Liputan6.com, Jakarta - Kulit pisang biasanya langsung berakhir di tempat sampah setelah buahnya dimakan. Padahal, sisa dapur ini masih mengandung sejumlah unsur yang bisa dikembalikan ke tanah. Karena alasan tersebut, memanfaatkan kulit pisang untuk tanaman kerap dianggap sebagai trik berkebun sederhana sekaligus cara mengurangi limbah organik dari rumah.
Meski demikian, trik menambah nutrisi tanaman dengan kulit pisang tidak sesederhana meletakkan kulit segar di sekitar batang lalu membiarkannya membusuk. Cara pengolahan ikut menentukan seberapa efektif bahan organik tersebut dapat dimanfaatkan, sekaligus membantu menghindari masalah seperti bau, hama, atau bahan yang terlalu lama terurai di dalam tanah.
Apakah Kulit Pisang Benar-benar Bisa Menambah Nutrisi Tanaman?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333026/original/057694900_1787728427-D.jpg)
Perbesar
Kulit pisang mengandung sejumlah unsur mineral, termasuk kalium dan fosfor, yang berhubungan dengan berbagai proses pertumbuhan tanaman. Mengutip dari Southern Living, kandungan tersebut memang membuat kulit pisang berpotensi dimanfaatkan di kebun, tetapi penggunaannya tidak dapat menggantikan kebutuhan nutrisi tanaman secara lengkap.
Salah satu alasannya, kulit pisang bukanlah pupuk lengkap yang menyediakan unsur hara dalam komposisi sesuai kebutuhan setiap tanaman. Kulit pisang juga relatif rendah nitrogen, sedangkan nitrogen termasuk nutrisi penting yang dibutuhkan tanaman untuk mendukung pertumbuhan vegetatif seperti daun dan batang. Karena itu, mengandalkan kulit pisang sebagai satu-satunya sumber pupuk justru berisiko membuat pasokan unsur hara tidak seimbang.
Hal serupa berlaku untuk bahan organik lainnya. Kompos dapat menyumbangkan berbagai unsur makro maupun mikro, tetapi kadar nutrisinya sangat bervariasi tergantung bahan yang digunakan. Itulah sebabnya pemupukan sebaiknya mempertimbangkan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman, bukan hanya mengikuti asumsi bahwa semakin banyak bahan organik berarti semakin baik.
Hindari Mengubur Kulit Pisang Utuh Langsung di Dekat Tanaman
Salah satu trik yang sering beredar adalah mengubur kulit pisang segar di bawah tanaman dengan harapan unsur haranya segera dilepaskan ke tanah. Cara tersebut terlihat praktis, tetapi kulit pisang membutuhkan waktu untuk terurai sehingga tanaman tidak serta-merta mendapatkan nutrisi yang terkandung di dalamnya.
Bahan organik perlu diuraikan oleh mikroorganisme sebelum sebagian nutrisinya tersedia dalam bentuk yang dapat digunakan tanaman. Ketika potongan kulit masih berukuran besar, proses tersebut dapat berlangsung lebih lambat. Kulit yang membusuk juga berpotensi menarik hewan pengerat atau serangga tertentu, terutama jika dibiarkan dekat permukaan tanah.
Karena itu, jangan menganggap mengubur beberapa lembar kulit pisang sebagai pengganti pupuk. Jika memang ingin memasukkan kulit pisang ke dalam tanah, akan lebih baik mengolahnya terlebih dahulu menjadi kompos atau setidaknya memperkecil ukurannya dan memasukkannya ke sistem pengomposan sehingga proses penguraian berlangsung dalam kondisi yang lebih terkendali.
1. Masukkan Kulit Pisang ke dalam Kompos
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5520166/original/062228900_1772607988-Gemini_Generated_Image_i07oyli07oyli07o.jpeg)
Perbesar
Cara yang paling masuk akal untuk memanfaatkan kulit pisang adalah mencampurkannya dengan bahan kompos lain. Kondisi lembap, hangat, dan memiliki sirkulasi udara di tumpukan kompos membantu mikroorganisme memecah bahan organik sebelum akhirnya diaplikasikan ke tanaman.
Potong kulit pisang menjadi beberapa bagian kecil terlebih dahulu agar permukaannya semakin luas dan lebih mudah diurai. Karena kulit pisang merupakan material basah atau sering disebut bahan hijau dalam pengomposan, campurkan dengan bahan yang lebih kering dan kaya karbon seperti daun kering, sobekan kardus tanpa lapisan plastik, atau bahan cokelat lainnya.
Tumpukan kompos juga perlu memperoleh udara dan kelembapan yang cukup. Pengomposan bergantung pada aktivitas mikroorganisme yang membutuhkan kondisi lingkungan sesuai untuk memecah sisa tanaman. Setelah bahan benar-benar menjadi kompos matang, hasilnya dapat digunakan sebagai pembenah tanah yang membantu memperbaiki struktur, kemampuan tanah menahan air, serta kapasitas tanah menyimpan nutrisi.
2. Potong Kulit Pisang agar Lebih Mudah Terurai
Tidak mempunyai tempat khusus untuk membuat kompos dalam jumlah besar bukan berarti kulit pisang harus dibuang begitu saja. Salah satu langkah sederhana adalah selalu memperkecil ukuran kulit sebelum memasukkannya ke wadah kompos rumah atau komposter kecil.
Potongan yang lebih kecil memberikan permukaan lebih luas bagi mikroorganisme untuk bekerja. Cara ini bukan membuat kandungan nutrisi kulit pisang bertambah, tetapi dapat membantu mempercepat proses penguraian dibandingkan membiarkan kulit tetap utuh dan tebal.
Usahakan tidak menumpuk kulit pisang dalam jumlah besar pada satu titik. Campurkan dengan beragam sisa tanaman dan bahan kering sehingga kompos memiliki komposisi bahan yang lebih beragam. Penggunaan berbagai sumber bahan organik juga lebih masuk akal dibandingkan terus-menerus bergantung pada satu bahan yang kandungan haranya belum tentu sesuai dengan kebutuhan tanah.
3. Membuat Air Rendaman Kulit Pisang, tetapi Jangan Mengandalkannya sebagai Pupuk Utama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5520168/original/073863700_1772607989-Gemini_Generated_Image_rigw46rigw46rigw.jpeg)
Perbesar
Air rendaman atau banana peel tea menjadi salah satu metode yang cukup populer karena pembuatannya sederhana. Kulit pisang dapat dipotong, direndam dalam air selama sekitar 24–48 jam, kemudian potongannya disaring dan airnya digunakan untuk menyiram tanaman.
Namun, metode ini sebaiknya ditempatkan sebagai tambahan dalam perawatan tanaman, bukan sebagai pengganti pupuk lengkap. Bukti mengenai seberapa banyak nutrisi yang berpindah dari kulit pisang ke dalam air dan seberapa efektif cairan tersebut memenuhi kebutuhan tanaman masih terbatas. Karena itu, sulit menentukan dosis nutrisinya secara presisi hanya berdasarkan jumlah kulit atau lama perendaman.
Jika ingin mencoba trik ini, gunakan dalam jumlah wajar dan tetap perhatikan respons tanaman. Hindari membuat klaim bahwa air kulit pisang pasti dapat menggantikan pupuk NPK atau pupuk lengkap lainnya karena kebutuhan nutrisi setiap tanaman dan kondisi tanah berbeda-beda.
4. Keringkan Kulit Pisang dan Jadikan Bubuk
Pilihan lain adalah mengeringkan kulit pisang kemudian menggilingnya menjadi potongan sangat halus atau bubuk. Kulit dapat dijemur hingga benar-benar kering atau dikeringkan menggunakan metode lain yang sesuai, kemudian dihancurkan sebelum dicampurkan ke media tanam.
Bentuk bubuk membuat kulit pisang lebih mudah dicampurkan ke tanah dibandingkan potongan segar yang besar. Bahan tersebut tetap membutuhkan proses penguraian sebelum seluruh nutrisi dapat dimanfaatkan tanaman, sehingga efeknya tidak dapat disamakan dengan pupuk yang nutrisinya tersedia dengan cepat.
Gunakan dalam jumlah terbatas dan anggap sebagai salah satu bahan organik tambahan. Penambahan bahan secara berlebihan tidak otomatis membuat tanaman tumbuh lebih subur. Bahkan kompos yang sudah matang sekalipun dapat menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi ketika diaplikasikan terus-menerus dalam jumlah terlalu banyak.
5. Gunakan Kompos Kulit Pisang untuk Tanaman Berbunga dan Berbuah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5745516/original/022727100_1778644290-unnamed__14_.jpg)
Perbesar
Karena kulit pisang mengandung kalium, bahan ini sering dikaitkan dengan tanaman berbunga dan tanaman penghasil buah. Kalium merupakan salah satu unsur hara utama tanaman, tetapi kebutuhan sebenarnya tetap tergantung jenis tanaman serta ketersediaan nutrisi yang telah ada di dalam tanah.
Alih-alih memasukkan kulit pisang mentah langsung ke pot bunga, lebih baik gunakan kompos matang yang di dalamnya terdapat kulit pisang bersama berbagai bahan organik lainnya. Pendekatan tersebut membantu mengembalikan nutrisi sekaligus menambah bahan organik ke tanah.
Jangan pula berasumsi bahwa tanaman yang sedang berbunga selalu membutuhkan tambahan kalium. Jika tanah sudah memiliki kandungan kalium mencukupi, pemberian bahan kaya kalium secara terus-menerus tidak diperlukan. Tanaman membutuhkan keseimbangan nutrisi, bukan sebanyak mungkin satu unsur tertentu.
6. Kombinasikan dengan Sumber Nutrisi Lain
Kesalahan yang cukup mudah terjadi ketika mencoba pupuk rumahan adalah terlalu fokus pada satu bahan. Kulit pisang kemudian diberikan berkali-kali karena dianggap sebagai pupuk alami yang aman digunakan sebanyak apa pun. Padahal, bahan organik mempunyai komposisi unsur yang berbeda dan belum tentu cocok dengan kebutuhan tanaman saat itu.
Sumber pupuk sebaiknya dipilih berdasarkan nutrisi yang memang dibutuhkan. Pupuk organik dan pupuk dengan formulasi tertentu memiliki karakter berbeda, termasuk kecepatan pelepasan nutrisinya. Bahan organik umumnya harus melalui aktivitas mikroorganisme lebih dahulu sebelum sebagian unsur yang terkandung di dalamnya tersedia bagi tanaman.
Kulit pisang karena itu lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan nutrisi yang lebih luas. Kompos, pupuk yang sesuai kebutuhan tanaman, penyiraman tepat, kondisi cahaya, media tanam, dan kesehatan akar tetap sama pentingnya dalam menentukan pertumbuhan.
7. Perhatikan Kondisi Tanah Sebelum Terlalu Sering Memberikan Bahan Organik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340115/original/091473600_1788486985-35ffa963-9f9f-4734-a2b6-9bffe773154f.jpg)
Perbesar
Jika tanaman terlihat kurang subur, penyebabnya belum tentu kekurangan pupuk. Masalah dapat berasal dari pH tanah, drainase buruk, penyiraman berlebihan, kekurangan cahaya, gangguan akar, atau ketidakseimbangan unsur tertentu. Menambahkan kulit pisang tanpa mengetahui masalahnya bisa saja tidak memberikan perubahan berarti.
Tes tanah menjadi cara yang lebih akurat untuk mengetahui unsur apa yang tersedia dan apa yang masih dibutuhkan. Informasi tersebut membantu menentukan sumber nutrisi yang tepat sekaligus mengurangi risiko memberikan unsur yang sebenarnya sudah berlebihan.
Penggunaan kompos secara berlebihan juga bukan tanpa risiko. Tanah yang terus mendapat terlalu banyak kompos dapat mengalami peningkatan unsur tertentu, termasuk fosfor, kalium, atau garam, tergantung bahan asal kompos tersebut. Karena itulah pendekatan “semakin banyak semakin bagus” tidak tepat untuk pemupukan organik maupun sintetis.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari Saat Memakai Kulit Pisang
Memanfaatkan limbah dapur memang menarik, tetapi ada beberapa kebiasaan yang justru dapat mengurangi manfaat kulit pisang atau menimbulkan masalah baru. Beberapa kesalahan berikut sebaiknya dihindari:
- Meletakkan kulit pisang utuh di permukaan tanah. Kulit membutuhkan waktu untuk membusuk dan dapat menarik hama sebelum selesai terurai.
- Mengubur banyak kulit di sekitar akar. Penumpukan bahan segar di satu tempat bukan cara yang efisien untuk memberikan nutrisi.
- Menganggap air rendaman kulit pisang sebagai pupuk lengkap. Kandungan nutrisinya tidak dapat dianggap setara dengan produk pupuk yang memiliki komposisi terukur.
- Memberikan kulit pisang terus-menerus tanpa melihat kebutuhan tanaman. Penambahan unsur yang sebenarnya sudah cukup tidak selalu memberikan manfaat.
- Mengabaikan sumber nitrogen. Kulit pisang bukan sumber nutrisi lengkap dan tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan tanaman.
- Menggunakan kompos yang belum matang. Kompos sebaiknya telah mengalami proses penguraian dengan baik sebelum diberikan ke kebun.
Dengan menghindari cara-cara tersebut, pemanfaatan kulit pisang dapat difokuskan pada tujuan yang lebih realistis, yakni mengurangi sampah organik sambil mengembalikan sebagian unsur yang masih terkandung di dalamnya ke sistem tanah.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Trik Menambah Nutrisi Tanaman
1. Apakah kulit pisang boleh langsung ditanam di dalam pot?
Bisa terurai di dalam tanah, tetapi cara tersebut kurang ideal karena prosesnya lambat dan berpotensi menarik hama. Mengomposkannya terlebih dahulu lebih disarankan.
2. Berapa lama kulit pisang sebaiknya direndam untuk tanaman?
Untuk membuat air rendaman kulit pisang, salah satu metode yang digunakan adalah merendam potongan kulit sekitar 24–48 jam sebelum menyaring cairannya.
3. Apakah air kulit pisang bisa menggantikan pupuk?
Tidak. Kulit pisang tidak menyediakan seluruh unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga air rendamannya sebaiknya hanya dianggap sebagai tambahan.
4. Tanaman apa yang bisa mendapat manfaat dari kulit pisang?
Kulit pisang sering dimanfaatkan untuk tanaman berbunga atau berbuah karena mengandung kalium. Namun, penggunaannya tetap harus menyesuaikan kebutuhan nutrisi tanah dan tanaman.
5. Mana yang lebih baik, kulit pisang segar atau kulit pisang yang sudah dikomposkan?
Kulit pisang yang telah melalui proses pengomposan lebih praktis digunakan sebagai pembenah tanah karena bahan organiknya sudah mengalami proses penguraian terlebih dahulu.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

4 hours ago
4
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7827192/original/059396700_1780646740-pepaya_ok.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/935366/original/093229200_1437707966-diet-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9321737/original/060703300_1786501343-Kereta_Api_Pandanwangi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9344100/original/037951000_1788933397-Studio_RRI_Bukittinggi__1950_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3235202/original/094020600_1599811327-11_September_2020-3_ok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9315076/original/040729300_1785826533-3b030088-5842-4dd0-8a23-147b3dca5029.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335018/original/094825600_1787908281-01M13P51EGF6JFZB8NDY3HYZ56.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460715/original/071076300_1767273436-kereta.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543189/original/087971600_1775018379-kecil_tanpa_lemari_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/9296539/original/006351500_1784017022-Ilustrasi_Kopi__Minum_Kopi_oleh_Aditya_Eka_Prawira__3_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9298770/original/077637300_1784181491-c825071d-5ecf-4e01-a44e-cd86cf353e44.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9343959/original/048572900_1788928435-ChatGPT_Image_9_Sep_2026__11.32.55.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9343934/original/045195500_1788926281-2148488493.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9339268/original/070752600_1788409221-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5552768/original/070287300_1775827619-Ubi_Jalar__Ipomoea_batatas_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9343842/original/082207300_1788921866-Moussa_Sidibe.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337067/original/070468400_1788231218-89c47730-5e05-456b-8e5e-a5619dd4b941.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337107/original/073405200_1788232529-7815d958-b800-4269-9861-793a1fa9181c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9329587/original/026849100_1787285439-aPwbq9h34ODkljE7Fceks4CnJlNsSbwzr7GioCcb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310232/original/060540000_1785310828-600a9f69-4cd8-4820-8d81-ef52afa03ffd.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336541/original/057810300_1788165256-2150700358.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5744932/original/052272700_1778643448-11fb065e-6d5a-4a8e-af8c-935083fae6f1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9325772/original/012824000_1786935429-WhatsApp_Image_2026-08-17_at_09.51.49__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336339/original/036670800_1788155727-11bf7afb-d0ee-47d2-a46c-72a1c9954b40.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336360/original/068351100_1788156938-Gemini_Generated_Image_vgh6gmvgh6gmvgh6__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336388/original/070866500_1788159552-051f86cb-0545-4991-a7f1-c5730be5aaaf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4242270/original/090051000_1669625532-043199800_1645433192-kevin-wolf-LgZfYaH6OAU-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336595/original/083266200_1788167124-f7575cef-c1ce-4105-bb37-74f1cfe3b27c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335997/original/062436600_1788086219-persib.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495753/original/010090000_1770427969-persib_vs_malut-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336566/original/005951400_1788166224-pexels-anntarazevich-5629138.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6202765/original/030351500_1779081726-Screenshot_2026-05-18_122019.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5193002/original/077128400_1745210638-Dean_Zandbergen_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337890/original/028721700_1788261978-edfxzx.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326731/original/044655800_1787034649-01M09H5EZC0CJF22ZHH9BPEA9C.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4922986/original/030767500_1724131220-WhatsApp_Image_2024-08-19_at_11.21.08_af746275.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263241/original/026820600_1781870752-Budidaya_Azolla_sebagai_Pakan_Alternatif.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335142/original/082058400_1787912714-ASDFGHGFDDFCDX.jpg)