Pemain Asing Madura United Berbagi Tips agar Tetap Bugar saat Ramadan: Protein dan Tidur Jadi Kunci

11 hours ago 5

Bola.com, Jakarta - Gelandang Madura United, Kerim Palic, punya tips khusus dalam menjalani ibadah puasa selama Ramadan tahun ini. Bagi Palic, ini merupakan tahun keduanya merasakan Ramadan di Indonesia.

Sebagai pesepak bola profesional tentu ada tuntutan yang harus tetap dipenuhi selama Ramadan. Ia harus berlatih dan bertanding dan itu pasti menguras stamina.Walau begitu, pemain berusia 29 tahun itu tak merasa kelelahan menuntaskan semua kewajiban tersebut. Ia punya beberapa cara untuk tetap bugar.

"Ramadan adalah bulan spesial untukku. Spiritual di atas segalanya. Sebagai pesepak bola profesional saya bersiap dengan menyesuaikan nutrisi yang saya konsumsi" buka pemain asal Bosnia-Herzegovina tersebut.

"Tidak ada menu spesifik. Tetapi saat sahur saya meningkatkan asupan protein dan fokus ke kualitas tidur," imbuh Kerim.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Ramadan Bukan Hanya Tidak Makan dan Minum

Kerim Palic mengakui bila bermain di Indonesia adalah berkah bagi pemain asing yang beragama Muslim seperti dirinya.

Tidak seperti kebanyakan negara lain yang tetap bermain di sore hari. Khusus selama Ramadan, operator kompetisi memindahkan jam tanding hingga selepas salat tarawih, yakni pukul 20.30.

Perubahan jam tanding itu pada akhirnya mengubah program latihan setiap tim. Madura United mengubah jadwal latihan menjelang atau setelah berbuka puasa.

"Tentu saja perbedaan utamanya adalah level energi karena di bulan biasa kita bisa makan dan minum. Selama Ramadan, waktunya dibatasi. Tetapi Ramadan bukan tentang tidak makan dan minum, itu lebih-lebih dari itu," ungkapnya.

Perbedaan Kultur dan Tradisi

Kerim Palic menilai tidak ada perbedaan signifikan dalam menjalani Ramadan di Indonesia dengan kampung halamannya. Sebagai informasi, mayoritas penduduk Bosnia-Herezegovina beragama Islam.

Walau begitu Ramadan di Indonesia bisa dikatakan jauh lebih bersahabat untuknya. Walau secara waktu hampir mirip, cuaca di sini jauh lebih hangat.

"Sejujurnya, perbedaan antara Ramadan di Indonesia dan Bosnia adalah kultur dan tradisi. Tetapi semangat menjalani Ramadan bisa dibilang sama," tutupnya.

Simak Persaingan Musim Ini:

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|