Liputan6.com, Jakarta - Ampas tahu merupakan limbah hasil produksi tahu yang masih memiliki kandungan protein, serat, dan energi yang cukup baik untuk pakan ternak. Sayangnya, karena kadar airnya tinggi, ampas tahu sangat mudah mengalami pembusukan yang ditandai dengan bau asam, berlendir, bahkan berjamur. Jika diberikan dalam kondisi rusak, ampas tahu justru bisa menurunkan nafsu makan ternak dan berisiko mengganggu kesehatan pencernaan. Oleh karena itu, diperlukan teknik pengolahan yang tepat agar ampas tahu tetap segar, tidak bau, dan tahan disimpan.
Pengolahan ampas tahu bukan hanya soal mengawetkan, tetapi juga meningkatkan kualitas nutrisinya. Dengan perlakuan yang benar seperti pengurangan air, pengeringan, fermentasi, pencampuran bahan kering, serta penyimpanan yang tepat, ampas tahu bisa menjadi pakan alternatif yang murah, aman, dan bernilai guna tinggi. Berikut ini beberapa cara penting yang bisa diterapkan oleh peternak maupun masyarakat umum.
1. Peras dan Kurangi Kadar Air Ampas Tahu
Langkah pertama yang paling penting dalam mengolah ampas tahu adalah mengurangi kadar airnya. Ampas tahu segar biasanya mengandung air sangat tinggi, sehingga menjadi media yang ideal bagi bakteri pembusuk. Jika dibiarkan dalam kondisi terlalu basah, ampas tahu akan cepat berbau, berlendir, dan berubah menjadi asam hanya dalam waktu beberapa jam saja, terutama di cuaca panas.
Cara mengurangi air bisa dilakukan secara sederhana dengan memasukkan ampas tahu ke dalam karung, kain, atau saringan besar, lalu diperas menggunakan tangan, diinjak, atau ditekan dengan pemberat. Tujuannya adalah mengeluarkan air sebanyak mungkin tanpa merusak tekstur ampas. Ampas yang baik setelah diperas memiliki kondisi lembap, tetapi tidak sampai meneteskan air jika digenggam.
Semakin kering kondisi awal ampas tahu, maka semakin lambat proses pembusukannya. Tahap ini juga membuat proses selanjutnya, seperti pengeringan atau fermentasi, berjalan lebih optimal. Banyak kegagalan pakan ampas tahu disebabkan peternak langsung menyimpan ampas yang masih becek tanpa dikurangi kadar airnya terlebih dahulu.
2. Keringkan Ampas Tahu Sebelum Digunakan
Setelah kadar air berkurang, langkah berikutnya adalah mengeringkan ampas tahu. Pengeringan bertujuan untuk menghentikan aktivitas mikroorganisme penyebab bau dan pembusukan. Dengan kadar air yang lebih rendah, ampas tahu menjadi lebih stabil dan tidak cepat rusak saat disimpan.
Pengeringan bisa dilakukan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa jam. Ampas tahu disebar tipis di atas terpal atau nampan besar, lalu diaduk secara berkala agar panas merata. Proses ini biasanya memakan waktu sekitar 3–6 jam tergantung cuaca. Jika cuaca mendung, waktu pengeringan bisa lebih lama.
Ampas tahu tidak perlu sampai benar-benar kering seperti kerupuk, tetapi cukup hangat, tidak basah, dan tidak menggumpal. Dengan kondisi ini, ampas tahu lebih aman disimpan dan tidak mudah berbau. Selain itu, pengeringan juga memudahkan pencampuran dengan bahan pakan lain.
3. Fermentasi Agar Tidak Bau dan Lebih Bernutrisi
Fermentasi adalah cara paling efektif untuk membuat ampas tahu awet, tidak bau, dan justru memiliki aroma yang lebih disukai ternak. Proses ini bekerja dengan memanfaatkan mikroba baik untuk menekan bakteri pembusuk sekaligus meningkatkan daya cerna nutrisi di dalam ampas tahu.
Fermentasi biasanya menggunakan larutan EM4 peternakan yang dicampur dengan gula atau molases sebagai sumber energi bagi mikroba. Larutan tersebut disiramkan ke ampas tahu yang sudah agak kering, lalu diaduk hingga merata. Setelah itu, ampas dimasukkan ke dalam plastik, drum, atau ember yang bisa ditutup rapat tanpa udara.
Selama 2–3 hari, ampas akan mengalami proses fermentasi. Ciri fermentasi yang berhasil adalah baunya harum seperti tape atau yogurt ringan, bukan bau busuk. Teksturnya juga tidak berlendir dan tidak panas. Fermentasi tidak hanya mencegah bau, tetapi juga membantu ternak menyerap nutrisi lebih baik, sehingga pakan menjadi lebih efisien.
4. Campurkan Bahan Kering Penyerap Air
Agar ampas tahu semakin stabil, sebaiknya dicampur dengan bahan kering. Fungsi bahan kering ini adalah menyerap sisa kelembapan, memperbaiki tekstur, serta menambah kandungan energi pakan. Tanpa campuran ini, ampas tahu cenderung menggumpal dan lebih cepat asam.
Beberapa bahan yang umum digunakan antara lain dedak halus, bekatul, jagung giling, onggok singkong, atau polar. Campuran idealnya sekitar 20–30 persen dari total ampas tahu. Artinya, jika ada 10 kg ampas tahu, maka bisa ditambahkan sekitar 2–3 kg bahan kering.
Selain membuat pakan lebih awet, pencampuran ini juga menjadikan pakan lebih seimbang nutrisinya. Teksturnya menjadi lebih ringan, tidak terlalu lembek, dan lebih mudah dikonsumsi oleh sapi, kambing, domba, maupun unggas. Ini juga membantu mencegah bau akibat kelembapan berlebih.
5. Simpan di Tempat yang Tepat dan Tertutup
Penyimpanan merupakan tahap akhir yang sangat menentukan kualitas pakan ampas tahu. Meskipun sudah dikeringkan dan difermentasi, jika disimpan sembarangan, ampas tahu tetap bisa rusak dan berbau. Oleh karena itu, tempat penyimpanan harus kering, sejuk, dan terlindung dari air hujan.
Gunakan wadah tertutup seperti drum plastik, ember besar, atau karung plastik yang tidak bocor. Pastikan wadah bersih sebelum digunakan agar tidak ada bakteri sisa yang mempercepat pembusukan. Hindari menyimpan ampas tahu langsung di lantai yang lembap atau terkena sinar matahari terus-menerus.
Dengan penyimpanan yang benar, ampas tahu fermentasi bisa bertahan beberapa hari hingga lebih dari satu minggu, tergantung kondisi lingkungan. Setiap kali akan digunakan, ambil secukupnya saja dan tutup kembali rapat agar kualitas tetap terjaga.
Ciri-Ciri Ampas Tahu yang Layak Dijadikan Pakan
Agar ternak tetap sehat dan nafsu makan terjaga, ampas tahu yang diberikan harus benar-benar dalam kondisi baik. Berikut beberapa ciri penting yang wajib diperhatikan sebelum ampas tahu digunakan sebagai pakan:
1. Aroma Segar atau Harum Fermentasi
Ampas tahu yang layak pakai memiliki bau segar atau aroma khas fermentasi yang ringan seperti tape atau yogurt. Aroma ini menandakan bahwa mikroba baik bekerja dengan benar dan tidak ada proses pembusukan yang berbahaya. Jika tercium bau asam tajam, busuk, atau menyengat seperti bangkai, berarti ampas tahu sudah rusak dan sebaiknya tidak diberikan ke ternak karena bisa mengganggu pencernaan.
2. Tekstur Tidak Berlendir
Tekstur ampas tahu yang baik terasa lembap tetapi tidak licin atau berlendir saat disentuh. Lendir biasanya muncul akibat aktivitas bakteri pembusuk yang berkembang pada kondisi terlalu basah. Jika dibiarkan, lendir ini bisa menyebabkan pakan cepat basi dan menurunkan kualitas nutrisinya, sehingga ternak berisiko mengalami diare atau penurunan nafsu makan.
3. Suhu Normal dan Tidak Panas
Saat membuka wadah penyimpanan, perhatikan suhu ampas tahu. Ampas yang baik terasa normal atau sejuk, bukan panas. Suhu panas menandakan fermentasi liar yang tidak terkontrol dan bisa menghasilkan gas serta racun tertentu. Pakan yang panas juga kurang disukai ternak dan berpotensi merusak sistem pencernaannya.
4. Warna Masih Alami dan Tidak Berjamur
Ampas tahu yang masih bagus memiliki warna cerah alami, biasanya putih kekuningan. Jika muncul bercak hijau, hitam, atau abu-abu, itu menandakan jamur sudah tumbuh. Jamur pada pakan sangat berbahaya karena bisa menghasilkan toksin yang berdampak buruk bagi kesehatan ternak, sehingga ampas tahu tersebut sebaiknya langsung dibuang.
5. Tidak Menggumpal Berlebihan
Pakan dari ampas tahu yang baik teksturnya tetap remah dan mudah diaduk. Jika sudah menggumpal keras atau menggembung karena gas, berarti proses penyimpanan atau fermentasi tidak berjalan dengan baik. Kondisi ini bisa membuat pakan cepat rusak dan menurunkan kualitas nutrisinya untuk ternak.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Kenapa ampas tahu cepat bau?
Karena kadar airnya tinggi sehingga mudah ditumbuhi bakteri pembusuk jika tidak diperas, dikeringkan, atau difermentasi terlebih dahulu.
2. Apakah ampas tahu harus difermentasi?
Tidak wajib, tetapi fermentasi sangat dianjurkan karena membuat pakan lebih awet, tidak bau, dan nutrisinya lebih mudah dicerna ternak.
3. Berapa lama ampas tahu bisa disimpan?
Ampas tahu segar hanya tahan 1 hari, sedangkan yang difermentasi dan disimpan benar bisa bertahan 3–7 hari atau lebih.
4. Bolehkah ampas tahu diberikan langsung ke ternak?
Boleh, tetapi sebaiknya diperas dan dicampur bahan kering dulu agar tidak terlalu basah dan tidak cepat asam.
5. Ternak apa saja yang cocok diberi ampas tahu?
Ampas tahu cocok untuk sapi, kambing, domba, bebek, ayam, hingga ikan, dengan takaran dan campuran yang sesuai.

4 days ago
9
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481611/original/052294200_1769139472-Untitled_design__10_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489756/original/037497100_1769931268-budidaya_ikan_betok_di_kolam_terpal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489683/original/011879600_1769920919-masak_jeli.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5457775/original/092948200_1767053667-20251229IQ_Persija_vs_Bhayankara_FC-19.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4291902/original/098035200_1673789526-20230115AB_Persija_vs_Bali_United_08.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5489836/original/012696000_1769936072-20260131BL_Timnas_Futsal_Indonesia_Vs_Irak_AFC_Futsal_Asian_Cup_2026-19.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465808/original/017884500_1767776738-Gemini_Generated_Image_n3iemzn3iemzn3ie.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489638/original/052517500_1769915638-tanaman_buah_penahan_longsor_cocok_di_rumah_perbukitan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489627/original/041256600_1769914596-buka_puasa_di_masjid.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378193/original/050455500_1760219906-TIMNAS_INDONESIA.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5463180/original/007453900_1767601394-Akuaponik_Vertikal_dengan_Pipa_PVC.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489476/original/037355100_1769872866-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488064/original/036961300_1769702673-Borneo_FC_Vs_PSIM_Yogyakarta.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488299/original/019392400_1769746234-Rak_Susun_Seledri_dan_Daun_Bawang__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489661/original/063378200_1769917422-Adrian_Luna.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465586/original/014027200_1767771314-Bebek_Petelur.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489659/original/048936800_1769917047-Dekorasi_rumah_murah_meriah_terbaru_2026.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485525/original/093553600_1769510054-kebun_rumah_dengan_kombinasi_pohon_buah_dan_tanaman_hias_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489682/original/046153500_1769919815-Sinkronisasi-Agenda-Jadi-Fokus-Pertemuan-I-League-dan-John-Herdman-1769775735.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5371410/original/006483300_1759653431-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5375917/original/060600500_1759986432-Gemini_Generated_Image_leln9hleln9hleln.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407835/original/000490000_1762756179-rumah_mungil_ala_villa_dengan_mezzanine_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407806/original/029507600_1762755207-model_gamis_abaya_warna_pastel_anti_gerah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407831/original/043493200_1762756167-atasan_brokat_bawah_batik_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407928/original/066044200_1762757831-Gemini_Generated_Image_6aq8ve6aq8ve6aq8.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5399792/original/021697400_1762005267-InShot_20251101_204835762.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407853/original/063538400_1762756283-desain_rumah__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407860/original/065539800_1762756285-unnamed_-_2025-11-10T121554.931.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5319153/original/007607300_1755506626-bansos.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382923/original/000118700_1760607895-warung_jajan_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453294/original/050897400_1766474273-3b763600-b9ea-4b9e-bedd-17ed90a573e4.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407718/original/020057100_1762751958-Zamenis_longissimus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453091/original/043931500_1766468139-Model_Dress_A_Line_untuk_Perayaan_Libur_Akhir_Tahun_yang_Elegan_dan_Stylish_Detail_Wrap.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453102/original/079572900_1766468512-dapur_cantik_minimalis_terbaru_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453266/original/028409900_1766473688-Gemini_Generated_Image_3hozdt3hozdt3hoz_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453276/original/089690800_1766473880-desain_teras_samping_memanjang__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5419331/original/064204700_1763689880-unnamed__1_.jpg)