Perbedaan Pakan Ayam Kampung dan Broiler, Kunci Sukses Ternak di Rumah

2 days ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Ayam kampung dan ayam broiler sering menjadi pilihan utama peternak di Indonesia, namun keduanya memiliki karakteristik pemeliharaan yang sangat berbeda. Ayam kampung dikenal tahan terhadap kondisi lingkungan, memiliki rasa daging yang khas, dan biasanya dipelihara secara tradisional. Sementara itu, ayam broiler dipilih karena pertumbuhan cepat dan produktivitas tinggi, sehingga cocok untuk usaha komersial.

Perbedaan utama antara keduanya tidak hanya terletak pada jenis ayam, tetapi juga pada kebutuhan pakan. Pakan menjadi faktor penentu utama pertumbuhan, kesehatan, dan kualitas daging. Memahami perbedaan pakan ini penting bagi peternak, baik yang baru memulai maupun yang sudah berpengalaman.

Dengan memberikan pakan yang tepat sesuai jenis ayam, peternak dapat meningkatkan efisiensi biaya, mempercepat waktu panen, serta menjaga kesehatan dan kualitas hasil ternak ayam. Artikel ini akan membahas secara rinci perbedaan pakan ayam kampung dan broiler serta tips praktis dalam pemilihannya sebagaimana dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber pada Jumat (30/1).

1. Kebutuhan Nutrisi: Adaptasi Terhadap Laju Pertumbuhan

Perbedaan paling signifikan antara pakan ayam kampung dan broiler terletak pada kebutuhan nutrisinya yang disesuaikan dengan laju pertumbuhan masing-masing. Ayam broiler, yang dirancang untuk pertumbuhan cepat dan efisien, memiliki kebutuhan nutrisi yang jauh lebih tinggi dan spesifik dibandingkan ayam kampung.

Untuk ayam broiler, protein adalah komponen utama yang sangat dibutuhkan untuk pembentukan jaringan tubuh dan otot. Kebutuhan protein ini sangat tinggi, terutama pada fase awal pertumbuhan mereka.

  • Pada fase Pre-Starter (0-7 hari), ayam broiler membutuhkan protein sekitar 22-24%.
  • Pada fase Starter (8-21 hari), kebutuhan protein sedikit berkurang menjadi sekitar 20-22%.
  • Saat memasuki fase Finisher (22 hari hingga panen), protein dalam pakan bisa sedikit lebih rendah, yaitu sekitar 18-20%, karena proses perbanyakan sel (hiperplasia) mulai melambat.

Selain protein, energi juga krusial bagi ayam broiler untuk mendukung aktivitas sehari-hari, seperti bergerak, bernapas, dan menjaga suhu tubuh. Pada fase Pre-Starter, energi yang dibutuhkan sekitar 2900 kkal/kg, yang kemudian meningkat menjadi 3000 kkal/kg pada fase Starter.

Pakan ayam broiler juga harus diperkaya dengan vitamin dan mineral esensial, termasuk kalsium dan fosfor yang cukup untuk mendukung pertumbuhan tulang yang kuat. Asam amino juga merupakan nutrisi esensial yang tak boleh terlewatkan dalam formulasi pakan broiler.

Sementara itu, kebutuhan gizi ayam kampung umumnya lebih rendah dibandingkan ayam ras. Kebutuhan nutrisi ayam kampung bervariasi di setiap fase pertumbuhannya.

  • Pada fase Brooding (1-14 hari), mereka membutuhkan 22% protein dan 3.050 kkal/kg energi.
  • Fase Starter (15-30 hari) memerlukan 20% protein dan 3.100 kkal/kg energi.
  • Pada fase Grower (31-60 hari), kebutuhan nutrisi adalah 19% protein dan 2.900 kkal/kg energi.
  • Untuk fase Finisher (60 hari lebih), ayam kampung membutuhkan 16-18% protein dan 3.000 kkal/kg energi.

Penyusunan ransum yang efisien untuk ayam kampung diformulasikan berdasarkan standar kebutuhan nutrisi makro dan mikro yang presisi.

2. Bentuk dan Jenis Pakan yang Digunakan

Komposisi pakan juga menjadi pembeda utama antara kedua jenis ayam ini, mencerminkan strategi budidaya yang berbeda. Ayam broiler sangat bergantung pada pakan komersial yang diformulasikan secara ilmiah, sedangkan ayam kampung seringkali memanfaatkan sumber daya lokal.

Pakan Ayam Broiler

Pakan ayam broiler umumnya merupakan pakan komersial yang dirancang khusus untuk mencapai pertumbuhan maksimal dalam waktu singkat. Pakan ini harus mengandung semua zat-zat makanan penting seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air dalam jumlah yang cukup dan seimbang untuk menjamin pertambahan berat badan yang optimal.

Bahan pakan yang digunakan harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk pakan ayam ras pedaging, memastikan kualitas dan keamanan. Contoh bahan pakan yang bisa digunakan meliputi tepung limbah tahu, tepung ikan, tepung kerang, tepung jagung, dan garam.

Pakan Ayam Kampung

Berbeda dengan broiler, pakan ayam kampung dapat berasal dari sumber alami atau bahan lokal yang mudah ditemukan di lingkungan peternakan. Secara tradisional, ayam kampung sering diberi pakan berupa sisa limbah rumah tangga dan dibiarkan mencari pakan sendiri. Pakan alami ini bisa berupa biji-bijian seperti jagung, dedak padi, sayuran hijau, hingga sisa nasi atau sayuran.

Meskipun ada pakan komersial khusus untuk ayam kampung, banyak peternak memilih untuk memformulasikan pakan sendiri dengan memanfaatkan bahan lokal untuk menekan biaya produksi.

Bahan baku sumber protein untuk pakan ayam kampung buatan sendiri bisa mencakup bungkil kedelai, Meat Bone Meal (MBM), tepung ikan, bungkil kelapa, Corn Gluten Meal (CGM), dan Distillers Dried Grain with Soluble (DDGS).

Sementara itu, sumber mineral dapat diperoleh dari tepung/grit batu, tepung kerang, tepung tulang, DCP/MCP, dan garam. Contoh komposisi pakan buatan yang umum digunakan adalah jagung giling (30-40%), dedak padi (10-20%), tepung ikan atau kedelai (10-20%), serta minyak ikan atau minyak kelapa (2-5%). Pakan pabrikan untuk ayam kampung tidak sebanyak pakan ayam ras, dan penggunaan pakan ayam ras untuk ayam kampung bisa terlalu mahal.

3. Tujuan Pemberian Pakan dan Dampaknya pada Siklus Panen

Tujuan budidaya menjadi faktor penentu dalam strategi pemberian pakan, yang pada akhirnya memengaruhi siklus panen dan efisiensi usaha. Ayam broiler dibudidayakan secara intensif untuk produksi daging, sementara ayam kampung memiliki tujuan yang lebih beragam.

Pakan ayam broiler difokuskan untuk mencapai bobot badan optimal dalam waktu yang sangat singkat, biasanya sekitar satu bulan. Ayam broiler memang dirancang khusus untuk tujuan produksi daging, dengan target mencapai berat badan ideal dalam periode yang jauh lebih singkat dibandingkan ayam kampung. Oleh karena itu, formulasi pakan broiler sangat agresif dan padat nutrisi untuk mendukung penggemukan yang cepat.

Sebaliknya, pakan ayam kampung diberikan untuk mendukung pertumbuhan yang lebih lambat, dengan masa panen yang membutuhkan waktu sekitar 4-6 bulan. Budidaya ayam kampung seringkali memiliki tujuan ganda, yaitu untuk produksi daging dan telur, serta untuk menjaga kesehatan dan produktivitas ayam secara keseluruhan. Pakan yang sesuai tidak hanya memastikan pertumbuhan optimal, tetapi juga meningkatkan kesehatan dan produktivitas ayam kampung dalam jangka panjang.

4. Harga Pakan dan Efisiensi Biaya

Aspek biaya pakan merupakan pertimbangan penting bagi peternak, di mana pilihan pakan akan berdampak langsung pada modal dan keuntungan. Perbedaan pakan ayam kampung dan broiler juga terlihat jelas dari sisi ekonomis.

Pakan komersial untuk ayam broiler cenderung lebih mahal karena formulasi nutrisinya yang kompleks dan penggunaan bahan baku berkualitas tinggi yang terstandarisasi. Meskipun demikian, karena masa panen ayam broiler yang sangat singkat, perputaran modal dalam usaha ini menjadi lebih cepat. Standar pakan ayam broiler harus disesuaikan dengan kebutuhan ayam dan standar operasional perusahaan untuk memastikan efisiensi dan profitabilitas.

Di sisi lain, biaya pakan ayam kampung dapat ditekan secara signifikan jika peternak mampu memanfaatkan bahan pakan alternatif lokal atau sisa limbah rumah tangga. Banyak masyarakat yang melakukan budidaya ayam kampung memberikan pakan berupa sisa-sisa makanan dari dapur yang dicampurkan dengan dedak dan hijauan, meskipun takarannya seringkali tidak terkontrol. Namun, jika peternak memilih untuk menggunakan pakan komersial khusus untuk ayam kampung, biayanya bisa menjadi pertimbangan serius mengingat masa panen ayam kampung yang lebih lama. Penggunaan pakan ayam ras untuk ternak ayam kampung bisa dipastikan akan membuat biaya produksi menjadi terlalu mahal dan tidak efisien.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Pakan Ayam Kampung vs Broiler

1. Apa perbedaan utama kebutuhan nutrisi pakan ayam kampung dan broiler?

Ayam broiler membutuhkan protein dan energi yang sangat tinggi serta spesifik untuk pertumbuhan cepat, terutama pada fase awal. Sebaliknya, ayam kampung memiliki kebutuhan nutrisi yang lebih rendah dan bervariasi di setiap fase pertumbuhannya, disesuaikan dengan laju pertumbuhan yang lebih lambat.

2. Bagaimana komposisi pakan ayam broiler berbeda dengan ayam kampung?

Pakan ayam broiler umumnya adalah pakan komersial yang diformulasikan secara khusus dan harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Sementara itu, pakan ayam kampung dapat berasal dari sumber alami atau bahan lokal seperti biji-bijian, dedak padi, sayuran, hingga sisa limbah rumah tangga, atau formulasi pakan sendiri untuk menekan biaya.

3. Apa tujuan pemberian pakan yang berbeda antara ayam kampung dan broiler?

Pakan ayam broiler difokuskan untuk mencapai bobot badan optimal dalam waktu singkat (sekitar 1 bulan) untuk produksi daging. Sedangkan pakan ayam kampung bertujuan mendukung pertumbuhan yang lebih lambat (4-6 bulan) untuk tujuan ganda (daging dan telur) serta menjaga kesehatan dan produktivitas secara keseluruhan.

4. Apakah ayam kampung bisa diberi pakan broiler?

Bisa, tapi tidak ideal karena pakan broiler dirancang untuk pertumbuhan cepat dan bisa membuat ayam kampung kurang sehat jika terus-menerus.

5. Pakan apa yang cocok untuk ayam broiler agar cepat besar?

Pakan pelet berkualitas dengan fase starter, grower, dan finisher sesuai usia.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|