Liputan6.com, Jakarta - Lonjakan harga bahan pokok yang terus terjadi menjelang 2026 membuat banyak pelaku usaha kuliner harus memutar otak agar bisa mempertahankan harga jual tanpa mengorbankan kualitas makanan. Tekanan biaya membuat usaha nasi murah, khususnya nasi bungkus Rp5.000, menghadapi tantangan besar yang tidak bisa lagi diatasi hanya dengan menaikkan harga.
Dalam situasi ini, pedagang dituntut lebih kreatif dalam mengatur komposisi menu, memilih bahan, hingga mengefisiensikan proses produksi. Simak strategi lengkap, runtut, dan praktis yang dapat diterapkan penjual nasi murah untuk tetap bertahan pada tahun 2026.
1. Menentukan Lauk Ekonomis yang Stabil Harganya
Pemilihan bahan menjadi faktor paling krusial ketika harga komoditas naik, sehingga pedagang nasi murah perlu fokus pada lauk yang relatif stabil dari segi harga dan mudah didapatkan. Lauk seperti tempe, tahu, telur, dan sayuran merupakan pilihan yang paling aman karena tidak terlalu terdampak fluktuasi harga musiman. Dengan menempatkan bahan-bahan ini sebagai inti menu, pedagang dapat menekan biaya produksi tanpa menurunkan nilai gizi.
Selain murah, bahan-bahan tersebut dapat diolah dalam berbagai cara untuk meningkatkan variasi menu, sehingga pelanggan tetap memiliki pengalaman baru meski harganya tetap. Tempe dapat dibuat orek, bacem, atau goreng tepung; telur bisa dijadikan balado, kecap, atau sambal goreng; dan sayuran bisa ditumis, dibuat sop, atau dijadikan pelengkap. Semakin banyak opsi olahan, semakin besar pula peluang menarik pembeli dari berbagai segmen.
Penggunaan bahan ekonomis juga memungkinkan pedagang menjaga konsistensi rasa dan porsi, karena stok dapat diprediksi lebih akurat. Dengan biaya produksi yang lebih stabil, pedagang tetap bisa menyiapkan paket nasi ekonomis Rp5.000 tanpa harus mengurangi kualitas secara drastis, sekaligus menjaga margin keuntungan agar usaha tetap berjalan.
2. Membuat Variasi Menu agar Pembeli Tidak Cepat Bosan
Variasi menu merupakan strategi efektif untuk mempertahankan pelanggan setia sekaligus menarik pelanggan baru, terutama pada usaha nasi murah yang rentan dianggap monoton. Pedagang dapat menyusun rotasi menu mingguan, misalnya hari Senin tempe orek, Selasa telur kecap, Rabu sayur tumis dan tahu, Kamis nasi goreng hemat, dan Jumat telur balado. Rotasi menu membantu menambah pengalaman rasa tanpa menambah biaya produksi secara signifikan.
Variasi menu juga memungkinkan pedagang memanfaatkan bahan yang sedang lebih terjangkau pada hari-hari tertentu. Ketika harga sayuran turun, pedagang bisa mengutamakan menu berbasis sayur; ketika telur sedang murah, menu telur dapat menjadi pilihan utama. Fleksibilitas ini membuat pedagang dapat menyesuaikan komposisi menu tanpa mengubah harga jual di mata pelanggan.
Dengan pilihan menu yang lebih beragam, pelanggan tidak merasa jenuh meskipun membeli nasi Rp5.000 setiap hari. Hal ini sangat penting terutama bagi pelanggan seperti pelajar, pekerja kantoran, dan masyarakat berpenghasilan rendah yang mengandalkan makanan murah namun tetap ingin menikmati rasa yang bervariasi.
3. Mengatur Porsi secara Presisi untuk Menekan Biaya Produksi
Strategi berikutnya adalah pengaturan porsi yang presisi untuk memastikan setiap bahan yang digunakan tepat takarannya. Pedagang dapat menakar nasi menggunakan centong standar, misalnya 120–140 gram per porsi, sehingga total kebutuhan beras per hari dapat diprediksi akurat. Dengan demikian, pedagang tidak kewalahan ketika harga beras naik karena perhitungan stok menjadi lebih terkendali.
Lauk juga perlu ditakar, misalnya satu potong tempe ukuran kecil, satu sendok sayur untuk orek atau tumis, atau setengah potong telur rebus. Porsi seperti ini tetap dapat memberikan rasa kenyang bagi pelanggan meski bahan yang digunakan hemat. Penyesuaian seperti ini sudah umum dilakukan oleh pedagang nasi murah sebagai langkah adaptasi terhadap kenaikan harga bahan dasar.
Sayuran menjadi elemen penting dalam pengaturan porsi karena harganya lebih murah dan dapat menambah volume makanan. Dengan mengombinasikan sayur dan lauk sederhana, pedagang bisa tetap memberi porsi yang terlihat “penuh” tanpa mengeluarkan biaya tinggi. Strategi ini terbukti efektif untuk mempertahankan nilai jual Rp5.000.
4. Menyediakan Lauk Matang Hemat sebagai Menu Pelengkap
Lauk matang hemat seperti tempe orek, kentang balado, kentang mustofa, tahu goreng, atau tumis sayuran bisa menjadi pelengkap untuk meningkatkan nilai jual tanpa menambah biaya besar. Lauk jenis ini mudah dibuat dalam jumlah besar sehingga biaya produksi jauh lebih rendah dibandingkan daging atau ayam. Selain itu, lauk matang bisa disimpan lebih lama sehingga cocok untuk pedagang yang ingin menekan risiko makanan terbuang.
Menu lauk matang juga dapat dijual terpisah sebagai tambahan bagi pembeli yang membutuhkan porsi lebih, misalnya cukup dengan menambahkan Rp2.000–Rp3.000. Hal ini membuat pedagang memiliki dua sumber pendapatan: dari nasi bungkus Rp5.000 dan dari lauk tambahan yang memiliki margin cukup besar. Sistem seperti ini umum dilakukan oleh banyak pedagang untuk memaksimalkan keuntungan harian.
Dengan mengandalkan lauk matang yang variatif, pedagang dapat menjaga fleksibilitas menu ketika harga bahan tertentu melonjak. Misalnya, ketika harga telur naik, pedagang dapat mengutamakan tempe atau kentang sebagai penggantinya tanpa menurunkan kualitas sajian. Hal ini membuat usaha tetap stabil meski kondisi pasar sedang tidak menentu.
5. Menjaga Keseimbangan Gizi Meski Harga Bahan Naik
Pembeli nasi murah tetap menginginkan makanan yang bergizi, meskipun harga tidak bisa naik. Oleh karena itu, pedagang dapat menyusun menu berbasis kombinasi karbohidrat, sayuran, dan protein ringan agar nilai gizi tetap terjaga. Misalnya kombinasi nasi, sayur bening atau tumis, serta tempe atau telur memberikan rasa kenyang sekaligus nutrisi yang cukup.
Sayuran yang digunakan dapat disesuaikan dengan harga pasar, karena banyak pilihan sayur murah seperti kangkung, kol, wortel, atau kecambah yang dapat dijadikan pelengkap. Penggunaan sayur juga memberikan volume makanan yang lebih banyak tanpa menambah biaya besar, sehingga pelanggan tetap merasa puas.
Dengan menyajikan paket nasi Rp5.000 yang terlihat lengkap dan tetap memenuhi standar gizi sederhana, pedagang bisa mempertahankan loyalitas pelanggan. Nilai gizi yang seimbang akan membuat pembeli merasa bahwa makanan murah tidak selalu berarti kualitas rendah, sehingga mereka cenderung kembali membeli.
6. Memulai Produksi Skala Kecil untuk Mengurangi Risiko
Untuk pedagang pemula, memulai produksi skala kecil menjadi pilihan paling aman agar tidak terbebani biaya operasional besar. Produksi kecil memungkinkan pedagang menghitung kebutuhan bahan secara lebih detail, menyesuaikan jumlah produksi dengan permintaan harian, dan meminimalkan risiko kerugian akibat bahan yang tidak habis terpakai.
Dalam skema produksi kecil, pedagang memiliki fleksibilitas untuk mencoba menu baru, menyesuaikan rasa sesuai masukan pelanggan, serta menentukan menu yang paling laku sebelum memperbesar volume produksi. Dengan demikian, proses adaptasi berjalan lebih cepat karena dasar pengetahuan sudah terbentuk dari skala usaha awal.
Pendekatan bertahap seperti ini juga mampu membantu pedagang bertahan di tengah fluktuasi harga bahan pokok menjelang 2026, karena kebutuhan modal harian lebih kecil dan risiko kerugian lebih terbatas. Ketika usaha mulai stabil, barulah pedagang bisa meningkatkan produksi secara perlahan.
7. Transparansi Menu dan Porsi untuk Menjaga Kepercayaan Pelanggan
Ketika harga bahan makanan naik, pelanggan biasanya lebih sensitif terhadap perubahan porsi dan kualitas. Karena itu, pedagang perlu menjaga transparansi, misalnya dengan tetap mempertahankan harga Rp5.000 tetapi menyesuaikan porsi atau lauk secara jujur. Pelanggan akan menghargai keterbukaan ini karena mereka memahami situasi harga bahan pokok yang tidak stabil.
Transparansi juga membantu membangun loyalitas jangka panjang, karena pelanggan merasa diperlakukan adil dan tidak ditipu. Kepercayaan ini penting dalam usaha makanan murah, mengingat persaingan di lapangan cukup ketat dan pelanggan bisa dengan mudah beralih ke pedagang lain bila mereka merasa dirugikan.
Dengan menjaga komunikasi yang baik, kualitas stabil, dan porsi yang konsisten, pedagang dapat mempertahankan reputasi sebagai penyedia nasi murah yang tetap layak dinikmati. Reputasi inilah yang akan menjadi kekuatan utama untuk bertahan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu pada tahun 2026.
5 Pertanyaan & Jawaban
1. Apakah masih bisa menjual nasi Rp5.000 di tahun 2026?
Masih bisa, asalkan pedagang menggunakan bahan ekonomis, mengatur porsi tepat, dan memaksimalkan kombinasi menu hemat agar biaya tetap terkendali.
2. Lauk apa yang paling cocok untuk nasi murah?
Lauk seperti tempe, tahu, telur, kentang, dan tumis sayur menjadi pilihan paling efisien karena murah dan harganya relatif stabil.
3. Bagaimana cara menekan biaya produksi nasi murah?
Dengan menakar porsi secara presisi, memilih bahan yang stabil harganya, serta membuat menu yang menggunakan bahan serbaguna sehingga tidak ada bahan terbuang.
4. Apakah usaha nasi Rp5.000 cocok untuk pemula?
Sangat cocok, karena modalnya kecil, produksinya fleksibel, dan risiko kerugiannya rendah dibanding usaha kuliner lain.
5. Bagaimana mempertahankan pelanggan saat harga bahan naik?
Dengan menjaga kualitas, porsi konsisten, transparansi harga, dan variasi menu yang tetap menarik tanpa menaikkan harga jual.

1 month ago
22
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5057121/original/094312600_1734578345-Screenshot_2024-12-19_101300.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491255/original/003300700_1770089294-Cara_Mengatasi_Serbet_Dapur_yang_Bau_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491884/original/066586900_1770109840-Kanibalisme_Jangkrik.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491831/original/082506300_1770107713-buka_puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491679/original/043884100_1770103770-Cucak_Ijo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5290596/original/029365500_1753150307-unnamed__88_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481421/original/036756900_1769128515-Untitled_design__9_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491576/original/032822800_1770100262-Penataan_Berundak_Tangga_Semen__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489755/original/043626800_1769931236-InShot_20260201_143209720.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5490961/original/008220300_1770034801-20260122AA_GIilberto_SIlva-08.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491533/original/041240700_1770098853-roti_tawar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5492078/original/013036000_1770118922-1000242856.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491990/original/085992100_1770112978-unnamed-51.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3510586/original/098300500_1626253938-dedi_kusnandar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491521/original/038351500_1770098566-cara_menanam_kacang_tanah_di_galon.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491964/original/056402000_1770112522-bibit_tabulampot_vitra.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363427/original/049846500_1758940824-e2f045cef55b9b5d5c37659a88a3831b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5416875/original/004239400_1763473471-InShot_20251118_201720793.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471243/original/044133800_1768281435-Pilih_Bibit_Unggul_dari_Stek_Batang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344858/original/067142400_1757495292-1000212024.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5375917/original/060600500_1759986432-Gemini_Generated_Image_leln9hleln9hleln.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407806/original/029507600_1762755207-model_gamis_abaya_warna_pastel_anti_gerah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407835/original/000490000_1762756179-rumah_mungil_ala_villa_dengan_mezzanine_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407928/original/066044200_1762757831-Gemini_Generated_Image_6aq8ve6aq8ve6aq8.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407831/original/043493200_1762756167-atasan_brokat_bawah_batik_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5399792/original/021697400_1762005267-InShot_20251101_204835762.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407853/original/063538400_1762756283-desain_rumah__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5319153/original/007607300_1755506626-bansos.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407860/original/065539800_1762756285-unnamed_-_2025-11-10T121554.931.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382923/original/000118700_1760607895-warung_jajan_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453294/original/050897400_1766474273-3b763600-b9ea-4b9e-bedd-17ed90a573e4.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453102/original/079572900_1766468512-dapur_cantik_minimalis_terbaru_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407718/original/020057100_1762751958-Zamenis_longissimus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453091/original/043931500_1766468139-Model_Dress_A_Line_untuk_Perayaan_Libur_Akhir_Tahun_yang_Elegan_dan_Stylish_Detail_Wrap.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453266/original/028409900_1766473688-Gemini_Generated_Image_3hozdt3hozdt3hoz_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453276/original/089690800_1766473880-desain_teras_samping_memanjang__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5419331/original/064204700_1763689880-unnamed__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453126/original/093428100_1766470604-unnamed_-_2025-12-23T131456.592.jpg)