Exco PSSI Bantah Narasi Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Main di Super League agar Gampang Dipanggil ke Piala AFF 2026

9 hours ago 5

Bola.com, Jakarta - Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, membantah narasi yang beredar di media sosial tentang pemain naturalisasi Timnas Indonesia yang memutuskan untuk berkarier di BRI Super League 2025/2026.

Isu yang berembus adalah alasan pemain naturalisasi Timnas Indonesia memilih untuk bermain di BRI Super League supaya bisa dipanggil untuk Piala AFF 2026.

Total sembilan pemain naturalisasi Timnas Indonesia mengambil langkah untuk berkancah di BRI Super League, baik sejak awal musim dan pertengahan musim ini.

Kesembilan pemain itu ialah Jordi Amat, Shayne Pattynama, dan Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta, Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Dion Markx ke Persib Bandung, Ivar Jenner dan Rafael Struick ke Dewa United, Jens Raven ke Bali United.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Teori Konspirasi

Arya menganggap tuduhan itu sebagai "teori konspirasi" dan mengatakan bahwa PSSI tidak punya wewenang untuk mencampuri masa depan pemain naturalisasi Timnas Indonesia.

"Ya ini, kita ini terlalu banyak teori konspirasi ya. Jadi saya harap teman-teman wartawan juga mencerdaskan," ujar Arya di GBK Arena, Jakarta Pusat, pada Senin (9/2/2026).

"Yang memberikan isu juga maunya mencerdaskan, karena namanya pemain, transfer, itu menyangkut uang. Yang bayar pemain siapa? Apakah PSSI atau klub?".

"Kalau klub, berarti urusannya apa nih? Urusan uang. Tawar-menawar. Yang bayar klub. PSSI tidak ada ikut-ikutan dibayar situ. Bayar-bayar tidak ada urusan PSSI," jelas Arya.

Piala AFF 2026 Bukan Agenda FIFA

Timnas Indonesia bakal berkiprah di Piala AFF 2026 pada 24 Juli-26 Agustus 2026, namun tidak masuk kalender FIFA sehingga susah untuk menyertakan pemain di luar negeri terutama Eropa.

"Jadi lucu kalau dibilang bahwa skenario PSSI untuk Piala AFF. Memang pemain mau dibayar murah? Pemain pasti punya tawaran segini. Klub punya uang tidak? Kalau tidak cocok, ya tidak jadi. Kalau cocok bayarannya, ya jadi," tutur Arya.

"PSSI tidak ada ikutan chip-in. Dari mana uang PSSI untuk chip-in pemain, dan itu di dunia tidak terjadi seperti itu. Tidak ada yang namanya federasi ikutan chip-in di klub, tidak ada lah. Mana ada. Mana, tidak pernah terjadi seperti itu."

"Jadi mungkin pengamatnya itu berada dari luar semesta, alam semesta. Tidak ada, di dunia tidak ada yang seperti itu. Jadi pakai logika sederhana, itu uang antar uang. Yang bayar klub," ucap Arya.

Menyangkut soal Uang

Arya melihat bahwa fenomena pemain naturalisasi Timnas Indonesia yang memutuskan untuk berkarier di BRI Super League cenderung menyangkut perkara finansial.

"Kalau klubnya tidak mau bayar, memang PSSI bisa nyuruh klubnya? 'Hei klub, lu bayar ya?' Ya tidak mau lah. Klubnya akan bilang, 'Lho PSSI ngasih apa ke gua?'. Pemainnya bilang, 'Eh pemain, lu turunin ya harga lu, supaya klubnya ngambil'. Mana mau pemainnya. Kalau tidak cocok harga tidak akan mau, itu sederhana banget," tutur Arya.

"Jadi itu mekanisme pasar saja dan mereka, kita kan tidak bisa, seperti yang saya katakan, kecuali PSSI menggaji mereka. Kan tidak ada gaji PSSI terhadap pemain. Jadi sudahlah, teori-teori konspirasi silakan, tapi tolong yang cerdas."

"Jangan tidak cerdas. Kalau tidak cerdas, nanti malu juga pengamatnya. Cari yang cerdas gitu lho. Malu lho. Di mana logikanya gitu. Ya, jadi pengamat tuh harus cerdas juga, jangan tidak cerdas. Kasihan nanti dihitung orang logikanya," terangnya.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|