7 Ciri-ciri Telur Ayam Mati dalam Proses Penetasan, Wajib Diketahui Peternak

10 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Mengenali ciri-ciri telur ayam mati bisa menjadi langkah preventif bagi peternak untuk mencegah kerugian yang lebih besar. Proses penetasan telur ayam adalah momen yang dinantikan setiap peternak. Namun, tidak semua telur yang masuk ke dalam inkubator akan berhasil menetas menjadi anak ayam yang sehat. Dalam dunia penetasan, kita mengenal tiga jenis telur, yaitu fertil (subur dan berpotensi menetas) dan infertil (tidak dibuahi). Yang paling sering menjadi penyebab kegagalan adalah telur quitters, yakni telur yang awalnya fertil tetapi embrio di dalamnya mati sebelum menetas.

Mengenali ciri-ciri telur ayam mati sejak dini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga sebuah keharusan. Telur yang mati dan membusuk di dalam inkubator dapat meledak, mengeluarkan bau busuk yang menyengat, dan menjadi sumber kontaminasi bakteri serta jamur yang mematikan bagi telur-telur sehat di sekitarnya. Kontaminasi ini bisa menurunkan daya tetas (hatchability) secara signifikan.

Dengan mengidentifikasi dan mengeluarkan telur non-viabel secara tepat waktu, Anda mengoptimalkan penggunaan ruang inkubator, menjaga kebersihan lingkungan penetasan, dan pada akhirnya, meningkatkan persentase keberhasilan penetasan. Artikel ini akan memandu Anda untuk mengenali ciri-ciri telur ayam mati dengan tepat melalui metode yang teruji. Jadi simak ciri-ciri selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (6/2/2026).

1. Hasil Candling Bening atau Hanya Bayangan Samar

Candling atau peneropongan adalah metode standar untuk memantau perkembangan embrio. Pada telur fertil yang sehat, setelah hari ke-7 Anda akan melihat jaringan pembuluh darah yang rumit menyerupai sarang laba-laba dan bayangan gelap dari embrio yang sedang berkembang. 

Ciri-ciri telur ayam mati yang paling awal adalah ketika diteropong, telur tampak bening atau hanya menunjukkan bayangan samar tanpa struktur pembuluh darah yang jelas. Ini menandakan bahwa tidak ada kehidupan yang dimulai atau embrio mati pada tahap yang sangat awal. Jika pada pemeriksaan candling pertama (hari ke-7) Anda menemukan kondisi ini, besar kemungkinan telur tersebut infertil atau embrio sudah mati.

2. Munculnya Cincin Darah (Blood Ring)

Ini adalah ciri klasik dan paling mudah dikenali untuk kematian embrio pada fase sangat dini. Cincin darah terlihat sebagai lingkaran atau cincin berwarna merah gelap di dalam telur saat diteropong. Fenomena ini terjadi ketika embrio yang baru terbentuk mati, biasanya antara hari ke-2 hingga ke-5 inkubasi, dan pembuluh darah halusnya terlepas lalu membentuk pola melingkar di sekitar kuning telur.

Jika Anda melihat ciri-ciri telur ayam mati berupa blood ring saat candling, segera keluarkan telur tersebut dari inkubator karena sudah pasti tidak akan berkembang.

3. Tidak Ada Jaringan Pembuluh Darah yang Berkembang

Pada telur hidup yang sehat, jaringan vaskular (pembuluh darah) akan berkembang pesat dan terlihat jelas saat candling, terutama dari bagian tengah telur menjalar ke segala arah. Salah satu ciri-ciri telur ayam mati yang krusial adalah ketiadaan total jaringan pembuluh darah ini, atau jaringan yang terlihat sudah berhenti berkembang dan tampak putus-putus.

Jika pembuluh darah tidak ada atau berhenti tumbuh, embrio dipastikan mati. Sebab, perkembangan vaskular adalah tanda kehidupan, ketiadaannya adalah tanda yang jelas bahwa proses inkubasi telah gagal.

4. Embrio Gelap dan Tidak Bergerak

Pada fase inkubasi lanjut (setelah hari ke-10), embrio yang sehat akan memenuhi sebagian besar rongga telur dan terlihat sebagai bayangan gelap yang bergerak-gerak. Anda bahkan bisa melihat denyutan atau perubahan posisi.

Sebaliknya, ciri-ciri telur ayam mati adalah embrio tampak sebagai massa gelap yang statis, sama sekali tidak menunjukkan pergerakan meskipun telur digoyang dengan sangat lembut. Pada tahap ini, embrio telah mati dan mulai mengalami pembusukan.

5. Bau Busuk Menyengat

Ini adalah tanda yang tidak bisa disangkal dan biasanya muncul pada tahap pembusukan lanjut. Telur yang membusuk akan mengeluarkan bau sulfur atau bau busuk yang sangat khas dan menyengat. Bau ini disebabkan oleh aktivitas bakteri anaerob yang mengurai isi telur dan menghasilkan gas seperti hidrogen sulfida.

Jika Anda mencium bau tidak sedap dari inkubator, segera lakukan inspeksi menyeluruh. Ciri-ciri telur ayam mati ini memerlukan tindakan cepat karena telur tersebut berpotensi meledak dan sangat mencemari.

6. Telur Mengapung Saat Tes Air

Metode sederhana dan tradisional untuk mengecek kondisi telur adalah uji apung. Caranya, sediakan baskom berisi air bersih suhu ruang, lalu masukkan telur dengan hati-hati. Telur segar atau telur dengan embrio hidup akan tenggelam karena massa jenisnya lebih besar.

Sebaliknya, salah satu ciri-ciri telur ayam mati adalah telur tersebut mengapung, baik sebagian maupun seluruhnya. Hal ini terjadi karena proses pembusukan di dalam telur menghasilkan gas yang terperangkap, sehingga mengurangi massa jenis telur. Perlu diingat, tes ini kurang akurat untuk deteksi dini dan sebaiknya dikonfirmasi dengan candling.

7. Tidak Menetas Sampai Hari ke-21

Masa inkubasi standar telur ayam adalah 21 hari. Jika pada hari ke-21 atau bahkan lebih, sebuah telur tidak menunjukkan tanda-tanda akan menetas, seperti suara pipping atau retak pada kerabang, dan telur-telur lainnya sudah menetas, ini adalah indikasi akhir. Telur tersebut kemungkinan besar mengandung embrio yang telah mati di perjalanan.

Saat dibuka, Anda mungkin akan menemukan embrio yang telah terbentuk sebagian atau hampir sempurna, namun sudah mati dan mungkin sudah membusuk. Kegagalan menetas hingga akhir masa inkubasi sering disebabkan oleh faktor seperti suhu/kelembaban yang fluktuatif, kekurangan oksigen, atau infeksi.

Cara Mendeteksi Telur Mati, Metode Praktis untuk Peternak

Mengenali ciri-ciri telur ayam mati harus didukung dengan metode deteksi yang tepat. Berikut adalah beberapa teknik praktis yang bisa Anda terapkan:

  1. Candling (Peneropongan): Metode paling penting dan akurat. Lakukan pada hari ke-7 untuk deteksi dini telur infertil dan kematian embrio awal (blood ring), dan ulangi pada hari ke-14 untuk memastikan perkembangan berjalan normal. Gunakan alat candling khusus atau senter yang cukup terang di ruangan gelap.
  2. Tes Apung: Seperti yang telah dijelaskan, metode sederhana ini berguna sebagai pemeriksaan tambahan, terutama jika Anda mencurigai adanya pembusukan. Telur yang mengapung harus segera dicandling untuk konfirmasi.
  3. Observasi Visual & Bau: Rutin periksa kondisi fisik telur. Perubahan warna kerabang menjadi keruh, munculnya bercak kehijauan atau kecoklatan, serta munculnya bau tidak sedap adalah alarm untuk segera bertindak.
  4. Pemantauan Perkembangan: Buat catatan perkembangan. Embrio sehat akan menunjukkan perkembangan yang konsisten dari minggu ke minggu. Ketidakadaan perkembangan dari satu candling ke candling berikutnya adalah tanda bahaya.

Dengan menggabungkan metode-metode di atas secara rutin, Anda dapat dengan sigap mengidentifikasi dan mengisolasi telur yang bermasalah, sehingga melindungi telur-telur sehat lainnya dan memaksimalkan peluang keberhasilan penetasan.

FAQ

Q1: Kapan waktu terbaik untuk mengecek ciri-ciri telur ayam mati?

A: Waktu optimal adalah pada hari ke-7 dan hari ke-14 masa inkubasi. Candling di hari ke-7 efektif mendeteksi telur infertil dan kematian dini (blood ring). Candling di hari ke-14 untuk memastikan perkembangan embrio berjalan normal sebelum masuk fase kritis penetasan. Sumber dari UMG Repository dan video "bakal peternak" menganjurkan jadwal ini.

Q2: Apa perbedaan telur infertil dan telur mati (quitters)?

A: Telur infertil tidak pernah dibuahi sejak awal, sehingga tidak ada embrio sama sekali. Saat dicandling, tampak bening tanpa struktur apapun. Telur mati atau "quitters" adalah telur yang awalnya fertil (dibuahi) dan mulai berkembang, tetapi embrio mati di tengah jalan. Ciri-cirinya bisa berupa blood ring (mati dini), tidak adanya perkembangan vaskular lebih lanjut, atau embrio gelap yang tidak bergerak (mati lanjut).

Q3: Apakah telur yang mengapung di air pasti mati?

A: Kemungkinan besar iya. Prinsipnya, telur yang mengapung disebabkan oleh akumulasi gas hasil pembusukan di dalamnya, yang mengindikasikan kematian embrio dan proses dekomposisi. Namun, untuk diagnosis yang lebih akurat dan mengetahui stadium kematiannya, konfirmasi dengan metode candling sangat dianjurkan.

Q4: Bagaimana cara membedakan embrio hidup dan mati saat candling?

A: Embrio hidup akan menunjukkan: jaringan pembuluh darah yang jelas dan aktif, adanya denyutan (terutama di area dada), serta pergerakan saat telur digoyang perlahan atau diteropong beberapa saat. Embrio mati akan statis: mungkin terlihat bening, ada blood ring, tidak ada pembuluh darah utuh, atau berupa massa gelap tanpa gerakan sama sekali.

Q5: Apa yang harus dilakukan dengan telur yang sudah dipastikan mati?

A: Segera keluarkan dari inkubator untuk mencegah risiko kontaminasi dan ledakan. Jangan membukanya di dalam atau dekat area penetasan/inkubator karena bau busuknya sangat kuat dan mengandung bakteri. Buang telur tersebut dengan cara dikubur atau dibuang di tempat yang jauh dari kandang dan area peternakan.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|