengan coba dulu, aman, kan? Enak, kan? nah dari sana baru mulai disukai produk brownies ini,” ujarnya.
Untuk saat ini, Qatula memiliki beberapa produk yakni varian krispi seperti brownies, cookies original, cookies keju dan cookies low sugar. Lalu, ada juga produk kue kering seperti putri salju, kue almon, kastengel, cokelat kacang dan lainnya.
“Nah, nanti ini yang paling baru dan akan dilaunching setelah legalitasnya keluar itu ada cake,” kata Danar.
BRI, Pegadaian dan Rumah BUMN Solo Bantu Legalitas Serta Eksistensi Qatula
Perjalanan usaha Qatula semakin terbantu setelah Danar bergabung sebagai peserta BRIncubator 2025 melalui Rumah BUMN Solo. Program tersebut memberinya banyak pendampingan dalam mengembangkan usaha.
Lewat BRIncubator, Qatula kemudian mendapat bantuan pengurusan legalitas usaha, Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, hingga pendampingan branding produk. Ia juga belajar memaksimalkan media sosial dan strategi penjualan.
Baginya, program tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman dengan mentor yang merupakan pelaku usaha. Dari sana, ia mendapat banyak masukan yang lebih sesuai dengan kondisi bisnis yang dijalankannya.
“Rumah BUMN Solo ini kalau menurut saya, jadi semacam tempat curhat sih. Jadi, saya bisa menceritakan kesulitan-kesulitan selama menjalankan usaha, lalu melalui mentor di program BRIncubator itu ada solusinya,” ucap Danar.
Selain itu, Danar juga menyebut program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Pegadaian turut membuat usaha Qatula berkembang. Dari pinjaman sebesar Rp10 juga, Danar menyempurnakan dapur produksinya sehingga semakin modern.
“Alasan pakai KUR Pegadaian ini karena cukup pas untuk usaha saya ini sekarang. Saya coba skema Rp10 juta dan ini saya pakai untuk membeli perlengkapan di dapur. Nah nantinya, ada tambahan lemari baru, meja saji yang baru,” katanya.
Proses pengajuannya pun mudah, karena hanya membutuhkan izin usaha saja sehingga tidak memberatkan. Kemudian, angsuran ringan juga jadi alasannya memilih KUR Pegadaian.
“Secara angsuran juga cukup murah, dari pinjaman saya di angka Rp10 juta, Pegadaian itu hanya ngambil admin sekitar Rp500 ribuan, untuk tiga tahunan. Itu kan, murah ya untuk ukuran kredit dengan dia tiap bulannya tidak ada tambahan apa-apa,” terangnya.
Produk Kini Masuk Hotel, Bandara dan Raup Omzet Puluhan Juta
Saat ini, produk Qatula telah masuk ke sedikitnya 15 toko mitra di Solo dan Yogyakarta. Brownies krispi bekatul jagung juga dipasarkan di Stasiun Solo Balapan, Bandara Adi Soemarmo, hingga Rest Area Tol Salatiga.
Salah satu hotel di Solo bahkan menggandeng Qatula untuk menyediakan camilan dengan kemasan khusus. Produk dibuat oleh Qatula, tetapi dikemas ulang sesuai identitas hotel tersebut. Penjualan rata-rata kini mencapai 100 hingga 300 kemasan per bulan. Pada musim ramai seperti Lebaran dan libur sekolah, angka itu bisa naik hingga 500 kemasan.
Dari usaha tersebut, Danar mencatat omzet sekitar Rp25 juta hingga Rp30 juta per bulan. Saat seluruh varian produk terjual optimal, omzetnya bisa menembus Rp40 juta sampai Rp50 juta. Bagi Danar, bekatul jagung yang dulu dipandang sebelah mata justru bisa membuktikan diri bahwa bahan sederhana ini memiliki nilai ekonomi tinggi jika diolah dengan ide yang tepat.
Qatula Jadi Bukti Proses Tidak Mengkhianati Hasil
Adapun perjuangan Qatula ini bisa jadi bukti bahwa kesuksesan suatu usaha UMKM memang diperlukan pengorbanan yang besar.
Menurut Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rini, owner dari sebuah UMKM memang seharusnya memiliki mental pejuang dalam mengenalkan produknya. Dirinya mengakui tak mudah memasarkan produk makanan dari bekatul jagung ini, mengingat bahan utamanya saat ini lebih dikenal sebagai pakan unggas.
“Kami memilih Qatula menjadi salah satu peserta BRIncubator karena melihat potensi produknya. Cake dan cookies hasil olahan dari bekatul jagung menjadi salah satu kuliner cemilan unik. Bekatul jagung yang biasanya hanya dikenal sebagai pakan ternak, kini naik kelas setelah diubah menjadi camilan sehat. Apalagi, seratnya tinggi, kaya akan vitamin dan anti oksidan,” kata Condro ketika dihubungi Liputan6.com melalui sambungan telepon.
Dirinya menambahkan bahwa tidak mustahil bagi UMKM-UMKM lainnya untuk bisa sukses seperti Qatula ini. Kuncinya hanya ada di keberanian, keyakinan dan kerja keras.
“Keunikan, serta story telling Qatyla inilah yang menarik dan menjadikannya sebagai salah satu UMKM unggulan kami,” tambah Condro.

6 days ago
13
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4420595/original/063665100_1683615104-Ujian_Tulis_Berbasis_Komputer__UTBK__dalam_rangka_Seleksi_Nasional_Berdasarkan_Tes__SNBT_-ARBAS_9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6930928/original/070220800_1779700978-Untitledd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6935907/original/083142600_1779704888-WhatsApp_Image_2026-05-23_at_11.14.33_PM__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6927181/original/003164300_1779697319-sarang_burung_walet.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6922427/original/022281800_1779692938-Gemini_Generated_Image_vg0wp2vg0wp2vg0w.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6300024/original/045699400_1779174537-Gemini_Generated_Image_23vsad23vsad23vs.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6921391/original/077186700_1779691749-1112081227344759272.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6826820/original/016446300_1779615644-nangoma.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461750/original/074970100_1767439018-Mariano_Peralta.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6920981/original/097888900_1779691273-polybag_mangga.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6920153/original/042044100_1779690662-2036510328567788463.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6914552/original/029370200_1779685094-Gemini_Generated_Image_ufh55iufh55iufh5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3562890/original/030557800_1630923116-WhatsApp_Image_2021-09-06_at_17.05.56.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2496577/original/008779500_1543376991-Headline.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6915474/original/039819600_1779686372-Untitlede.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520909/original/063221900_1772664980-kelin.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6915462/original/084695300_1779686112-5072522761433121043.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4573773/original/021416200_1694591354-20230913111830__fpdl.in__quran-being-held-hands-close-up_23-2148444089_normal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6186945/original/061642800_1779067056-1000117860.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6912860/original/032238700_1779683308-cover_roaster.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4897279/original/047157000_1721544216-IMG_20240721_131658.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5482943/original/058250300_1769302357-54cb0e1a-9b5f-43ac-b9d3-4f7a7bd14f4c.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500419/original/020749000_1770864866-Model_Ruang_Tamu_Open_Space.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486588/original/012358000_1769591525-Tips_Mengatasi_Kucing_Garuk_Sofa_Terus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485935/original/098401900_1769570166-kambing.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467303/original/064555300_1767869802-fl.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490835/original/086889800_1770026577-1000761221.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495693/original/051356400_1770394579-WhatsApp_Image_2026-02-06_at_10.19.48_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5207890/original/044419100_1746284199-Ilustrasi_-_Maarten_Paes_copy.jpg)