Cara Mengajarkan Al-Qur'an pada Anak agar Tidak Cepat Bosan dan Malas

6 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Sebagai umat Muslim, mengajarkan ibadah kepada anak merupakan salah satu kewajiban orang tua. Tidak hanya mempelajari salat wajib dan sunnah, anak juga perlu belajar mengaji serta memahami makna dari ayat-ayat yang dibacanya. Namun, mengenalkan hal baru kepada anak tentu memiliki tantangan tersendiri, termasuk saat mengajarkan mereka mengaji.

Bahkan, seharusnya anak dikenalkan pada Al-Qur'an sejak di usia 4 bulan dalam kandungan, sebagaimana disampaikan oleh Widyan Zulda Mahira (25) disapa Dama, Ustaz muda sekaligus Hafiz Al-Qur'an 30 Juz asal Wonosobo, Jawa Tengah. "Sebenarnya pendidikan Al-Qur'an sangat baik dikenalkan sejak anak di usia kandungan, terutama usia 4 bulan dalam kandungan. Mulai banyak diperdengarkan murotal, karena disitu ruh sudah ditiupkan dan indra pendengaran bayi dalam kandungan sudah berfungsi. Sehingga ketika dilahirkan, tinggal membiasakan hal tersebut," ucapnya saat dihubungi Liputan6.com pada Senin (11/5).

Agar kegiatan belajar mengaji terasa lebih menyenangkan dan anak tidak mudah bosan, orang tua perlu menghadirkan metode serta media belajar yang kreatif dan menarik. Yuk, simak panduan supaya anak lebih antusias dan tidak mudah bosan serta malas ketika belajar mengaji.

Bangun Kebiasaan Mendengarkan Al-Qur'an kepada Anak Sejak Usia 4 Bulan di Kandungan

Melanjutkan penjelasan mengenai pengenalan Al-Qur'an kepada anak sejak di usia 4 bulan di kandungan, Dama menyahut, "Hadisnya enggak secara spesifik bilang pendidikan terbaik di usia sekian, namun ada hadis dalam kitab Al Arbain yang mengatakan di usia 4 bulan bayi sudah ditiupkan ruh. Sedangkan itu disandingkan dengan penelitian-penelitian."

Dalam kitab Hadits Arbain no 4 karya Imam an-Nawawi, terdapat sebuah hadis yang menyebutkan empat jenis takdir yang ditulis ketika manusia masih berbentuk janin. Diantaranya menyebutkan bahwa di usia 4 bulan, bayi sudah ditiupkan ruh. Hadis ini diriwayatkan dari Abdurrahman Abdullah bin Mas'ud RA. Dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah menceritakan:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقَهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ المَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

فَوَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Artinya: "Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari berwujud nutfah (mani), kemudian menjadi 'alaqah (gumpalan darah) selama itu juga, kemudian menjadi mudghah (gumpalan daging) selama itu juga. Kemudian diutus seorang malaikat, lalu dia meniupkan roh kepadanya, dan dia (malaikat tadi) diperintahkan menulis 4 kalimat (perkara): tentang rezekinya, amalannya, ajalnya dan (apakah) dia termasuk orang yang sengsara atau bahagia.

Demi Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian, benar-benar beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) sehingga jarak antara dia dengan jannah itu tinggal sehasta. Namun dia didahului oleh al kitab (catatan takdirnya) sehingga dia beramal dengan amalan penduduk neraka, maka dia pun masuk ke dalamnya. Dan sungguh, salah seorang dari kalian beramal dengan amalan penduduk neraka jika jarak antara dia dengan neraka tinggal satu hasta. Namun dia didahului oleh catatan takdir, sehingga dia beramal dengan amalan penduduk jannah, maka dia masuk ke dalamnya." (HR Bukhari dan Muslim)

Hal ini juga diperkuat dengan QS. An-Nahl Ayat 78:

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.

"Surat An-Nahl ayat 78 tentang manusia dilahirkan dalam kondisi tak berilmu tapi diberikan potensi untuk mendapatkan ilmu dengan pendengaran pengelihatan dan hati nurani," jelas Dama.

Ajak Anak Usia 2 Tahun ke Atas untuk Mengaji

Meski saat ini Dama lebih banyak mengajar mengaji para lansia, pada masa SMA di tahun 2018–2020 sebelum kuliah dan terjun di bidang keagamaan, ia justru mengawali pengalamannya dengan mengajar Al-Qur’an di TKA (Taman Kanak-kanak Al-Qur'an).

Menurut Dama, untuk belajar mengaji secara aktif, waktu yang ideal biasanya dimulai ketika anak berusia 2 tahun ke atas. Pada usia ini, anak-anak mulai menunjukkan minat terhadap huruf dan suara baru. Mereka berada di fase perkembangan untuk mempelajari sesuatu yang baru, termasuk mengenali huruf hijaiyah dan pelafalan sederhana.

"Idealnya iya usia segitu. Tapi Islam mengajarkan tadi, sejak di dalam kandungan sudah dimulai. Bahkan sampai ketika dilahirkan juga dilanjutkan dengan cara mendengarkan murrotal, orang tua harus konsisten setiap hari," ujar laki-laki lulusan S-1 Agama Murni dan S-2 Pendidikan Agama Islam di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tersebut.

Selain itu, masa usia 0 hingga 5 tahun sering disebut sebagai "Golden Period" atau periode emas perkembangan anak. Di fase ini, otak anak tumbuh sangat pesat—bahkan mencapai 90% ukuran otak dewasa. Ibarat membangun sebuah istana, masa ini adalah waktu meletakkan fondasi terkuat, yang akan menentukan kecerdasan, kemampuan motorik, bahasa, hingga keterampilan sosial-emosional si kecil di masa depan. Karena itu, membiasakan anak belajar Al-Qur’an sejak dini dapat menjadi langkah yang baik untuk mendukung tumbuh kembangnya.

"Iya. Di usia 0-2 tahun biasanya lebih mencerna dengan penglihatan dan perasaan. Di usia 2 tahun ke atas mulai bisa mencerna dengan kebiasaan lama yang dilakukan 2 tahun sebelumnya seperti didengarkan murottal dan lain-lain," pungkasnya.

Pasang Strategi Berbeda dan Bumbui Sedikit Motivasi

Terakhir, Dama memaparkan cara mengajarkan Al-Qur'an pada anak agar tidak cepat bosan dan malas serta dampak jangka panjang jika anak sejak kecil sudah dekat dengan Al-Qur’an.

"Kalo pada anak tentu strategi berbeda ya. Untuk anak biasanya diberi sedikit motivasi yang sifatnya materi atau hal lain yang dapat memantik semangatnya untuk menghafal. Contoh, kalo sudah hafal surat ini atau surat itu, nanti bisa diajak jalan jalan kemana dan lain sebagainya. Karena memang dunianya anak anak itu perlu diberi sesuatu yang bisa dipikir secara logika, yaitu contohnya diberikan dunia. Nanti lama kelamaan mereka akan berpikir lebih jauh sehingga niat menghafal tidak hanya sekedar duniawi," kata Dama.

Tak hanya mengaji, pendekatan yang mudah dipahami dan diterima secara logis juga dinilai lebih efektif untuk anak. Karena itu, strategi ini dapat diterapkan oleh para orang tua dalam mendampingi proses belajar si kecil.

"Bahkan yg pernah disampaikan, orang tua punya peran sangat penting sebagai support system terbaik. Sehingga hendaknya orang tua memberikan supportnya menggunakan strateginya masing-masing. Karena disitu mereka (orang tua) yang lebih memahami anak anak mereka," tambahnya.

Membiasakan anak mencintai Al-Qur’an adalah investasi iman terbesar. Rasulullah Saw bersabda dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Sejak dini, anak diajarkan mendengar, menghafal, dan mentadaburi Al-Qur’an. Tradisi tadarus keluarga setelah salat Subuh atau Maghrib memperkuat ikatan spiritual dan membentuk kebiasaan mulia.

Menutup proses wawancara, Dama berkata, "Orang tua itu justru madrasah pertama bagi anak-anak. Jika hanya mengandalkan orang luar untuk mendidik sepertinya kurang balance. Karena lingkungan terbesar dalam adaptasi ada di rumah. Oleh karena itu, orang tua harusnya bisa saling sinergi untuk mendidik putra putrinya dalam belajar Al-Qur'an."

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

1. Kapan sebaiknya anak mulai dikenalkan dengan Al-Qur’an?

Anak sebaiknya mulai dikenalkan dengan Al-Qur’an sejak masih dalam kandungan, terutama usia 4 bulan, dengan cara memperdengarkan murottal secara rutin. Setelah lahir, kebiasaan tersebut dilanjutkan agar anak terbiasa mendengar bacaan Al-Qur’an sejak dini.

2. Mengapa usia 0–5 tahun disebut masa emas dalam belajar Al-Qur’an?

Karena pada usia tersebut perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat. Anak lebih mudah menyerap kebiasaan, suara, dan bahasa, sehingga menjadi waktu yang baik untuk mengenalkan huruf hijaiyah, bacaan Al-Qur’an, dan nilai-nilai Islam.

3. Pada usia berapa anak ideal mulai belajar mengaji secara aktif?

Menurut narasumber, anak ideal mulai belajar mengaji secara aktif pada usia 2 tahun ke atas. Di usia ini anak mulai tertarik mengenal huruf, suara baru, dan mampu mengikuti kebiasaan yang telah dibangun sebelumnya.

4. Bagaimana cara agar anak tidak bosan saat belajar mengaji?

Orang tua dapat menggunakan metode kreatif dan menyenangkan, seperti memberi motivasi, hadiah sederhana, pujian, atau mengajak anak jalan-jalan setelah mencapai target hafalan tertentu. Pendekatan yang santai dan sesuai dunia anak membuat mereka lebih semangat belajar.

5. Apa peran orang tua dalam pendidikan Al-Qur’an anak?

Orang tua adalah madrasah pertama bagi anak dan memiliki peran penting sebagai support system utama. Orang tua perlu konsisten mendampingi, memberi contoh, membangun kebiasaan membaca Al-Qur’an di rumah, serta menciptakan lingkungan yang mendukung anak mencintai Al-Qur’an sejak kecil.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|