5 Cara Budidaya Belut di Drum Bekas Bagi Pemula, Praktis dan Hemat Tempat

3 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Budidaya belut di drum bekas semakin menarik perhatian masyarakat perkotaan hingga pedesaan. Peluang usaha ini hadir sebagai solusi praktis, bagi pelaku ternak bermodal terbatas. Media drum memberi kemudahan pengelolaan serta fleksibilitas penempatan. Aktivitas pemeliharaan pun dapat dilakukan dari pekarangan rumah, tanpa kebutuhan area luas.

Budidaya belut di drum bekas menawarkan potensi keuntungan menarik melalui sistem sederhana, di mana pemanfaatan wadah bekas mendukung efisiensi biaya awal. Belut dikenal adaptif terhadap lingkungan tertutup, sehingga tingkat keberhasilan cukup tinggi. Kondisi tersebut menjadikan metode ini cocok diterapkan oleh pemula.

Budidaya belut di drum bekas juga selaras konsep usaha ramah lingkungan. Drum plastik atau besi tidak terpakai bisa diolah ulang menjadi sarana produktif. Langkah ini membantu mengurangi limbah, sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Aktivitas ternak tetap berjalan tanpa harus membuat kolam permanen.

Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (2/2/2026).

1. Budidaya Belut di Drum Bekas Menggunakan Media Lumpur

Cara budidaya ini merupakan metode paling umum dan banyak dipilih oleh peternak pemula maupun berpengalaman. Hal tersebut disebabkan media lumpur mampu meniru kondisi alami habitat belut di alam bebas, sehingga belut dapat beradaptasi lebih cepat dan tingkat stres cenderung rendah. Lingkungan berlumpur memberikan rasa aman bagi belut untuk bersembunyi, bergerak dan mencari pakan, sehingga pertumbuhan dapat berlangsung lebih optimal.

Langkah singkat:

  1. Drum bekas terlebih dahulu dibersihkan secara menyeluruh agar terbebas dari sisa zat berbahaya.
  2. Setelah bersih, drum diisi lumpur sawah setebal kurang lebih 20–30 cm sebagai media utama.
  3. Selanjutnya ditambahkan jerami padi atau sekam dan pupuk kandang matang sebagai sumber bahan organik.
  4. Setelah semua bahan dimasukkan, air bersih dituangkan hingga menutupi permukaan lumpur.
  5. Media ini kemudian didiamkan selama 7–14 hari agar terjadi proses alami pembentukan ekosistem mikroorganisme.
  6. Bibit belut baru ditebar setelah media benar-benar siap.

Metode ini sangat direkomendasikan bagi pemula karena belut relatif mudah menyesuaikan diri dan tingkat kematiannya rendah.

2. Budidaya Belut di Drum Bekas Tanpa Lumpur

Metode ini dikenal sebagai sistem air bersih atau semi-intensif dan lebih modern dibanding media lumpur. Cara ini banyak dipilih oleh peternak yang ingin menjaga kebersihan media budidaya serta mempermudah proses pemantauan kondisi belut. Selain itu, metode tanpa lumpur dinilai lebih praktis pada saat panen.

Langkah singkat:

  1. Drum bekas diisi air bersih setinggi sekitar 30–40 cm. Pada bagian tertentu dipasang pipa kecil sebagai saluran pembuangan air agar kualitas air tetap terjaga.
  2. Sebagai pengganti lumpur, ditambahkan ijuk, potongan pipa paralon kecil, atau jaring yang berfungsi sebagai tempat persembunyian belut.
  3. Belut membutuhkan ruang gelap agar tetap nyaman. Pakan diberikan secara teratur sesuai kebutuhan.

Metode ini memudahkan pengontrolan kebersihan, mengurangi bau, dan membuat proses panen menjadi lebih cepat serta praktis.

3. Budidaya Belut di Drum Bekas Menggunakan Media Fermentasi

Metode ini mengandalkan bahan organik hasil fermentasi untuk menciptakan lingkungan hidup yang kaya nutrisi. Proses fermentasi bertujuan menumbuhkan mikroorganisme bermanfaat yang dapat menjadi pakan alami belut serta meningkatkan kesuburan media.

Langkah singkat:

  1. Lumpur, jerami, dan pupuk kandang dicampur lalu difermentasi terlebih dahulu di dalam drum.
  2. Proses fermentasi ini dilakukan selama beberapa hari hingga media mengalami perubahan aroma dan tekstur.
  3. Mikroorganisme hasil fermentasi akan membantu mempercepat pertumbuhan belut dan meningkatkan daya cerna pakan.
  4. Setelah fermentasi dianggap cukup dan media stabil, bibit belut dapat ditebar.

Metode ini cocok diterapkan untuk budidaya jangka menengah hingga panjang karena mampu mendukung pertumbuhan belut secara berkelanjutan.

4. Budidaya Belut di Drum Bekas Sistem Tumpuk

Metode sistem tumpuk dikembangkan untuk memaksimalkan pemanfaatan ruang, terutama pada lahan sempit. Cara ini banyak diterapkan di area perkotaan atau pekarangan rumah yang terbatas.

Langkah singkat:

  1. Beberapa drum disusun secara vertikal atau diletakkan berdekatan sesuai ketersediaan ruang.
  2. Setiap drum diisi media budidaya sesuai metode yang dipilih, baik menggunakan lumpur maupun sistem tanpa lumpur.
  3. Perlu diperhatikan sirkulasi udara dan air agar setiap drum tetap memiliki kondisi lingkungan yang baik.

Metode ini memang membutuhkan pengawasan lebih intensif, terutama terkait kualitas air, tetapi sangat efisien untuk meningkatkan kapasitas produksi di lahan terbatas.

5. Budidaya Belut di Drum Bekas Skala Rumahan

Metode ini sangat cocok diterapkan sebagai usaha sampingan atau tahap awal sebelum mengembangkan budidaya dalam skala lebih besar. Skala rumahan memungkinkan peternak belajar memahami karakter belut secara langsung tanpa risiko kerugian besar.

Langkah singkat:

  1. Cukup menggunakan 1–2 drum bekas yang ditempatkan di pekarangan rumah.
  2. Media dibuat sederhana sesuai kemampuan, sementara perawatan dilakukan secara manual.
  3. Pakan dapat berasal dari bahan alami seperti cacing, keong, atau sisa limbah dapur yang masih layak.

Metode ini tidak memerlukan modal besar, mudah dikontrol, dan sangat sesuai bagi pemula yang ingin mencoba peluang usaha budidaya belut.

Keunggulan Budidaya Belut di Drum Bekas

Budidaya belut di drum bekas memiliki banyak kelebihan dibandingkan metode kolam konvensional. Sistem ini dirancang agar tetap produktif, meskipun dilakukan di lahan terbatas dan menggunakan sarana sederhana. Tidak heran jika metode ini semakin diminati oleh peternak pemula maupun pelaku usaha rumahan.

Hemat Lahan dan Fleksibel

Budidaya belut di drum bekas tidak memerlukan area luas. Drum dapat ditempatkan di pekarangan rumah, samping bangunan, bahkan di area sempit sekalipun. Penataan drum juga fleksibel, dapat disusun berjajar atau ditumpuk sesuai kondisi lahan.

Penggunaan drum bekas secara signifikan menekan biaya pembuatan kolam. Peternak tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk konstruksi permanen. Bahan media budidaya pun mudah diperoleh dan terjangkau, sehingga cocok bagi pelaku usaha bermodal terbatas.

Mudah Dikontrol dan Dipantau

Ukuran drum yang terbatas memudahkan pengawasan kondisi belut, media, serta kualitas air. Jika terjadi masalah seperti bau berlebih atau belut kurang aktif, penanganan dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus menguras kolam besar.

Cocok untuk Pemula

Budidaya belut di drum bekas sangat ideal bagi pemula yang baru belajar beternak belut. Proses persiapan media, penebaran bibit, hingga perawatan relatif sederhana dan tidak memerlukan teknik rumit.

Risiko Kegagalan Lebih Kecil

Lingkungan budidaya yang terkendali membantu menekan risiko kematian belut. Kepadatan populasi mudah diatur sehingga pertumbuhan belut lebih merata dan tingkat stres dapat diminimalkan.

Ramah Lingkungan

Pemanfaatan drum bekas mendukung prinsip daur ulang dan pengurangan limbah. Selain itu, metode ini tidak membutuhkan aliran air terus-menerus sehingga lebih hemat air dan tidak mencemari lingkungan sekitar.

FAQ Seputar Topik

Mengapa budidaya belut di drum bekas menjadi pilihan yang menguntungkan?

Budidaya ini menawarkan solusi cerdas untuk lahan terbatas, menekan biaya awal, dan memiliki potensi keuntungan signifikan karena permintaan pasar belut yang tinggi dan nilai gizi premium.

Bagaimana cara mempersiapkan media budidaya belut yang optimal di drum bekas?

Media disiapkan dengan memasukkan jerami rajangan, disiram mikroorganisme starter, ditambahkan pupuk kompos/kandang, lumpur kering campur TSP, lalu diisi air dan difermentasi selama dua minggu.

Apa saja ciri-ciri bibit belut yang sehat dan bagaimana manajemen pakannya?

Bibit sehat memiliki gerakan lincah, tubuh mulus, ukuran seragam, dan mata jernih. Pakan dapat berupa cacing tanah atau bekicot cacah, diberikan 2-3 kali sehari dengan porsi tidak berlebihan.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk panen belut dan bagaimana teknik panen yang disarankan?

Belut dapat dipanen setelah 3-4 bulan pemeliharaan, atau hingga 6 bulan. Teknik panen disarankan dengan mengurangi air menggunakan selang siphon, lalu menangkap belut menggunakan serok halus.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|