9 Lomba 17 Agustus di Pesantren Paling Seru, Rayakan Kemerdekaan dengan Nilai Religi

3 weeks ago 15

Liputan6.com, Jakarta Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-80 menjadi momen penting di lingkungan pesantren. Kegiatan lomba disusun tidak hanya untuk menambah semarak kemerdekaan, tetapi juga menguatkan nilai-nilai keislaman. Semangat nasionalisme dan religiusitas dipadukan dalam suasana yang penuh kekompakan dan kebersamaan.

Santri putra dan putri di berbagai pondok pesantren memiliki cara tersendiri dalam merayakan HUT RI. Lomba-lomba yang digelar tetap memperhatikan batasan syariat dan etika santri. Setiap kegiatan dikemas menarik agar tetap seru namun tidak meninggalkan adab.

Kegiatan ini menjadi sarana mempererat ukhuwah antar santri dan menumbuhkan rasa cinta Tanah Air. Nuansa perlombaan juga disesuaikan dengan kultur pesantren yang khas.

Berikut Liputan6.com ulas lengkap tentang rekomendasi ide lomba 17 agustus di pesantren Senin (4/8/2025).

1. Lomba Adzan untuk Santri Putra

Lomba ini menjadi favorit di kalangan santri putra karena dapat menampilkan kemampuan vokal dan hafalan. Setiap peserta diminta mengumandangkan adzan dengan tajwid dan makhraj yang benar. Penilaian meliputi suara, irama, dan kekhusyukan.

Adzan dinilai oleh ustaz yang sudah berpengalaman di bidangnya. Peserta akan tampil satu per satu di depan dewan juri dan teman-temannya. Lomba ini memberi kesempatan untuk melatih kepercayaan diri sekaligus menambah kecintaan terhadap ibadah.

Kelebihan lomba ini adalah nuansa yang khusyuk namun tetap kompetitif. Santri merasa bangga karena dapat tampil dengan suara terbaiknya. Lomba adzan juga bisa menjadi inspirasi agar mereka lebih semangat menjadi muadzin di masjid.

2. Lomba Kaligrafi untuk Santri Putri

Lomba kaligrafi mendorong santri putri mengekspresikan kreativitas dengan sentuhan estetika islami. Peserta diminta menulis ayat pendek Al-Qur'an dengan gaya tulisan indah dan rapi. Media yang digunakan adalah kertas gambar dan alat tulis khusus kaligrafi.

Kaligrafi dinilai berdasarkan keindahan bentuk huruf, kerapian, dan kejelasan tulisan. Waktu pengerjaan dibatasi maksimal 60 menit agar peserta bisa fokus namun tetap efisien. Lomba ini menumbuhkan rasa cinta terhadap ayat-ayat suci.

Santri bisa bekerja sambil merenungkan makna ayat yang ditulis. Aktivitas ini juga melatih kesabaran dan ketelitian. Hasil kaligrafi yang terbaik akan dipajang di aula pesantren sebagai bentuk apresiasi.

3. Lomba Cerdas Cermat Keislaman

Lomba ini cocok untuk santri putra dan putri yang senang belajar dan bersaing secara sehat. Materi pertanyaan meliputi fiqih, sejarah Islam, aqidah, dan kisah nabi. Format lomba menggunakan sistem tim agar mengasah kekompakan.

Tiap tim terdiri dari tiga santri yang mewakili kelompok atau asrama. Babak lomba dibagi menjadi penyisihan dan final agar lebih menarik. Skor diperoleh dari kecepatan dan ketepatan dalam menjawab.

Kelebihan lomba ini adalah mendorong semangat belajar dalam suasana menyenangkan. Santri bisa mengingat kembali pelajaran dengan cara interaktif. Sorak sorai penonton menambah semangat peserta saat menjawab pertanyaan cepat.

4. Lomba Pidato Kemerdekaan Bertema Islami

Lomba pidato memberi ruang bagi santri untuk menyampaikan pandangannya tentang kemerdekaan dalam perspektif agama. Setiap peserta menyiapkan naskah pidato dengan bahasa Indonesia yang baik dan santun. Tema utama adalah nasionalisme dan nilai religius dalam kehidupan santri.

Peserta dinilai dari isi pidato, intonasi suara, penguasaan panggung, dan pesan yang disampaikan. Pidato dilakukan secara bergantian di hadapan teman dan dewan juri. Lomba ini juga menjadi ajang pelatihan public speaking.

Pidato yang inspiratif dapat menggugah semangat teman-teman yang menonton. Lomba ini mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak lepas dari perjuangan dan nilai moral. Pidato terbaik akan ditampilkan ulang saat upacara peringatan HUT RI.

5. Lomba Estafet Sarung untuk Putra

Lomba ini dilakukan secara berkelompok dengan aturan memakai sarung sebagai alat utama. Peserta harus lari sambil menjaga agar sarung tetap terpakai dengan rapi. Tantangan utamanya adalah menjaga kecepatan dan kekompakan tim.

Setiap tim terdiri dari empat santri yang saling bergantian menyelesaikan lintasan. Jalur dibuat sederhana di halaman pesantren dengan batas aman. Keseruan terjadi saat peserta terjatuh atau sarungnya melorot.

Kelebihan lomba ini adalah mengasah kekompakan dan kerja sama antar santri. Suasana lomba penuh tawa namun tetap menjaga batas sopan santun. Ini menjadi lomba fisik yang tetap sesuai dengan nilai-nilai pesantren.

6. Lomba Memasak Nasi Goreng untuk Santri Putri

Lomba ini mengajak santri putri untuk berkreasi dalam hal memasak yang sederhana dan bermanfaat. Setiap kelompok diminta memasak nasi goreng dengan bahan yang disediakan panitia. Penilaian berdasarkan rasa, kebersihan, dan penyajian.

Kegiatan ini dilaksanakan di dapur umum atau area terbuka dengan pengawasan ustazah. Waktu memasak dibatasi maksimal 45 menit agar tidak terlalu lama. Setiap peserta membawa alat masak sendiri agar lebih tertib.

Lomba ini menanamkan nilai kemandirian dan keterampilan hidup. Santri belajar memasak sambil menjalin kekompakan dengan teman kelompoknya. Hasil masakan bisa dinikmati bersama setelah lomba selesai. 

7. Lomba Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ)

Lomba ini diikuti oleh santri dengan kemampuan hafalan Al-Qur’an terbaik di pesantren. Peserta diminta melanjutkan ayat sesuai yang dibacakan dewan juri. Tajwid, hafalan, dan suara menjadi aspek penilaian utama.

MHQ dapat diikuti oleh santri putra dan putri dengan waktu tampil yang terpisah. Dewan juri terdiri dari ustaz yang kompeten di bidang tahfidz. Atmosfer lomba berlangsung khusyuk dan penuh khidmat.

Kelebihan lomba ini adalah mendorong semangat menghafal Al-Qur’an di kalangan santri. Peserta merasa termotivasi untuk menambah hafalan setelah mengikuti lomba. Ini menjadi simbol kemerdekaan spiritual yang bermakna.

8. Lomba Drama Islami

Lomba drama menjadi kegiatan kreatif yang menyatukan seni, dakwah, dan kekompakan tim. Setiap kelompok santri membuat skenario drama bertema perjuangan atau kisah teladan dalam Islam. Durasi pertunjukan dibatasi 10 menit per kelompok.

Kostum dan properti dibuat sederhana namun mencerminkan pesan yang ingin disampaikan. Santri tampil di panggung kecil yang disiapkan di halaman pesantren. Penonton terdiri dari seluruh warga pesantren, termasuk pengasuh.

Lomba ini memberi kesempatan bagi santri menyalurkan bakat akting dalam suasana yang tetap islami. Drama dengan cerita menyentuh sering mendapat apresiasi tinggi dari dewan juri. Kreativitas dan kekompakan menjadi nilai utama.

9. Lomba Tebak Gaya Islami

Lomba ini memadukan hiburan dan edukasi dengan cara menebak gerakan yang berhubungan dengan aktivitas islami. Peserta dalam satu tim harus memperagakan gerakan seperti shalat, wudhu, atau membaca kitab. Anggota tim lainnya menebak dalam waktu tertentu.

Permainan dilakukan secara bergiliran agar semua mendapat giliran tampil. Setiap jawaban benar mendapat poin hingga akhir permainan. Lomba ini cocok untuk santri putra dan putri dengan format terpisah.

Lomba ini menciptakan suasana santai dan menyenangkan tanpa menghilangkan nilai edukatifnya. Santri bisa belajar sambil bermain bersama teman. Ini menjadi cara baru menghafal materi dengan pendekatan menyenangkan.

QnA Seputar Lomba 17 Agustus di Pesantren

1. Apakah semua lomba bisa diikuti santri laki-laki dan perempuan?

 Bisa, tetapi biasanya dipisah sesuai gender dengan jenis lomba yang disesuaikan agar tetap menjaga adab dan tata krama pesantren.

2. Apakah lomba fisik seperti estafet diperbolehkan di lingkungan pesantren? 

Ya, selama lomba dilaksanakan dengan aturan yang jelas dan tetap menjaga batas syar’i serta keamanan peserta.

3. Bagaimana cara menjaga suasana lomba tetap islami dan tidak berlebihan?

 Dengan memilih lomba yang edukatif, tidak menampilkan unsur hiburan berlebihan, dan dilaksanakan dengan bimbingan ustaz atau ustazah.

4. Apa manfaat utama dari lomba di pesantren? 

Manfaat utamanya adalah melatih keterampilan, mempererat ukhuwah, serta menumbuhkan semangat nasionalisme dan religiusitas secara seimbang.

5. Apakah santri baru juga bisa ikut lomba?

 Bisa, asalkan memenuhi persyaratan teknis lomba dan mendapat izin dari pembimbing. Ini juga bisa menjadi sarana adaptasi yang positif.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|