Ternak Ikan Gabus Skala Rumahan Tanpa Bau, Ini Pengaturan Air yang Jarang Dibahas

2 days ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Ternak ikan gabus skala rumahan kini semakin diminati karena ikan ini memiliki nilai jual stabil, pertumbuhan relatif cepat, serta daya tahan yang baik terhadap perubahan lingkungan. Namun, kendala yang paling sering membuat orang ragu memulai adalah munculnya bau amis dari kolam, terutama jika ternak dilakukan di sekitar rumah. Padahal, bau bukan berasal dari ikan gabus itu sendiri, melainkan dari air, sisa pakan, dan kotoran yang tidak dikelola dengan benar sejak awal pemeliharaan.

Dengan teknik yang tepat, ternak ikan gabus di rumah bisa dilakukan secara bersih, nyaman, dan tidak mengganggu lingkungan sekitar. Kuncinya terletak pada pemilihan sistem kolam, pengaturan air, manajemen pakan, hingga perawatan dasar kolam yang konsisten. Jika semua aspek tersebut dijalankan dengan benar, kolam gabus bisa tetap jernih, minim aroma, dan tetap produktif hingga masa panen. Berikut ulasan selengkapnya, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber pada Jumat (30/1/2026). 

1. Pilih Sistem Kolam yang Tepat

Pemilihan kolam menjadi langkah awal agar ternak ikan gabus skala rumahan tidak menimbulkan bau. Untuk lingkungan rumah, kolam terpal, fiber, atau bak semen jauh lebih disarankan dibanding kolam tanah karena permukaannya halus dan tidak menyimpan lumpur yang mudah membusuk. Lumpur yang menumpuk di kolam tanah sering menjadi sumber aroma tidak sedap karena bercampur dengan sisa pakan dan kotoran ikan.

Kolam buatan seperti terpal dan fiber memudahkan peternak mengontrol kebersihan air serta membersihkan dasar kolam secara rutin. Endapan sisa pakan tidak mudah melekat, sehingga proses penyedotan kotoran menjadi lebih cepat dan efisien. Selain itu, kolam jenis ini juga meminimalkan pertumbuhan bakteri pembusuk yang biasanya memicu bau menyengat.

Ukuran kolam sebaiknya disesuaikan dengan jumlah bibit agar kepadatan tidak berlebihan. Misalnya kolam ukuran 1×2 meter ideal diisi sekitar 120–150 ekor bibit kecil, sehingga air tidak cepat rusak. Dengan kepadatan yang seimbang, kualitas air lebih stabil, ikan tumbuh sehat, dan risiko bau di sekitar rumah bisa ditekan sejak awal pemeliharaan.

2. Gunakan Air Bersih dan Sirkulasi Teratur

Air merupakan faktor utama dalam menjaga ternak ikan gabus tetap tanpa bau. Air yang kotor dan jarang diganti akan menumpuk amonia, nitrit, serta zat organik yang menjadi sumber aroma amis. Oleh karena itu, gunakan air sumur, air hujan, atau air PDAM yang sudah diendapkan minimal 24 jam agar klorin dan gas berbahaya menguap terlebih dahulu.

Setelah kolam diisi, air sebaiknya dibiarkan selama satu hingga dua hari sebelum bibit dimasukkan agar kondisi lebih stabil. Air yang sudah matang membantu ikan beradaptasi dengan baik dan menekan stres yang bisa memicu kematian. Selain itu, air yang stabil juga memperlambat proses pembusukan sisa organik yang menyebabkan bau.

Untuk perawatan rutin, lakukan penggantian air sebagian sekitar 20–30 persen setiap 3–5 hari sekali. Cara ini menjaga kesegaran air tanpa membuat ikan kaget akibat perubahan drastis. Dengan sirkulasi yang teratur, zat sisa metabolisme ikan tidak menumpuk, sehingga kolam gabus tetap jernih, nyaman, dan tidak beraroma menyengat di area rumah.

3. Atur Pakan Supaya Tidak Menumpuk

Manajemen pakan menjadi salah satu penyebab utama munculnya bau pada kolam ternak gabus. Pakan yang diberikan terlalu banyak akan tersisa di dasar kolam dan membusuk, lalu menghasilkan gas beracun yang membuat air cepat keruh dan beraroma amis. Karena itu, pemberian pakan harus disesuaikan dengan kebutuhan ikan.

Idealnya, pakan diberikan sebanyak 3–5 persen dari total bobot ikan per hari dengan frekuensi dua hingga tiga kali pemberian. Pakan bisa berupa pelet apung, ikan rucah, keong, atau pakan racikan, tetapi tetap harus dikontrol jumlahnya. Amati perilaku makan ikan, jika pakan masih tersisa setelah 10 menit, berarti porsinya terlalu banyak dan perlu dikurangi.

Dengan pemberian pakan yang terukur, air kolam tidak cepat tercemar oleh sisa organik. Selain mengurangi bau, cara ini juga membantu menjaga kesehatan ikan, meningkatkan efisiensi pakan, serta mempercepat pertumbuhan karena nutrisi benar-benar dimanfaatkan oleh ikan gabus, bukan terbuang menjadi sumber pencemar air.

4. Manfaatkan Probiotik atau EM4 Perikanan

Agar kolam gabus rumahan tetap bersih dan minim bau, penggunaan probiotik perikanan atau EM4 sangat dianjurkan. Probiotik mengandung bakteri baik yang membantu mengurai kotoran ikan, sisa pakan, dan zat organik lain sebelum berubah menjadi sumber bau. Dengan begitu, air tetap stabil dan tidak cepat rusak.

Probiotik biasanya dicampurkan ke air kolam atau ke pakan sesuai dosis pada kemasan. Penggunaan rutin membantu menekan pertumbuhan bakteri pembusuk dan menyeimbangkan mikroorganisme dalam air. Air kolam pun tidak mudah keruh meskipun kepadatan ikan cukup tinggi.

Selain mengurangi bau, probiotik juga berdampak pada kesehatan ikan gabus. Sistem pencernaan ikan menjadi lebih baik, nafsu makan meningkat, dan daya tahan tubuh lebih kuat. Dengan kondisi air yang sehat, risiko kematian menurun dan hasil panen bisa lebih maksimal meskipun ternak dilakukan di lingkungan rumah.

5. Jaga Kepadatan Ikan dalam Kolam

Kepadatan ikan yang berlebihan sering menjadi penyebab utama kolam cepat bau. Semakin banyak ikan dalam ruang sempit, semakin besar pula produksi kotoran dan sisa metabolisme yang mencemari air. Jika tidak dikontrol, air akan cepat mengandung amonia tinggi yang menimbulkan aroma tidak sedap.

Untuk skala rumahan, kepadatan ideal bibit kecil sekitar 100–150 ekor per meter persegi dan harus dikurangi seiring pertumbuhan ikan. Saat ikan mulai besar, lakukan penyortiran atau pindahkan sebagian ke kolam lain agar ruang gerak tetap cukup. Kepadatan yang seimbang membantu menjaga kadar oksigen dan kualitas air tetap stabil.

Dengan kepadatan yang tepat, ikan gabus tidak mudah stres, pertumbuhan lebih merata, dan air kolam lebih awet. Dampaknya, bau bisa ditekan, perawatan lebih ringan, dan ternak gabus rumahan tetap nyaman dilakukan tanpa mengganggu penghuni rumah maupun lingkungan sekitar.

6. Bersihkan Dasar Kolam Secara Berkala

Meskipun air rutin diganti, endapan di dasar kolam tetap perlu diperhatikan karena menjadi sumber utama bau. Sisa pakan, lendir, dan kotoran ikan akan mengumpul di bagian bawah lalu membusuk jika dibiarkan terlalu lama. Proses pembusukan inilah yang menimbulkan aroma amis.

Setiap satu hingga dua minggu, lakukan penyedotan dasar kolam menggunakan selang atau pompa kecil tanpa menguras total air. Cara ini efektif mengangkat endapan busuk tanpa membuat ikan stres akibat perubahan air secara ekstrem. Kolam terpal dan fiber sangat memudahkan proses ini.

Dengan dasar kolam yang bersih, kualitas air lebih terjaga dan sirkulasi nutrisi dalam kolam menjadi seimbang. Selain mengurangi bau, pembersihan rutin juga mencegah munculnya penyakit dan membuat ikan gabus tumbuh lebih sehat hingga masa panen tiba.

7. Letakkan Kolam di Area yang Sirkulasinya Baik

Penempatan kolam juga memengaruhi kenyamanan ternak ikan gabus skala rumahan. Kolam sebaiknya ditempatkan di area yang memiliki sirkulasi udara baik, tidak terlalu tertutup, dan tidak lembap. Udara yang mengalir membantu mengurangi pengendapan aroma di satu titik.

Hindari menempatkan kolam terlalu dekat dengan dapur, kamar tidur, atau ruang tamu, meskipun sistem pengelolaannya sudah baik. Posisi yang tepat membuat aktivitas ternak tidak mengganggu kenyamanan penghuni rumah dan tetap terasa bersih.

Dengan lokasi yang strategis, kolam mendapat pencahayaan dan udara cukup, sehingga kelembapan berkurang dan bau tidak mudah terperangkap. Hasilnya, ternak gabus tetap nyaman, rapi, dan layak dijalankan dalam skala rumahan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

Q: Apakah ikan gabus cocok diternakkan di rumah?

A: Sangat cocok karena gabus tahan penyakit, mudah beradaptasi, dan nilai jualnya stabil.

Q: Penyebab utama kolam gabus bau apa?

A: Biasanya berasal dari sisa pakan, kotoran ikan, dan air yang jarang diganti.

Q: Berapa sering air kolam gabus diganti?

A: Idealnya 20–30 persen setiap 3–5 hari agar kualitas air tetap stabil.

Q: Apakah probiotik wajib digunakan?

A: Tidak wajib, tetapi sangat membantu mengurai kotoran dan menekan bau kolam.

Q: Kolam apa yang paling cocok untuk gabus rumahan?

A: Kolam terpal, fiber, atau bak semen karena mudah dibersihkan dan tidak berlumpur.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|