Ternak Ikan Gabus dalam Galon, Ini 7 Tips Mengatur Air agar Tidak Bau dan Keruh

6 days ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Budidaya ikan gabus di galon bekas banyak diminati karena cocok untuk lahan terbatas dan memiliki potensi keuntungan dengan modal relatif kecil. Nilai ekonomis ikan gabus cukup tinggi berkat kandungan protein albuminnya, sehingga permintaan pasar cenderung stabil.

Keberhasilan budidaya ikan gabus dalam galon sangat ditentukan oleh pengelolaan kualitas air. Air yang kotor, keruh, atau mengandung amonia tinggi dapat menyebabkan ikan stres, menurunkan nafsu makan, dan memicu penyakit.

Menjaga air tetap bersih dan sehat menjadi kunci utama pertumbuhan ikan gabus yang optimal. Pengelolaan air yang buruk akan menimbulkan bau, kekeruhan, serta membahayakan ikan akibat penumpukan sisa pakan dan kotoran. Lalu, bagaimana solusinya? Berikut Liputan6.com rangkum tips mengatur air dalam galon berisi ikan gabus agar tidak bau dan keruh, Senin (26/1/2026).

1. Pemilihan Galon dan Persiapan Awal Budidaya Ikan Gabus

Pemilihan galon yang tepat merupakan langkah awal krusial dalam budidaya ikan gabus skala rumahan. Sebaiknya gunakan galon bekas air mineral yang masih kuat dan tidak bocor untuk memastikan wadah dapat menampung air dan ikan dengan aman. Persiapan galon juga melibatkan pembersihan menyeluruh untuk menghilangkan sisa-sisa zat kimia atau kotoran yang mungkin menempel.

Setelah galon bersih, penting untuk menyiapkan air media yang sesuai sebelum penebaran bibit ikan. Air yang akan digunakan harus diendapkan terlebih dahulu selama beberapa hari untuk menghilangkan klorin dan menstabilkan suhunya. Proses ini juga memungkinkan mikroorganisme alami, lumut, dan cacing untuk tumbuh, yang dapat menjadi pakan alami bagi ikan gabus di awal pemeliharaan.

Sebelum memasukkan bibit ikan, pastikan suhu air dalam galon sudah sesuai dengan suhu air di wadah bibit. Caranya adalah dengan mengapungkan plastik berisi ikan di dalam galon selama 10-15 menit agar suhu air menyesuaikan. Setelah suhu air seimbang, bibit ikan dapat dilepaskan secara perlahan ke dalam galon untuk menghindari stres atau syok pada ikan.

2. Menjaga Kualitas Air Awal dan Sumber Air Ternak Ikan Gabus

Kualitas air awal sangat menentukan keberhasilan budidaya ikan gabus dalam galon. Air yang digunakan sebagai media pemeliharaan harus bebas dari klorin dan zat berbahaya lainnya yang dapat membahayakan ikan. Pengendapan air selama 3-5 hari sebelum penebaran bibit adalah praktik yang dianjurkan untuk memastikan air siap digunakan.

Sumber air yang baik untuk budidaya ikan gabus bisa berasal dari air sumur, PDAM yang sudah diendapkan, atau air hujan yang bersih. Penting untuk menghindari penggunaan air yang terkontaminasi limbah atau bahan kimia. Air yang sehat akan mendukung pertumbuhan mikroorganisme baik yang berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem di dalam galon.

Memastikan parameter kualitas air seperti pH, suhu, dan oksigen terlarut berada dalam kisaran optimal sejak awal sangat penting. Meskipun ikan gabus dikenal tahan terhadap kondisi lingkungan dengan kadar oksigen rendah dan mampu memanfaatkan oksigen dari atmosfer, menjaga kualitas air tetap baik akan meminimalkan stres pada ikan. Kisaran pH yang direkomendasikan untuk ikan gabus adalah antara 6 dan 7,5, sementara suhu optimal berkisar antara 25-30°C.

3. Sistem Filtrasi Sederhana untuk Galon Ikan Gabus

Meskipun galon memiliki volume terbatas, penerapan sistem filtrasi sederhana dapat sangat membantu menjaga kualitas air. Filter mekanis dapat digunakan untuk menyaring kotoran padat seperti sisa pakan dan feses ikan, mencegah penumpukan bahan organik yang menyebabkan kekeruhan dan bau. Filter ini bisa berupa busa atau kapas filter yang diletakkan di dalam galon.

Selain filter mekanis, filter biologis juga penting untuk mengurai zat berbahaya. Filter biologis menyediakan media bagi bakteri baik untuk mengubah amonia dan nitrit, yang beracun bagi ikan, menjadi nitrat yang lebih aman. Bahan seperti bioball atau kerikil berpori dapat digunakan sebagai media filter biologis.

Untuk budidaya dalam galon, sirkulasi air yang terus bergerak juga sangat disarankan. Aliran air yang baik mencegah kondisi anaerob (tanpa oksigen) yang merupakan pemicu munculnya bakteri pembusuk penghasil bau. Penggunaan pompa udara kecil atau aerator dapat membantu meningkatkan kadar oksigen terlarut dan menjaga sirkulasi air.

4. Pengaturan Pakan dan Frekuensi Pemberian pada Ikan Gabus

Pemberian pakan yang tepat adalah salah satu faktor utama dalam mencegah air galon menjadi bau dan keruh. Beri pakan pelet khusus ikan gabus atau pakan apung berprotein tinggi sebanyak 2-3 kali sehari. Penting untuk memberikan pakan secukupnya, yaitu jumlah yang dapat dihabiskan ikan dalam beberapa menit, untuk menghindari sisa pakan yang tidak termakan.

Sisa pakan yang berlebihan akan mengendap di dasar galon dan membusuk, menghasilkan amonia dan gas lain yang menyebabkan air keruh dan berbau tidak sedap. Oleh karena itu, pengamatan terhadap nafsu makan ikan sangat penting untuk menyesuaikan dosis pakan. Jika ada sisa pakan yang tidak termakan, segera angkat untuk menjaga kebersihan air.

Ikan gabus membutuhkan pakan dengan kandungan protein tinggi untuk mendukung pertumbuhannya. Untuk larva, pakan berupa hewan renik seperti Daphnia sp. atau cacing sutra sangat dianjurkan, sementara ikan gabus yang lebih besar dapat diberikan pelet buatan pabrik atau pakan alami seperti cacing tanah. Pemilihan pakan yang berkualitas juga berkontribusi pada kesehatan ikan dan kualitas air.

5. Penggantian Air Rutin dalam Budidaya Ikan Gabus Galon

Penggantian air secara rutin merupakan metode paling efektif untuk menjaga kualitas air dalam budidaya ikan gabus di galon. Ganti air sebanyak 20-30% dari total volume galon secara berkala, misalnya setiap 3-4 minggu sekali. Penggantian air ini bertujuan untuk membuang endapan kotoran dan mengurangi konsentrasi zat berbahaya seperti amonia dan nitrit.

Frekuensi penggantian air dapat disesuaikan dengan kondisi air dan kepadatan ikan. Jika air terlihat cepat keruh atau mulai berbau, penggantian air mungkin perlu dilakukan lebih sering. Namun, hindari penggantian air secara total karena dapat menyebabkan ikan stres akibat perubahan mendadak pada parameter air.

Saat melakukan penggantian air, pastikan air baru yang ditambahkan memiliki suhu dan pH yang serupa dengan air lama. Air baru juga sebaiknya sudah diendapkan untuk menghilangkan klorin. Proses ini membantu menjaga stabilitas lingkungan akuatik dan meminimalkan dampak negatif pada ikan.

6. Pemanfaatan Probiotik atau Bakteri Pengurai untuk Air Bersih

Pemanfaatan probiotik atau bakteri pengurai dapat menjadi solusi efektif untuk menjaga kualitas air dan menekan bau pada budidaya ikan gabus. Probiotik mengandung mikroorganisme baik yang membantu mempercepat penguraian sisa pakan dan kotoran ikan. Proses penguraian yang lebih cepat ini mencegah penumpukan zat penyebab bau di dalam air.

Keberadaan bakteri pengurai ini juga menekan pertumbuhan bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada ikan dan menghasilkan gas berbau tidak sedap. Dengan demikian, air kolam akan lebih stabil, tidak mudah keruh, dan bebas dari aroma menyengat. Probiotik dapat ditambahkan secara rutin sesuai dosis yang dianjurkan.

Selain probiotik, sistem bioflok juga merupakan metode inovatif yang memanfaatkan mikroorganisme pengolah limbah organik. Dalam sistem ini, bakteri heterotrofik menguraikan sisa pakan dan kotoran ikan menjadi partikel yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai pakan alami. Meskipun lebih kompleks, prinsip dasar penggunaan bakteri pengurai ini dapat diadaptasi untuk skala galon.

7. Pemantauan Parameter Air Kunci Kesehatan Ikan Gabus

Pemantauan parameter air secara rutin adalah kunci untuk menjaga lingkungan yang sehat bagi ikan gabus. Parameter penting yang perlu diperhatikan meliputi pH, suhu, oksigen terlarut (DO), dan kadar amonia. Alat pengukur pH dapat digunakan untuk memastikan pH air kolam berada antara 6 dan 7,5.

Suhu air juga harus dipantau dan dijaga dalam kisaran optimal 25-30°C untuk mendukung pertumbuhan ikan gabus. Meskipun ikan gabus toleran terhadap kadar oksigen rendah, menjaga DO di atas 4 mg/L akan sangat mendukung kesehatan dan aktivitas ikan. Kadar amonia harus dijaga serendah mungkin, idealnya di bawah 0.0286 ppm, karena amonia bersifat sangat toksik bagi ikan.

Pemantauan visual juga penting; jika air terlihat keruh, berwarna hijau pekat, atau mengeluarkan aroma tidak sedap, ini adalah indikator bahwa kualitas air menurun dan tindakan perbaikan segera diperlukan. Dengan pemantauan yang cermat, pembudidaya dapat mendeteksi masalah sejak dini dan mengambil langkah korektif sebelum berdampak buruk pada ikan.

Pertanyaan dan Jawaban

1. Mengapa air dalam budidaya ikan gabus di galon sering bau dan keruh?

Air menjadi bau dan keruh karena penumpukan sisa pakan dan kotoran ikan yang membusuk di wadah terbatas, menghasilkan amonia dan gas tidak sedap.

2. Berapa kali sebaiknya air diganti dalam Ternak Ikan Gabus dalam Galon?

Penggantian air sebagian (20-30% volume galon) disarankan setiap 3-4 minggu sekali, atau lebih sering jika air cepat keruh atau berbau.

3. Pakan seperti apa yang cocok untuk ikan gabus di galon?

Gunakan pelet khusus ikan gabus atau pakan apung berprotein tinggi 2-3 kali sehari, secukupnya agar habis dalam beberapa menit.

4. Apakah ikan gabus di galon memerlukan filter?

Ya, sistem filtrasi sederhana (mekanis dan biologis) sangat disarankan untuk menjaga kualitas air dan mencegah penumpukan kotoran.

5. Apa saja parameter air penting yang harus dipantau untuk ikan gabus?

Parameter penting meliputi pH (6-7,5), suhu (25-30°C), oksigen terlarut (di atas 4 mg/L), dan kadar amonia (serendah mungkin).

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|