Liputan6.com, Jakarta Mengalami rasa gatal, ruam kemerahan, atau iritasi setelah memakai anting bisa jadi bukan kebetulan biasa, melainkan tanda alergi logam yang umum namun sering diabaikan. Banyak orang berpikir bahwa hanya nikel yang menjadi penyebab, padahal terdapat beberapa jenis logam lain yang kerap memicu reaksi kulit seperti dermatitis kontak. Artikel ini membedah lima jenis logam yang paling sering menyebabkan alergi setelah pemakaian anting, dengan uraian kronologis yang memantik rasa penasaran dan menenangkan bagi pembaca yang bingung dengan kondisi kulitnya.
Mengutip buku Toksikologi Klinik karya Baterun Kunsah (2024), sejumlah logam memiliki kandungan berbahaya seperti timbal, merkuri, dan tembaga. Timbal misalnya, manusia yang keracunan logam itu bisa muncul gejala seperti hilang nafsu makan, sakit kepala, hipertensi, nyeri perut, mengalami halusinasi, sulit tidur, mengalami gangguan fungsi ginjal, dan lain sebagainya.
Tahapan pemaparan terhadap logam ini mulai terjadi sejak kontak awal, berkembang bila paparan berulang terjadi, lalu memunculkan gejala mulai dari ringan hingga berat. Sistem imun tubuh, dalam proses ini, justru membaca ion logam tertentu sebagai ancaman, memicu respons peradangan pada kulit yang disebut dermatitis kontak. Lewat penjelasan langkah demi langkah, pembaca dapat memahami bagaimana proses reaksi ini berlangsung serta logam mana saja yang harus diwaspadai.
Dengan mengetahui ciri khas dari masing-masing logam pemicu alergi, pembaca akan lebih mudah menentukan jenis perhiasan yang aman digunakan. Selain itu, artikel juga menyajikan informasi tentang logam hypoallergenic yang lebih ramah bagi kulit sensitif. Informasi ini disampaikan secara sistematis dan memicu rasa ingin tahu, agar pembaca tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga solusi preventif yang aplikatif.
1. Nikel: Biang Kerok Alergi pada Anting
Nikel adalah logam pemicu alergi yang paling umum di temukan dalam berbagai perhiasan seperti anting, kalung, hingga kancing pakaian karena mudah dicampurkan dengan logam lain untuk memperkuat struktur. Ketika nikel melepaskan ion ke kulit, sistem kekebalan tubuh dapat menganggapnya sebagai zat asing sehingga memicu dermatitis kontak yang tampak sebagai ruam, gatal atau melepuh setelah beberapa jam atau hari pemakaian. Reaksi ini juga dapat muncul secara kumulatif dengan penggunaan anting berulang, sehingga banyak orang baru menyadari alerginya setelah pemakaian jangka panjang yang tak disadari.
Gejala alergi nikel termasuk ruam kemerahan, pembengkakan kecil, kulit kering hingga melepuh, dan rasa gatal intens yang bisa berlangsung hingga berminggu-minggu meski sudah melepas perhiasan. Bagi banyak penderita, gejala muncul tak hanya di telinga tetapi juga area lain yang kontak langsung dengan logam seperti kancing baju, gesper ikat pinggang, atau bingkai kacamata. Meskipun sering dianggap ringan, kondisi ini bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari jika tidak segera diatasi dan dihindari secara total.
Untuk menghindari reaksi alergi ini, penting memilih perhiasan yang bebas nikel atau bertanda hypoallergenic seperti emas murni, titanium, atau perak sterling. Mengecek bahan dasar perhiasan sebelum membeli dan menghindari anting yang berlapis logam campuran sangat disarankan. Selain itu, rutin membersihkan area tindik telinga dan menjaga higienitas anting bisa membantu meminimalkan risiko alergi meski sudah memilih material yang lebih aman.
2. Kobalt: Pemicu Alergi yang Tak Terduga
Kobalt sering ditemukan dalam campuran paduan logam seperti baja tahan karat, alat medis, dan beberapa model perhiasan yang lebih murah sehingga kerap tidak disadari sebagai pemicu alergi. Berbeda dengan nikel, sensitivitas terhadap kobalt bisa lebih lambat muncul dan gejalanya mungkin baru terasa setelah pemakaian dalam beberapa waktu, berupa dermatitis kontak yang tidak kunjung sembuh meski anting dilepas. Seringkali penderita tidak menyadari bahwa penyebab gatal di telinga atau area kulit lain adalah kobalt yang tersembunyi dalam bahan perhiasan.
Gejala alergi kobalt mirip dengan reaksi akibat nikel, termasuk kulit merah, gatal, pembengkakan, dan terkadang lepuhan kecil, namun cenderung lebih persisten dan bisa menyebar ke area sekitar tindikan. Kontak berkali dengan logam campuran yang mengandung kobalt memperburuk sensitivitas kulit dari waktu ke waktu. Bagi sebagian orang, gejala dapat berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan setelah memulai menggunakan perhiasan baru.
Solusi preventif mencakup memilih anting yang menggunakan logam hypoallergenic seperti platinum, titanium atau stainless steel medis yang steril. Penting juga menghindari model anting murah yang tidak jelas komposisinya. Bila gejala muncul meskipun menggunakan logam aman, dianjurkan konsultasi dermatologis untuk tes patch guna memastikan sensitivitas terhadap kobalt secara spesifik.
3. Kromium: Risiko Alergi Tersembunyi dari Kosmetik dan Perhiasan
Kromium adalah logam yang sering dipakai pada pelapis logam industri, kosmetik seperti eyeliner, atau lapisan logam pada perhiasan murah, dan menjadi pemicu alergi kontak yang kerap tak disadari. Ion kromium dapat menempel pada protein di kulit, memicu sistem kekebalan tubuh untuk bereaksi berlebihan sehingga muncul dermatitis kontak yang menandai reaksi alergi setelah pemakaian. Selain iritasi lokal, alergi kromium juga dapat menyebar dan berlangsung lama bila paparan berulang terjadi.
Gejala alergi kromium termasuk warna kulit berubah menjadi merah atau ungu, terasa panas, muncul bercak bersisik atau melepuh kecil, serta gatal yang intens. Meski terbilang lebih jarang dibanding nikel atau kobalt, alergi kromium cenderung bertahan lebih lama dan memerlukan perhatian khusus karena bisa menyebabkan iritasi permanen jika terus terpapar melalui perhiasan atau produk kosmetik yang mengandung logam tersebut.
Menghindari penggunaan kosmetik atau aksesoris yang tidak transparan komposisinya serta memilih produk berlabel hypoallergenic adalah langkah efektif mengurangi risiko. Penggunaan cat kuku bening atau pelapis pelindung pada logam dengan kontak kulit langsung bisa membantu. Untuk penderita alergi kromium, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kulit guna mendapatkan rekomendasi bahan alternatif yang aman.
4. Timbal dan Kadmium: Logam Berbahaya yang Rentan Menyebabkan Iritasi
Timbal dan kadmium bukan hanya logam berat berbahaya bagi kesehatan umum, tapi juga sering ditemukan sebagai campuran dalam perhiasan murah atau anting produksi masal yang tidak memenuhi standar keamanan. Kedua jenis logam ini sangat berisiko menyebabkan dermatitis kontak karena dapat korosi, terlepas ion logam yang akan memicu respon sistem imun secara berlebihan saat bersentuhan dengan kulit. Paparan terhadap timbal atau kadmium meski dalam waktu singkat dapat memunculkan ruam, iritasi hebat, dan risiko infeksi sekunder bila kulit mengalami luka kecil.
Gejala alergi timbal atau kadmium meliputi ruam merah yang intens, rasa terbakar, kadang muncul nanah dan pembengkakan lokal, serta gatal parah yang sulit diredakan. Karena bahaya kesehatan lain dari logam ini, seperti toksisitas sistemik jika tertelan, paparan kronis sebaiknya dihindari sepenuhnya. Alergi mungkin bahkan muncul pada penggunaan satu kali saja jika kualitas logam buruk dan kontak langsung dengan kulit sensitif.
Untuk pencegahan, hindari membeli anting atau aksesori yang tidak berlabel keamanan bahan atau berasal dari penjual tidak terpercaya. Pilihlah produk berstandar hipoalergenik dan bersertifikat, serta selalu periksa bahan komposisi secara seksama. Bila muncul reaksi kulit setelah pemakaian sekali saja, segera bersihkan area kulit, hentikan pemakaian, dan pertimbangkan pemeriksaan medis untuk memastikan tidak terjadi alergi timbal atau kadmium.
5. Logam Lapis: Lapisan Perak atau Emas Putih yang Menyembunyikan Bahaya
Anting yang ditawarkan sebagai emas putih atau berlapis perak sering sebenarnya mengandung campuran nikel, kobalt, atau logam lain yang memicu alergi. Lapisan tipis ini bisa terkikis seiring waktu atau pemakaian, membuat kulit kontak langsung dengan bahan dasar yang lebih rendah kualitasnya. Reaksi alergi dari logam lapis ini sering muncul pada pemakaian rutin, ketika lapisan pelindung aus dan partikel logam menempel ke kulit, memicu ruam, iritasi, dan gatal berkepanjangan.
Gejalanya meliputi munculnya ruam di area tindik, kulit menjadi sensitif, bahkan melepuh ketika lapisan logam rusak dan bagian logam dasar menyentuh kulit secara langsung. Karena sifat lapisan yang tidak permanen, risiko alergi meningkat seiring bertambahnya waktu pemakaian anting tersebut. Banyak pengguna tidak menyadari penyebab alergi karena awalnya tampak aman, namun lapisan pelindung yang tipis cepat tertipiskan oleh keringat dan gesekan.
Langkah terbaik adalah memilih perhiasan dengan bahan logam murni atau sterling silver 925, titanium, atau platinum yang tidak berlapis dan bersifat hipoallergenic. Hindari produk fashion murah yang mengklaim lapisan emas atau perak tanpa menjelaskan campuran logamnya. Konsistensi dalam menjaga kebersihan anting dan melihat tanda-tanda aus pada lapisan dapat membantu mencegah iritasi sebelum terjadi alergi serius.
Pertanyaan dan Jawaban Populer (People Also Ask Google)
1. Mengapa kulit bisa alergi setelah pakai anting logam?
Karena sistem kekebalan tubuh menganggap ion logam seperti nikel, kobalt, atau kromium sebagai zat asing dan menimbulkan dermatitis kontak berupa ruam, gatal, atau melepuh.
2. Logam apa saja yang sering menyebabkan alergi kulit?
Logam yang sering memicu alergi meliputi nikel, kobalt, kromium, timbal, kadmium, serta logam campuran di lapisan perhiasan murah.
3. Bagaimana cara menghindari alergi dari anting?
Pilihlah anting dari logam hypoallergenic seperti emas murni, perak sterling, platinum, titanium, atau stainless steel medis, dan hindari bahan campuran berbahaya.
4. Bolehkah menggunakan salep saat mengalami alergi logam?
Bisa, penggunaan krim kortikosteroid topikal dan antihistamin dapat meredakan ruam dan gatal, namun konsultasi dokter disarankan jika gejala berat.
5. Apakah alergi logam akan berlangsung seumur hidup?
Alergi logam bisa bersifat kronis karena sensitivitas sistem imun terbentuk dari paparan berulang, sehingga gejala dapat muncul berkali-kali jika logam pemicu tetap digunakan.