Liputan6.com, Jakarta - Setiap 11 September, HUT RRI diperingati sebagai Hari Radio Nasional. Momen ini bukan sekadar ulang tahun sebuah stasiun radio, melainkan jejak panjang bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan lewat gelombang udara. Dari ruang kecil di Jakarta, radio menjadi alat perjuangan yang menyatukan suara rakyat melawan penjajahan sejak masa kolonial hingga revolusi kemerdekaan.
Sebelum RRI berdiri, gelombang radio di Nusantara sudah dikuasai kepentingan asing. Perusahaan Belanda memancarkan siaran demi keuntungan dagang, sementara penduduk pribumi nyaris tidak punya ruang bicara lewat udara. Situasi berubah ketika Jepang datang, lalu berbalik lagi saat kemerdekaan diproklamasikan pada Agustus 1945, membuka jalan bagi lahirnya radio milik bangsa sendiri.
Dalam rangka memperingati HUT RRI ke 81, artikel ini akan membahas sejarah radio perjuangan di Indonesia serta berdirinya RRI yang dilansir dari berbagai sumber, Rabu (9/9/2026). Berikut adalah ulasan selengkapnya.
Masuknya Radio Masa Hindia Belanda
Menurut laman resmi RRI, siaran radio pertama di Indonesia lahir lewat Bataviase Radio Vereniging atau BRV. Stasiun ini mengudara di Hotel des Indes, Batavia, pada 16 Juni 1925. Kehadiran BRV menandai awal era penyiaran di tanah Hindia Belanda, jauh sebelum kemerdekaan menjadi kata yang bisa diucapkan lantang oleh rakyat pribumi.
Setelah BRV berdiri, sejumlah badan siaran lain bermunculan, salah satunya Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij atau NIROM. Menurut artikel I Luh Gede Neliawati, dkk. yang diterbitkan di Jurnal Nirwasita mencatat NIROM tumbuh paling besar karena mendapat dana penuh dari pemerintah Hindia Belanda dan pemasukan pajak radio. Modal itu membuat NIROM leluasa memperluas jangkauan siaran, sementara badan radio lain harus berjuang sendiri mencari sumber daya.
Dominasi asing itu mendorong munculnya siaran radio dari bangsa sendiri. Laman resmi RRI mencatat Solosche Radio Vereniging atau SRV berdiri pada 1 April 1933 di Solo, digagas oleh Mangkunegoro VII bersama insinyur Sarsito Mangunkusumo. SRV menjadi pelopor siaran radio pribumi, membuka jalan bagi berdirinya stasiun serupa seperti MAVRO, CIRVO, dan VORL di berbagai kota.
Semangat mendirikan radio pribumi terus menyebar ke berbagai kota lewat organisasi Persatuan Perkumpulan Radio Ketimuran atau PPRK. Jurnal Nirwasita menyebut PPRK berdiri pada 29 Maret 1937 untuk mengembangkan aspek sosial budaya lewat siaran. Dua bulan kemudian, PPRK bahkan bekerja sama dengan NIROM dalam urusan teknis, menandai era radio Hindia Belanda mulai memasuki babak yang lebih kompleks.
Datangnya Jepang dan Pendirian Hoso Kanri Kyoku
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344101/original/068420000_1788933397-NL-HaNA_2.24.14.02_0_255-8408-groot__1_.jpg)
Perbesar
Situasi berubah drastis ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942. Mengutip dari RRI, Jepang kemudian mengambil alih stasiun radio milik Belanda dan membekukan jawatan radio swasta yang sebelumnya menjamur. Seluruh siaran kemudian disatukan dalam satu komando bernama Hoso Kanri Kyoku, memutus kebebasan yang sempat dinikmati badan-badan radio pribumi sejak era kolonial Belanda.
Pusat Hoso Kanri Kyoku berkedudukan di Jakarta dengan cabang bernama Hoso Kyoku di Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang. Seperti yang disampaikan oleh sumber yang sama, siaran radio pada masa itu difungsikan sebagai sarana mengampanyekan propaganda Jepang kepada masyarakat Indonesia, jauh dari semangat kemerdekaan yang sebelumnya coba dibangun lewat SRV dan PPRK.
Siaran Hoso Kyoku akhirnya berhenti pada 19 Agustus 1945 setelah Jepang kalah dari Sekutu menyusul bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Penghentian ini menjadi cikal bakal lahirnya radio milik bangsa Indonesia sendiri, sebab rakyat yang baru merdeka justru buta informasi di tengah kabar simpang siur kedatangan tentara Sekutu.
Kemerdekaan dan Berdirinya RRI
Sehari setelah proklamasi 17 Agustus 1945, para mantan pengelola radio era Jepang menyadari pentingnya alat komunikasi bagi pemerintah baru. Diskominfo Kaltim mencatat delapan delegasi eks Hoso Kyoku, yakni Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto, dan Maladi, mengadakan pertemuan bersama pemerintah di Jakarta pada 11 September 1945.
Pertemuan itu menghasilkan keputusan penting. Abdulrahman Saleh terpilih sebagai pemimpin umum pertama radio milik bangsa yang kelak diberi nama Radio Republik Indonesia. Keputusan ini lahir dari rapat utusan enam radio di rumah Adang Kadarusman, sebuah langkah kecil yang kemudian menjadi tonggak besar sejarah penyiaran Indonesia hingga hari ini.
Selain memilih pemimpin, rapat itu juga melahirkan ikrar yang dikenal sebagai Tri Prasetya RRI. Kustiawan dikutip dari Jurnal Nirwasita, mencatat isi ikrar itu mencakup tiga hal:
1. Menjamin Segala Alat siaran Radio
2. Mengemudikan Siaran RRI Sebagai Alat Perjuangan dan Alat Revolusi
3. Berdiri di Segala Aliran Keyakinan Partai atau Golongan
RRI resmi dipersembahkan kepada Presiden dan pemerintah sebagai alat komunikasi dengan rakyat. Mengutip dari laman resmi Museum Benteng Vredeburg, radio perjuangan seperti RRI berperan besar menggalang semangat rakyat dan mengoordinasikan gerakan perlawanan, termasuk saat Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta melawan pasukan Sekutu yang masih ingin menguasai kembali wilayah Indonesia pascakemerdekaan.
Pertanyaan Seputar HUT RRI dan Sejarah Radio Perjuangan
Kapan HUT RRI diperingati?
HUT RRI diperingati setiap 11 September, bersamaan dengan Hari Radio Nasional, sesuai tanggal resmi berdirinya RRI pada 1945.
Siapa pendiri RRI?
Dr. Abdulrahman Saleh terpilih sebagai pemimpin umum pertama RRI lewat rapat delegasi eks radio Hoso Kyoku pada 11 September 1945.
Apa itu Tri Prasetya RRI?
Tri Prasetya RRI adalah ikrar penyiaran yang memuat tiga poin: menjamin alat siaran radio, menjadikan RRI alat perjuangan dan revolusi, serta berdiri netral di atas semua aliran partai atau golongan.
Kapan radio pertama masuk ke Indonesia?
Radio pertama di Indonesia adalah Bataviase Radio Vereniging atau BRV, yang mengudara di Batavia pada 16 Juni 1925.
Apa arti slogan RRI "Sekali di Udara, Tetap di Udara"?
Slogan ini bermakna RRI mulai mengudara sejak awal kemerdekaan dan berkomitmen terus mengudara tanpa henti melayani masyarakat Indonesia.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

3 hours ago
4
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7827192/original/059396700_1780646740-pepaya_ok.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/935366/original/093229200_1437707966-diet-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9321737/original/060703300_1786501343-Kereta_Api_Pandanwangi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3235202/original/094020600_1599811327-11_September_2020-3_ok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9315076/original/040729300_1785826533-3b030088-5842-4dd0-8a23-147b3dca5029.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335018/original/094825600_1787908281-01M13P51EGF6JFZB8NDY3HYZ56.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460715/original/071076300_1767273436-kereta.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543189/original/087971600_1775018379-kecil_tanpa_lemari_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9343977/original/059390500_1788929315-bc74e11a-e771-4436-89e3-edaa9067688a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/9296539/original/006351500_1784017022-Ilustrasi_Kopi__Minum_Kopi_oleh_Aditya_Eka_Prawira__3_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9298770/original/077637300_1784181491-c825071d-5ecf-4e01-a44e-cd86cf353e44.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9343959/original/048572900_1788928435-ChatGPT_Image_9_Sep_2026__11.32.55.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9343934/original/045195500_1788926281-2148488493.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9339268/original/070752600_1788409221-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5552768/original/070287300_1775827619-Ubi_Jalar__Ipomoea_batatas_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9343842/original/082207300_1788921866-Moussa_Sidibe.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337067/original/070468400_1788231218-89c47730-5e05-456b-8e5e-a5619dd4b941.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337107/original/073405200_1788232529-7815d958-b800-4269-9861-793a1fa9181c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9329587/original/026849100_1787285439-aPwbq9h34ODkljE7Fceks4CnJlNsSbwzr7GioCcb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310232/original/060540000_1785310828-600a9f69-4cd8-4820-8d81-ef52afa03ffd.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336541/original/057810300_1788165256-2150700358.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5744932/original/052272700_1778643448-11fb065e-6d5a-4a8e-af8c-935083fae6f1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9325772/original/012824000_1786935429-WhatsApp_Image_2026-08-17_at_09.51.49__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336339/original/036670800_1788155727-11bf7afb-d0ee-47d2-a46c-72a1c9954b40.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336360/original/068351100_1788156938-Gemini_Generated_Image_vgh6gmvgh6gmvgh6__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336388/original/070866500_1788159552-051f86cb-0545-4991-a7f1-c5730be5aaaf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4242270/original/090051000_1669625532-043199800_1645433192-kevin-wolf-LgZfYaH6OAU-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336595/original/083266200_1788167124-f7575cef-c1ce-4105-bb37-74f1cfe3b27c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335997/original/062436600_1788086219-persib.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495753/original/010090000_1770427969-persib_vs_malut-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336566/original/005951400_1788166224-pexels-anntarazevich-5629138.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6202765/original/030351500_1779081726-Screenshot_2026-05-18_122019.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5193002/original/077128400_1745210638-Dean_Zandbergen_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337890/original/028721700_1788261978-edfxzx.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326731/original/044655800_1787034649-01M09H5EZC0CJF22ZHH9BPEA9C.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4922986/original/030767500_1724131220-WhatsApp_Image_2024-08-19_at_11.21.08_af746275.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263241/original/026820600_1781870752-Budidaya_Azolla_sebagai_Pakan_Alternatif.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335142/original/082058400_1787912714-ASDFGHGFDDFCDX.jpg)