Cerita Doni Zola alias Donzol, Kini Lebih Nyaman Jadi Komentator ketimbang Pelatih Futsal

6 hours ago 2

Bola.com, Jakarta - Di jagat futsal Indonesia, Doni Zola merupakan nama yang familiar. Ia tak hanya dikenal sebagai pelatih bertangan dingin, tapi juga komentator futsal.

Tapi tak banyak yang tahu, Donzol, begitu ia biasa disapa, bukanlah mantan pemain futsal profesional apalagi mantan pemain timnas.

Ia mengawali karier sebagai pelatih futsal almamater SMA-nya, kemudian naik level jadi juru taktik sejumlah klub futsal di Jakarta.

Anak Tanah Abang, Jakarta Pusat, ini berteman baik dengan legenda-legenda futsal Indonesia, dua di antaranya adalah Vennard Hutabarat dan Justinus Lhaksana. Dari keduanya, Donzol mengaku banyak belajar.

Di tengah kebangkitan futsal Indonesia saat ini, sosok Donzol menarik untuk disimak. Sedikit banyak ia telah mewarnai perjalanan kebangkitan futsal di tanah air.

Suporter Timnas Futsal Iran tampil lantang meski berjumlah sedikit di Indonesia Arena saat semifinal Piala Asia Futsal 2026. Dukungan mereka berlanjut jelang final melawan Indonesia yang didukung ribuan suporter tuan rumah.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Nyaman Jadi Komentator

Lewat kanal YouTube Dens.TV, Donzol bicara panjang lebar awal kariernya, termasuk ketika ia gagal jadi pesepakbola dan banting setir ke futsal.

"Saya mungkin bisa dibilang sport trainer. Baru lagi tuh. Tapi enggak, saya mungkin, kalau kita bicara futsal, ya dari semua lapisan saya sudah merasakan. As a coach, as a player mungkin bukan liga pro ya, bukan pemain timnas juga," kata Donzol.

"Tapi memang di era saya saat itu bisa dibilang saya memilih jalan langsung sebagai pelatih saja. Supaya lebih awal saya menekuni pelatih dan saya ada setidaknya di level ataslah pada saat semuanya berkembang," imbuhnya.

Menurut Donzol, ia kini merasa lebih nyaman jadi komentator ketimbang kembali jadi pelatih.

"Kayak sekarang kan sudah berkembang, saya sudah santai saja. Jadi komentator gitu kan. Kalau misalnya pelatih bisa kalah di delapan besar, semifinal. Kalau komentator sampai final terus. Aman," katanya sambil tertawa renyah.

"Tapi memang enggak semua pelatih bisa ngomong di depan kamera. Cara bicara memang di depan kamera tuh, ya kita bedalah di depan pemain, depan kamera itu ada sesuatu yang emang pressure-nya beda. Menurut saya sih gitu," tambahnya. 

Sempat Ikuti Seleksi di ASIOP dan Lulus

Awalnya, masih kata Donzol, ia lebih memilih sepak bola. Ia bahkan sempat mengikuti seleksi di ASIOP dan lulus.

"Sebenarnya, saya awalnya sepak bola pasti. Karena tahun saya main bola tuh, tahun 1994, ya saya di SMP saya main sepak bola. Terus ada seleksi di ASIOP tahun 1997. Nah, saya masuk tuh. Itu seleksinya masih di Menteng. Jadi enggak yang di Senayan, bukan yang anak-anak orang kaya gitu kan," tuturnya.

"Nah, waktu seleksi ada 1200 yang kepilih cuma 300, saya kepilih. Cuma memang sayangnya sekolah saya tuh, SMA Negeri 35 itu sekolahnya yang sifatnya akademis banget." 

"Jadi saya cuma dua bulan di situ. Akhirnya saya, ya udah deh saya mikirin pendidikan yang saya pikir bagus ternyata enggak juga," ujarnya menambahkan.

Berawal dari Piala AFC

Jatuh cinta kepada futsal berawal ketika ia menonton pertandingan futsal Piala AFC di Istora Senayan.

"Terus sudah, dari situ ya saya normal-lah gitu, sekolah terus kuliah. Sampai akhirnya 2002, saya nonton pertandingan timnas futsal, Indonsia jadi tuan rumah Piala AFC di Istora Senayan. Lawan Iran, Jepang, segala macam. Kita dibantailah saat itu," tuturnya.

"Tapi pemainnya juga masih pemain sepak bola saat itu. Ada almarhum Listianto Raharjo, ada Vennard Hutabarat, ada Francis Wewengkang, ada Chairil Anwar, ada Yeyen Tumena juga," lanjutnya. 

Usai menyaksikan Piala AFC tersebut, Donzol bulat dengan pilihannya. Ia merasa cocok di futsal.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|